Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
Kasih Sayang Tulus


__ADS_3

Ketika pesawat lepas landas, Riana masih diam di sana dengan meraskaan perut yang semakin kram dan membuatnya meringis. Aska yang memperhatikan Riana dari jauh segera mendekat karena Riana tak kunjung membalikkan tubuhnya.


"Ri." Aska terkejut ketika Riana memegangi perutnya. Wajah panik Aska terlihat jelas. Dia segera membawa Riana keluar bandara.


"Perut Ri kram, Kak," ucap Riana menahan rasa sakitnya.


Aska sudah tidak bisa berpikir, dia tidak mungkin menghubungi sang kakak. Dia segera menghubungi mamahnya. Telepon dari Aska mampu membuat Ayanda dan Gio panik seketika di rumah.


"Kamu masih di Bandara? Biar Mommy dan Daddy jemput kalian." Suara cemas Ayanda terdengar sangat jelas.


"Sudah arah pulang, Mom. Mommy tidak perlu khawatir, ya." Itulah yang Aska katakan.


Riana masih mengusap lembut perutnya dengan tatapan kosong.


"Masih sakit?" Riana menggeleng. Kini, dia menyandarkan kepalanya di kaca mobil.


"Ri, kalau ada apa-apa bilang sama Kakak. Kakak akan menjaga kamu selama Abang gak ada." Aksa menatap Riana yang tengah menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Riana menoleh ke arah adik iparnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Makasih," ucap Riana.


Hati Aska sedikit teriris ketika melihat Riana dan Aksa harus terpisah. Baru mengenyam kebahagiaan kini sudah dipisahkan lagi. Dua Minggu memang waktu yang sebentar, tetapi bagi mereka yang tengah menahan rindu itu adalah waktu yang sangat lama.


Mobil baru saja berhenti di depan rumah besar, Gio dan Ayanda sudah berhamburan ke depan dan menyambut sang menantu.


"Ri, kita ke dokter, ya." Suara cemas Ayanda terdengar sangat jelas. Sebuah senyuman yang Riana berikan. "Ri, tidak apa-apa, Mom," jawab Riana seraya menggenggam tangan ibu mertuanya.


"Ri, kram di perut itu sedikit berbahaya, Sayang. Mommy tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu juga anak-anak yang ada di dalam kandungan kamu." Ayanda berkata dengan sangat lembut, membuat hati Riana mencelos karena perlakuan ibu mertuanya yang sangat perhatian kepadanya.

__ADS_1


"Lebih baik besok saja, Mom. Sekarang sudah malam," timpal Gio. Mata Gio melirik ke arah Aska. Menandakan ada sesuatu hal yang ingin Gio bicarakan, tetapi tidak di sini.


Ayanda menyetujui ucapan Gio, dia membawa menantunya ke kamar, sedangkan kedua pria itu masuk ke dalam ruang kerja Gio.


Ayanda membuka lemari baju Riana. Dia mengambilkan pakaian untuk Riana gunakan. "Ganti baju dulu ya, Sayang. Jangan biarkan tubuh kamu kotor. Kasihan baby di dalam perutnya."


Mata Riana berkaca-kaca mendengar ucapan dari Ayanda. Dia merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang mertua. Dia tidak menyangka bawa dia akan diperlakukan seperti ini. Berbeda dengan apa yang dia pikirkan dan bayangkan. Sesayang-sayangnya mertua terhadap menantu pasti akan ada sedikit drama di antara keduanya. Tidak dengan kisahnya, dari awal menikah hingga dua bulan menikah dia sangat merasakan kasih sayang yang besar dari keluarga suaminya. Bukan hanya kedua mertuanya, adik iparnya pun sangat menjaganya.


"Kenapa mata kamu berkaca-kaca, Sayang?" Ayanda menatap bingung ke arah Riana.


Riana menyeka ujung matanya seraya menunduk. Dia tidak ingin terlihat cengeng, tetapi cengengnya dia kali ini karena dia sangat bahagia.


"Ri," panggil Ayanda. Tangannya sudah mengusap lembut pundak sang menantu yang sudah Ayanda kenal sedari bayi.


"Makasih ... atas kasih sayang yang Mommy berikan kepada Ri," ucapnya dengan suara terbata.


Air mata Riana meluncur bebas begitu saja. Sangat jarang sekali seorang mertua yang memperlakukannya menantunya seperti ini. Ayanda memeluk tubuh Riana dengan cukup lama. Dia tahu, Riana merindukan sosok ibunya. Semoga pelukannya bisa menjadi pengobat kerinduannya.


"Makasih, Mommy." Kata itu lagi yang Riana ucapkan. Ayanda hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi menantunya itu.


"Sama-sama, Sayang," balasnya. "Boleh Mommy meminta sesuatu?" tanya Ayanda.


"Apa Mom?" Riana sedikit ketakutan mendengar pertanyaan sang ibu mertua.


"Anggap Mommy seperti ibu kandung kamu sendiri ya, Sayang. Jangan pernah sungkan untuk berbagi dengan Mommy, Mommy akan selalu ada untuk kamu."


Malam ini Riana benar-benar terharu dengan ucapan serta perlakuan Ayanda. Wanita paruh baya di hadapannya ini tidak berubah sama sekali. Dia sama seperti Mommy Ayanda yang dia kenal sedari kecil.

__ADS_1


"Jangan nangis terus, nanti Mommy dimarahin sama suami kamu. Ibu hamil harus selalu happy," tuturnya. Riana tersenyum dan mengangguk cepat. "Kalau kamu bosan di rumah, kita bisa shoping. Jangan terlalu hemat, sekali-kali kita habiskan uang suami kita," canda Ayanda.


Riana pun tertawa lepas mendengar ucapan Ayanda. Hatinya sangat bahagia malam ini. Meskipun, rasa sedih itu masih tetap ada. Dia tidak ingin pisah dari suaminya. Dia ingin selalu ada dekat dengan Aksara.


Selepas Ayanda keluar dari kamarnya, Riana yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar ketukan pintu. Ketika dia membuka pintu, dia dikejutkan dengan kehadiran Gio.


"Boleh Daddy masuk?" tanya Gio dengan wajah yang serius. Riana mengangguk pelan dan membuka lebar pintu kamarnya.


"Sini, Nak." Gio menepuk sofa di sampingnya agar Riana duduk di sana. Riana mengikuti apa yang diperintahkan oleh sang ayah mertua.


Tatapan hangat dari Gio dapat Riana rasakan. Apalagi senyum Gio yang penuh dengan ketulusan.


"Ri, Daddy mohon dengan sangat kalau ada apa-apa jangan kamu sembunyikan. Cepat katakan kepada Aska, Mommy ataupun Daddy. Daddy tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu serta calon cucu Daddy." Kalimat yang sangat menyentuh hati Riana.


"Ketika Daddy menerima kamu menjadi menantu Daddy, di situlah Daddy harus bertanggung jawab atas kamu. Daddy sudah berjanji kepada ayah kamu untuk merawat dan menjaga kamu dengan baik. Menjanjikan kepadanya bahwa kamu akan hidup bahagia masuk ke dalam keluarga Daddy."


Riana tidak sanggup mendengarnya lagi, dia segera memeluk tubuh Gio. Tidak dia pedulikan bahwa Gio hanya ayah mertuanya.


"Jangan berbicara apa-apa lagi. Daddy adalah ayah kedua untuk Ri. Terima kasih atas kasih sayang yang Daddy berikan dengan tulus kepada Ri. Menjadi bagian dari keluarga ini adalah kebanggan dan kebahagiaan yang sangat besar untuk Ri."


Gio tersenyum mendengar ucapan dari Riana. Dia mengusap lembut rambut sang menantu.


"Meskipun Aksa berada jauh dari kamu, masih ada Daddy dan Aska yang akan menjaga kamu di sini. Kami akan selalu ada untuk kamu dan juga calon anak-anak kamu."


Malam ini Riana benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Diterima di keluarga Giondra Aresta Wiguna sudah suatu kebahagiaan untuknya. Apalagi, mendapat kasih sayang yang tulus dari mereka. Riana benar-benar sangat beruntung.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2