Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
Tunggu Abang


__ADS_3

Berat sekali meninggalkan Riana seorang diri di apartment. Dia harus hadir di dalam rapat penting petinggi WAG grup beserta perusahaan-perusahaan anak cabang dari berbagai negara dan tak bisa diwakilkan karena dia pun mewakili sang ayah.


"Sayang, seriusan gak apa-apa?" Riana hanya menjawab dengan sebuah senyuman yang sangat mengagumkan.


"Masih jarang ini sakitnya, Bang," sahut Riana yang tengah membenarkan jas sang suami.


Sangat berar meninggalkan Riana dalam kondisi seperti ini. Apalagi di apartment ini tidak ada siapa-siapa.


"Tekan tombol emergency ya kalau udah sakit banget. Orang yang berjaga di luar akan segera masuk dan Abang akan segera pulang." Anggukan kecil menjadi jawaban dari istrinya. Aksa sudah berjaga-jaga dan mempersiapkan semuanya. Termasuk mobil ambulance di parkiran bawah.


"Nak, jangan nakal, ya. Jangan buat Mommy kesakitan ketika Mommy sendirian." Aksa sudah mengecup perut Riana yang sudah semakin turun.


"Bang! Cepetan!"


Teriakan Aska membuat Aksa mendengkus kesal dan harus segera meninggalkan Riana. Istrinya itu hanya tersenyum dan menangkup wajah Aksa yang terlihat sangat sendu.


"Ri, akan baik-baik saja, Abang."


Cup.


Kecupan di bibir Aksa Riana berikan untuk mengubah mood suaminya. Namun, itu tak membuat raut wajah Aksa berubah. Dia masih saja terlihat sedih.


"Abang 'kan meeting-nya cuma sebentar. Jadi, jangan khawatir." Riana mencoba menenangkan suaminya.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aksa dan dia segera memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat.


"Jangan sembunyikan kesakitan kamu di hadapan Abang, ya."


"Iya."


Riana masih sempat mengantar sang suami hingga ruang tamu. Tak lupa Aksa mengecup seluruh bagian wajah Riana dan membuat Askara mengerang kesal.


"Udah kayak mau pergi bertahun-tahun aja lu!" omel Aska.


"Lu gak akan pernah tahu rasanya karena lu gak laku," sungut Aksa.


Riana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adik-kakak di depannya ini yang selalu beradu mulut.


"Udah, cepetan jalan biar bisa cepat pulang." Riana mengusap lembut pipi sang suami.


Aska berdesis kesal dan memilih untuk keluar terlebih dahulu sambil membanting pintu.


"Pagi, Pak. Pak Aksa, mana?" tanya orang kepercayaan Aksa untuk menjaga Riana.


"Lagi wikwikan dulu sama bininya." Wajah tidak suka Aska sangat kentara dan mampu membuat orang suruhan Aksa yang lain menahan tawa.


"Kenapa lu? Mau ketawain gua? Gua santet satu-satu lu!" geram Aksa.


Mereka pun semakin terbahak, segarang-garangnya wajah Aska tidak membuat mereka takut. Berbeda dengan wajah Aksa. Tatapan tajamnya saja sudah mampu membuat mereka menundukkan kepala.


"Ada apa ini?" Suara Aksa mampu membuat penjaga Riana menunduk. Tidak ada yang berani menegakkan kepala mereka.


"Anak buah lu minta disantet satu-satu."


Aksa mengkerutkan dahi mendengar kemarahan sang adik. "Lagi M lu?" Pertanyaan Aksa mampu membuat semua anak buah Aksa mengulum senyum.


"Pada bang ke emang! Bang ke!" erang Aska sangat kesal. Dia meninggalakan Aksa dengan langkah panjangnya.


"Bisa ya gua punya kembaran kayak gitu?" Aska terus mendumal. "Emak gua ngidam apa kali pas hamil dia." Sejenak Aska terdiam dan mencerna ucapannya sendiri. "Bentar ... hamil dia 'kan hamil gua juga dong. Arrg! Tau ah!"


Aska sudah duduk manis di belakang kemudi sedangkan sang putra Sultan baru saja keluar dari lantai bawah.


"Lambat!" seru Aska ketika sang Abang baru masuk mobil. "Ada gitu orang lamban jadi bos besar," cibirnya lagi.


Aksa mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya dan menempelkannya di dahi Askara.


"Nah, gitu dong." Senyum sumringah pun hadir di wajah Aska. Dia mengambil lembaran uang yang ada di jidatnya.


"Serebu dolar Singapura. Mantab," ucapnya dengan sangat ceria. Aksa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik.


"Rugi gua," celetuk Aksa. "Dua hari jadi sopir doang kudu bayar sepuluh juta," sindir Aksara.


"Ya elah, sama adik perhitungan amat lu," balas Aska yang sudah fokus pada jalanan.


Aksa tak membalasnya dia malah fokus pada benda pipih di tangannya. Mengecek istrinya sedang apa. Hembusan napas lega pun keluar dari mulutnya.


"Lu belum bilang Daddy atau Ayah?" Hanya gelengan yang menjadi jawaban.


"Riana kekeh ingin melahirkan secara normal," ucapnya sambil menoleh ke arah Aska yang tengah mengemudi.


"Gua sebenarnya gak tega ngeliat Riana kesakitan, tapi melihat keyakinan dia untuk melahirkan secara normal pun gua gak bisa larang."


Aska dapat mengerti bagaimana perasaan abangnya itu. Bukannya dia lemah menghadapi istrinya, tetapi itu adalah pilihan yang sulit.

__ADS_1


"Lu ikutin aja kemauan Riana. Operasi jadikan opsi terakhir. Toh, dokter bilangnya hanya kontraksi palsu 'kan." Anggukan kecil menjadi jawaban dari Aksara.


Mereka berdua tiba di ruangan rapat yang sangat luas. Semua petinggi sudah berdatangan. Mereka bersikap hormat kepada Aksara. Seorang wanita yang memakai rok di atas lutut menghampiri Askara. Dia berdiri di samping Aska.


"Partner kerja gua, Mpet." Wajah Aksa nampak bingung mendengar ucapan adiknya. Bersamaan dengan itu juga wanita di samping Aska. mencubit perut Aska.


"Patricia, no Mpet," ralat Patricia. Aksa hanya tertawa kecil.


Banyak mata wanita tertuju pada sosok seorang Aksara. Jika, terhadap Aska mereka mengira bahwa Patricia adalah calon istri dari Askara karena mereka berdua terlihat sangat dekat.


Aksa bagai bunga yang tengah mekar yang dikerumuni oleh para lebah betina. Jujur, Aksa merasa sangat risih sedangkan adiknya merasa senang melihat wajah abangnya tidak nyaman. Menghindar pun dia tidak bisa karena mereka tengah berbincang perihal perusahaan. Semakin ke sini Aksa merasa sangat tidak nyaman dan dengan sengaja dia memperlihatkan tangannya yang memakai cincin pernikahan.


"I have a beautiful wife."


Perkataan yang singkat dan mampu membuat hati para wanita remuk seketika. Aska hanya tertawa jahat. Masih saja abangnya itu menjadi rebutan para wanita. Jika, Riana tahu pasti abangnya akan diamuk.


"Kakak Bapak lebih tampan dari bapak," ujar Patricia.


"Terus?" Patricia hanya menggedikkan bahunya.


Aska tetaplah Aska, si manusia cuek dan santai sekalipun sedang dikejar deadline.


.


Riana sedang merasakan sakit yang frekuensinya mulai sering. Sesakit apapun yang dia rasakan, dia selalu saja tersenyum jika mengusap perutnya yang buncit. Ketika peluh sudah bercucuran, napas yang tak beraturan dan masih sendirian, suara ponsel berdering.


Ayah calling ...


Riana segera menjawabnya meskipun rasa sakit itu masih menjalar di perutnya.


"Iya, Ayah."


"Ri, kamu baik-baik saja 'kan?"


Sergahan sang ayah membuat hatinya terenyuh.


"Semenjak kamu ke Singapura hati Ayah tak karuhan."


Tes.


Air matanya menetes begitu saja mendengar ucapan sang ayah. Orang yang sangat dia sayangi di dunia ini. Ternyata ikatan batin ayahnya sangat kuat.


"Riana ... kamu baik-baik saja 'kan? Kenapa kamu diam saja?"


Suara ayahnya terdengar sangat panik dan Riana semakin terharu sambil merasakan rasa sakit yang semakin menjadi.


Di balik sambungan telepon Rion hanya terdiam mendengar ucapan dari putrinya itu.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Ri?"


Perasaan Rion semakin tak karuhan. Dia terus mendesak putrinya. "Riana!" Terdengar suara ringisan dan membuat Rion panik bukan kepalang.


"Riana! Jawab Ayah, Riana!"


"S-sa-kit ... Yah ...."


Deg.


Pikiran jelek tengah memutari kepala ayah tiga orang anak ini. "Riana, kamu kenapa, Riana?" Namun, tidak ada jawaban dari sang putri. Samar terdengar hanya suara ringisan saja.


"Riana!"


Rion terus memanggil-manggil putrinya, tetapi ponsel di tangan Riana sudah terlepas karena rasa sakit yang sudah tak tertahankan.


Rion segera menelpon sang menantu dan mulutnya bersiap untuk mengomel. Sambungan pertama tidak dijawab, Rion masih mencoba di sambungan kedua. Tetap saja tidak dijawab membuat Rion mengerang sangat kesal. Di sambungan ketiga barulah suara Aksa terdengar.


"Kamu mau Ayah pecat jadi menantu!"


Aksa yang memang baru selesai rapat penting hanya melongo mendengar ucapan sang ayah mertua.


"Loh? Salah Abang apa, Ayah?" tanya Aksa


"Riana, kenapa?" Ayahnya sudah sedikit berteriak. Mendengar nama Riana, jantung Aksa seketika berhenti berdetak.


"Ada apa dengan Riana, Ayah?" Aksa malah balik bertanya membuat Rion semakin murka.


"Riana berteriak kesakitan, Aksara!" Tubuh Aksa menegang seketika. "Kamu di mana sekarang?"


Aksa sudah tidak menggubris ucapan sang ayah. Panggilan ayahnya pun dia matikan secara sepihak. Mencoba menghubungi istrinya, tetapi tak diangkat.


"Sayang, angkat dong."


Raut cemas jelas terlihat di wajah tampannya. Dia pun segera menghubungi anak buahnya untuk segera masuk ke dalam apartment dan membawa Riana.

__ADS_1


Kepanikannya membuatnya menarik paksa Askara yang tengah berbincang dengan petinggi yang lain.


"Pulang sekarang."


Dahi Aska mengkerut melihat wajah abangnya yang sudah sangat berubah cemas dan pucat. "Kenapa?" Aska masih mengikuti langkah Aksara dari belakang.


"Riana."


Aska pun berdecak kesal. "Kenapa gak bilang dari tadi." Dia malah memarahi abangnya dan segera berlari keluar dari perusahaan itu.


.


"Saya gak mau, saya ingin menunggu suami saya," ucap Riana sangat pelan.


"Bapak bilang, kami suruh membawa ibu ke rumah sakit sekarang." Riana menggeleng dengan terus meringis kesakitan.


"Saya ingin menunggu suami saya."


Ada rasa kasihan dari dua orang yang sudah masuk ke dalam apartment Aksara ketika melihat Riana yang terus meringis dan bercucuran keringat.


"Tunggu Daddy ya, Nak."


Hati mereka mencelos mendengarnya. Apalagi melihat istri dari atasan mereka masih bisa menyunggingkan senyum ketika berbicara dengan sang buah hati yang masih berada di dalam perut.


.


"Cepatan!" seru Aksa. "Keluarin jiwa balapan lu!" Aksa terus bersungut-sungut membuat Askara mendengkus kesal.


"Lu mau anak lu lahir gak tahu bagaimana bentukan bapaknya."


Seketika Aksa terdiam, tetapi dia menatap tajam ke arah Askara.


"Jangan sembarangan kalau ngomong!" Omelan pun terlontar sangat lancar dari mulut Aksa.


"Gua mah seriusan," balas Aska. "Jangan khawatir, kalau lu koit gua bersedia kok jadi bapak dari anak lu dan jadi suami dari istri lu. Ikhlas banget gua."


Aksa menoyor kepala Aska dengan sangat kencang hingga kepalanya terbentur kaca jendela mobil samping. "Gua yang gak ikhlas, Bang sat!" pekiknya.


Aska tertawa terbahak-bahak mendengar pekikan sang Abang. Dia pun sama paniknya, tetapi membalut rasa cemas dan khawatir itu dengan candaan.


Ponsel Aksa pun berdering. Dia segera menjawabnya.


"Ibu tidak mau dibawa, Pak. Ibu ingin menunggu, Bapak."


Hati Aksa semakin sedih mendengarnya. Dia merasa sangat bersalah.


"Berikan ponselnya kepada istri saya."


Aska melihat raut sang Abang sudah sangat pilu. Dia dapat merasakan apa yang tengah kembarannya itu rasakan.


"Bang." Suara lirih nan pelan yang Aksa dengar mampu membuat matanya berkaca-kaca.


"Ri, gak mau ke rumah sakit tanpa Abang. Ri, ingin menunggu Abang."


Tes.


Air mata seorang Aksara menetes ketika mendengar ucapan sang istri. Aska yang melihatnya sedikit terkejut.


"Abang lagi di jalan. Tunggu Abang ya, Sayang. Tunggu Daddy, Nak."


Suara Aksa terdengar bergetar membuat Aska mengusap lembut punggung abangnya.


"Apa semenyedihkan ini ketika melihat istri hendak melahirkan?" batin Aska.


.


"Udah dapat belum?" Arya yang masih memesan tiket pesawat secara online pun berdecak kesal. Baru saja dia membuka aplikasi pemesanan sudah terus dicecar oleh bos maha gendeng.


"Sabarlah, masih loading," sahut Arya.


"Banting aja tuh hape!"


"Lama-lama mulut lu yang gua banting. Dari tadi ngoceh aja. Ingat lu punya darah tinggi," omel Arya.


"Ini ya, kalau terjadi apa-apa sama anak gua, langsung gua pecat jadi menantu pokoknya. Gak ada toleransi-toleransian."


Arya hanya menggeleng mendengar ocehan Rion bagai burung yang tengah ikut perlombaan.


"Udah dapat nih. Dua jam lagi berangkat."


Rion mengangguk, seketika dia terdiam memikirkan sesuatu. "Tapi, gua gak tahu tuh anak tinggal di mana?"


Arya menepuk dahinya, kenapa dia bisa bersahabat dengan pria blo'on seprti ini.

__ADS_1


...****************...


Komen dong ...


__ADS_2