
Lamaran Marsel menjadi pikiran sampai aku sulit tidur aku belum beneran suka sama dia aku bingung harus bagaimana apa aku harus bilang ke ibu tapi ini terlalu mendadak Marsel baru bertemu sekali dengan orang tuaku. Lebih baik jalani dulu kalo aku terburu-buru menerima atau menolak lamarannya nanti aku menyesal dikemudian hari.
Besoknya hari senin aku berangkat kerja seperti biasa sampai istirahat siang aku tidak melihat Marsel dia juga tidak mengirim pesan. Aku mulai berfikir mungkin kata-kata dia kemarin nggak serius buktinya sekarang dia nggak keliatan batang hidungnya juga nggak kasih kabar. Istirahat siang berlalu waktunya sholat ashar sebelum sholat aku mengecek ponselku ternyata ada pesan masuk
"Dek"
"Maaf ya kuota ku habis"
"Hari ini aku nggak masuk kerja aku nggak enak badan"
"Hati-hati ya kerjanya"
"Jangan lupa makan"
"Kira-kira nanti pulang jam berapa?"
"Kalo pulang langsung pulang ya jangan mampir-mampir"
Membaca pesannya aku lega ternyata dia hanya kehabisan kuota aku sudah berfikir yang tidak-tidak tadi. Entah kemana sepertinya aku mulai memperhatikannya dan mulai menyukainya dari perhatian-perhatian kecil dan pertanyaan kekhawatirannya terhadapku.
Singkat cerita aku sudah sampai dirumah aku merasa capek sekali aku langsung tertidur setelah tubuhku terbaring di kasurku. Malam hari aku terbangun karena ponselku terus menerus berbunyi, ada panggilan masuk banyak sekali dan dari Marsel aku mengangkatnya
"Dek sudah pulang?"
"Udah aku lagi tidur"
"Untunglah kalo udah sampek dirumah tadi pulang kok gak kasih kabar sih tadi mas kira adek belum pulang mas khawatir banget"
__ADS_1
"Tadi pulangnya buru-buru capek banget langsung ketiduran nggak sempet kasih kabar"
"Ya udah kalo gitu tidur lagi"
"Iya, aku matiin ya"
"Iya"
Saat melihat ponsel ternyata dia mengirimkan banyak sekali pesan pendek dan banyak sekali panggilan tidak terjawab aku merasa senang mungkin dia benar-benar khawatir dan serius kepadaku.
Sudah satu minggu kita berpacaran tapi kita tidak pernah istirahat bersama maupun ngobrol bertatap muka. Saat istirahat dia selalu keluar membeli makan dengan teman-temannya jadi kita hanya sekedar berkirim pesan jadi orang-orang tidak ada yang tahu kalo aku sedang pacaran dengan Marsel.
"Dek"
"Iya mas ada apa?"
"Udah makan belum?"
"Udah"
"Kalo dijemput mau"
"Besok mas piket adek berangkatnya besok suruh anterin siapa gitu dek mas tunggu di jembatan dekat penitipan sepeda"
"Iya"
"Adek pengen apa mas beliin besok mas gajian"
__ADS_1
"Nggak pengen apa-apa"
"Ya udah ini mas udah selesai makan mau balik lagi ke pabrik"
"Iya hati-hati"
"Iya"
Tiba-tiba ada kak Lila datang dia baru selesai makan dengan suaminya dia menghampiriku dan bertanya tentang kelanjutan hububganku dengan Marsel.
"Dek gimana sama Marsel?"
"Nggak gimana-gimana kak yah gitu dia baik ya aku baikin"
"Udah pacaran kan ? hayooo ngaku"
"Udah"
"Tapi kamu hati-hati ya sama mantannya Marsel dia masih belum ngaku ke temen-temennya kalo dia sama Marsel udah putus ngakunya masih pacaran"
"Loh kok gitu"
"Iya dia masih berharap sama Marsel"
"Besok aku mau berangkat bareng sama Marsel"
"Iya gak apa-apa biar semua orang tahu kalo kamu pacaran sama Marsel Desi itu cemen dia nggak berani ngomong kalo nggak sama temen-temennya kamu hati-hati aja kalo ketemu dia pas lagi sama temennya ya"
__ADS_1
"Iya kak makasih udah diingetin"
"Sama-sama dek"