Jodoh Yang Tepat

Jodoh Yang Tepat
Prolog


__ADS_3

*10 tahun lalu*


Di suatu malam, ada seorang pria paruh baya yang sedang duduk di halte depan suatu kantor BUMN. Pria tersebut duduk dalam keadaan sedih dan bingung. Heri, salah satu karyawan di kantor tersebut, kebetulan baru akan pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Heri yang baru saja keluar dari pagar kantor dengan motor yang dikendarainya, sadar akan adanya si pria paruh baya itu.


Heri yang tak tega melihat keadaan dari pria tersebut, sehingga Heri berinisiatif untuk mendekatinya dan berkata, "permisi pak, sudah malam begini kenapa belum pulang?", "iya pak, saya ingin di sini dulu pak", ujar pria itu sambil menyunggingkan senyum tipisnya. "maaf pak, bukan bermaksud lancang. apa bapak sedang ada masalah pak? karena ini sudah jam 11 malam dan saya lihat bapak sedang bingung", "i..i.. iya pak, tadi motor saya dipinjam teman saya dan saya menunggu di sini. sudah 4 jam tapi teman saya belum kembali dan tidak bisa di telfon", ucap pria paruh baya sambil menundukan pandangannya.


"Astagfirullah pak. bapak sudah ditipu loh pak. mari saya antar pulang pak. perkenalkan saya Heri, kebetulan saya juga baru pulang kerja pak. Rumah bapak di mana dan nama bapak siapa ?", sahut Heri mengiba.

__ADS_1


"Tidak perlu pak, terima kasih. Kebetulan rumah saya juga jauh dari sini pak Heri. Nama saya Salman pak", "memangnya di mana sih pak rumahnya? ayo gapapa saya antar. kita wajib membantu sesama jika sedang mengalami kesulitan", "baiklah pak. tapi rumah saya di daerah xxxx", "oalah... searah itu pak. ayok lah bareng saya aja gapapa. memang saya ga bisa bantu pak Salman secara materi, tapi saya bisa bantu bapak setidaknya sampai bapak sampai ke rumah", ujar Heri mengakhiri percakapan sambil memaksa Pak Salman.


Sejak saat itu, pak Heri dan pak Salman menjadi sahabat baik. mereka saling bertukar cerita, bertukar kabar, bahkan setelah perekonomian pak Salman membaik, pak Salman tak segan mengajak pak Heri untuk berlibur bersama.


Pak Salman memiliki 3 orang anak yang dimana 1 orang anak laki- laki paling tua, dan 2 orang anak perempuan, sedangkan Pak Heri memiliki 4 anak yang dimana 3 anak pertamanya adalah perempuan dan 1 orang laki-laki.


"Her, akhir tahun ini saya akan pindah keluar negeri Her. Perkembangan bisnis saya sudah membaik dan sekarang sudah mulai mengekspor ke luar negeri. saya ingin memulai cabang baru di sana. Apa kamu mau Her untuk membantu saya dalam semua bisnis saya?", tanya Pak Salman. Pak Heri terkejut bahwa ia ditawari sesuatu yang besar oleh sahabatnya. Dengan sangat santun Pak Heri menjawab, "ahhh saya sangat senang melihat mu sudah sukses Man. Bagiku, selalu diajak berlibur dengan keluarga mu sudah lebih dari cukup Man. Tapi saya sudah sangat nyaman menjadi seorang pekerja kantor. Kamu lupa bahwa sekarang saya juga memiliki jabatan yang cukup untuk mengatur-ngatur staf lain? hahaha", canda Pak Heri.

__ADS_1


"Her, jika suatu saat kita jodohkan anak kita bagaimana Her? apa kamu setuju ?", "sebenarnya aku tidak masalah untukku Man. Aku yakin anak mu adalah seorang anak yang baik, apalagi orangtuanya seperti kamu dan istrimu. hanya saja, aku tidak mau membebani dan memaksakan Vi untuk hal ini. Tapi coba kita lihat nanti di kemudian hari ya Man. semoga saja mereka berjodoh. tidak ada yang tau jugakan akhirnya bagaimana. hahaha".


Sore itu adalah percakapan antara dua orang ayah yang yang akan terwujud di kemudian hari.


Berawal dari kebaikan, maka akan menciptakan kebaikan lainnya. Hari itu berlalu dengan sangat ceria dan bahagia, pertemuan 2 keluarga yang akhirnya mungkin akan bisa menjadi 1 keluarga.


3 bulan sudah berlalu, saat dimana Pak Salman dan keluarga pindah meninggalkan negeri tercintanya. Tak lupa Pak Heri dan keluarga juga turut mengantar mereka ke bandara.

__ADS_1


"Hati-hati yang Man di luar sana. Jaga selalu kesehatanmu dan keluargamu dan tetap berikan mereka yang terbaik. ingat banyak-banyaklah istirahat, kita ini sudah tua haha. Mari tetap saling bertukar kabar ya", ujar Pak Heri dengan raut sedih di wajahnya seraya memeluk sahabat terbaiknya itu. "Sudah pasti itu Her. Kita harus tetap berkomunikasi walaupun sudah berjauhan nanti. Ingat.... rayu putri mu untuk mau dengan anakku si Zavier. hahah. Sehat-sehatlah kalian di sini ya. tapi ingat, aku tidak setua itu."


Hari itu ditutup pelukan hangat seluruh keluarga dan seiiring berjalannya waktu, mereka tetap bertukar kabar dan bertelpon walau hanya sekedar basa-basi.


__ADS_2