
Di lain tempat, Vi yang berada di kantornya, baru saja akan mengakhiri sesi meeting online dengan staf lainnya.
“Baiklah, ku rasa cukup ya untuk pembahasan target bulanan kita kali ini. Untuk tim marketing, tolong kirimkan materi pendukung untuk pihak klinik masing-masing. Untuk data target bulan depan, akan ku kirimkan ke email leader masing-masing ya gaes. Mari kita lanjutkan mencari uangnya. Hehehe… see you next weeek gaes.” Ujar Vi menutup meeting onlinenya kali itu.
Vi memiliki jabatan sebagai Area Manager sebuah perusahaan yang bergerak di beauty dermatology yang sudah memiliki beberapa cabang di Seluruh Indonesia. Vi sudah diakui oleh perusahaannya, aik kinerja maupun kepribadiannya yang sangat mengesankan, sehingga hanya membutuhkan 1 tahun kerja, Vi sudah diangkat menjadi Area Manager di perusahaan tersebut.
”Vi, hari ini makan malam apa?” Ujar Yanuar salah satu sahabat Vi yang menerobos masuk ke ruang kerja Vi saat itu.
”Halah Yan…. Mbok kalau masuk itu ketok dulu, permisi… ada Vi nya? Ganggu ga? Lahhhh ini ngeloyor bae…”
”Welahahh, marah-marah mulu bu Manager. Ceper tua lo nanti”, ledek Yanuar.
”Hih…. Dah lah ayok. Udah ditungguin Anggun di resto depan tuh. Mau curhat katanya doi.”
Vi dan Yanuar bekerja dalam 1 perusahaan tetapi berbeda divisi. Jika Vi ada di divisi lapangan, Yanuar ada di divisi pemasaran. Sehingga mereka sering bertemu saat makan siang atau saat pulang.
”Yan…. Gandeng….” Pinta Vi memelas.
”Heh….. udah gede, masih aja manja. Yauda, buruan sini. Cepetan….. udah mau ijo nih lampunya”
Dari dulu memang Vi takut menyebrang. Jika sedang bersama sahabatnya, vi akan meminta digandeng saat menyebrang, jika ia sendiri maka ia akan mengikuti orang lain yang akan menyeberang, mungkin orang lain akan menganggapnya penguntit.
Tak jauh dari keberadaan Vi dan Yanuar, ada sepasang mata yang sangat mengaasi Vi dengan tidak senang karena melihat wanita itu digandeng oleh seorang pria.
”Jadi ini, alasan dia minta waktu untuk melanjutkan pernikahan? Apa kamu kenal dengan pria itu Gan?” Tanya pria tersebut.
”Dari informasi yang saya dpat, memang Nona Vi memiliki 2 sahabat baik bos. Satu pria dan satu wanita. Mungkin itu sahabat baiknya.” Ujar Regan menenangkan Zave.
”Halah sahabat macam apa itu. Bergandengan tangan. Mana ada yang namanya murni persahabatan antara pria dan wanita?” Kesal Zave.
Regan yang melihat hal tersebut, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
’orang kalau udah jatuh cinta, begini kali ya’, batin Regan.
”Jadi mau gimana bos? Mau pulang atau kita tunggu Nona Vi?” Tanya Regan.
”Apasih Gan… bas bos bas bos. Geli banget dengernya. Kita udah ga di kantor! Kita ikuti Vi sajalah!” Perintah Regan.
__ADS_1
”Oke Bro. Jadi tujuan selanjutnya resto yang ada di seberang kantor Nona Vi ya”.
Regan memutar mobilnya dan memarkirkannya di resto tersebut.
”Ahhhhh kalian lama banget sih…..” omel Anggun.
”Ya Allah Ngun….. emang gw terbang dari lantai 12 nya Vi ke sini? Belagak gila lo ya!” Jawab kesala Yanuar.
”Udah udah… sini peluk dulu sahabat kecintaan aku”, ucap Vi mengakhiri peperangan Anggun dan Yanuar sambil merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan Anggun.
”Untung ada Vi, kalau ga, udah gw cocol lu Yan”, galak Anggun sambil mememluk Vi.
”Jadi, whats the topic today Ngun?” Tanya Vi.
”Heh…. Topik apa?” Jawab Anggun.
”Lahhhh… lo katanya mau curhat. Apa sih ini anak? Harus banyak minum vitamin B12 nih anak.” Kesal Vi.
”Ealah… iya iya gw inget hahahaha…… Tau ga sih, Ibu sama Bapak minta aku nikah huhuhu”.
Yanuar dan Vi pun saling bertukar pandang terkejut mendengar ucapan Anggun. Bagaimana mungkin, Anggun yang tidak pernah memiliki pacar selama mereka kenal, diminta menikah oleh orangtuanya.
“Seriusan Yan. Ibu bilang, tinggal aku aja yang belum nikah. Kak Raya sama Kak Samudra udah nikah, sisa aku yang belum. Ibu sama bapak ga mau nambah dosa lagi kalau anak perempuannya belum nikah,” jelas Anggun tertunduk lesu.
”Hahahahahah…. Ya ampun, jadi selama ini Ibu sama Bapak anggep kamu dosa tah Ngun? Gw masuh pengen ketawa, please jangan ganggu…. Ini lucu… hahahahahah”, aujar Vi yang tertawa mendengar hal tersebut, disusul dengan tawa dari Yanuar.
”Ini kenapa pada ketawa sih?? Kesel banget gw liatnya. Mbok prihatin gitu liat sahabatnya dilanda kesusahan.”
”Bentar-bentar, ini lucu banget soalnya. Lo kan ga punya pacar Ngun. Gimana mau kewong?” Ledek Yanuar.
”Siala* lo Yan. Yang antri mah banyak. Yang sreg ga ada.”
Anggun memang memiliki paras cantik, mungil, dan kulit yang putih. Sebenarnya sudah banyak pria yang telah menyatakan cintanya pada Anggun, tetapi entah mengapa Anggun selalu menolak pernyataan cinta dari pria-pria tersebut. Vi dan Yanuar pun telah beberapa kali berusahan mengenalkan Anggun pada Pria kenalan mereka, tetapi Anggun selalu berhasil menolaknya dengan halus.
Malam itu, ketiga sahabat tersebut bercengkrama melepaskan rindunya. Masing-masing menceritakan cerita mereka.
Hingga saat dimana Vi menceritakan bagian ia dijodohkan. Sesaat mereka terdiam tidak percaya, karena Vi baru saja putus dari pria breng*ek, Dino.
__ADS_1
”Lo seriusan terima itu putusan papa mama Vi?” Serbu Yanuar dan Anggun.
”Ya gimana, omogan papa sama mama ga beda jauh sama ibu bapak Ngun, Yan”
”hm…. I See…. Tapi apa ini ga terlalu cepat Vi? Lo kan baru putus. Apa hati lo bisa belok tuh ke Zave?”
”Ya dicoba dulu. Gw minta sama mamam untuk kasih 6 bulan pengelanan dulu sih.”
”eh…. Btw si Zave itu kerja dimana sih? Bukannya dia di Canada” tanya Yanuar.
”Udah pulang doi. Minggu kemarin baru dari rumah gw. Dia tuh direktur utama perusahaan …..”, jawab Vi.
”Yah Be*o banget lo kalau ga mau sama dia. Terjamin banget deh kalau lo nikah sama dia” ledek Yanuar.
”Yeeeee si parjo, urusan hati nih. Bukan dompet doang.” Sanggah Vi.
Di tengah-tengah percakapan tersebut, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri meja merka bertiga.
”Halo, boleh saya gabung. Saya Zave, calon suami Vi”, ujar Zave sambil menghampiri mereka dan mengenalkan diri.
Mereka bertiga terkejut dengan kedatangan seorang pria bernama Zave, terutama Vi.
Yanuar yang masih terkejut, secara tidak sadar memberikan tempat duduknya yang berada di samping Vi.
”Mas Zave?? Kok bisa di sini?” Tanya Vi heran.
”Oh iya, tadi aku mau jemput kamu. Tapi kamu udah ga ada di kantor, terus akunsama Regan laper. Jadi mampir ke sini. Ternyata ada kamu dan teman-temanmu ya”, jawab Zave bohong.
-Flash back on-
Sejak tadi, Zave hanya berada di dalam mobil, sampai ia tidak kuat melihat ada pria yang terlihat dekat dengan Vi tertawa dan bercanda bersama.
”Lihat Gan? Masa iya sahabatan sampai begitu, ketawa-ketawa bareng sampai segitunya.” Kesal Zave.
”Yauda Bro, masuk aja. Kenalin diri. Mungkin Vi bisa senang jika calon suaminya datang memberikan kejutan.” Jawab Regan santai.
Ia pun bergegas masuk ke dalam resto tersebut. Dengan penuh percaya diri, Zave masuk dan menghampiri ketiga sahabat tersebut.
__ADS_1
-Flash Back off-