Jodoh Yang Tepat

Jodoh Yang Tepat
Terbongkar


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu saat Zave kembali ke Indonesia dan ia kembali memulai pekerjaannya sebagai direktur utama perusahaannya. Pagi itu Zave mulai menginvestigasi seluruh aset serta data perusahaannya. Terlalu banyak keganjilan dalam setiap data yang ia terima, terutama dalam divisi pelaksanaan proyek.


"Regan, semua data ini sudah benar adanya ?", tanya Zave di ruang kerjanya.


DIliriknya kembali bekas-berkas yang terkumpul di mejanya dan kembali ia cocokan kembali data tersebut dengan email-email yang sudah masuk ke laptop pribadinya.


"Iya bos, ini sudah semua. Bahkan sudah ku korek semua data-data yang tersembunyi di setiap divisi. Jadi tidak mungkin ada yang terlewatkan olehku", ujar Regan dengan sangat yakin.


"Baiklah. Kumpulkan semua staf direksi tertinggi di setiap divisi pukul 2 siang ini. Aku ingin membahas apa yang terjadi perusahaan ini. Ingin sekali aku melihat muka mereka yang akan terkejut dengan data yang sudah dikumpulkan", perintah Zave sambil menyunggingkan senyum liciknya.


Pukul 2 siang pun tiba, seluruh staff yang diminta untuk menghadiri rapat, sudah berkumpul dan duduk dengan rapih di kursinya masing-masing. Mereka sudah bisa menebak apa yang akan di bahas oleh pemangku jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Reza adalah manusia yang sudah berkeringat dingin setelah mendengar pengumuman tersebut. Sebelumnya, ia telah Bergegas membuat data-data palsu berusaha menutupi semua kebusukannya. Setelah ia cukup yakin dengan data yang ia miliki, ia pun bergegas menuju ruang rapat. Dengan wajah tanpa dosa, ia pun duduk dengan manis di kursi yang telah disiapkan di ruang rapat tersebut.


"Selamat siang semuanya. Sebelumnya kalian pasti sudah tau mengapa saya kumpulkan kalian semua di ruangan ini bukan?", Zave membuka percakapan dengan wajah datarnya.


Seluruh pengunjung ruangan tersebut, saling bertatapan satu sama lain berharap adanya keajaiban mengenai data-data pekerjaan mereka.


Tanpa adanya aba-aba, Regan bergegas menampilkan data-data di proyektor utama ruangan tesebut. Terlihat beberapa file data dari masing-masing divisi. Regan memulai dengan membuka data dari divisi pertama hingga divisi terakhir. Seluruh staff cukup terlihat tenang dan santai ketika data yang ditampilkan adalah data palsu mereka yang telah dipersiapkan sebelumnya.


Tetapi, ketenangan tersebut tidak berlangsung lama ketika Zave memulai percakapannya lagi.


"Wah... kalian ini terlihat senang sekali dengan data yang telah ditampilkan ya? Hmmmm.... baiklah. Sudah cukup kita bermain-main. Regan.. tolong perlihatkan data yang selesai di audit untuk ditampilkan!", perintah Zave.


Regan pun segera mengganti file yang berada di proyektor menjadi data yang telah selesa di audit.


Memang membutuhkan waktu cukup lama untuk mengumpulkan semua data real ini.


Seketika, wajah senang para kepala divisi berubah menjadi raut wajah yang tegang dan hawa pun berubah menjadi panas.

__ADS_1


"HAHAHAHHA.... Kenapa wajah kalian terlihat pucat ??? seharusnya kalian senang dengan data nyata yang telah ku perlihatkan. Di sini sangat terlihat kinerja kalian wahai para kepala divisi!!!", ucap kasar Zave.


"Apa yang kalian takutkan??? bukan kah data ini kenyataan ? Selama ini kalian cukup bersenang-senang dengan uang perusahaan ku ya??", cecar Zave.


Satu-persatu Zave menatap tajam seluruh manusia yang ada di ruang tersebut, tetapi mata Zave tidak berpaling dari Reza. Ya... Karena memang divisi Reza adalah divisi yang paling banyak membuat data palsu, pada nyatanya divisinya lah yang paling membengkak pembiayaannya.


”Siapa yang ingin mulai menjelaskan data ini? Apa baiknya saya tunjuk saja????” Tegas Zave.


Dari semua divisi, hanya 1 staff yang berani maju ke depan untuk menjelaskan datanya. Ia adalah pak Ricky, seorang pria paruh baya yang memiliki kinerja dengan kualitas yang cukup diakui oleh Zave. Pak Ricky adalah salah satu staff kepercayaan Zave di cabang Indonesia. karena memang semua yang ia kerjakan danyang ia laporkan sangat baik dan jujur.


”Boleh saya yang melaporkan data dari divisi SDM terlebih dahulu pak.” Ujar Pak Ricky yakin.


”Baik, silahkan dimulai Pak Ricky,” sambut Zave.


Pak Ricky pun mulai menjelaskan seluruh data dari divisinya. Mulai dari data penerimaan pegawai baru pada 5 tahun terakhir hingga pengeluaran divisi SDM. Zave pun mendengarkan dengan serius terutama pada bagian pengeluaran pada divisi tersebut. Data-data yang ditampilkan oleh Pak Ricky tidak berbeda dengan data yang ditampilkan oleh  Regan, karena memang tidak ada yang ditutupi oleh Pak Ricky dalam setiap pelaporannya.


”Pak Ricky, alasan anda bisa mengeluarkan budget tersebut dalam 5 tahun terkhir ini apa?” Tanya Zave diakhir presentasi Pak Ricky.


”Apa menurut anda itu sangatlah penting untuk kelangsungan perusahaan?”


”Tentu sangat bersinggungan pak. Jika staf kita merasa diperhatikan oleh perusahaannya, apalagi melibatkan keluarga, akan tentu sangat berdapak dalam kinerja mereka. Mereka akan memberikan segenap kinerjanya untuk membangun perusahaan ini lebih baik lagi.”


”Baiklah jika itu alasan anda, saya yakin dengan pandangan anda Pak Ricky. Tetapi, kenapa masih ada saja divosi yang masih curang di perusahaan ini?” Sindir Zave seraya melirik Reza.


”Hmm… kalau itu kembali ke sudat pandang masing-masing individunya Pak Zave. Mungkin saya harus menyediakan sesi konseling di perusahaan ini.” Jawab Pak Ricky mengerti maksud Pak Zave.


Seketika, seluruh pandangan melirik ke arah mana Zave melihat, yaitu Reza.

__ADS_1


Reza yang merasa tak nyaman, langsung berdiri dan melangkahkan kakinya ke depan ruang meeting tersebut.


”Baiklah, karena Pak Ricky sudah selesai memberikan presentasinya. Izinkan saya yang menjadi selanjutnya memberikan presentasi Pak Zave!” Tantang Reza dengan yakin.


Pria berumur 32 tahun ini dengan yakin memberikan presentasinya. Dari pencapaian hasil divisi mereka, hingga pengeluaran divisi mereka.


”Sekian dari presentasi saya. Mungkin ada yang ingin ditanyakan?” Ucap Reza yakin.


”Sebentar Pak Reza. Apa anda tidak melihat data yang telah saya tampilkan untuk divisi pelaksanaan proyek?”,ujar Zave.


”Tapi Pak Zave, saya memiliki data presentasi saya sendiri. Untuk apa harus menyamakan dengan data yang diberikan? Bukan kah lebih akurat jika menggunakan data yang saya tampilkan???” Jawab Reza dengan yakin.


”Hei, anda berada di depan sini untuk menjelaskan data yang ditampilkan oleh Regan. Bukan data yang anda miliki! Lagi pula, data sampah macam apa itu? Anda pikir saya tidak menyelidiki terlebih dahulu data dari setiap diivisi yang telah diberikan? Data anda ini adalah data sampah!” Murka Zave.


”Tapi Pak Zave, data ini adalah data…..”


”Cukup Pak Reza! Saya sudah cukup tau dan cukup sabar dengan anda. Jangan anda pikir, selama saya di Canada, saya tidak mendapatkan laporan aslinya! Anda inia telah memotong cukup banyak anggaran asli, memberikan anggaran untuk bahan-bahan proyek dengan kualitas rendah, menggaji para tidak sesuai dengan SPK mereka! Anda pikir, saya tidak mendapatkan pengaduan dari proyek yang dikerjakan di kota S, kota B, serta kota M???” Sahut Zave dengan emosi yang sudah tak tertahan.


”Betapa tidak manusiawinya anda Pak Reza… memberikan gaji para staff proyek hanya setengah dari yang seharusnya, membuat proyek dengan bahan kualitas rendah. Anda pikir itu tidak akan berdampak dengan perusahaan ini????” Cerca Zave.


Reza yang mendengar hal tersebut, hanya bisa terdiam mematung di hadapan seluruh jajaran kepala divisi yang telah berkumpul di ruangan tersebut.


Keringat dingin serta muka pucat berhasil tampil di tubuhnya.


”Pak Reza, saya rasa anda sudah mengetahui konsekuensi dari perbuatan anda ini. Setelah ini, saya minta anda menghadap Pak Ricky untuk menyerahkan surat pengunduran diri anda dan jangan lupa, pak ricky tolong buatkan surat perjanjian ganti rugi antara Pak Reza dengan perusahaan ini. Jangan biarkan ia keluar tanpa membayar pinalti dari perbuatannya! Saya tunggu hari ini, surat dan perjanjian tersebut harus sudah ada di ruangan kerja saya. Saya harap, ini dapat membuat anda berpikir Pak Reza!” Ucap Zzave dengan lantang seraya mengangkat dirinya dari kursi dan keluar dari ruangan tersebut.


Pak Reza yang terkejut dengan keputusan atasannya, hanya bisa berdiam diri.

__ADS_1


’Sialan kamu Zave, sudah mempermalukan ku dihapan semua orang. Akan ku buat perhitungan nanti. Tunggu saja’, batin Reza.


”Pak Reza, setelah ini, tolong ke ruangan saya dengan surat pengunduran diri anda. Masih ada urusan yang belum selesai!” Tegas Pak Ricky kepada Reza seraya menginggalkan ruangan meeting tersebut.


__ADS_2