Jodoh Yang Tepat

Jodoh Yang Tepat
Meyakinkan diri


__ADS_3

‘Tring tring tring tring tring…’, suara notifikasi pesan masuk membangunkan Vi pagi ini, di mana ini adalah hari libur saatnya Vi untuk sedikit merenggangkan badannya setelah seluruh pekerjaannya menumpuk di minggu ini.


POV Vi


“Astagfirullahhhh…. Masih pagi ada aja yang gangguin. Hari Sabtu ini atuh woi…. Ga bisa banget akutuh menikmati tidur nyenyakku!” Ujar ku kesal.


ku ambil HP ku yang tergeletak di nakas meja sebelah kasur ku. Dengan mata yang masih mengerjap sambil menyesuaikan kesadaran diri, perlahan ku buka sebuah aplikasi yang sedaritadi sudah berbunyi terus menerus di benda tersebut.


’Hai Vi. Bangun dong. Aku udah di bawah nih, lagi ngopi sama Om Heri dan tante Merri.’


ku kucek kembali mata ku sembali berkedip beberapa kali untuk mempercayai isi dari pesan tersebut.


”ZAVE!”, pekik ku seraya bangkit terduduk dengan selimut masih menempel di atas badanku.


’Ini orang pagi pagi gini, beneran dateng ke sini? Gila juga’, pikirku dalam hati.


Setelah tersadar, ku ketik sebuah pesan balasan, ‘Mas Zave ngapain pagi pagi ke sini? Ada yang ketinggalan kah semalam?’ Tanya ku dalam pesan singkat tersebut.


Tak berselang lama, suara ketuka pintu terdengar dari pintu kamar ku.


“Vi…. Ayo bangun. Sudah ada Zave di bawah lagi ngobrol sama papa.” Ucap lembut suara seorang wanita di balik pintu kamarku.


”Ahhhh iya mah. Tunggu sebentar, Vi cuci muka dulu”.


akupun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tampilan tidur ku, setidaknya wajahku bisa sedikit terlihat lebih segar untuk menemui seorang tamu di bawah nanti.


”Lahhhh ngapain juga aku buru buru. Santai aja kali ya?” Ucapku sambil mengelap wajahku dengan handuk setelah selesai membasuh muka.


akupun segera bergegas menuju langai satu di mana Zave dan keluarga ku sedang berkumpul.


terlihat di taman depan, Zave, papa, mama, dan kedua adikku sedang mengobrol diselingi dengan tawa tawa yang menghiasi perbincangan tersebut.


”Jadi gimana Mas Zave? Apa kamu udah yakin sama mba ku yang satu itu? Dia bisa berubah menyeramkan loh kalau lagi ngamuk”, seru Tiwi terdengar oleh ku yang masih berada di ruang tengah.


”Ahahaha. Gapapa Wi. Mas yakin bisa menjinakkan kakakmu itu,” jawab Zave dengan tawa khasnya.


”Heh!!! Bisa bisanyaaaaa kamu yaaaaa jelek jelekin aku saat aku ga ada?!!” Ucap ku kepada Tiwi sambil memiting lehernya pelan.


“ampun mbaaaa…. Ampunnnn….. Mas Zave, tolongin Tiwi dong! Mbaa…. Masih bau ihhhh!” Ujar Tiwi sambil mencoba melepaskan tanganku dari lehernya.


Bukannya melerai, Zave malah tertawa melihat tingkah ku dan Tiwi saat itu.


“Healaaahhhh anak 2 ini, bukannya akur, malah gelut”, ujar papa sambil melepaskan tanganku dari Tiwi.


”Ya abis pah, bisa bisanya dia bilang aku seram”, belaku.


”Awas ya Wi, ga ada jajan 2 bulan!” Ancam ku.


”Gitu aja ngambek. Ihhh malu ada Mas Zave!”


ternyata ancamanku malah tidak mempan kepadanya, ia malah meledek ku yang membuatku malah semakin malu dihadapan Zave.


”Yeeee minta disikat lagi ni bocil”, jawabku yang sudah bersiap untuk kembali memiting leher Tiwi.


Zave yang melihat tersebut, dengan sigap memegang lenganku sambil terus tertawa melihat tingkah kami.


”Sudah lahhh Vi, kasian adikmu.” Bela Zave.


tiwi yang melihat hal tersebut, merasa senang dan meledekku kembali dengan memberikan wajah khas ledekannya.


Akupun terdiam, memancungkan bibirku yang menandakan aku ngambek.


seluruh manusia yang ada di taman depan, saat ini tertawa melihatku melakukan hal tersebut.


akupun ikut tertawa, tak tahan dengan suasana yang ada. Hanya terpikirkan untuk menikmati suasana yang ceria di pagi ku yang cerah.


”Ya sudah, kamu lanjutkan ngobrol dengan Vi dulu ya Zave. Kami ingin masuk ke dalam. Mau lanjut sarapan,” ujar papa sambil memberikan kode keseluruh anggota keluarga ku untuk masuk,  tentunya kode itu bukan untukku.


”Baik om. Terima kasih sudah mau menerima dan menemani saya ngobrol pagi ini,” balas Zave.


Seluruh anggota keluargaku sudah kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan ku berdua hanya dengan Zave.


“Kamu sudah ada rencana hari ini Vi?” Tanya Zave tiba-tiba.

__ADS_1


”heeee… aku ? Belum sih. Rencananya cuma mau leha leha aja di rumah hehe.” Balasku.


”Hmmmm… hari ini ikut dengan ku yuk?” Pinta Zave.


”Kemana mas?”


”temani aku jalan jalan aja. 2 bulan aku di sini, ga pernah jalan jalan hehehe.”


”hmmm… mau kemana?” Tanya ku masih penasaran.


”Ke Bandung. Gimana ?” Ujar Zave yang membuatku cukup terkejut.


’Aduh…. Mau diapain nih gw?? Kenapa harus ke luar kota sih?’


Melihat wajah bingungku, Zavepun mengerti.


”Heiii… jangan mikir aneh aneh. Aku juga mau ajak kedua adik mu juga. Mana dibolehin sama Om Heri kalau kita pergi berdua keluar kota. Sudah lama aku tidak pergi ke Bandung. Kangen juga rasanya.” Ujar Zave yang mengerti raut wajah bingung ku.


”Boleh aja kalau gitu. Kamu yang ijin sama papa dan mama ya mas. Tiwi dan Asih juga pasti mau. Mereka sudah lama juga ga jalan keluar kota.” Jawabku yang menyetujui ajakan Zave.


Zave pun bergegas ke dalam rumah meninggalkan ku sendiri di taman depan ini.


’ini tuh gw yang tamunya apa gw yang tuan rumahnya sih’, batin ku yang melihat Zave sudah mendekati papa.


Akupun sedikit tersenyum dengan sikap Zave, betapa gentlenya ia sebagai lelaki, mau bertemu dengan kedua orantuaku walaupun aku tidak ada saat itu. Sangat berbeda dengan Dino, dia sangat enggan bertemu kedua orangtuaku ketika aku tidak ada, padahal kalau dipikir pikir, hubungan pacaran kami memang sudah seperti mau nyicil rumah.


Akupun tidak berdiam lama di taman depan dan langsung menyusul Zave di dalam yang sedang meminta ijn kedua orangtuaku untuk mengajak ku berlibur ke Bandung.


”Gimana om? Tante? Boleh? Tiwi dan Asih juga ikut kok.” Tanya Zave dengan berharap jawaban positif dari kedua orangtuaku.


”Yauda gapapa Zave. Tapi ingat, ketiga anak om ini perempuan. Harus kamu jaga dengan baik di sana ya. Ada satu kurang dari salah satu anak om, om cari kamu sampai ke lubang rayap!” Ancam ayah sambil memberi ancaman candanya.


Asih dan Tiwi yang mendengar hal tersebut, terlihat sangat senang. Terpikir oleh ku, kapan terkahir kalinya aku mengajak mereka, mungkin satu tahun lalu.


memang satu tahun belakangan ini, aku terlalu memaksa raga dan pikiran ku untuk pekerjaan, dan aku juga jarang memberikan kesempatan pada tubuhku untuk istirahat, mungkin istilah jaman sekarang healing.


healing body and soul.


20 menit berlalu, aku dan kedua adikku sudah siap untuk berangkat menuju Bandung.


sesaat sampai di depan mobil, aku terkejut mendapati Regan sedang tertidur di dalam mobil zave.


”Loh… Mas Regan ternyata ikut Mas Zave ke sini?” Tanyaku yang heran mendpati Regan baru terbangun.


”Ah iya Mba Vi. Pagi… tadi dipaksa Bos ikut ke sini, tapi sya ngantuk berat,” jawab Regan sambil memancungkan bibirnya memberikan kode menunjuk Zave.


Zave yang mendengar hal tersebut, langsung melayangkan sentilannya ke kuping Regan.


”Duhhh… apa sih bro?? Pagi pagi udah kena sentil aja!” Ucap Regan keakitan sembari memegang kupingnya.


”Mulutmu itu Gan!” Ujar Zave membelalakkan matanya.


”Ehhh itu… kan memang kita mau ke luar kota. Jadi aku juga ajak Regan supaya dia ga bosan aja di rumah. Ya kan Gan?” Tepis Zave sambil terlihat mencubit pelan Regan.


”Ah… iya iya. Benar!” Jawab Regan yang terlihat dipaksakan dengan keadaan.


aku dan kedua adikku hanya bisa tertawa melihat mereka. Ternyata mereka tidak berbeda dengan kedua adikku, gemar bercanda dengan sedikit mengintimidasi.


setelah perbincangan kecil itu, kamipun bergegas menaiki mobil untuk segera berangkat menuju Bandung.


tidak lupa papa dan mama juga terlihat di teras rumah sambil melambaikan tangannya melepas kepergian liburan kami ke Bandung.


Dalam perjalan selama kurang lebih 3 jam ini, banyak sekali hal yang kami bicarakan. Mulai dari pekerjaan, perkuliahan, sekolah, kegiatan sehari hari, sampai kenangan saat kecil dulu.


tak terasa, perbincangan panjang kami telah berhasil menemani kami sampai kota Kembang tersebut.


”ahhhh gerbang tol Pasir Koja…. Sudah lama Asih ga lihat plank tulisan ini. Mas Zave, Mas Regan… sering sering dong ajakin kita jalan jalan gini.” Pinta Asih tanpa malu.


akupun yang mendengar hal tersebut, tersonta malu karena bisa bisanya anak ini meminta hal yang di luar kebiasaan.


”Asih…… ku piting lagi mau ?” Ujarku dengan nada mengintimidasi.


Dengan santainya, Zavepun menjawab, “Iyaaa…. Nanti kalau mas sudah resmi jadi kakak iparmu seuruhnya, kita akan sering jalan jalan ya.”

__ADS_1


aku yang mendengar hal itu, menjadi sangat malu. Bagaimana tidak, kita saja belum memiliki hubungan apapun.


Cuma status perjodohan saja yang kami miliki. Berarti akmi belum memiliki ikatan apapun toh.


kenapa dia bisa dengan Sangat percaya diri mengucapkan hal itu.


Asih dan Tiwi pun tertawa melihat ekspresiku yang mungkin tidka bisa tergambarkan.


”Halahhhh mbaaaaa…. Iniloh, Mas Zave udah kode keras udah ngebet ngawinin kamu. Masih aja jual mahal!” Ucap Tiwi tanpa memikirkan ekspresi wajahku.


refleks mendengar hal itu, aku pun kembali menarik leher Tiwi sambil bergaya MME.


”Mas Zaveeee…. Tolonginnnn….”, pinta Tiwi berharap pertolongan Zave yang duduk di depan.


Seluruh peserta yang ikut di dalam mobil ini, tertawa melihat tingkah ku dan Tiwi.


Setelah pergerumulan kecilku dengan Tiwi, akupun teringat akan penginapan yang akan kami singgahi untuk beristirahat.


”Mas, kita jadinya nginep dimana?” Tanyaku yang melihat laju mobil semakin pelan setelah sampai di jalan Braga, lokasi dimana anak muda senang berkumpul.


”Gan, kamu pesen hotel dimana?” Tanya Zave kembali pada Regan.


sontak Reganpun terlihat memincingkan matanya seolah mencoba mengingat kembali akan sesuatu.


”lohhh… ku pikir, kamu sudah prepare penginapan bro?” kembali tanya Regan dengan muka bingungnya.


”Kamu ga pesen hotel Gan? Kan semalam aku udah info untuk cari hotel di Bandung!” Jawab Zave dengan sedikit meninggikan suaranya.


Aku yang melihat hal itu, mengambil benda kecil di dalam tas ku dan segera berselancar di sebuah aplikasi Travelling.


”Yauda, nih aku udah cari hotel. Di sini aja ya?” Ucapku sambil menyodorkan Hp ku ke Zave.


Zave pun membaca nama hotel yang telah ku infokan dan segera menelpon nomor yang tertera di browser Hp ku.


terdengar dia memesan 2 kamar dengan extra satu bed dengan tipe Suite room.


Tiwi dan Asih yang mendengar tipe kamar itu, langsung menepuk pundak Zave selayaknya sedang memberikan penghargaan.


”Memang anda calon kakak ipar terbaik Mas Zave”, ucap Tiwi dan Asih bersamaan.


Aku yang memikirkan berapa harga tipe kamar yaang dipesan oleh Zave pun bertanya, “Mas, ini ga kemahalan? Niatku cuma pesen yang standart room aja loh mas.”


”Gapapa Vi. Kita ini liburan jarang jarang. Sesekali memberikan penghargaan terbaik untuk diri kita sendiri gapapa toh?” Jawab Zave dengan santai yang sedang mentransfer sejumlah uang untuk pembayaran kamar hotel tersebut.


aku yang mendengar hal itu,  hanya berpikir, mungkin memang ada baiknya sesekali memanjakan diri sendiri. Toh ini memang baik untuk kesehatan tubuh dan mental sendiri kok.


tak butuh waktu lama, kami pun sudah berada di lobby hotel. zave pun bergegas ke reseptionis hotel untuk melakukan validasi pesanannys sambil menunggu Regan memakirkan mobil.


“Baiklah, ini kuncinya Vi. Kita istirahat dulu ya satu jam.” Ujar Zave sambil melirik jam tangah mewahnya.


”Nanti kita akan jalan jalan ke bandung atas ya. Jadi silahkan rebahkan tubuh kalian dulu di kamar.” Ucap Zave sekali lagi.


Kami pun bergegas menuju kamar masing masing. Kamarku dan Zave, hanya terpisahkan jalan lorong hotel saja. Kamar tipe suite ini, berada di lantai 10 dimana pastinya memberikan pemandangan ayng luar biasa.


”Mba, kamu masih ga yakin sama Mas Zave? Tanya Asih dengan tiba tiba saat kami sudah berhasil menyusun seluruh perkakas bawaan.


”Hmmmm gimana ya? Mba tuh bukannya ga yakin. Tapi kpterasa terlalu cepat aja sih. Kamu tau kan, mba tuh baru putus sama Dino. Tiba tiba langsung disuguhin kenyataan soal perjodohan.” Jawabku sambil mencoba duduk dipinggir kasur yang sangat nyaman ini.


”Iya sih mba. Tapi apa kamu udah coba untuk buka hatimu itu ke Mas Zave? Aku, Tiwi, mama, dan papa tuh yakin banget kalau Mas Zave bisa bawa mba Vi ke masa depan yang baik.”


Darimana kedewasaan adikku ini ya Tuhan, batin ku mendengar semua ucapan Asih.


”Mba lagi usaha kok, usaha banget. Apalagi melihat kalian itu sangat senang dengan kehadiran Zave. Tapi memang aku butuh waktu lebih lagi untuk mengenal sejauh apa Zave bisa menghadapi sku dan jalan hidupku? Kamu taukan? Dia itu direktur. Sedangkan aku? Masih jauh dengan level pekerjaannya. Apa aku bisa memantaskan diri bersanding dengan Zave?” Jawab ku dengan penuh tanda tanya.


”Mba. Semua itu bisa diraih jika memang dirimu mau melakukannya. Ga ada yang ga mungkin kalau kamu tetap berusaha. Sekecil apapun usahamu, pasti akan terbayarkan nantinya. Mungkin untuk sekarang, kamu ga yakin. Tapi nanti… pasti Asih yakin. Mba Vi ga akan nyesek terima Mas Zave sebagai pendamping hidup Mba Vi.” Ujar Asih sambil memelukku.


baru kali ini aku mendengar ucapan Asih yang sangat menyentuhku. Ya mungkin memang ini yang terbaik untukku.


tapi… apa iya aku bisa memantaskan diri dnegan Zave? Ah sudahlah.. ku nikmati saja semua proses yang sedang berlangsung ini.


Setelah mendengar semua ceramah adik kecil ku, aku pun merebahkan diriku dan tak terasa, mataku mulai terpejam dengan segala pertanyaan untuk diriku.


‘apakah iya aku akan bisa membuka hatiku?’

__ADS_1


__ADS_2