
Setelah memberi kabar kepada Regan dan membayar bill makan, Zave dan Vi pun bergegas kembali ke kantor Vi, karena memang mobil Vi masih terpakir cantik di sana.
di tengah perjalanan kembali ke kantor Vi, Vinsempat terdiam karena memang perjalan dengan langkah kaki tersbut mengharuskan Vi dan Zave menyeberang.
Zave yang sadar akan hal tersebut, bertanya pada Vi.
”Vi. Ayo nyeberang. Kenapa diam saja? Nanti keburu lalu lintasnya semakin ramai.” Ucap Zave.
”Hmmmm…. Gimana ya ngomongnya.”
”ngomong apa sih Vi. Ayok cepat sedikit.” Pinta Zave.
Vi yang akan melangkah maju, sekita kembali ke posisi asalnya dan kembali terdiam ketika ada mobil yang melintas dengan kecepatan rendah di hadapannya.
Zave yang masih belum sadar, akhirnya kembali meminta Vi untuk menyeberang.
”Ayok Vi. Kita ga akan sampai ke mobil kalau kamu diam saja.” Seru Zave.
”Hmmm…. Anu mas. Vi ga berani nyeberang sendiri.”
Zave yang mendengar hal tersebut, tertawa dengan lantang. Pasalnya, Vi yang terlihat tomboy dan berani, ternyata tidak bisa menyeberang sendiri.
”kamu beneran ga bisa nyeberang sendiri Vi? Padahal ini bareng sama aku loh.”
”heh…. Malah ketawa lagi”, ujar Vi malu.
”Hahahah. Maaf maaf. Ayok jalan bareng kalau gitu.”
”masih ga berani mas……”
”lahhhh terus kamu maunya gimana?”
”hmmm… boleh aku gandeng kamu mas?”
Zave yang mendengar permintaan Vi itu, langsung tersenyum lebar dan memberikan lengannya sebagai tanda untuk Vi segera menggandengnya.
Vi yang tidak menyia-nyiakan tawaran tersebut, langsung menyambar lengan Zave dengan erat. Ditahannya rasa malu dan harga dirinya demi bisa menyeberang kembali ke kantornya.
”Terima kasih mas….” Ucap Vi yang langsung melepaskan lengan Zave dengan cukup kasar.
Tetapi Zave masih tetap tersenyum dan memberi anggukan sebagai tanda kembali terima kasih.
zave mengemudikan mobil Vi dan sesekali memandang wajah Vi yang sibuk menatap gedung-gedung pencakar langit selama perjalanan kembali. Hanya ada keheningan di antara mereka.
Tak terasa, perjalanan menuju rumah Vi pun telah sampai.
”Mas Zave, terima kasih sudah mengantar. Jemputan mu sudah sampai tuh”, tunjuk Vi ke sebuah mobil sedan merah di luar pagar rumah ya.
”Ah iya, sama-sama Vi. Kalau begitu, aku pamit dulu ya. Sampaikan salam ke om Heri dan Tante Meri ya.”
”Iya mas. Terima kasih juga traktirannya hari ini,” ucap Vi sambil melambaikan tangannya kepada Zave yang sudah berjalan menuju mobilnya.
Setelah memasuki mobil, Zave tidak lupa meminta Vi untuk tetap berkomunikasi dengannya.
__ADS_1
Di dalam perjalan.
”Gan, tau ga bro? Lengan ini bro… lengan ini di peapgang Vi! Astaga….. bisa bisanya dia pegang ini lengan. Lo tau ga, mau copot jantung gw tadi”, seru Zave kegirangan.
”Bro…. Hati-hati. Bisa ke psikiater nih nanti gw anter. Perkara dipegang aja hebohnya kalahin jagat raya!” Ledek Regan.
”Ahahaha gapapa. Yang penting ini genggaman pertama Vi Gan. Astagaaa….. hahaha”.
Zave pun tidak henti-hentinya mengembangkan senyuman sumringahnya yang membuat Regan hanya bisa menggelengkan kepalanya dan ikut tersenyum melihat bos sekaligus sahabatnya itu sedang jatuh cinta.
Sesampainya di rumah, Zave langsung menuju kamarnya.
ia pun menekan beberapa angka di layar sentuh telponnya.
”Dek….. gimana kabar Canada ? Aman????” Tanya Zave kepada adiknya di benua lain.
“bang, tau ga sih? Kamu itu ganggu lunch aku. Aku tuh lagi ngedate. Astagaaaaa…..” jawab kesal….
”Hih… ditanya abang ya kok malah ngedumel. Eh …. Kamu tau ga. Hahahahaha”
”apasih bang. Belum cerita udah ketawa-tawa. Mulai gila ya? Baru sebentar di Indonesia udah mulai meleber otaknya,”
”hahahah. Enggak… Abang tuh lagi seneng banget malam ini. Tadi abang ketemu Vi. Dan kamu tau, dia megang lengan abang… astagaa…. Bener-bener ya…. Rasa girangnya ngalahin dapat tender dari perusahaan besar! Hahahaha,” girang Zave.
”Ya ampun. Abangku lagi puber ternyata… Segitu senangnya lengan mu dipegang Vi bang?”
”Pastilahhhh…. Yasudah. Abang cuma mau kasih tau kamu itu aja. Ahahha. Sudah ya…. Happy lunch my beautiful sister” tutup Zave mengakhir telponnya.
Di pagi harinya, Vi yang sudah siap untuk berangkat ke kantor, menyempatkan diri untuk sarapan bersama dengan keluarganya.
”Vi, semalam diantar siapa?” Tanya Pak Heri.
”Sama Mas Zave pah”, jawab enteng Vi.
Tiwi dan Asih yang mendengar hal itu, sontak berhenti mengunyah dan langsung memandang Bi dengan tatapan menggoda.
”Ada apa lagi sih ini duo bocil liatin aku macam gitu? Mau ku colok mata kalian hah?” Ucap Vi galak.
”Ahahahaha… ada yang pulang kencan nih!” Goda asih.
”Mba, kalau kamu ga mau sama mas Zave, gapapa, buat aku aja”, ucap Tiwi.
”Sudah sudah… makan dulu.” Perintah Bu Meri mengakhir pertikaian ketiga saudari ini sebelum hal yang lebih mengerikan terjadi.
Keluarga itu pun makan dengan diselingi canda dan tawa cerita seperti biasanya.
”Vi, bagaimana hubunganmu dengan Zave? Apa kamu sudah mulai mengenal nak Zave lebih dekat lagi?” Tanya Bu Merri sambil mengantarkan Vi ke depan pintu rumahnya.
”Iya semalam ga sengaja ketemu Mas Zave Mah. Ya cuma sebatas tukar cerita aja sih. Semalem juga diantar pulang sama Mas Zave. Dia titip salam juga buat mama sama papa. Katanya hari Minggu kemarin ga bsia dateng karena Om Salman ga enak badan.”
”loh sakit apa rupanya Pak Salman Vi?”
”Kolesterolnya kumat lagi kata Mas Zave mah. Ya udah, Vi berangkat dulu ya mah. Nanti duo bocil itu ngomel kalau sampai telat berangkat. Assalammuallaikum”, tutup Vi sambil mencium tangan Pak Heri dan Bu Meri untuk pamit pergi.
__ADS_1
Selepas kepergian ketiga anaknya, Pak Heri mengembangkan senyumnya.
”Hih… papa serem amat sih. Pagi pagi udah cengar cengir sendiri.” Ujar Bu Merri.
”hahaha enggak mah, papa seneng aja ngeliat Vi udah mulai mau mengenal Zave. Padahal kemarin-kemarin kalau ditanyain, manyun aja kan. Akhirnya anak gadis kita mau membuka hatinya pada perjodohan ini mah.”
”Iya juga sih pah. Mama juga seneng lihatnya. Zave itu anak yang baik. Didikannya Pak Salman, mama rasa ga akan jadi barang reject sih”.
“Halah mahhhh…. Macam barang aja barang reject. Yauda mah, yuk kita masuk. Nanti temenin papa ke rumah Pak Salman ya.”
”Iya pah. Sekalian belanja bulanan ya. Udah pada abis nih di rumah.”
—
Setelah sampai di kampus Tiwi, Vi yang hendak kembali berangkat, sedikit terkejut dengan wejangan adiknya.
”Mba, aku senang kamu udah mulai buka hati setelah kejadian sama si Panjul itu. Cobalah membuka hati sedikit lagi dan mengenal lebih banyak mengenai Mas Zave. Aku rasa, memang Mas Zave menyukai mba Vi dari dulu. Jadi pasti dia itu pria yang tepat untuk mu. Ehh… mungkin lebih tepatnya, jodoh yang tepat!” Ucap Tiwi.
”heh… anak kecil bisa-bisanya ngomongin jodoh sama yang tuaan. Sentil nih. Udah sana, masuk! Udah ditunggu pangeran mu tuh”, tepis Vi.
”Mbok ya kalau di nasehatin tuh dengerin loh mba. Malah galakan dia. Duluan aku nikah, baru tau rasa nanti”, omel Tiwi sambil membuat muka meledek.
”Iyaaaa adikku sayang yang paling bawel sejagat planet bumi”.
setelah percakapan singkat itu, Vi bergegas kembali melajukan mobilnya ke kantor.
—
tepat pukul 08.30, Vi sudah berada di kantornya.
”Pagi Mba Ratri yang Cantik….. Udah sarapan?” Tanya vi ke penjaga lobby di bawah.
”Pagi Bu Vi. Udah dong. Kalau belum, bu Vi mau kasih saya makanan ya?”
”ya enggak dong, basa-basi aja. Biar dibilang ramah. Hahah”, jawab Vi meledek.
”Yauda lah bu. Ga udah kenal lagi kita sejak saat ini”, ambek Mba Ratri recepsionis lantai 1.
”jangan dong. Nanti aku ga bisa nyapa wanita cantik di lantai 1 lagi. Hahaha.”
”iya iya bu. Oh iya bu, tadi ada tamu yang nanyain ibu. Beliau sudah ada di ruang tunggu depan ruangan ibu.”
”Siapa lagi mba? Dino??” Tanya penasaran Vi.
”bukan bu. Udah saya masukin black list kalau dia mah. Ini sih lebih ganteng bu. Uhhh pokoknya yahuyyyy…. Andai ku ga punya tunangan, udah tak ajak kencan bu.”
”halah Mba Ratri nih, kambing dipakaikan pomade juga dibilang ganteng. Yauda, saya ke atas dulu ya mba….. happy duty”.
Vi pun bergegas ke arah lift dan memasukinya.
Setelah lift itu membawa Vi ke lantai yang ia tuju, Vi pun bergegas ke arah ruangannya. Takut jika tamu tersebut adalah tamu penting.
Tetapi Vi sungguh terkejut, melihat bahwa tamu tersebut adalah Zave.
__ADS_1