Jodoh Yang Tepat

Jodoh Yang Tepat
Perkenalan Dua Insan


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Vi bergegas menutup pintu dan berdiri mematung dibalik benda padat tersebut.


Dipegangnya jantung yang ia miliki seraya berpikir, 'apa itu Mas Zave? Benarkah ? Anak kutu buku itu telah tumbuh menjadi pria yang tampan? Bahkan lebih tampan daripada Dino? Hih.... ngapain sih kamu mikirin itu Vi. Fokus, sadarlah.....'.


Vi pun berangsur sadar dan segera membawa dirinya ke dalam kamar mandi setelah menaruh segala peralatan perangnya.


Di dalam kamar mandi, Vi yang masih tertegun, memikirkan apa yang akan ia katakan kepada keluarga Pak Salman dan pria yang akan menjadi suaminya kelak.


Vi segera menyalakan shower, mengaturnya ke suhu hanyat, dan membasuh bersih seluruh badan serta kepalanya.


15 menit berlalu. Tak terasa ritual membersihkan badannya ini pun telah selesai.


Vi bergegas keluar dari kamar mandi dan segera menyiapkan diri untuk bertemu keluarga calon suaminya tersebut.


Kemeja lengan 3/4 berwarna biru gelap serta celana jeans menjadi pilihan Vi untuk membalut tubuh proposionalnya. Ia terlihat sangat manis karena memang tubuhnya memiliki kulit sawo matang, tinggi 168cm dengan berat 56kg.


Saat Vi akan melangkahkan kakinya, betapa terkejutnya ia ketika mendapatkan Tiwi sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya untuk memanggil Vi.


"Ya Allah mba..... Kamu tuh cewek beneran bukan sih? mau ketemu calon suami kenapa pakaiannya gini sih?" omel Tiwi.


"Apaan sih dek... Ini tuh baju udah rapih dan nyaman untuk ku. Baru calon suami saja kenapa mesti repot sih?"


"Ganti mba... ganti! Kamu pilih ganti bajumu dengan yang lebih anggun atau ku guyur lagi nih?" ancam Tiwi sambil berjalan pelan menuju kamar mandi Vi dan mencari gayung.


"Heh... ini bocil berisik banget sih! Iya iya aku ganti. Bantu mba pilih bajulah kalau gitu", pinta Vi dengan cemberut.


Tiwi yang memang terkenal fashionable di kampusnya, segera membongkar isi lemari Vi. Di lemparnya baju-baju yang telah ia pilih tetapi tidak sesuai dengan maksudnya.


Sampai ia berhenti dengan 1 dress yang satu-satunya dimiliki oleh Vi. Baju ini adalah pakaian yang dimaksud oleh Tiwi. Ia teringat akan kakaknya memiliki 1 dress yang saat itu digunakan di ulang tahun pernikahan kedua orangtuanya ke 25 tahun.


"Mba.. mba... buruan pake ini. Kamu pasti geulis pisan. Nanti aku bantu poles sedikit lah mukamu yang layu itu", perintah Tiwi.


"Astagfirullah dek, ancur semua ini isi lemariku...." ucap Vi kesal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ini seriusan mba pake ini? Apa masih pantes ? ini baju 4 tahun lalu loh," rengek Vi tanda tidak setuju dengan baju pilihan adiknya.


"Pilih nurut atau aku guyur?" sekali lagi ancaman dari Tiwi dan berhasil membuat Vi menyetujuinya.


10 menit berlalu, Vi telah siap untuk menemui keluarga Pak Salman.


Vi terlihat anggun dan lebih manis dengan adanya make up tipis yang diulas oleh adiknya.


Mereka berdua bergegas meluncur ke lantai 1, dimana seluruh keluarga dan tamu agung tersebut berada.


Keluarga Vi, Pak Salman, Regan, dan Zave terkejut melibat betapa manisnya anak perempuan yang sedang turun melewati tangga tersebut.


Mereka terkagum akan sosok Vi yang terlihat sangat manis, cukup berbeda dari kesehariannya.


Zave yang melihat Vi, tak berkedip dan sangat terpesona akan calon istrinya tersebut.


Regan yang berganti memperthatikan bosnya, langsung menyenggol bahu Zave.


"Bos, apa kau tidak malu terlihat bodoh seperti itu di depan calon istrimu??", bisik Regan.


"HAH??? Ada apa Gan?", tanya Zave yang tersadar akan lamunannya.

__ADS_1


"Aduh.. kau ini ada-ada saja bos. Stay cool lah!" Perintah Regan.


Zave yang mendengar celetukan itu, langsung membenarkan posisinya agar terlihat lebih cool dihadapan Vi.


Vi dan Tiwi yang baru sampai di ruang tengah tersebut, langsung menyapa semuanya.


"Selamat malam semuanya. Maaf sudah menungguku lama", ujar Vi tertunduk malu.


Sesungguhnya Vi sangat tidak PD dengan pakaiannya sekarang. Menurutnya, pakaian ini cukup membuatnya risih, apalagi semua mata tertuju padanya.


'Aduh..... ini pada kenapa sih ngeliatin aku kayak gini?? apa Tiwi membuat wajahku menor?? Atau ada robek pada bajuku??' batin Vi.


"Malam juga Vi... Kamu terlihat manis sekali malam ini", tanpa sadar Zave mengeluarkan kata-kata itu.


Ditepuk mulutnya sendiri setelah ia sadar telah berbicara tanpa ada ijin dari sang otak.


Vi yang semakin malu mendengar ucapan tersebut, membuat wajahnya semakin menunduk.


"Sini nak, duduk di sini", tunjuk Heri sebagi tanda untuk Vi duduk di tengah keluarganya.


Vi tersadar dan langsung mengikuti petunjuk dari ayahnya.


"Bagaimana Pak Salman? Anakku sekarang tumbuh semakin manis bukan?" ujar bangga Heri kepada Salman.


"Ya tentu Her. Anakmu tumbuh dewasa dan semakin cantik saja. Hahaha", jawab Salman.


"Ini pasti mengikuti ibunya. Ya kan Mer?", ledek Salman.


Merri yang mendengar hal tersebut, sontak tertawa dan menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan statement Pak Salman.


"Baiklah Vi. Ceritakan tentang hidup mu selama ini. Om ingin mendengarkan kisahmu loh. Sudah lama om tidak bertemu denganmu bukan?" tanya Salman.


Di sisi lain, Zave yang dengan serius mendengarkan Vi bercerita, tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman indahnya.


Vi yang memperhatikan hal tersebut, berangsur menyelesaikan ceritanya. Karena menurut Vi, ia agak tidak nyaman jika diperhatikan secara berlebihan seperti itu.


Zave sadar akan hal itu, langsung mengubah topiknya menjadi kisahnya. Ya, Zave tak mau kalah dengan Vi dan langsung menceritakan mengenai dirinya tanpa diminta siapapun.


1 jam terlewati... Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 09.30 malam.


Keluarga Pak Salman berpamitan ke keluarga Pak Heri.


"Her, weekend ini, kami kembali ke sini ya. Mau numpang makan. Hehehe", canda Pak Salman.


"Ah kau ini... datanglah, jangan lupa membawa bahan-bahan masakan ya. Biar aku tidak rugi. Hahaha", balas Pak Heri.


Setelah berpamitan pergi, tinggallah keluarga Pak Heri yang masih duduk di ruang keluarga.


"Ah... memang Zave itu tumbuh menjadi pria yang sempurna. Bukan kah seperti itu Vi?" Ujar Heri.


Vi Yang terkejut mendengar hal tersebut, sontak membuat wajahnya langsung memerah.


"Yeuhhhh Mba Vi ini. Mikirin apa sih? Terpesona dengan ketampanan Mas Zaverick ya??" ledek Asih.


"Apaan sih dek??! Aku cuma lagi mikirin kerjaanku aja kok", sanggah Vi.

__ADS_1


"Mana ada mbaaaaa mikirin kerjaan sampe merah gitu? kerja rodi panas-panasan emangnya?" timpal Asih.


"Tapi emang Mas Zave itu ganteng ya sekarang. Kalau Mba Vi ga mau, buat aku aja mba. Aku dengan sangat ikhlas menerima pria ganteng seperti itu", ucap Asih, si bontot.


"Ambil Sih... ambil...."


"Yakin mba?? stok cowok ganteng normal itu sudah menipis loh", ledek Asih.


Pak Heri dan Bu Merri yang mendengar guyonan ketiga anaknya, langsung tertawa.


Malam itu ditutup dengan canda tawa dari keluarga Pak Heri.


----------------


Vi yang sudah bersiap untuk tidur, terlonjak ketika ibunya membuka pintu dan langsung duduk di sisi pinggir kasur Vi.


"Nak, bagaimana perasaan mu saat ini? Mama lihat, Zave tumbuh menjadi pria yang baik. Mama akan sangat senang jika semua anak mama bisa bersanding dengan pria baik loh", ujar lebut Bu Merri.


"Jujur mah, Vi belum siap membukan hati kepada pria mana pun. Vi masih trauma akan hubungan Vi yang kemarin. Belum genap sebulan loh mah, Vi dicampakan oleh manusia sial*n itu!" jawab Vi mengebu-gebu.


Vi yang sadar akan perkataan kasarnya, langsung menutup mulutnya sendiri.


Bu Merri yang mendengar hal tersebut, hanya tersenyum manis kepada anak gadisnya ini.


Ditatapnya lembut gadis yang telah tumbuh dewasa ini.


"Vi.. Mama tau sekali rasanya dicampakkan. Tapi apakah itu akan menutup hatimu selamanya? kamu sudah 29 tahun Vi. Sudah sangat matang untuk menjalin pernikahan. Mama dan papa sudah sangat ingin mengendong cucu loh. Apa kamu mau, saat kamu memiliki anak, kami sudah tidak kuat menggendok anakmu??" Tanya Bu Merri yang berhasil membuat Vi terngiang akan umur kedua orangtuanya.


Vi berdiam memikirkan omongan Bu Merri.


Ditatapnya kembali mata Bu Merri.


"Ma, Vi kan sudah berjanji ke papa bahwa Vi akan menerima perjodohan ini. Tapi Vi minta waktu untuk lebih mengenal Mas Zave ya ma", rayu Vi.


Vi yang tak tega melihat tatapan ibunya, langsung memberikan sinyal baik mengenai hal tersebut.


"Baik, kalau itu mau mu, akan mama berikan waktu 6 bulan untuk mengenal Zave lagi," jawab Bu Merri dengan senyum.


Setelah berbincang dari hati ke hati, Bu Merri pergi meninggalkan kamar Vi.


-----------


Di kamar lain, Pak Heri yang tidak sabar menunggu cerita dari Bu Merri mengenai rayuan Bu Merri terhadap Vi, langsung memburu istrinya.


"Gimana mah??? Kamu berhasil membujuk Vi untuk segera lebih lanjut lagi kah?" buru Pak Heri.


"Aman pah... tadi mama sudah mengeluarkan jurus terbaik mama. Vi sudah sangat setuju tanpa membantah. Tapi dia meminta waktu untuk mengenal Zave."


"Ah sudah cukup itu mah. Yang penting anak ini sudah setuju dulu dengan perjodohan ini. Papa yakin, jika Vi menikah dengan Zave, ia akan bahagia", Ujar Pak Heri sambil merangkul istrinya.


"Sudah lah pah,mari kita tidur," ajak Bu Merri.


----------


Lain halnya dengan keadaan Vi di kamarnya saat ini.

__ADS_1


Ia masih termenung memikirkan keputusannya, apakah ini tepat atau ia hanya ingin melihat orangtuanya bahagia.


'Ah sudahlah. Sudah malam. Masih ada slot kosong untuk memikirkan hal ini besok', batin Vi sambil menarik selimutnya.


__ADS_2