
Satu jam telah berlalu. Semua peserta short holiday ini, telah berhasil memberikan waktu pada tubuh mereka untuk beristirahat.
*POV Zave*
“Gan, ayok buruan. Udah jam 11 nih. Udah saatnya makan siang tau”, pintakunpada Regan.
Ia masih terlihat menikmati kasur empuknya disudut sana. Tapi aku tidak mau kehilangan waktu berharga ini hanya karena membiarkan Regan tidur tiduran seperti ini.
mulai ku tarik lengannya untuk membangkitkan tubuh Regan yang masih terlihat malas untuk melepaskan benda nyaman itu.
“Ahhhh bro. Duluan aja deh. Masih males nih. Mumpung hari Sabtu,” elak Regan.
aku yang mendengar hal itu, sontak makin memaksa Regan untuk bangkit dari kasur.
”Heh!! Udah sampe Bandung ini Gan. Buruan ah!” Paksa ku.
”Iya iya, ngebet bener sih jalan jalan sama dia!” Goda Regan sambil berjalan ke kamar mandi untuk membasuh dirinya.
Aku yang masih menunggu Regan bersiap, tiba tiba memikirkan hal apa yang akan ku lakukan nanti untuk membuat Vi berkesan.
‘makan malam mewah? Jalan jalan ke wisata Bandung? Atau…. Ke pemandian air panas saja’, batinku.
aku hanya bisa membayangkan, bahwa ini akan menjadi liburan singkat yang menyenangkan nantinya.
terlihat Reganpun sudah siap untuk segera berangkat.
Aku yang segera keluar kamar, langsung mengetuk pintu sebuah kamar Yang tentunya di huni oleh Vi dan kedua adiknya. Kamar kami hanya berseberangan dipisahkan oleh jalan lorong yang pastinya tidak terlalu luas.
setelah menunggu tidak terlalu lama, Terlihat Vi yang membukakan pintu disusul kedua adiknya mengintip di balik pintu.
”Yuk, udah jam segini, biar kita sempat makan siang di Dago Atas. Aku sudah pesan tempat di sana.” Ujar ku sambil menatao ketiga wanita di balik pintu kamar.
”Ayuk ayuk…. Tunggu sebentar ya mas. Kita siap siap dulu nih.” Jawab Tiwi sembari menarik kedua kakaknya untuk bergegas mengambil peralatan mereka.
akupun menunggu mereka dengan sabar di depan pintu kamar. Walaupun Vi sedang bersama kedua adiknya, menurutku masih tidak etis untuk memasuki kamar perempuan yagn tidak memiliki darah keluarga.
__ADS_1
Tidak memakan waktu lama, mereka terlihat sudah siap dengan segala perlengkapannya.
kami pun bergegas menuju mobil SUV merahku. Ku buka sebuah aplikasi yang menunjukkan peta jalanan kota Bandung.
terlihat beberapa garis merah yang searah dengan jalan dimana tempat ysng menjadi tujuan kami.
”Mas, kelihatannya bakalan macet banget ya?” Tanya Vi yang memecahkan keheningan di dalam mobil.
”ah, kayaknya iya nih Vi. Hmmm bakalan telat makan siang nih kayaknya,” jawabku dengan sedikit kecewa.
”Mas, makan di sini aja gimana?” Ujar Vi yang terlihat menyodorkan benda kecil kehadapanku.
sejenak aku terdiam, ‘bagaimana mungkin aku mengajak seorang wanita impian ku hanya ke tempat makan seperti ini?’ Pikirku dalam hati.
”kamu ga biasa makan di tempat kayak gini ya mas?” Ucap Vi seolah membaca pikiranku.
”ehhh enggak sih. Mau mau aja, cumaaaa….. cuma apa kalian ga keberatan kalau kita makan di tempat seperti itu?” Jawabku sekali lagi dengan rasa penasaran.
”Ya enggak lah mas. Mungkin justru makan di tempat kayak gini tuh malah leih sedap loh…. Mecinnya banyak. Hahahah”, jawab Vi dengan canda khasnya.
Reganpun segera memutarkan mobil kearah dimana petujuk aplikasi tersebut arahkan.
20 menit pun telah berlalu, akhirnya kami telah sampai di sebuah rumah makan yang terlihat sangat sederhana. Mungkin lebih pantas di sebut warung makan.
terlihat kepulan asap muncul di depan warung makan tersebut. Awalnyaaa aku merasa bingung, bagaimana manusia makan di tepat yang dipenuhi asap seperti ini. Apa mereka bisa bernapas dengan nyaman? Apa mereka akan kenyang dengan keadaan seperti ini? Gerumulku dalam hati.
Tanpa ku sadari, sebuah tangan sudah berhasil memengan pergelangan tanganku dan menariknya.
akupun tersontak kaget, seolah tidak percaya tangan siapa yang menyentuh tanganku.
yaa… tangan ini, tangan dari seorang wanita yang selalu ku bayangjan akan menjadi istriku kelak.
”ayok mas zave, kamu belum pernah makan di tempat seperti ini ya?” Tanya wanita impianku.
”ahhhh…. Hmmmm udah pernah sih. Jaman dulu saat masih di Indonesia sama ayah. Hehehe”, ku tarik pelan penuh semangat tangan kecil itu. Memang ukuran tangan Vi tidak sebanding dengan tanganku yang bisa dikatakan cukup besar.
__ADS_1
terlihat diujung mataku ada 6 pasang mata mengintai kegiatan kecilku ini sambil tertawa tawa kecil.
”apasihhhh kalian ini? Ku piting lagi mau?” Ujar Vi dengan nada mengancam.
aku hanya tertawa saja melihat tingkah wanita ini. Kenapa dia tidak seperti wanita lainnya, yang ketika diajak makan dengan seorang lelaki akan menahan sikapnya. Tetapi inilah yang ku suka darinya.
wanita yang selalu menjadi dirinya sendiri.
Kamipun sampai di dalam sebuah tenda makan yang bertuliskan Mie Koclok Kang Maman asli Bandung.
Tempat ini memang tidak terlalu besr, tetapi aku bisa melihat banyak sekalinpengunjung yang sedang menikmati hidangan mereka.
’apa iya, makanan di tempat seperti ini enak? Tapi kenapa mereka terlihat sangat menikmatinya ya?’ Ucapku dalam hati.
”Mas Zave. Ayoookkk. Di sana ada meja kosong.” Ujar Asih smabil menunjukkan sebuah meja dipojok tenda yang cukup untuk kami berenam.
”yuk…”, sambutku kepada Asih.
tak beselang lama setelah kami duduk, muncul seorang gadis yang membawakan buku menu untuk kami lihat.
Vi dan lainnya sibuk membolak balikkan buku menu yang telah diberikan. Mereka memilih beragam menu yang tersedia di tempat ini. Akupun dibuat cukup bingung untuk mengetahui seperti apa bentuk dari makanan yang mereka sediakan.
”Mas, kamu pesen ini aja ya. Enak loh di perut. Anget. Cuaca dan udaranya lagi dingin gini soalnya.” Ucap Vi sambil menunjukkan salah satu menu andalan di tempat ini, mungkin dia tau bahwa aku tidak mengerti sepeti apa menu yang akan di sajikan di sini, terlebih…. Aku memang tidak pernah makan makanan seperti ini.
”hmmm bolehlahhhh… spsertinya enak”, jawabku menyetujui usul menu yang Vi pilihkan untukku.
tak lama berselang, makanan serta minuman yang kami pesan sudah datang dan siap untuk disantap. Selama kami makan, banyak sekali perbincangan yang terlontar. Cukup seru rupanya, bercengkrama dengan orang orang yang menurutku penting, walaupun hanya di sebuah tenda makan pinggir jalan.
”wahhhh asih kenyang banget mas. Makasih ya makanannya. Abis ini kita mau kemana lagi nih?” Ucap asih yang terlihat bersemangat.
”husstt…. Cangkem mu sih! Makasih dulu loh itu sama Mas Zave. Main kenyang kenyang aja!” Omel Vi.
”hahahah ga apa apa Vi. Habis ini kita ke atas ya Sih… kalian pasti suka!” Ujarku yang tak kalah bersemangat dari Asih.
kamipun bergegas meninggalkan tempat itu dan pergi menuju Lembang, dimana tempat ini akan menjadi tempat PDKT ku selanjutnya.
__ADS_1