Jodoh Yang Tepat

Jodoh Yang Tepat
Sebenci-bencinya


__ADS_3

Sinar pagi yang menyeruak di sela-sela jendela kamar Vi, berhasil membangunkan Vi dari tidur cantiknya. Sudah 2 minggu Vi menikmati manis pahit dari jabatan barunya. Dipaksanya kedua kaki jenjang itu menuju ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri dan bersiap menuju rutinitas yang tidak pernah membosankannya.


Setelah 30 menit mempersiapkan diri, Vi turun menuju meja makan di mana ia biasa sarapan dengan seluruh keluarganya.


"Selamat pagi Mba Vi... Mba Vi ini memang tidak pernah terlihat jelek. apa sih rahasianya ?", goda Ratri Maid dari keluarga Pak Heri yang telah setia mengabdikan dirinya selama 10 tahun.


"Ih... Mba Ratri nih. ngegodain orang mulu. Mending godain pacara Mba Ratri aja tuh. Ajak nikah gih sana. Kasian udah pacaran kayak nyicil motorkan," balas ledek Vi.


Mba Ratri memang sangat dekat dengan seluruh keluarga Pak Heri, bahkan sudah dianggap seperti anak sendiri oleh pasangan tersebut.


"Halah mba Vi ini, bisa aja. Tapi aku memang mau dinikahin loh mba. seneng rasanya. Gini toh rasane dilamar yoo mba....", ucap Ratri sambil senyum-senyum terngiang ik dirinya di lamar sang pujangga.


"Lah Mba Ratri beneran mau nikah mba ? Nanti yang urus kita dirumah ini siapa mba??? kok tega sih ninggalin aku. aku marah loh mba. aku sebel ah....", canda Vi sambil berpura-pura marah.


"Ih Mba Vi kok marah sih... ga pengen toh liat aku bahagia ? tenang mba, setelah menikah, aku akan tetap bekerja di sini mba... menemani mu hingga dilamar pujanggamu juga hahaha", jawab Ratri.


Tidak lama setelah percakapan riang pagi itu, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. seperti biasa, Bu Heri akan mengambilkan makanan untuk sang suami terlebih dahulu disusul anggota keluarga lainnya.


"Ratri... jadi kapan Panji akan menikah dengan mu ?", tanya Heri membuka percakapan.


"2 Bulan lagi pak, saya ijin cuti nikah ya pak. mau siap-siap biar jadi cantik saat nikah nanti hehehe", senyum Ratri meledek sambil melihat ke arah Vi.


"Apalagiiii ini Mba Ratri.... masih pagi lohhh... jangan sampai ku kunyah garpumu ya mba", seru Vi yang kalah telak setelah diledek Ratri.


Keluarga itu pun tertawa dengan lepas setelah mendengar percakapan renyah pagi itu.


Setelah selesai sarapan, Vi hendak pamitan kepada kedua orangtuanya.


"Pah, Mah, Vi berangkat dulu ya. ini si para bocil minta anter dulu nih. Aku titip dablek ya di rumah. Tadi aku minta tolong Pak Sugih buat cuci dablek, kuncinya ada di kamarku, di meja ya." ujar Vi.


"Iya nak, oh iya. nanti jangan pulang malam-malam ya. Pak Salman dan keluarganya mau berkunjung ke sini", sahut Heri sambil memberikan tangan kanannya untuk dicium oleh Vi.


DEG.....


Vi dan kedua adiknya terkejut mendengar hal tersebut.


"Pah, beneran Mas Zave mau ke sini ?", tanya penasaran ....

__ADS_1


"Serius pah? ahhhh .... mau lihat wajahnya Mas Zave setelah 17 tahun tidak bertemu", buru Asih.


Vi yang masih belum percaya akan hal itu, masih terbengong mendengar kabar tersebut.


"VIIIIII.......", panggil Heri dengan kencang.


"Hah, apa yah?"


"Ini anak, dikasih tau malah bengong. perlu papa ulang? atau kamu udah kebelet ketemu Zave ya?", ledek Heri.


"Idih.. papa ini. Iya. iya.... aku langsung pulang nanti. sudah ya. aku pamit pah. Assalammualaikum...", pamit Vi yang masih kalut di hatinya.


Dalam perjalanan, Vi masih tidak percaya akan hadirnya moment tersebut. Hatinya masih bingung dan kalut serta masih belum bisa merelakan hubungannya yang terdahulu.


"Mba.... kamu ngelamunin apa sih mba? sampe segitunya", tanya Tiwi.


"hah... enggak, ini lohh... jalanannya macet", sanggah Vi.


"ya wong yang bikin macet kamu mba, ini tuh udah lampu hijau, tapi rem tangan mu masih nyangkut aja itu"


"eh... hahaha iya iya, aku lupa", jawab Vi sambil tancap gas menuju sekolah Asih.


Sesaat sampai di pemberhentian kedua, kampus xxx, adik Vi yaitu Tiwi, iapun pamit dan bersalaman kepada Vi.


Tiwi pun berujar, "Mba, aku tau hatimu masih memikirkan curut itu. Tapi sudah lah, dia sudah berhasil memecah belah hati batumu itu. Aku rasa memang sudah waktunya kamu menerima Mas Zave sebagai jodoh terbaik mu mba."


Ya memang Tiwi adalah anak kedua dari pasangan Heri dan istrinya, tetapi pikirannya sudah dewasa di semester akhir kuliahnya.


Vi pun mengangguk mengerti dengan ucapan adiknya yang telah beranjak dewasa.


"Mba, aku kuliah dulu. doakan kali ini dosen killer itu tidak berulah lagi dengan selalu merevisi skripsi ku. Eh itu Delon mba. Sudah setia saja dia menungguku di depan lobby. bye mba Vi... Assalammualaikum." Tiwi yang telah pergi masuk ke dalam kampusnya, berhasil membuyarkan launan Vi.


Tak lama Vi pun tancap gas menuju tempat kerjanya.


---------


Sesampainya, wanita berparas manis dengan tinggi 168cm itu memasuki lobby kantornya setelah berhasil memakirkan mobil.

__ADS_1


"Pagi Mba Vita. Wajahmu cantik sekali pagi ini", sapa Vi ke pemilik meja resepsionis di lobby bawah.


"Ah Ibu Vi ini bisa aja. Bu Vi juga ga kalah cantik. Tapi masih cantikan aku ya bu?", singgung Vita.


"Halah cangkemmu Mba Vit.... baru dipuji sekali aja udah terbang macem debu di mejamu ini," ujar Vi kesal.


"Hehehe, Bu, tadi ada seorang pria yang mencari ibu. Katanya kenal baik dengan ibu. makanya saya persilahkan masuk ke ruangan ibu", info Vita.


"Namanya Dino bu. Katanya penting."


DUAR............


Hati Vi bergemuruh kesal mendengar nama itu.


'Cecunguk itu, ngapain lagi dia? belum puas ku cacimaki kemarin rupanya', batin Vi.


"Baik lah Mba Vit, aku masuk dulu ya. See you..." lambai Vi sambil meninggalkan Vita menuju ruang kerjanya.


Dilihatnya Dino sedang duduk santai di sofa tamu yang berada di ruang kerjanya.


Ingin sekali Vi menjambaknya dan mengeluarkan seluruh isi kebun binatang kepada pria itu.


Tapi urunglah niat Vi, karena ia pikir kasihan binatang-binatang tersebut lebih mulia dari sifat pria itu, karena memang sifat alami mereka lebih baik daripada cecunguk tersebut.


"Selamat pagi. Ada apa ada kesini Pak DIno?" tanya formal Vi.


"Ah Vi, kamu rupanya sudah sampai. Duduk dulu Vi, Ada yang ingin kubicarakan."


'Lah wong ini kantorku, kenapa dia yang suruh aku duduk', batin Vi.


Vi pun mengikuti instruksi Dino dengan duduk di kursi kerjanya.


"Udahlah Pak Dino. Ada apa rupanya anda menemui saya di waktu berhargamu?", buru Vi sambil menahan nada bicaranya.


"Begini Vi, kamu kan sudah memiliki jabatan yang bagus di sini. Apalagi pasti penghasilan mu sudah lebih besar lagi bukan. Apa kamu bisa meminjamkan aku uang?" Pinta Dino tanpa rasa malu.


Vi yang sejak tadi berdiam diri di kursinya, perlahan mengambil 1 rim kertas HVS yang berada tak jauh dari tempatnya.

__ADS_1


Apakah Vi akan melempar kertas-kertas tak bersalah itu ke Dino????


__ADS_2