Jodoh Yang Tepat

Jodoh Yang Tepat
PDKT part 1


__ADS_3

Makan malam yang cukup mewah pun berakhir, sekarang Vi sudah berada di depan rumahnya bersama Zave.


”Mas Zave, terima kasih banyak ya atas makan malamnya. Its soooo yummy and fancy. Hahaha. Kapan-kapan aku ajak makan malam di tempat favorit ku ya,” seru Vi.


”Dengan senang hati Vi. Aku cukup senang melihatmu bisa makan bersama ku seperti ini. Eh tapi, kan memang sebentar lagi kita akan setiap hari makan bareng ya. Hehehe,” goda Zave.


Vi yang masih belum mengerti maksud Zave, hanya bisa tersenyum dan berujar di dalam hati, ‘mau ngekos di rumah papa apa gimana deh ini orang? Masa makan malem tiap hari.’


”ok Vi. Aku pamit dulu ya. Sudah malam. Salam untuk Om Heri dan Tante Merri ya,” pamit Zave.


Vi pun mengangguk dan tak lupa ia mengingatkan Zave untuk selalu berhati-hati.


Saat Zave melangkahkan kakinya, ia berbalik dan ‘cup..’ di kecupnya kening Vi, lalu iapun pergi meninggalkan vi yang masih terkejut.


’omoooo…. Ini mimpi tah? Kok… bisa… kena perangkap ini? Omo omo…. Astagaa….. keningku….’, batin Vi seraya mengusap keningnya sendiri masih tidak percaya.


Vi pun segera tersadar dan masuk ke dalam rumahnya.


”Assalammualaikummmmm wahai para penghuni rumah Pak Heri. Bidadari ini sudah pulang. Tidak adakah yang menyambut ku di rumah ini?” Lantang Vi saat memasuki rumahnya.


tidak butuh waktu lama, Tiwi dan Asih para adik Vi datang bersama dengan senyum girangnya mereka.


”Uluh uluh….. mba Tiwi. Lihat aku nih,” ujar Asih sambil mengecup kening Tiwi, memperagakan kecupan Zave terhadap Vi tadi.


”Makasih Mas Zave kecupannya. Aku terharu…,” ucap Tiwi meledek Vi.


Vi yang meiplihat tingkah laku kedua adiknya tersebut, melangkahkan kakinya menuju mereka berdua seperti seorang titan yang ingin memburu mangsa.


“Heh…. Sini kalian… ku piting ya!!” Buru Vi sambil menjepit kedua adiknya di lengan kanan dan kiri seperti pemain MME.

__ADS_1


”Ampunnnnn mba…. Sakit sakit. Ampunnnn….” Pinta kedua adiknya.


Kedua orangtua Vi yang mendengar keributan di luar kamarnya, bergegas menuju sumber suara kegaduhan tersebut dan mendapati ketiga anaknya sedang bertengkar.


”Hehhhh ada apa ini?? Udah malem masih aja berantem. Vi… lepas! Kasian itu adik adiknya dijepit gitu.” Omel Bu Merri.


”Ya abis mah… ini dua bocil kerjaannya ngeledikin Vi mulu. Baru juga pulang, malah diledekin!” Bela Vi.


”Bohong mah…. Orang tadi Asih sama kak Tiwi cuma praktekin Mas Zave cium jidatnya Mba Vi. Ya kan mba Tiwi?” Ujar Asih mencari pembelaan.


”Iya mah. mba Vi aja yang sensi sampe malu malu meong.” Ucap Tiwi membela Asih.


”Yeeee malah ngeledek lagi. Piting lagi mau ?? Mumpung belum mandi nih!” Ancam Vi.


”Sudah sudah. Udah pada gede masih aja kelakuannya kayak anak kecil. Kamu juga Vi! Apa iya Zave cium jidatmu itu?” Relai Pak Heri.


”Berani beraninya Zave cium cium kamu, padahal belum nikah. Gantian nanti Zave yang papa piting!” Canda pak Heri.


”Lah kok… jangan pah. Anak orang itu.” Bela Vi.


”Loh kamu aja bisa piting adik adik kamu kok, masa papa ga boleh?”


”Ya bukan gitu. Kasian anak orang pah. Nanti kapok ke sini lagi.”


”jadi kamu sekarang udah belain Zave rupanya? Baiklah jika memang itu permintaan anak papa,” ujar pak heri masih meledek Vi.


Vi yang bingung berkata apa, hanya bisa pamit dan kabur menuju kamarnya.


”Ya ampun, kenapa jadi runyam gini. Lagian bisa bisanya para bocil itu ngintipin aku pulang. Dan Zave… kenapa pulak dia bisa bisanya cium cium jidat ini. Padahal aku belum mandiiiii ya Allah. Saatnya kurang tepat tadi tuh,” Ujar Vi yang hanya bisa berbicara sendiri di depan cermin sambil memegangi keningnya.

__ADS_1


Vi pun tak ingin larut dalam gemelut hatinya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


——-


Di rumah Zave.


”Assalammualaikum. zave pulang.”


”Udah pulang Zave? Tumben malam gini. Di antar siapa tadi?” Tanya Pak Salman.


”Abis dinner yah sama Vi hehehe….”, jawab Zave sambil mengambil posisi duduk di samping Pak Salman.


”Oh…. Kamu sudah mulai deket banget nih kayaknya sama Vi ya?” Tanya Pak Salman.


”I hope it pap. Hahaha. Ya pelan pelan lah pah, namanya juga proses. Kalau Zave agresif, nanti dia malah kabur. Hahaha.”


Pak Salman yang mendengar hal tersebut, hanya tersenyum melihat anaknya yang sedari tadi terlihat bahagia.


”ya apapun yang membuatmu bisa dekatdengan Vi, papa pasti dukung. Tapi ingat ya Zave, dont you ever hurt her ya Zave. Kamu itu pria. Harus bisa menjadi calon kepala keluarga yang baik,” ujar Pak Salman menasehati.


”Iya pah. Pasti. Zave pasti akan menjunjung tinggi pedoman hidup sebagai seorang pria,” ucap Zave dengan menegakkan badannya sambil memukul pelan dadanya.


”Gaya muuuu Zave. Sudah sana, masuk dulu. Mandi. Udah asem nih baunya..”, iseng Pak Salman.


”Halaaa pah. Baru kecut gini aja, udah disuruh mandi. Yaudah, Zave mandi dulu ya pah. Good night.” Ucap Zave menutup pembicaraan.


Di ruang tamu, hanya tinggal Pak Salman sendiri. Ia pun mengambil salah satu album keluarganya dulu. Seketika Pak Salman teringat akan wajah istrinya yang cantik, perilakunya yang baik, dan tutur katanya yang lembut.


”Mah, apa kabar kamu di sana? Anak kita sudah mulai besar. Sudah mulai mengenal cinta. Jadi teringat kisah cinta kita dulu hahaha,” ucap Pak Salman sambil melihat foto dirinya dan almarhum istrinya dulu.

__ADS_1


__ADS_2