
Melihat Vi mengambil 1 rim kertas HVS yang masih utuh tersebut, bergetar lah Dino. Ia berpikir Vi akan mengamuk dan melemparkan tumpukan kertas tersebut ke arahnya.
"Vi... dengarkan aku dulu. Aku sudah tidak memiliki uang. Uangku habis oleh wanita itu. Ia selalu meminta barang-barang mewah dan juga makan di tempat yang mahal. Ayolah Vi... Hanya 5 juta saja. Ku pikir gajimu itu pasti sangat banyak, apalagi kamu sudah menabung untuk pernikahan kita dulu bukan? hahaha", tawa Dino tanpa ada rasa bersalah.
"Oh cuma 5 juta sajakah?", tanya Vi sambil membuka kemasan HVS utuh tersebut.
"Iya hanya 5 juta saja. Kecil lah itu untuk seseorang dengan jabatan sepertimu."
Vi yang sudah mengambil setumpuk kertas HVS, langsung memasukan kertas tersebut ke dalam mesin printer.
Dikotak-katiknya komputer kerjanya.
Tak berapa lama, mesin printer tersebut mengeluarkan hasil cetakannya yang perlembarnya bergambar pecahan uang 100ribu terbagi dalam 6 sisi.
Vi mencetak gambar tersebut sebanyak 6 lembar. Lalu ia pun mengambil gunting, dengan telatennya ia memotong gambar pecahan 100ribu tersebut hingga rapih.
Dino yang sejak dari tadi diam seribu bahas, memperhatikan tingkah laku Vi dengan heran.
10 menit berlalu.
"Nih, ambil aja nih. ada 6juta. aku lebihin malahan", Vi beranjak dari kursinya dan mendekati Dino dengan membawa segepok uang-uangan yang telah ia cetak dan gunting dengan rapih.
"Ini apa Vi? gila kamu ya ????", tanya Dino dengan heran.
"Yahhhh dia bilang gw yang gila. Eh Pak Dino yang tak tau malu..... KAMU INI SUDAH BERLAGAK SEENAKNYA, TERUS DATANG MASIH MAU PINJAM UANG KEPADAKU???? OTAKNYA DIMANAAAAA DINO...... TERTINGGALKAH SAAT KAU MELAMAR BOSMU ITU???", ucap kesal Vi dengan lantang.
Sekertaris Vi yang mendengar hal tersebut, langsung berinisiatif menelpon sekuriti di bawah, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang buruk akan datang.
"Vi, kamu ini kenapa sih teriak-teriak?? kamu ga malu di dengar satu kantormu? aku datang hanya ingin meminjam uang saja kau sudah marah-marah ga jelas!"
"GA JELAS???? KAMU BILANG GA JELAS.... Heh DIno... Kalau ngomong itu pakai otak, dipikirin dulu. Seenaknya aja bilang gw ga jelas. Denger ya Pak DIno yang terhormat. SUDAH CUKUP ANDA MENGHINA SAYA SAAT MALAM ITU. ANDA LEBIH MEMILIH BOSMU ITU DIBANDING DENGAN KU KAN???? Sekarang lihat... siapa yang kembali tanpa malunya untuk meminjam uang menghidupi dirinya sendiri hah???? Kemana wajah sombongmu saat itu yang dengan seenaknya mencampakan aku di sana??" Ungkap Vi yang sudah berapi-api sambil berkecak pinggang.
Diusapnya wajah Vi sendiri dengan kasar.
__ADS_1
"Astagaaa.... rasanya ingin ku keluarkan saja isi kebun binatang di hadapanmu, tapi aku lupa. Bahkan binatang saja terlalu baik untuk ku sebut dihadapan mu. Cukuplah.... Pergi dari sini, atau ku hajar kau dengan tanganku ini???!" Ucap Vi sambil menunjukkan tinju terbaiknya.
Vi sangat menyukai extreme sport, salah satunya adalah Mua Thai. Jadi jika Vi mau, dengan gampang saja dia bisa melibas Dino.
Para sekuriti yang telah sampai di depan ruangan Vi, langsung mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Vi tanpa meminta ijinnya terlebih dahulu.
"Bu Vi, apakah orang ini menyakiti anda? perlu saya sikat dan seret kah orang ini??", tanya panik salah seorang sekuriti.
"Bawa deh pak. Empet banget liat manusia ini. Hapalin ya pak kalau perlu muka cecunguk ini. Jangan pernah biarkan dia masuk lagi ke kantor ini. Membuat ku mual saja."
Dengan adanya persetujuan dari atasan mereka, para sekuriti tersebut langsung menggandeng dan memaksa Dino keluar dari ruangan Vi.
"Pak, sebentar...", cegah Vi yang bergegas mendekati Dino.
CETAK.............
Di sentilnya dahi Dino hingga merah dengan jari imutnya.
Dilambaikan tangan Vi kepada kedua sekuriti tersebut, pertanda mempersilahkan mereka untuk membawa Dino pergi.
Setelah sampai di lobby bawah, para sekuriti tersebut melepaskan Dino dengan kasar.
"Mas, mbok jaga harga diri. Minta duit ke cewek. Mukamu taro di mana?", leceh salah satu sekuriti kepada Dino.
"Hehhh... masih bawahan aja belagu lo pada. Awas ya.... ketemu lagi gw hajar! Jauh-jauh deh, iseng banget gw dipegang orang rendahan macam kalian!" kesal Dino sambil berlalu menuju mobilnya.
"WONG EDAN........", teriak salah satu sekuriti.
"Iku si mase punya manuk atau ora yooo? Iso-isone ngedelok'i mukane karo bu bos. Mana minjam duit", tanya salah seorang sekuriti ke temannya.
"Mboh.... jauh-jauh punya kenalan macem gitu Gus. Wes lah, kita balik ke pos", ajak sekuriti tersebut kepada temannya.
---------------
__ADS_1
Waktu sudah menunujukkan pukul 17.00 dimana Vi sudah berjanji kepada orangtuanya untuk pulang tepat waktu.
Vi pun bergegas merapihkan dokumen dan laptop yang ia bawa pulang.
Saat diperjalanan, hati Vi bergemuruh ngeri kembali mengingat ia akan bertemu pria yang akan dijodohkan olehnya.
Walaupun Vi mengenal baik keluarga Salman, ia tetap tidak tenang karena statusnya yang akan berubah nanti.
Tepat 2 jam berlalu, Vi pun sudah sampai dikediamannya.
Dengan langkah gontainya, ia memasuki rumah.
"Assalammualaikum... Vi pulang."
'Ini pada kemana sih? Aku pulang malah ga ada sambutan', Batin Vi.
Terdengar suara percakapan gelak tawa dari ruangan tengahya.
Ia pun bergegas menuju ruangan tersebut.
Betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa keluarganya dan keluarga Pak Salman sudah berkumpul di ruang tengah.
Dengan sedikit berlari kecil, ia menuju ruangan tersebut dan menyalami satu-persatu orangtuanya dan pak Salman.
"Kamu sudah pulang nak?" Tanya Pak Heri sambil tersenyum menyambut anak gadisnya.
"Su...sudah pah", jawab Vi kagok sambil melirik keluarga Pak Salman.
"Sini duduk dulu. sudah lama kamu tidak bertemu Pak Salman dan Zave kan?"
"Hehehe. Iya pah. Tapi aku.... Aku ke kamar dulu ya. Mau membersihkan diri!" pamit Vi yang hendak mengambil langkah seribu untuk kabur ke kamarnya.
"Hai Vi, sudah lama kita tidak bertemu ya. Kamu semakin manis saja Vi", sapa Zave memotong langkahnya.
__ADS_1
Vi yang mendengar itu, sedikit berhenti dan melemparkan senyum kecutnya sambil menundukkan kepala dan berlalu meninggalkan mereka di ruang tengah.
Melihat hal itu, Zave bukannya kesal. Tetapi ia malah tersenyum manis melihat tingkah laku yang menggemaskan dari calon istrinya tersebut.