
vi yang masih bingung dengan keadaan ini, disadarkan oleh tangan Yanuar yang mengguncangkan tangannya.
”Weh… Vi. Sadar woi! Pangeranmu ini.” Ucap Yanuar menyadarkan Vi.
Zave yang melihat tangan Yanuar memegang tangan Vi, langsung merebut tangan Vi dengan sedikit paksa.
”Vi, kamu kenapa?” Apa kedatanganku mengganggu kalian?” Tanya Zave.
Yanuar dan Anggun yang melihat tersebut, hanya tertawa bersama. Karena menyadari dan melihat tingkah laku Zave yang cemburu jika tangan Vi disentuh oleh Yanuar.
”Eh…. Iya. Ehh.. enggak maksudnya. Gapapa mas, gabung aja. Regan mana?” Jawab Vi salah tingkah.
melihat hal tersebut, kedua sahabatnya malah semakin tertawa, karena baru kali ini Vi gugup dan salah tingkah. Dulu saat mengenalkan Dino, Vi tidak pernah seperti ini.
”Halah Vi. Basa basi. Udahlah, gw sama Anggun pulang duluan ya. Kalian silahkan melanjutkan. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya mas Zave”, ucap Yanuar.
”Oh iya, sebelum pulang, perkenalkan saya Yanuar dan ini Anggun. Kami cuma sahabat kok Mas Zave. Jangan marah ya”, sebut Yanuar memperkenalkan diri sambil meledek Zave.
”Oh baik, kalian ga usah bayar. Nanti bill nya biar saya yang bayarkan.” Zavemrnyombong tak mau kalah.
Melihat hal tersebut, Yanuar mengembil kesempatan untuk memesan beberapa makanan lagi. Karena memang Yanuar tinggal sendiri di Jakarta, sehingga mengharuskan ia sedikit memapas keuangannya.
Vi yang melihat hal tersbut, sedikit memelototkan matanya, menandakan tidak suka dengan kelakuan Yanuar.
”Apasih Vi? Namanya juga anak kos. Boleh kan ya Mas Zave?” Omel Yanuar.
”Silahkan Mas Yanuar. Silahkan pesan.” Ujar Zave berusaha ramah.
Setelah pergerumulan batin antara Vi dan Yanuar, makanan yang telah dibungkus telah siap untuk dibawa pulang oleh Yanuar.
”Udah ya, kita pulang dulu. Silahkan dilanjutkan” ujar Anggun sambil menarik tangan Yanuar.
’Pria macam apa dia, ditarik sana sini oleh wanita.’ Batin Zave.
”Okedeh, lanjut nanti ya di grup gosipnya. Hati-hati ya kalian”, lepas Vi.
Selepas kepergian kedua sahabatnya, tinggallah Zave dan Vi di sana.
Vi dan Zave terlihat kikuk dan bingung mau membuka topik pembicaraan apa.
__ADS_1
”Apakabarnya?” Ucap mereka bersamaan.
”Kamu duluan aja”, jawab mereka bersama pula.
seketika mereka kembali terdiam bingung.
Vi pun mengangkat salah satu tangannya memberi aba-aba mempersilahkan Zave untuk membuka obrolan terlebih dahulu.
Zave yang mengerti, langsung mengambil kesempatan tersebut dengan baik.
”Hmmm… Vi kamu apa kabarnya? Maaf seharusnya minggu kemarin aku dan keluarga datang ke rumah mu ya? Ayah tiba-tiba tidak enak badan katanya”, bukan Zave.
”Ahhh gapapa Mas. Yang penting Om Salman sehat dulu. Aku dan keluarga Alhamdulillah sehat. Mas Zave gimana ? Sehat juga kan ?” Balas Vi.
”Aku pun baik Vi. Mereka tadi semua sahabatmu?”
”Iya mas. Kita udah sahabatan 11 tahun, sejak SMA dulu”, jawab Vi.
”Kalian memang sebegitu akurnya ya? Soalnya jarang ku lihat ada cowo dan cewe murni persahabatan.”
”Hahaha, Mas Zave cemburukah?” Goda Vi.
”Hmmmmm ga tuh. Cuma penasaran aja. Apa sih yang buat kalian deket banget”, sanggah Zave.
”Oh begitu. Hahaha, kamu pernah remed juga toh ternyata? Ku kira cumlaude sepertimu ga pernah remed,” ledek Zave.
”halahhh mas, hoki aja itu aku cumlaude. Hahahah”.
Malam itu, Zave dan Vi menghabiskan waktu bercengkrama bersama saling membahas kehidupan dulu hingga sekarang. Hingga tiba pada percakapan yang sedikit membuat Via terdiam.
”Vi, apa kamu sudah yakin untuk menikah denganku nanti? Jujurlah… bukan hanya sekedar paksaan atau permintaan orangtuamu,” tanya Zave penasaran.
”Hmmmm itu… gimana ya…. Jujur ya Mas. Aku sebenernya masih ragu, karena akupun memiliki kisah cinta yang kandas. Agak trauma sih sebenernya. Tapi aku yakin dengan pilihan kedua orangtuaku, apalagi aku juga sudah mengenal Om Salman. Semoga yaaaa…. Memang kamu itu jodoh terbaik untukku kelak. Tapi, masih banyak yang harus kamu ketahui tentangku. Aku ga semanis dan sebaik yang mungkin seperti cerita kedua orangtuaku,” jelas Vi panjang lebar.
”Baiklah. Kalau boleh tau, apa yang membuat kamu masih ragu Vi? Mungkin aku bisa menjelaskannya.”
”Hahaha. Contohnya barusan tadi. Mas Zave kihat salahsatu sahabatku kan? Si Yanuar. Mas terlihat ga suka sama dia. Padahal aku kenal dia udh lama loh dan kita ini pure sahabat. Susah seneng bersama. Kita ini saling kenal orangtua masing-masing, bahkan keluarga ku sangat percaya dengan mereka. Jadi, jika aku tetap bersahabat dengan Yanuar dan Anggun, apakah kamu masih tetap cemburu ? Atau kamu malah melarangku bertemu dengan mereka?”
Zave yang mendengar penjelas Vi, sejenak terdiam untuk berpikir rasional. Mau bilang ga akan cemburu, tapi dia ga suka melihat Vi dekat dengan pria lain, walaupun sebatas teman.
__ADS_1
”Hmmmm baiklah. Apapun yang membuatmu senang, aku rasa aku bisa memakluminya.” Ujar Zave meyakinkan Vi.
”Eh tapiiiiii ada lagi loh mas. Aku itu masih aktif main skate sampai hari ini dan kebanyak teman komunitasku itu pria. Bagaimana ? Apa kamu akan tidak mengijinkanku untuk melanjutkan hobi ku?” Tanya Vi mengetes batas kesabaran Zave.
”Hmm… ok. Tidak masalah. Apalagi?”
”hmmm…. Apalagi ya… udah sih.”
”Apa kamu tidak mau mendengar kisah ku sekarang?”
”Ahhh iya. Hahaha. Silahkan Mas Zave.”
Zave pun bingung, bagaimana bisa wanita di depannya ini tidak memiliki rasa penasaran sepertinya.
”Apa kamu tidak punya pertanyaan mengenai diriku? Hal spesifik mungkin.”ujar Zave.
”Ah iya, bagaimana dengan kehidupan mu sebelumnya? Apa kamu juga memiliki sahabat baik? Atau hobi tertentu mungkin?”
Zave pun mulai menceritakan hal-hal yang ditanyakan oleh Vi, bahkan hal yang tidak ditanyakan oleh Vi ia ceritakan dengan lengkap.
Vi pun terkesima dengan seluruh ceritamZave, bagaimana tidak, menurut Vi, Zave memiliki banyak hal yang luar biasa. Bahkan tidak sempat terbayangkan olehnya jika calon suaminya ini memiliki banyak pengalaman menarik.
jam pun sudah menunjukan tepat pukul 10 malam.
“Vi, boleh ku antar? Mobil mu masih di kantorkan?”
”Hah… tau dari mana mas?”
”ahhh itu…. Itu…. Aku hanya menebak saja sih”, tangkas Zave, karena memang Zave sudah mengikuti Vi sejak menyeberang dari kantornya tadi.
”Gimana caranya kamu nganter mas? Kamu bawa mobil juga kan.”
”mobilku bisa dibawa Regan nanti.”
Vi pun teringat jiika tadi dia menanyakan Keberadaan Regan. Ia pun spontan menanyakan kembali tkeberadaan Regan.
”loh mas, jadi dari tadi Regan tuh nungguin kamu? Wahhh… bisa mati bosan dia.”
”Ia, gapapa lah. Udah biasa dia”.
__ADS_1
”Duhhhh kuping gatel banget ya. Kenapa nih?” Ujar seseorang di lain tempat.
Zave pun memberi kabar kepada Regan melalui telpon genggamnya untuk segera meluncur ke rumah Vi, Karena ia akan mengantar Vi pulang dengan mobil Vi.