
Vi masih terdiam mematung melihat tamu itu adalah Zave, seakan tidak percaya seorang CEO Bio Lab King berdiri di mana tempatnya bekerja.
Zave yang melihat kedatangan Vi, langsung berdiri mendekat ke arah Vi.
”Hei ibu area manager. Apa kabar? Sudah sarapan?” Tanya Zave yang membuyarkan lamunan Vi.
”Eh… hmm… Kabar baik mas. Sarapan? Udah tadi di rumah. Ada apa ke sini mas?”
”gapapa, pengen liat kamu aja sih hehee. Abis udah kangen”
duar…..
Bagaikan langit terbelah, Vi yang mendengar hal itu hanya bisa diam seribu kata.
Di saat bersamaan, banyak mata yang memandangi mereka, berbisik dengan opininya sendiri.
”hah…. Eh mas, masuk aja keruangan. Malu diliatin banyak orang nih.” Pinta Vi menahan malu.
Vi pun segera menarik Zave ke dalam ruang kerjanya.
Zave hanya bisa tersenyum ketika tangannya ditarik masuk, ‘Ahh… di sentuh lagi sama Vi’, batin Zave dengan senyum liarnya.
”Yah… drama manisnya udahan. Padahal mau liat muka bu Vi nih.” Ungkap salah satu staf yang sedang memandangi drama antara Vi dan Zave pagi itu.
”Mas Zave ga ke kantor?” Tanya basa basi Vi.
”Nanti langsung ke kantor setelah liat calon istriku,” goda Zave.
‘Ya Tuhan… godaan apalagi pagi-pagi gini…’ batin Vi.
”udah jam 9 loh mas. Emang ga ditanyain staf kamu kalau seorang panutan mereka datang terlambat?”
”biarin aja, sesekali ini,” jawab Zave sambil duduk di sofa yang berada di ruang kerja Vi.
Vi pun terlihat gugup karena sejak tadi Zave memperhatikannya.
Berulang kali semua yang ia lakukan terasa salah.
”Jadi setiap pagi, kamu akan gugup seperti ini Vi?” Ledek Zave.
”ah.. enggak kok mas. Hehehe. Becanda doang ini,” jawab Vi malu.
”Vi, nanti malam aku jemput ya. Biar mobilmu dibawa Regan.”
”hmmmm… anu mas… hmmmm… gimana ya, udah janji sama papa mau pulang cepet sih,” bohong Vi.
”Kalau gitu, nanti aku yang izin ke Om Heri ya.”
’heeee… mati deh gw’, batin Vi.
”ga usah mas. Nanti aku aja deh yang izin hehehe.” Jawab Vi sambil pura-pura sibuk dengan berkasnya.
”Baik, malam ini kita dinner ya. Aku jemput jam 7. Kamu nunggu gapapa kan ?”
”ok mas.”
”Sip… kalau gitu, aku berangkat dulu ke kantor. See you tonight dear..” ujar Zave sambil pergi meninggalkan Vi.
Baru keluar dari pintu ruangan Vi, Zave membalikkan badannya dan mengedipkan satu matanya kepada Vi.
Vi yang melihat hal tersebut hanya bisa berkata dalam hati, ‘kenapa dia? Kelilipan apa ya?’
drama pagi itu, menjadi bahan gosip di seluruh penghuni lantai di mana Vi bekerja.
Para staff wanita yang melihat kedipan Zave pun terunyuh riang, bisa-bisanya di pagi itu melihat pemandangan indah.
—
30 menit berlalu, Zave pun telah sampai di kantornya.
pagi itu ia lalu dengan senyuman sepanjang perjalannya, dari kantor Vi hingga ia sampai ke ruang kerjanya.
Para staf Bio King Lab pun merasa aneh, bagaimana tidak, seorang bos besar mereka yang biasanya terlihat dingin, pagi ini terlihat senyum-senyum sendiri.
mulai dari lobby sampai ke ruang kerja Zave.
”Gw ngeri nih, kalau pak bos senyum-senyum gini. Ga biasa-biasanya dia senyum lebar gitu.” Ujar salah satu staf pria kepada temannya.
”Biarin aja sih. Jadi lebih ganteng kalau senyum.” Jawab staff wanita lainnya yang masih sibuk memandangi Zave berlalu dari pandangannya.
”halah…. Gw juga ganteng kalau punya duit mah,” ujar kesal pria yang berada di depan staff wanita tersebut.
Regan yang melihat pergosipan pagi itu, segera menegur beberapa staf yang sedang membicarakan atasannya.
”Hei, jatah cuti kalian mau dipotong rupanya??” Ancam Regan.
”ehhhh pak Regan. becanda pak. Abis liat bos senyum-senyum sendiri, ganteng banget rasanya.” Tepis sang staf wanita.
”memangnya Pak Zave tidak boleh senang di pagi hari seperti ini Murni? Rupanya kamu sudah pintar mengatur ya,” tegas Regan.
”Enggak kok pak, saya cuma seneng aja liatnya. Hehehe. Jangan marah-marah pak, nanti ilang gantengnya.”
Mendengar pujian tersebut, Regan pun mencoba menahan senyum agar tetap terlihat cool di mata stafnya.
Regan pun segera pergi meninggalkan mereka dan menyusul Zave ke ruang kerjanya.
”Gan, tolong pesankan tempat di resto xxx ya”, pinta Zave.
”Untuk hari apa dan jam berapa bos?”
”Hari ini dong, kalau bisa di jam 19.30 ya. Untuk 2 orang.”
”Bos mau ngajak saya dinner?” Tanya konyol Regan.
“Gan, ku sambit dengan puncher mau?” Kesal Zave.
”Santai bos, hehehehe. Baik. Akan segera saya booking ya bos”.
Zave pun langsung menyibukan dirinya dengan segudang dokumen yang harus segera ia periksa, tetapi ia teringat akan status Reza sang tikus kecil yang selalu menggelapkan uang perusahaannya.
”Gan, tolong panggil Pak Ricky untuk segera ke sini dan bawa berkas Reza!” Perintah Zave.
__ADS_1
”Baik, bos”.
Regan pun segera menekan tombol di telpon meja kerjanya untuk menghubungi Pak Ricky.
Tidak berselang lama, Pak Ricky pun muncul di depan ruangan Zave.
Dengan berhati-hati, Pak Ricky mengetuk pintu ruangan kerja Zave.
”Silahkan masuk Pak Ricky”, izin Zave.
”Selamat pak Zave. Ini dokumen yang anda minta,” ucap Pak Ricky sambil memberikan dokumen mengenai status Reza.
Zave pun membaca satu persatu lembar dokumen yang telah diberikan oleh HRD perusahaannya.
”Jadi Reza sudah tidak berhenti dari perusahaan ini ya? Dan ini juga sudah cukup sebagai perjanjan serta exit formnya. Baguslah. Hilang satu tikus dari perusahaanku. Menyusahkan saja!” Ujar Zave sambil memberikan paraf di setiap lembar dokumen mengenai staf tersebut.
Zave pun mengajak Pak Ricky berbincang mengenai hal lainnya.
Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 12.00, di mana waktu tersebut adalah waktu untuk makan siang.
Pak Ricky pun pamit undur diri untuk menyenangkan perutnya.
Zave mengambil hp nya dan segera mencari sebuah nama lalu di tekan lah lambang telpon.
setelah 10 kali berdering, tidak ada tanggapan dari seseorang di sebrang sana.
Zave pun tidak menyerah, ia tetap menelpon orang tersebut sebanyak 5 kali, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban.
Zave yang sedikit gusar, langsung menekan beberapa angka yang terdaftar sebagai nomor telpon sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan.
”Selamat siang, dengan The White Beauty Clompany, dengan Ratri. Ada yang bisa saya bantu?” Ujar receptionist perusahaan tersebut.
”Selamat siang. Saya Zave. Apa Bu Vi ada ?” Sergap Zave.
”Baik Pak Zave, untuk sekarang Ibu Vi sedang ada meeting pak. Mungkina ada pesan yang ingin dititipkan?”
”Oh begitu. Tidak mba. Hanya tolong di infokan ke Bu Vi, untuk segera huubungi Calon suaminya saat meeting selesai. Saya mencarinya. Terima kasih mba.”
”Baik Pak Zave. Akan saya sampaikan nanti. Dengan senang hati Pak.” Tutup Ratri.
Ratri cukup terkejut ketika mendengar kata ‘Calon suami’.
’eh… berarti Bu Vi tuh udah move on tah? Eleuhhh… meni sweet pisan…. Dicariin calon suami euy. Gosip baru nih’, pikir Ratri dalam hati.
20 menit berlalu, Vi pun sudah kembali ke ruangan kerjanya. Tak lama telpon di mejanya pun berdering.
“Yak Vi…”
”Halo Bu, mau info. Tadi calon suami Bu Vintelpon. Katanya nyariin. Diminta cepat untuk hubungi beliau.” Ujar Ratri menyampaikan pesan Zave.
”Hah.. calon suami? Siapa tuh mba ?”
”Haiyaaa ibu. Masa sama calon suami sendiri lupa sih bu. Manis banget sampe dicariin. Aku iri loh bu,” ledek Ratri.
”ihhh apaan sih mba. Aku beneran belum nyambung ini. Becanda gini amat sih.”
”Pak Zave loh bu. Masa iya lupa sama calon sendiri… tak rebut nih..” lagi-lagi Ratri meledek.
”Astagaaaaa… ngapain dia telpon ke kantor. Iya iya nanti aku telpon dia balik. Makasih ya mba, udah mau direpotin… betewe… nanti aku bilangin calon mu nih, kalo mba Ratri di kantor genit. Hehehe”, balas Vi.
”hahahah iya iya… makasih ya mba”, tutup Vi.
Vi pun segera mengecek telpon genggamnya dan cukup terkejut melihat ada 6 panggilan terlewat dan 21 chat yang belum terbalaskan. Semua hanya dari 1 nomor, yaitu nomor Zave.
’ini orang telpon macem rentenir. Banyak bener….’, batin Vi.
Vi pun segera membacs dan membalas chat Zave.
Tak lama telponnya pun berdering kembali.
”Iya dengan Vi.”
”Ah Vi, kamu sudah selesai meetingnya?” Tanya Zave dengan santai.
”Udah mas. Ada apa ya?”
”Tadinya mau ngajak makan siang. Tapi sepertinya udah telat sih hehee. Jadi aku cuma mau ngecek kabar kamu aja. Abis udah kangen sih,” ujar Zave.
Di lain tempat, Regan yang melihat Zave seperti itu, langsung memalingkan badannya dengan mimik wajah meledek, karena semenjak kenal Vi, Zave terlihat sangat bucin.
“Hahahaha. Mas Zave ini bisa aja. Kabar ku baik kok mas, temang aja. Tadi juga udah makan bareng sama yang lain saat meeting.”
”Baik lah kalau gitu. Aku ada kerjaan lain, aku tutup ya… see you tonight”, tutup Zave.
setelah mengakhiri telpon, Vi pun merasa aneh, karena sejak remaja dulu, Zave hanyalah tipe yang pendiam. Memang beberapa kali Vi sadar bahwa Zave selalu mencuri pandang padanya. Tetapi ia masih tidak menyangka akan adanya perjodohan ini, apalagi melihat Zave dengan tingkah konyolnya.
Tak terasa karena kesibukan masing-masing, waktupun telah menunjukan pukul 17.00 dimana itu adalah saatnya untuk staf kantor pulang. Vi yang melirik jam tangan digitalnya, merasa bosan karena mengingat ia memiliki janji makan malam bersama Zave di malam nanti.
”Hehh…. Masih 2 jam lagi nunggunya. Mau ngapain dulu ya? Berkunjung ke rusngan Yanuar asik nih kayaknya. Cocok ngerecokin dia jam segini. Hihihi”, ujar licik Vi.
Vi pun beranjak dari tempat duduknya dan berlalu menuju ruangan Yanuar.
”Selamat sore bosku… sok sibuk bener nih kayaknya,” ledek Vi sambil menerobos masuk ke ruangan Yanuar.
”Ya Tuhan,.. cobaan apalagi ini. Pakai pulak bertina ini.” Ujar ayanuar yang melihat kedatangan Vi seperti bencana.
”Parah banget… Soulmatemya dateng malah bergidik. Sambit nih mulutnya.” Kesal Vi.
”Vi, stop! Gw masih banyak kerjaan…. Kalo ga mau bantu, tunggu depsn pintu deh.”
Vi yang mendengar hal itu, sontak menghamoir Yanuar dan menarik satu kuping Yanuar.
”Ampun ampun Vi. Sakit…..”, Keluh Yanuar.
”lagian gw dateng, malah diusir. Ga ada sopan-sopannya ini laki satu ya. Pantesan aja, cewe ga ada yang ngelirik. Lalet aja males nemplok sama ente!” Kesal Vi.
”Ya ga gitu. Kerjaan gw numpuk ini avi. Astagaaa….. kan buat exibithion lo juga. Sabet nih ah!” Seru Yanuar sambil bergaya ingin menyabet Vi.
”Lahhh,,, ini projek jadi dilimpahin ke lo Yan? Gw kira masih tim marketing exi.”
”Mane adeee… kalo udah mereka yang kerjain, udah melanglang buana gw mencari para betina di luar sana Vi.” Jawab Yanuar memelas.
__ADS_1
Vi dan ayanuar pun menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berbincang dan saling membantu untuk projek Yanuar, karena Vi sadar ini menyangkut projek yang akan dipegang Vi juga di minggu depan.
1,5 jam telah berlalu, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu ruang kerja Yanuar.
”Deh…. Siapa yang dateng jam segini Yan?” Tanya Vi penasaran.
”Emang gw cenayang bisa tau itu siapa. Ada gila-gilanya juga ini cewek.” Jawab Yanuar yang meniggalkan Vi untuk membuka pitu.
Yanuar pun terkejut melihat bahwa Zave sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
”Eh mas Zave. Masuk mas. Vi ada di dalam nih.” Sambut Yanuar.
”Vi…. Pujangga mu datang nih!” Teriak Yanuar memberiinfo ke Vi.
”Gw ga budek Yanuar!!! Ga perlu teriakpun gw tau itu siapa. Emang ruangan lo sgede lapangan sepak bola sampe gw ga bisa liat siapa yang dateng?” Kesal Vi.
Yanuar pun terkekeh melihat sahabatnya menahan malu akan hal itu.
”Hai Vi, halo Yan. Apa saya mengganggu kalian?” Tanya Zave pura-pura tidak tau.
”Ah ga kok mas. Mau jemput Vi ya? Bawa deh bawa. Cuma gangguin aja nih dia disini.” Jawab Yanuar.
”Yanuar… gw tabok lo ya!” Ujar Vi pelan dengan nada mengancam.
Yanuar pun kembali tertawa dengan girang karena berhasil meledek sahabat baiknya itu.
”dah ayok jalan mas. Kelamaan disini, bisa kesambet nanti!” Ledek Vi sambil melihat Yanuar.
”Dihh…. Berasa demit gw dibilang bisa kesambet”, ujar Yanuar.
”Okelah. Yan, saya pinjam sahabatmu dulu ya.” Izin Zave sambil mengajak Vi keluar dari ruangan tersebut.
”Iya mas, silahkan. Jangan macam-macam ya mas. Sampai kau patahkan hati betina ini, ku patahkan satu kakimu,” ancam Yanuar dengan datar.
bukan tanpa alasan Yanuar mengancam Zave. yanuar hanya tidak ingin melihat sahabat baiknya itu kembali terpuruk karena soal hati.
”Tenang… akan ku jaga dia dengan hatiku.” Senyum Zave dengan tenang.
Yanuar yang melihat kepergian 2 sejoli yang belum mengikat tali jkasih itu, segera mencari hp nya. Tentu aja Yanuar ingin bergosip dengan Anggun.
Dalam perjalan keluar kantor Vi, Vi pun menanyakan perihal kemana mreka akan pergi.
”Tenang aja. Kamu cukup diam di dalam mobil dan nanti kamu akan tau.”
Zave yang hanya memberi kisi-kisi, berhasil membuat Vi berkutat dalam seluk pikirannya.
’ini orang mau ngajak makan apa mau nyulik sih? Segala rahasia-rahasiaan’, ucap Vi dalam batinnya.
Selang 30 menit berlalu, Vi dan Zave berhasil sampai di restoran yang cukup mewah.
Vi hanya bisa terdiam dan memelototkan matanya. Bagaimana mungkin, dia yang hanya berpakaian formal casual seperti ini, masuk ke dalam sebuah restoran yang mewah.
”eh mas. Ini vi salah kostum loh. Malu….”
”Ngapain malu. Ayo masuk.” Ujar Zave menenangkan sambil memberikan lengannya untuk digandeng Vi.
Vi yang masih belum sadar, masih cuek dengan lengan Zave.
”Vi, ga mau gandeng aku?” Tanya Zave sambil menggerakkan lengannya sebagai kode.
”Ehhhh mau digandeng? Kayak mau nyebrang aja mas. Hehehe,” akhirnya Vi pun mengandeng lengan Zave.
Setelah berjalan tak jauh, sudah tersedia 1 meja dengan tulisan ‘Reserved by Mr. Zave’.
”Walah mas, pake acara di booking. Kayak mau acara ualng tahun aja. Hehehe.”
”Ia dong. Kan makannya sama kamu. Jadi, its a special thing to do”, jawab Zave.
Vi pun menunduk menahan malunya sambil tersenyum.
Zave menarik kursi yang akan di duduki oleh vi.
’Duh gustiiiii…. Gw oernah-pernah gw diginiin waktu pacaran sama Dino. Makan di pecel lele aja udah berkesan dulu sih’, batin Vi.
”Vi, aku sudah pesan menu kesukaan kamu.”
”Lahhhh emang mas Zave tau darimana makanan kesukaan Vi?”
”Ada deh. Kamu suka krim sup kan? Krim sup di sini enak loh. Aku pesan spesial buat kamu.”
lagi-lagi Zave berhasil membuat Vi tertunduk malu, bagaimana mungkin Zave bisa tau menu favoritnya.
Padahal saat siang tadi, Zave sudah mengingat-ingat apa menu makanan favorit Vi, sampai ia teringat bahwa dulu saat keluarganya dan keluarga Pak Heri pergi camping bersama, Vi selalu meminta untuk dibuatkan Krim sup oleh ibunya.
Tidak butuh lama, beberapa hidangan telah tersaji cantik dihadapan mereka, salah satunya adalah sup krim yang mirip dengan kesukaan Vi.
Vi dan Zave mulai memakan makanan mereka sambil berbincang ringan, sampai dimana pada 1 suapan terakhir, Vi terlihat kaget karena terdapat sesuatu di dalam mulutnya.
Vi yang segera sadar akan adanya benda asing di dalam mulutnya, langsung mengeluarkan benda tersebut.
Awalnya, Vi mengiri ada batu di dalam supnya, tetapi setelah ia sadar, ia baru mengetahui bahwa hal tersebut adalah sebuah benda berkilau dengan satu permata cantik di tengahnya.
”Mas, ini ada cincin. Punya si koki kah? Kasian kalau sampe jatuh ke sup ini. Pasti dia nyariin.” Tanya Vi penasaran.
Zave yang mendengar hal tersebut, langsung tertawa terbahak-bahak.
”Vi. Ini tuh cincin untuk kamu. Astagaaa…. Aku mencoba romantis seperti pria lain tadinya, tetapi kenapa respon mu malah seperti itu. Hahahaha.”
”Hah?? Buat Vi mas??” Tanya Vi masih tidak mengerti.
”Hahaha. Iya Vi. Ini untukmu. Tadinya akan jadi sebuah kejutan. Tapi kenala kamu malah polos banget. Hahaha,” ujar Zave yang masih geli dengan respon Vi.
Vi yang sadar akan hal itu, tertunduk malu karena ipmemang ia tidak pernah menyangka akan hal tersebut.
“Sudah-sudah. Angkat wajah cantik mu itu. Nanti cantiknya jatuh.” Pimta Zave yang mulai tidak enak karena melihat Vi malu.
”Vi, cincin ini sebagai tanda seriusku terhadap perjodohan ini. Mau kah kamu memakai cincin ini?” Tanya Zave.
”Mas, bukannya Vi ga mau pake cincin ini. Tapi Vi masih butuh waktu untuk meyakinkan diri Vi dan mengenalmu lebih dekat. Apakah boleh Vi menyimpannya dulu sampai Vi benar-benar yakin?” Jawab Vi.
Zave sadar, jika memang ini terkesan sangat cepat untuk Vi.
__ADS_1
”Baiklah Bi. Kamu boleh menyimpannya terlebih dahulu. Tapi jika nanti kamu sudah siap memakai cincin ini, tolong beritahu aku, agar aku bisa dengan pantas memakaikan cincin ini di jarimu.” Senyum Zave.
malam itu mereka berdua berbincang untuk mengenal satu sama lain lebih dekat.