
Jam 5 sore,
Stasiun Utama Berlin, Jerman
Baru saja kereta api yang dari rute stasiun Munich, sampai di stasiun Utama Berlin. Para penumpang pun bergegas turun, ketika pintu kereta api sudah terbuka. Para penumpang yang sudah menunggu kereta itu datang, juga bergegas masuk ke dalam. Sehingga membuat para penumpang saling berdesakkan. Begitulah suasana stasiun Utama Berlin setiap harinya.
Di saat para penumpang turun berdesakan, justru berbeda halnya dengan perempuan memakai kaos biru polos. Ia berjalan santai, keluar dari kereta api. Tangannya menarik koper hitam miliknya. Kedua mata indahnya menelusuri setiap sudut stasiun Utama Berlin. Sesekali sudut bibirnya terangkat.
“Stasiun ini tidak buruk,” gumam perempuan itu tersenyum tipis. Ketika sudah berhenti berjalan sebentar.
Usai puas melihat ke setiap stasiun Utama Berlin, perempuan itu melangkahkan kakinya kembali. Ia segera mencari seseorang di stasiun itu sambil memeriksa ponselnya. Untuk memudahkannya dalam menemukan orang yang di carinya. Cukup lama ia mencari orang itu, sampai akhirnya menemukannya.
“Entschuldigen sie bitte!” sapa perempuan itu pada seorang laki-laki paruh baya berseragam hitam.
“Ya ada apa?” tanya laki-laki paruh baya tadi.
“Pak Amo kan?” tanya balik perempuan itu. Sontak membuat laki-laki paruh baya tadi langsung memastikan identitasnya.
“Nona Richela?”terka laki-laki paruh baya tadi
“Iya benar,” perempuan itu tersenyum tipis.
Richela Nadetta, nama yang cantik seperti orangnya. Ia merupakan anak bungsu dari keluarga Matteo. Keluarga yang sangat kaya di kota Munchen. Usianya baru menginjak 20 tahun. Ia memiliki wajah yang cantik dengan lesung pipit di kedua pipinya. Manik matanya hitam pekat. Bulu matanya melentik, alisnya hitam tipis, hidungnya sedikit mancung dan bibir mungilnya semerah Cerry. Rambut hitam panjangnya, sedikit di warnai dengan biru-keabuan di bagian belakang. Wajahnya sangat cantik persis seperti ibunya. Ia pun memiliki postur tubuh yang bisa di katakan cukup ideal untuk seusianya.
__ADS_1
Bukan hanya cantik, anak bungsu dari keluarga Matteo ini memiliki kepintaran di rata-rata. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah menyandang gelar S1 jurusan bisnis di Ludwig Maximilians University(LMU). Sekarang Richela tengah mengejar S2 di Universitas yang sama. Berkat kepintarannya yang di milikinya itulah, bisa membuatnya dengan cepat dalam menempuh jenjang pendidikan tingkat kuliah. Sudah cantik, pintar, Richela juga memiliki sifat yang mendominasi. Dari manja, ceria, cerdik, rendah hati, pantang menyerah, bertanggung jawab, selalu dapat di andalkan dan masih banyak lagi lainnya. Ia pun akan selalu bersikap menyesuaikan situasi.
Meski terlahir dari keluarga yang sangat kaya di Munchen. Papanya—tuan Frederick merupakan pemimpin perusahaan keluarga yang bergerak di bidang pertambangan. Perusahaan tambang keluarga Richela di nyatakan sebagai terbaik di beberapa tahun terakhir. Hasil tambangnya selalu terbaik dan melimpah. Sehingga keluarga Richela bisa mendapatkan kekayaan yang melimpah dari hasil pertambangan itu. Namun meski keluarga sangat kaya, Richela di ajarkan hidup dalam kesederhanaan sejak dari kecil. Ajaran orang tuanya di lakukannya sampai saat ini, ia selalu sederhana dalam segala hal. Tidak pernah memperlihatkan dirinya sebagai anak dari keluarga orang kaya. Sehingga banyak orang yang mengira bahwa Richela adalah perempuan kampung dan miskin.
“Ah—benarkah?” laki-laki paruh baya yang di panggil Pak Amo oleh Richela, menatapnya dengan rasa terkejut. Richela menganggukkan pelan kepalanya.
Sontak pak Amo menatap Richela dari ujung kepala, sampai ujung kaki. Tatapan pak Amo terlihat merendahkannya. Tidak heran kalau pak Amo menatap Richela seperti itu karena melihat dari tampilannya. Yah Richela memakai barang-barang biasa, tidak berkelas. Di tambah lagi, pak Amo tidak mengetahui latar belakang Richela. Sehingga dengan mudahnya menilai Richela sebagai perempuan kampung, hanya dari tampilannya saja.
`Ini benar nona Richela? Tuan besar apa mungkin salah memilihnya untuk tuan muda. Perempuan kampung sepertinya, mana pantas berpasangan dengan tuan muda!` batin pak Amo
“Apa ada yang salah dengan pakaian saya?” tanya Richela menyadarkan pak Amo yang masih memberikan tatapan merendahkan padanya.
“Tidak nona. Saya hanya memastikan bahwa benar nona Richela. Orang yang saya tunggu dari tadi,” jawab pak Amo beralasan tapi Richela tentu tidak percaya.
`Pak Amo, Anda tidak pandai dalam berbohong. Mana ada orang yang percaya dengan jawaban konyol seperti itu. Sedangkan dari tatapan Anda saja, sudah terlihat satu hal jelas. Merendahkan!` batin Richela
“Tentu bisa nona. Mari saya bantu bawakan koper nona!” pak Amo mengulurkan tangan untuk membantu Richela.
“Maaf merepotkan,” ungkap Richela langsung memberikan kopernya pada pak Amo.
“Tidak masalah nona,” sahut pak Amo sudah mengambil alih koper dari tangan Richela.
“Silahkan!”lanjutnya mempersilahkan Richela berjalan lebih dulu.
__ADS_1
“Iya,” singkat Richela, sebelum berjalan mendahului Pak Amo.
Beginilah cueknya Richela saat berhadapan dengan orang yang sudah di ketahuinya sifatnya. Yah sifat yang merendahkannya hanya karena tampilannya. Ia terlalu malas untuk menghadapi orang-orang seperti itu. Tidak ada hasil yang di dapatkannya, jika menghadapi mereka.
Hanya berakhir sia-sia!
Richela berjalan di ikuti tuan Amo, menuju keluar dari stasiun utama Berlin. Sesampainya di luar stasiun atau lebih tepatnya di parkiran, pak Amo segera membukakan pintu mobil dan Richela masuk ke dalamnya. Pintu mobil di tutup kembali oleh pak Amo. Kemudian pak Amo memasukkan koper milik Richela ke dalam bagasi mobil dan setelahnya barulah menyusul masuk ke dalam. Pak Amo langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang, meninggalkan stasiun.
***
1 jam kemudian,
Di Kediaman keluarga Vilhelm,
Richela menginjakkan kakinya di depan pintu utama kediaman keluarga Vilhelm. Ia langsung di sambut oleh wanita paruh baya yang menatapnya persis seperti pak Amo tadi. Dari wajahnya saja, Richela mengenal wanita paruh baya itu.
“Akhirnya datang juga!” seru wanita paruh baya itu, bersedekap dada. Tatapannya pada Richela benar-benar merendahkan dan tidak suka.
“Ternyata pilihan papa memang perempuan kampung,”sambungnya.
“Sepertinya tante tidak sabaran menunggu kedatanganku. Sampai repot-repot menyambutku seperti ini,” bukan Richela namanya, kalau ia berucap dengan nada kasar pada orang yang lebih tua darinya. Meski orang itu berucap atau bersikap kasar padanya.
“Perempuan kampung sepertimu mana pantas saya sambut. Kalau bukan karena permintaan dari kakeknya Richard, saya juga tidak sudi menunggumu seperti ini. Jadi jangan terlalu percaya diri!” cecar wanita paruh baya itu.
__ADS_1
“Yah tetap saja aku berterima kasih pada tante untuk itu,” balas Richela tersenyum tipis. “Hmmm tapi ada yang perlu di perbaiki dalam ucapan tante tadi. Aku ini memang perempuan kampung yang akan menjadi menantu tante. Ku harap tante Belinda tidak melupakan itu,”
Wanita paruh baya tadi adalah nyonya Belinda. Nyonya di keluarga Vilhelm. Mama dari Richard Vilhelm, laki-laki yang sudah di jodohkan dengan Richela. Perjodohan inilah yang membuat Richela datang ke kota Berlin. Tepatnya ke kediaman Vilhelm. Namun di lihat dari sikap nyonya Belinda, jelas tidak menyukai Richela. Standar nyonya Belinda dalam mencarikan istri untuk putranya memang sangat tinggi. Sehingga tidak heran kalau nyonya Belinda sangat tidak menyukai Richela. Ia hanya melihat tampilan Richela, tanpa tahu latar belakangnya.