Jodohku Dengan Dia

Jodohku Dengan Dia
Dasar Aneh!


__ADS_3

Richard menepis kasar bayangan 2 orang itu dalam pikirannya. “Sudahlah, Richard! Kau harus tidur sekarang,”


Matanya berusaha keras untuk terpejam dan akhirnya bisa benar-benar terpejam setelah hampir setengah jam berlalu.


***


Pagi harinya, Richela sudah terbangun lebih awal. Ia pergi mandi dan bersiap-siap untuk ke perusahaan. Penampilannya sempurna dalam balutan dress kotak-kotak selutut yang di lapisi blazer bermotif serupa. Heels hitam dengan hak rendah terpasang di kakinya. Tambah sempurna saat rambutnya di biarkan terurai dan polesan make up tipis di wajah.


Selesai bersiap-siap, Richela mengambil tas miliknya dan kemudian turun untuk sarapan. Pagi hari ini berbeda dari sebelumnya. Tampak nyonya Belinda dan Theresia sedang sarapan.


“Guten Morgen, tante, There!” sapa Richela memperlihatkan senyum semanis mungkin.


Theresia menatap sinis ke arahnya. “Setelah hampir saja mempermalukan keluarga kami, kamu masih bisa tersenyum?”


“Hampir saja kan? Bukan sudah? Lalu apa salahnya aku tersenyum? Tidak ada juga yang melarang,” celetuk Richela usai duduk di kursi berseberangan dengan Theresia.


Richela tahu apa yang di maksudkan adik sepupu Richard itu. Pasti masalah tadi malam. Dimana Audy menantangnya bermain piano. Ya meski nyonya Belinda dan Theresia tidak menemuinya saat di perayaan kemarin malam, mereka berdua pasti mengawasinya dari kejauhan.


“Jangan berdebat dengannya, Theresia! Perempuan kampung mana mungkin punya urat malu,” tegur nyonya Belinda tak kalah sinis menatap Richela.


“Wah tante sangat memahamiku. Terima kasih,” bukan Richela namanya, jika merasa terhina. Justru ia tidak menanggapinya.


“Kamu—” Theresia geram, ingin sekali menampar Richela. Namun ia menahannya, mengingat siapa yang akan di hadapinya jika bertindak kasar pada Richela.


Richela tersenyum puas melihat betapa geramnya Theresia tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


“Tante, aku sudah selesai. Aku berangkat sekolah dulu!” sambungnya beranjak berdiri dari tempat duduknya.


“Baiklah. Hati-hati di jalan, Theresia!” sahut nyonya Belinda.


“Hati-hati juga!” timpal Richela melambaikan tangan pada Theresia.


Theresia tidak menghiraukannya dan pergi dengan perasaan geram. Di meja makan, tersisa Richela dan nyonya Belinda.


“Kamu numpang di sini, jadi ingat batasanmu!” peringat nyonya Belinda seraya beranjak dari duduknya. Sarapannya telah habis.


“Aku akan mengingatnya. Tenang saja, tan!” sahut Richela santai.


Nyonya Belinda masih sempat menatapnya. Sebelum pergi meninggalkan Richela sendiri di meja makan.

__ADS_1


“Ini diriku sendiri. Kok mereka yang repot? Dasar aneh!” Richela mengangkat bahunya.


Tidak ingin pusing memikirkan dua orang, Richela memulai sarapannya. Suasana di meja makan tenang. Richela bisa menghabiskan sarapannya dengan tenang dan cepat.


“Silakan, nona!” pak Amo mempersilahkan Richela masuk ke dalam mobil Richard.


Richela menyipitkan matanya. Ternyata Richard belum berangkat ke perusahaan dan sedang menunggunya.


“Saya berangkat sendiri saja, pak! ” tolak Richela halus.


Penolakannya mendapat respons dari Richard yang sedang duduk tenang di dalam mobil.


“Penolakanmu tidak di terima. Masuk!” suara bariton itu begitu menyebalkan di telinga Richela.


“Nona masuklah! Saya tidak mau mendapat masalah nanti,” pinta pak Amo memelas.


Terpaksa Richela menuruti permintaan pak Amo. Richela hanya tidak mau jika pak Amo mendapat imbas dari penolakannya. Pak Amo


lega karena Richela mau menurutinya dan segera masuk juga ke dalam mobil.


“Jalan!” perintah Richard saat Richela sudah duduk di sebelahnya.


“Ini terakhir kalinya aku satu mobil dengan om. Tidak ada lain kali,” tukas Richela menatap tajam laki-laki dewasa yang menggunakan setelan jas hitam.


“Hmmm,” Richard berdehem berat.


Richela tidak tahu arti dari deheman Richard. Jelasnya, ia sudah mempertegas keinginan. Sepanjang jalan hanya ada keheningan yang ada di dalam mobil. Richard sibuk menatap notebook di tangannya. Lain halnya dengan Richela—Ia duduk bersandar. Matanya menatap ke arah jalanan kota. Namun sesekali melirik ke arah Richard.


‘Ck tante Melinda dulu mengidam apa sih? Sampai bisa melahirkan anak sepertinya,’ batin Richela


“Kamu sedang mengumpat saya?” pertanyaan Richard membuat Richela tersentak.


“Ya memangnya kenapa?” tanya balik Richela menantang.


Richard menatap datar ke arahnya. “Daripada mengumpat tidak jelas, lebih baik kamu pelajari berkas ini! Kamu presentasikan saat metting nanti. Kalau sampai presentasimu tidak memuaskan klien, jangan harap bisa berangkat sendiri ke perusahaan!”


Tunggu—Bukankah ini kabar baik untuk Richela? Ia bisa berangkat sendiri ke perusahaan. Walau harus melakukan apa yang di katakan Richard.


“Sepakat!” sahut Richela mengambil berkas di tangan Richard.

__ADS_1


Mempelajari sebuah berkas, bukan hal sulit. Richela cukup pintar dalam bidang itu. Jika tidak—Akan sia-sia waktu yang di habiskannya untuk kuliah di jurusan bisnis.


Setelah mengambil berkas itu, Richela mulai mempelajarinya. Richard diam tanpa suara dan itu sudah menjadi hal biasa. Dirinya belum mengenal dekat dengan Richela. Tidak heran jika ia membuat dinding pembatas bagi mereka berdua, dalam sikapnya yang dingin.


30 menit kemudian...


Pak Amo sudah menghentikan mobil tepat di depan perusahaan Vilhelm Group. Pintu mobil langsung di bukakan untuk Richard, juga Richela. Mereka berdua turun bersamaan.


“Selain metting, ada jadwal apa hari ini?” tanya Richard pada Richela sembari berjalan masuk ke perusahaan.


“2 jam lagi ada rapat bersama dewan perusahaan. Di lanjutkan makan siang dengan tuan Brian dari perusahaan BriStore, di restoran HacketHals. Sore harinya bermain golf bersama tuan James dari perusahaan JMS, di lapangan Golf-Und Landclub Semlin am Se. Itu saja jadwalnya, Bos!” jawab Richela membaca apa yang tertera di iPad miliknya dengan nada formal.


Dalam perusahaan dan di luar, tentu Richela harus bisa membedakannya. Di dalam perusahaan harus bersikap formal, serta bertindak menyesuaikan profesinya sebagai sekretaris Richard. Di luar itu, barulah Richela bersikap sesuai keinginannya.


“Guten Morgen, Bos!” sapa para karyawan berjajar rapi di sepanjang jalan.


Richard menatap sekilas mereka. Lalu memberi isyarat agar mereka kembali bekerja. Para karyawan mengerti dan langsung melakukan perintah. Namun tidak jarang dari mereka ada yang curi-curi pandang ke arah Richela. Masih ada pendapat pro dan kontra di antara mereka tapi Richela tidak peduli.


“Antarkan berkas yang perlu saya tanda tangani!” perintah Richard tepat sesaat memasuki lift.


“Ya baik, Bos!” sahut Richela singkat.


Mereka berdua pergi ke lantai atas menggunakan lift. Sesampainya di lantai atas, Richard pergi ke ruangannya. Begitu pula Richela yang letak ruangannya berseberangan dengan ruangan Richard. Satu hal lagi, di lantai itu hanya ada ruangan mereka berdua.


Tok... Tok... Tok...


Richela mengetuk pintu ruangan Richard.


“Masuk!”


Richela membuka pintu setelah mendapat perintah. Di dalam ruangan, terdapat Richard yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


“Ini semua berkas yang perlu tanda tangan, Bos! Saya sudah memeriksanya. Bos bisa memeriksanya lagi sebelum tanda tangan,” ucap Richela seraya meletakkan beberapa berkas di hadapan Richard.


Richard tidak bersuara dan langsung membuka satu-persatu berkas itu. Ia membacanya sebentar. Lalu menandatangani semuanya.


“Ada lagi?” tanya Richard usai menandatangani berkas terakhir.


“Tidak ada, Bos!” jawab Riche

__ADS_1


__ADS_2