
“Saya tidak sudi mempunyai menantu sepertimu! Perempuan kampungan sepertimu pasti hanya mengincar harta keluarga kami,” ucap nyonya Belinda masih dengan tatapan merendahkannya.
“Sudi tidak sudi, tante tetap harus menerimaku. Kakek Geoffry sudah memilihku untuk di jodohkan dengan Richard, putra tante. Bukankah sebaiknya tante menghargai pilihan kakek Geoffry?” Richela sudah biasa mendapat tatapan seperti itu dan tidak menghiraukannya sama sekali.
“Tidak—saya tidak akan membiarkan kamu menikahi putra saya. Biar pun itu pilihan kakeknya Richard, saya pasti bisa mengubahnya. Secepatnya saya akan membongkar niatmu yang sebenarnya pada kakek Richard. Kemudian kamu tidak akan pernah bisa lagi menginjakkan kaki di kediaman ini,” pungkas nyonya Belinda, keras akan keputusannya untuk tidak menerima Richela.
“Benarkah tan? Wah aku sangat menantikannya tapi itu pun kalau tante bisa,” sindir Richela secara langsung, membuat nyonya Belinda merasa terprovokasi.
“Kamu jangan meremehkan saya!” peringat nyonya Belinda. “Perempuan kampung sepertimu pasti akan berhasil saya singkirkan dari sini. Kamu di pilih kakeknya Richard hanya sebuah keberuntungan dan itu tidak akan bertahan lama. Kakeknya Richard telah salah karena memilihmu,”
“Benar tante! Entah apa yang di lakukannya, sampai kakek menjodohkannya dengan kakak sepupu!” timpal seorang gadis yang baru saja keluar dari kediaman Vilhelm. Ia menatap tidak suka pada Richela.
Gadis itu bernama Theresia, adik sepupu Richard. Usianya baru 18 tahun. Sifatnya kekanakan-kanankan dan suka blak-blakan. Meski begitu, ia sangat menyayangi Richard sebagai kakak sepupunya. Makanya ia ingin kakak sepupunya itu mendapatkan istri yang baik, berkelas dan latar belakangnya jelas. Melihat penampilan Richela, tentu ia juga berpikiran yang sama seperti tantenya. Hal ini di sebabkan latar belakang Richela belum di ketahui. Mereka tidak dapat mencari tahu latar belakangnya tanpa ijin dari tuan Geoffry—tuan besar keluarga Vilhelm, sekaligus kakek dari Richard.
“Terserah kalian mau berucap apa. Jelasnya aku datang ke sini untuk memenuhi permintaan kakekku dan kakek Geoffry. Jadi bisakah beritahu aku, dimana kamarku? Aku lelah dan ingin istirahat,” tanya Richela santai tanpa menghiraukan tatapan dari kedua orang di hadapannya itu.
`Perempuan kampung ini benar-benar menjengkelkan! Akan aku beri pelajaran kau!` batin Theresia
“Kamarmu di lantai 2. Pintu kamar berwarna hitam,” Theresia menjawab dengan raut terpaksa.
Kamar yang di sebutkan Theresia barusan adalah kamar Richard. Theresia berencana membalas Richela dengan membuatnya masuk ke dalam kamar kakak sepupunya itu. Ia tahu jelas bahwa Richard sangat tidak ada orang yang menyentuh barang-barangnya. Apalagi sampai masuk ke dalam kamarnya. Richard pasti akan sangat marah dan itulah yang Theresia inginkan. Ia ingin Richela menerima amarah dari kakak sepupunya itu sebagai pembalasan darinya.
“Theresia—” nyonya Belinda ingin marah pada keponakannya itu karena memberitahukan kamar Richard tapi langsung di sela Theresia.
“Jangan marah padaku tante! Perempuan kampung ini tamu di kediaman kita. Apa kata kakek nanti, kalau sampai kita tidak memberikan kamar untuknya beristirahat. Bisa saja dia memberitahukan pada kakek nanti dan itu tidak baik kan tante?” Theresia berucap sembari memberikan tatapan isyarat pada tante Belinda.
`Apa yang sedang anak ini rencanakan?` batin nyonya Belinda
“Ya-ya. Kamu pergilah ke kamar itu untuk beristirahat!” dengan terpaksa nyonya Belinda mengiyakan apa kata Theresia. Ia tahu bahwa keponakannya itu pasti sudah merencanakan sesuatu.
“Kalau begitu terima kasih, tante. Aku pergi beristirahat dulu,” tanpa rasa curiga sedikit pun, Richela segera menarik koper miliknya dan Theresia memberikan jalan untuknya masuk.
Richela pun berjalan masuk ke dalam kediaman Vilhelm. Seperginya Richela terjadi perdebatan antara nyonya Belinda dan Theresia. Nyonya Belinda tentu tidak menyetujui kalau sampai Richela masuk ke dalam kamar Richard. Namun Theresia segera menjelaskan rencananya dan akhirnya nyonya Belinda mengerti.
__ADS_1
“Rencana yang bagus, Theresia!” puji nyonya Belinda menyeringai.
“Iya dong tante,” sahut Theresia tersenyum puas.
Kemudian nyonya Belinda dan Theresia berjalan masuk ke dalam kediaman. Melanjutkan kegiatan mereka bersantai di ruang keluarga.
***
Sesampainya di kamar yang di maksudkan Theresia, Richela meletakkan kopernya. Kemudian berjalan menelusuri setiap sudut kamar yang di dominasi cat putih itu. Ukuran kamarnya sangat besar dan luas. Di lengkapi beberapa barang-barang perabotan kamar yang lebih ke gaya Maskulin. Namun Richela tidak berpikir aneh dengan semua itu. Ia terus menelusuri setiap sudut kamar itu sampai langkahnya terhenti tepat di pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon kamar.
Ia menggeser pintu itu dan berjalan ke balkon. Kedua matanya menatap takjub pada pemandangan kota Berlin yang dapat di lihatnya dari balkon itu. Kedua tangannya memegang pagar Balkon.
“Kota Berlin memang indah,” Richela mengembangkan senyumannya.
Perlahan Richela memejamkan matanya. Merasakan sejenak segarnya hembusan angin sore di kota Berlin. Poni rambutnya ikut beterbangan karena di terpa hembusan angin itu.
“Yah meski aku datang ke sini karena terpaksa untuk menuruti permintaan kakek tapi sepertinya tidak terlalu buruk. Aku bisa memanfaatkan waktu taruhan selama 3 bulan ini untuk berjalan-jalan juga,” sambungnya bersamaan membuka matanya kembali.
Richela datang ke sini memang karena permintaan, sekaligus taruhan bersama kakeknya. Taruhan itu menyangkut dengan perjodohannya dan Richard. Kakeknya—tuan Hans, memintanya untuk menjadi sekretaris Richard selama 3 bulan. Sebenarnya bukan hanya untuk itu saja tapi waktu 3 bulan ini bertujuan menumbuhkan perasaannya terhadap Richard. Jika selama 3 bulan ini Richela tetap tidak memiliki perasaan, tuan Hans akan membatalkan perjodohannya.
“Tidak—kakek tidak! Aku tidak ingin di jodohkan dengannya!” rengek Richela pada kakeknya—tuan Hans.
“Kenapa tidak ingin? Nak Richard itu orangnya baik. Kakek yakin kamu akan bahagia dengannya,” tuan Hans mengusap penuh kasih sayang kepala cucu perempuan itu.
“Kakek—” Richela ingin protes lagi tapi lebih dulu di sela tuan Frederick—Papanya.
“Turutilah permintaan kakekmu, Richela! Pilihan kakekmu tidak pernah salah. Papa menjamin itu,”ucap tuan Frederick pada putri bungsunya itu.
“Tapi bisa saja kan pilihan kakek kali ini salah,” celetuk Richela membuat ketiga orang yang sedang duduk bersamanya, menggeleng-gelengkan kepala.
“Kamu tidak boleh meragukan pilihan kakekmu, sayang. Mama sendiri sama seperti papamu. Menjamin bahwa keputusan atau pun pilihan kakekmu tidak pernah salah. Percayalah!” nyonya Nanetta berusaha membujuk Richela agar mau menerima perjodohannya dengan Richard.
“Iya ma, aku percaya. Aku juga yakin keputusan atau pun pilihan kakek tidak pernah salah. Namun bisa saja kali ini berbeda. Kita tidak pernah tahu. Terlebih lagi ini menyangkut kehidupanku. Tidak bisakah aku memilih pasanganku sendiri, kek?” pinta Richela memelas pada tuan Hans.
__ADS_1
Ia benar-benar tidak ingin di jodohkan. Apalagi dengan laki-laki seperti Richard, si muka datar itu. Huh tidak akan pernah mau!
“Kakek bukannya tidak membiarkanmu untuk memilih pasangan sendiri tapi perjodohan ini sudah sejak lama di tetapkan. Kakek dan kakeknya Richard menjodohkan kalian untuk mempererat hubungan persahabatan,” tuan Hans mengerti keinginan cucunya itu.
“Lalu haruskah aku yang di korbankan di sini, kek? Aku tidak mau di jodohkan dengan laki-laki yang tidak ku kenal. Apalagi dengan laki-laki yang terkena akan muka datar itu. Sungguh aku tidak mau. Batalkan perjodohan ini yah, kek! Tolong!” Richela semakin merengek pada tuan Hans. Berharap kakeknya itu mau mengabulkan permintaannya, seperti biasanya.
“Kamu hanya mengenal Richard dari berita saja. Belum pernah bertemu langsung dan mengenalnya lebih dalam. Richard itu sebenarnya orangnya penuh kehangatan. Hanya saja tidak di perlihatkannya,” ucap tuan Frederick sambil meminum kopi hangat miliknya.
“Ish papa tahu dari mana semua itu?”desis Richela menatap papanya.
“Papa pernah bertemunya beberapa kali. Makanya papa tidak ragu untuk mengatakan itu,” sahut tuan Frederick.
“Sudah dengarkan apa kata papamu, sayang? Mama harap kamu setujunya. Setidaknya untuk mengenal lebih dekat saja dulu, tidak masalah. Benarkan pah?” nyonya Nanetta melirik ke arah tuan Hans—papa mertuanya.
“Iya benar. Kamu bisa mengenal Richard lebih dekat dulu. Kakek dan kakeknya juga sudah menyepakati satu hal. Kamu bekerjalah menjadi sekretaris Richard selama 3 bulan. Itu sekaligus untukmu mengenalinya lebih dalam. Jika selama 3 bulan itu, kamu tetap tidak memiliki perasaan pada Richard. Kakek bersedia membatalkannya. Bagaimana dengan ini?” usul tuan Hans yang sudah memikirkan hal ini.
Tuan Hans mengingat betapa keras kepalanya Richela. Hanya cara seperti ini yang akan berhasil membujuknya.
“Hmmm,” Richela berdehem ringan seraya menimbang usulan dari kakeknya itu.
“Usulan kakekmu cukup bagus. Kamu yakin tidak mau mencobanya?” tanya tuan Frederick pada Richela.
“Usulan kakekmu juga menguntungkanmu. Coba saja dulu sayang! Seperti katamu tadi kita tidak akan pernah tahu. Ya--tidak akan pernah tahu jika belum di coba,” nyonya Nanetta menatap hangat putrinya itu. Sebagai orang yang telah melahirkan Richela, pastinya mengerti betul sifatnya. Putrinya itu keras kepala dan tidak mudah di bujuk.
“Kalau aku mencobanya, bagaimana dengan kuliahku?” itulah yang menjadi salah satu pertimbangan Richela, sebelum menyetujui usulan kakeknya.
“Gampang saja. Papa akan menghubungi Egon agar waktu magangmu di percepat,”sahut tuan Frederick memberikan solusi.
“Hmmm kalau begitu baiklah, akan aku coba! Hanya 3 bulan saja dan kakek harus menepati ucapan kakek tadi,” ucap Richela menyetujui usulan kakeknya, usai memikirkannya sebentar.
“Kakek tidak akan mengingkari,” balas tuan Hans tersenyum puas akan persetujuan cucunya.
#Flashback Off#
__ADS_1
Puas merasakan hembusan angin kota Berlin, Richela berjalan masuk kembali ke dalam kamar. Tidak lupa pula pintu tadi di tutupnya dan semua gorden kamar di tariknya, sebab langit sudah mulai gelap. Lampu kamar juga di nyalakan semuanya. Sebelum membaringkan dirinya di ranjang dengan kasur yang terlihat empuk itu, Richela memutuskan untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Ia sudah mandi sebelum berangkat tadi. Jadi tidak perlu mandi lagi.