
“Hmmm kau bisa pergi!” titah Richard tanpa menatap Richela.
“Ya, bos!” sahut Richela segera mengambil beberapa berkas yang baru saja di tanda tangani Richard. Lalu pergi dari ruangan itu.
Seperginya Richela, Richard lanjut bekerja. Yah seperti itulah ia orangnya—Gila kerja. Jika sudah duduk di kursi kebesarannya, maka akan lupa waktu.
Di ruang Richela
Baru kembali dari ruangan Richard, Richela mendapat telepon dari tuan Frederick—Papanya.
“Halo pah! Selamat pagi!” sapa Richela sambil meletakkan beberapa berkas tadi ke atas mejanya.
[📞Papa: Selamat pagi, sayang! Kamu di perusahaan?]
“Iya di perusahaan. Kenapa, Pah?” tanya Richela yang kini duduk di kursinya.
[📞Papa: Tidak apa-apa. Bagaimana pekerjaanmu?]
“Yah lumayan lancar. Bekerja di sini tidak sulit. Cuma—” Richela menggantungkan ucapannya. Tuan Frederick menjadi penasaran.
[📞Papa: Cuma apa?]
“Cuma di bikin kesal terus, pah!” cetus Richela tanpa menyembunyikan apa pun. Ia sosok yang selalu terbuka tentang perasaannya.
[📞Papa: Kok bisa?]
Jengkel—Richela mendengar pertanyaan papanya begitu menjengkelkan.
“Ya bisalah, Pah! Kakek membuatku harus menghadapi orang menyebalkan seperti Richard Vilhelm. Baru tiga hari di sini, aku selalu kesal karenanya. Belum lagi tiga bulan. Huh bisa naik tensi darahku,” Richela mengeluhkan perasaan kesalnya karena Richard dan apa respons tuan Frederick? Tertawa—Ya papanya itu menertawakannya.
[📞Papa: Hahaha... Jangan sampai tinggi terus tensi darahmu, sayang! Nanti kamu cepat tua loh]
Richela mendengus kesal. “Ish papa! Anak lagi kesal, bukannya di baikin. Malah di ledek sama di ketawain. Papa tega!”
[📞Papa: Maaf, sayang! Jangan kesal, oke? Papa menghubungi karena ada satu hal penting]
“Hmmm hal apa?” tanya Richela sesudah berdehem pelan. Lupakan soal kekesalannya, ia penasaran tentang hal yang di sebut tuan Frederick barusan.
__ADS_1
[📞Papa: Besok Elias akan datang ke sana]
Deg...
Detak jantung Richela tiba-tiba terasa berhenti. Elias—Nama itu sudah melekat di pikiran dan hatinya. Bukan hanya namanya tapi juga beberapa kejadian buruk tentangnya. Kejadian yang membuat Richela trauma dan tidak di ketahui orang lain, selain keluarganya. Richela bukan sosok pendendam tapi dirinya sulit melupakan. Traumanya begitu dalam sampai saat ini.
“Pa—papa tahu dari mana?” bibir Richela bergetar menanyakan itu. Tangannya memegang erat pegangan kursi. Matanya menatap kosong ke depan.
[📞Papa: Aiken yang memberitahu papa. Dia mengatakan kalau Elias akan datang untuk kontrak kerja sama dengan Vilhelm Group. Sekarang kamu bekerja sebagai sekretaris Richard. Dalam arti lain, kamu pasti akan ikut Richard ke mana pun. Termasuk bertemu Elias. Papa khawatir padamu, Richela! Bertemu dengannya, bukan hal bagus. Kamu pulanglah! Biar papa yang bicara pada kakekmu]
Tuan Frederick benar-benar mengkhawatirkan keadaan Richela. Apalagi suara putri bungsunya itu sudah berubah. Ada getaran ketakutan yang terdengar jelas di sana dan selalu terjadi, setiap Richela mendengar nama Elias.
“Pah—Aku takut,” lirih Richela. Dirinya tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.
[📞Papa: Sayang tenanglah! Kamu tidak akan bertemu dengannya. Papa akan meminta Aiken menjemputmu sekarang!]
Richela ketakutan mengingat kejadian dulu. Padahal itu sudah lama terjadi. Namun ia juga sadar, dirinya tidak bisa selalu bersembunyi dan menghindar. Traumanya tidak akan menghilang jika tetap seperti itu.
“Ti—dak, pah! Aku gak bi—sa terus ber—Sembunyi dalam trauma ini. Aku akan me—nemuinya,” ucap Richela tergagap.
Keputusannya ini sudah di pertimbangkannya sejak lama tapi tetap saja rasa takut itu ada. Di tambah lagi, ia belum siap bertemu Elias kembali di waktu sedekat ini. Meski begitu, keputusannya harus di lakukan. Demi bisa menghilangkan traumanya.
Diam—Richela terdiam mendengar itu. Papanya benar tapi keputusannya juga telah mutlak di buat. “Pah, percaya padaku! A—ku pasti bisa menghadapinya. Traumaku ha—rus
pasti bisa menghadapinya. Traumaku ha—rus hilang. Aku ti—dak ingin terus hidup dalam trauma ini,”
[📞Papa: Sayang, kamu yakin dengan keputusanmu ini? Papa sangat khawatir padamu,]
“Yakin, pah! Percaya padaku,” sahut Richela berusaha meyakinkan papa dan dirinya juga.
[📞Papa: Hmmm baiklah tapi papa akan mengirimkan beberapa orang untuk menjagamu di jarak tidak jauh. Takutnya Elias berbuat sesuatu padamu]
“Aku setuju, pah. Eum sudah dulu—Aku mau ada metting, pah!” seru Richela menatap jam tangannya. Sudah saatnya metting.
[📞Papa: Ya, hubungi papa kalau ada apa-apa!]
“Iya, Pah!”
__ADS_1
Tut...
Richela mematikan teleponnya. Nafasnya terdengar berat. Tatapannya masih kosong. Nama Elias seolah kembali memenuhi pikirannya, setelah sekian lama.
“Richela—Kau harus berani menghadapinya atau traumamu ini tidak hilang. Harus berani!” gumamnya meyakinkan lagi dirinya sendiri. Sesekali menghela nafasnya—Cara agar bisa menenangkan hatinya.
Di rasa hatinya sudah cukup tenang, Lihua beranjak berdiri. Tak lupa berkas metting di ambilnya. Lalu ia berjalan keluar dari ruangannya dan pergi menuju ruang Richard. Di luar ruangannya, Richela bertemu karyawan yang memberitahukan bahwa tuan Victor sudah menunggu di ruang metting. Setelah mendapat informasi itu, ia lanjut berjalan ke
Tok... Tok... Tok...
Richela mengetuk pintunya lebih dulu.
“Masuk!”
Pintu ruangan Richard di bukanya. Richela berjalan masuk ke dalam, tepatnya ke hadapan pemilik ruangan itu.
“Sudah saatnya Metting, Bos!” serunya memberitahukan.
Sontak Richard berhenti menatap laptopnya dan beranjak berdiri. “Ayo pergi!”
Richela mengangguk pelan. Richard merapikan jasnya, sebelum berjalan pergi di ikuti Richela. Mereka berdua berjalan menuju ruang Metting yang letaknya juga di lantai sama.“Berusahalah untuk membuat puas klien! Hasilnya tergantung usahamu,” ucap Richard di sela berjalan. Nada dinginnya terdengar jelas.
“Jangan khawatir, bos! Aku pasti berhasil,” sahut Richela datar.
Richard tidak membalas, bahkan sampai masuk ke dalam ruang Metting. Sesampainya di sana, Richard menyapa singkat tuan Victor. Richela juga melakukan hal yang sama. Mereka sedikit berbasa-basi. Lalu barulah Metting di mulai. Richela langsung melakukan tugasnya, mempresentasikan apa yang ada di berkas tadi. Dalam hal ini, ia mudah melakukannya. Seolah sudah ahli, Richela melakukannya dengan baik. Bahkan Richard yang sedari tadi memperhatikan sedikit terkejut.
‘Lumayan!’ batin Richard
Tuan Victor juga tidak berhenti memperhatikannya. Richela melakukannya dengan baik—Tidak, sangat baik. Presentasinya begitu singkat dan padat tapi mudah di
mengerti. Inilah salah satu kemampuan yang di milikinya. Orang-orang akan di buat terkejut saat seorang Richela memberikan presentasinya. Mengapa? Richela menjadi dua orang berbeda. Saat di situasi bebas, ia berbicara sebebasnya. Namun berbeda saat situasi seperti ini. Ia menjadi pembicara yang apik dan lugas. Penyampaian jelas dan membuat orang yang mendengarnya menjadi puas.
Prok... Prok... Prok...
“Hebat! Presentasi nona Richela sangat baik. Saya puas!” puji tuan Victor usai bertepuk tangan.
“Terima kasih, tuan Victor! Senang bisa membuat tuan puas,” balas Richela mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
“Saya juga senang bisa melihat presentasi sebaik tadi. Presider Richard—Anda beruntung memiliki sekretaris seperti nona Richela!” tuan Victor menatap Richela dan Richard bergantian.