
Beberapa hari kemudian
Hari ini adalah hari Anniversary perusahaan Vilhelm Group. Setiap tahunnya akan di adakan perayaan yang sangat megah. Perusahaan akan di dekorasi menyeluruh dengan konsep elegan dan mewah. Sepanjang jalan menuju perusahaan akan terdapat rangkaian bunga berupa ucapan dari para tamu, mau pun kolega perusahaan. Makanan dan minuman di siapkan dengan kualitas terbaik. Hiburan untuk perayaan di isi artis-artis kota ternama. Belum lagi para tamu yang di undang bukan orang sembarangan. Para tamu yang di undang pastinya kalangan orang berkelas. Begitulah suasana megahnya perayaan Anniversary Vilhelm Group setiap tahunnya. Richard memang tidak pernah main-main untuk merayakannya.
Seperti yang sekarang sedang berlangsung, para tamu satu-persatu berdatangan. Mereka datang dengan tampilan sangat berkelas. Kado-kado yang mereka bawa pun, di yakini berharga fantastis. Para tamu tidak akan segan bersaing dalam urusan memberi kado terbaik. Mereka menggunakan kado itu untuk mengambil hati Richard, mempererat hubungan kerja sama dengannya atau pun untuk sekedar menyombongkan diri. Bahwa mereka mampu membeli hadiah semahal itu untuk di berikan pada Vilhelm Group.
Jika orang lain akan merasa senang melihat semua itu, berbeda dengan Richela. Ia menatap biasa saja para tamu yang berdatangan. Sesekali ada tamu yang menghampirinya, untuk sekedar berkenalan. Semua tamu yang menghampirinya, selalu mengatakan bahwa ia cantik menggunakan gaun biru muda. Ya benar—saat ini Richela memakai gaun biru muda dengan panjang sampai mata kaki. Tidak terlalu ketat dan bagian dada tidak terbuka. Rambutnya di biarkan terurai bebas. Wajahnya memakai make up tipis. Kakinya terpasang sempurna heels dengan hak rendah.
“Mau ke mana Richela?” tanya perempuan bergaun merah. Ia merupakan karyawan perusahaan Vilhelm Group yang bekerja di departemen keuangan.
“Mau ke toilet dulu,” jawab Richela yang sudah mulai berjalan pergi.
“Oh baiklah,”
Richela berjalan pergi dari ramainya tamu yang sudah berdatangan. Ia pergi menuju toilet yang ada di lantai yang sama. Saat sedang berada di dalam toilet, tiba-tiba ada seorang perempuan berpakaian mewah menghampirinya. Perempuan itu mengenakan gaun biru dengan belahan di bagian kaki kanannya. Gaunnya seksi dengan punggung terbuka. Belahan dadanya tidak terlalu rendah tapi sangat menggoda. Rambutnya di ikat tinggi, memperlihatkan jenjang lehernya yang putih. Wajahnya cantik dengan make up yang tidak terlalu tebal. Heels dengan hak tinggi terpasang sempurna di kakinya. Penampilannya terkesan sangat mewah tapi cocok untuk seusianya.
“Kamu Richela?” tanya perempuan itu lembut pada Richela yang baru saja ingin keluar dari toilet.
“Iya, kamu siapa?” tanya balik Richela pada perempuan itu.
“Aku Audy Veriska, sahabat kecil Richard!” jawab perempuan itu memperkenalkan dirinya pada Richela.
Perempuan itu bernama Audy Veriska. Usianya lebih tua beberapa bulan dari Richela. Ia berwajah cantik dan bertubuh seksi. Suaranya terdengar sangat lembut. Audy sendiri merupakan seorang model ternama. Ia sudah bergelut dalam dunia model selama 5 tahun. Audy di kenal dengan sifatnya yang lembut dan sangat ramah. Namun di balik sifatnya itu, Audy adalah perempuan licik dengan segala macam tipu muslihatnya. Ia bermain halus di depan, sebaliknya bermain licik di belakang. Ibarat kata, Audy adalah perempuan bermuka dua.
Tidak pernah terdengar kabar miring tentangnya. Skandal percintaannya pun juga tidak pernah terdengar. Mengapa? Audy memang masih sendiri. Audy sendiri karena dirinya mencintai Richard. Tetapi keberadaannya hanya di anggap sebagai sahabat kecil oleh Richard, bukan seseorang yang mencintainya. Audy berusaha mendapatkannya tapi kabar perjodohan Richard itu membuatnya marah. Ia tidak terima kalau ada perempuan lain yang menikah dengan Richard.
“Apa tujuanmu menemuiku? Pastinya tidak sekedar untuk berkenalan kan?” Richela bertanya datar seraya bersandar di dinding toilet.
Dari tatapannya saja, Richela sudah tahu bahwa Audy bukan datang tanpa alasan. Pastinya karena ada suatu tujuan yang berhubungan dengan Richard. Mengakunya sebagai sahabat kecil tapi dari tatapannya, justru menginginkan Richard.
__ADS_1
“Kamu pintar sekali,” puji Audy seraya merogoh tas kecil miliknya.
“Aku tahu itu,” timpal Richela menyombongkan dirinya. “Jadi apa tujuanmu?”
“Aku ingin malam ini kamu mengumumkan perjodohanmu dengan Richard di batalkan. Sebagai gantinya untuk, uang 20 miliar di dalam kartu ini menjadi milikmu. Bagaimana?” Audy menyodorkan sebuah kartu ATM ke arah Richela yang langsung tersenyum sinis ke arahnya.
`Heh sudah aku duga!` batin Richela
“Apa kamu pikir uang 20 miliar itu cukup untukku? Maaf sekali karena harus mengecewakanmu. Uang sebanyak itu tidak akan mampu mencukupiku dan aku masih mampu. Jadi simpan saja kembali untukmu,” ucap Richela dengan nada angkuhnya. Tentunya ia sengaja melakukan itu.
“Oh satu hal lagi. Tentang perjodohkanku dengan Richard, kamu tidak berhak ikut campur! Hmmm terima kasih sudah menawarkan uang sebanyak itu,” lanjutnya.
Setelahnya Richela berjalan pergi tanpa menunggu jawaban dari Audy. Melihat sikap Richela yang menolak tawarannya, Audy menjadi muram. Ia tahu kalau Richela tidak akan melakukan apa yang di inginkannya.
“Tidak—Aku tidak boleh menyerah. Richard hanya milikku—ya hanya milikku,” gumam Audy dengan yakinnya.
“Hai, kamu calon istrinya Richard kan?” tanya teman Audy bergaun abu-abu.
“Iya benar,” jawab Richela singkat.
“Kita boleh kenalan?” tanya teman Audy itu lagi.
“Siapa yang melarang?” tanya Richela balik.
“Hhaha benar juga ya!”teman Audy bergaun abu-abu tertawa renyah.
“Iya. Aku Richela, kalian?” Richela memperkenalkan dirinya lebih dulu.
“Kenalin aku Lyodra!”
__ADS_1
“Aku Meilisa,”
“Fabby,”
“Ratu,”
Semua Audy memperkenalkan diri mereka masing-masing. Mereka tampak sangat ramah dan senang bisa berkenalan dengan Richela.
“Audy giliran lo!” seru Fabby pada Audy yang belum memperkenalkan dirinya.
“Eh iya! Aku Audy, sahabat kecilnya Richard. Senang bisa berkenalan denganmu,” ucap Audy dengan sopannya tapi Richela tidak menggubrisnya dan terkesan tidak sopan.
“Loh kenapa kamu kok begitu? Audy mau berkenalan sama kamu,” protes Fabby tidak senang dengan sikap Richela.
“Udah Fabby, gak papa! Mungkin Richela tidak mau berkenalan denganku,” ucap Audy membujuk Fabby.
“Ah maaf bukan begitu maksudku. Aku tadi sedang memikirkan sesuatu, makanya tidak menggubrismu!” seru Richela pura-pura merasa bersalah. Padahal ia memang sengaja tidak menggubris Audy.
“Tidak apa-apa. Aku pikir kamu tidak mau berkenalan denganku,” balas Audy tersenyum semanis mungkin.
“Tidak kok. Aku mana mungkin tidak mau berkenalan dengan sahabat kecil calon suamiku,” Richela memprovokasi Audy agar merasa kesal.
“Iya benar,” timpal Audy membenarkan tapi di dalamnya hatinya terbakar api kekesalan. “Baiklah Richela, nanti kita bicara lagi. Aku mau bermain piano dulu,”
“Silahkan!” Richela mempersilahkan Audy untuk melakukan apa yang di inginkan. Ia juga tidak peduli.
“Semangat Audy! Tampilkan permainan piano terbaikmu,” teman-teman Audy menyemangati Audy yang ingin menyumbangkan penampilan pianonya.
Audy tersenyum tipis pada teman-temannya dan juga Richela. Ia berjalan dengan percaya dirinya menuju ke arah piano. Di setiap perayaan Anniversary Vilhelm Group, Audy memang selalu memainkan piano. Permainan pianonya selalu terdengar indah setiap tahunnya.
__ADS_1