
Usai berganti pakaian, Richela pergi ke kamar mandi. Di sana ia kembali menemukan barang-barang yang mengarah ke maskulin—khas laki-laki tetapi masih tidak terlalu di pikirkannya. Richela segera mencuci wajahnya dan keluar dari kamar mandi, setelah selesai. Kemudian ia langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur empuk dan menatap langit-langit kamar. Kopernya tadi pun sudah di letakkannya di dekatnya. Ia berpikir untuk bersantai saja dulu di atas kasur. Namun siapa sangka setelahnya ia tertidur lelap. Bahkan sampai melewatkan makan malam.
Jarum jam terus berputar dan Richela dengan nyamannya tertidur di atas kasur milik Richard. Perlahan hawa dingin mulai menusuk masuk ke tulangnya. Tanpa sadar membuat Richela menarik selimut hingga dadanya. Ia semakin larut dalam tidur lelapnya.
Di saat Richela tertidur dengan lelapnya, pintu kamar terbuka. Seorang laki-laki berjalan masuk ke dalam dan kembali menutup pintu kamar. Laki-laki itu tidak lain adalah Richard Vilhelm—pemilik kamar itu. Sekaligus laki-laki yang di jodohkan dengan Richela.
Richard Vilhelm, pengusaha dengan sejuta pesona. Anak kedua dari keluarga Vilhelm. Salah satu keluarga dengan kekayaan yang tidak terhitung di kota Berlin. Wajahnya tampan dengan rambut pendek berponi miliknya. Alisnya hitam tebal, bulu matanya sedikit lentik, manik matanya kecokelatan. hidungnya mancung dan bentuk bibirnya tampak seksi. Postur tubuhnya sangat ideal sebab rutin olahraga. Otot-otot tubuhnya terbentuk sempurna dan tubuhnya cukup tinggi. Penampilannya sangat sempurna untuk laki-laki dewasa sepertinya.
Tidak hanya ketampanan yang di milikinya, ia juga sangat pintar. Di usianya yang sudah 28 tahun, ia banyak mencapai pencapaian dalam dunia bisnis. Richard menjadi salah satu lulusan S2 jurusan bisnis terbaik di Universitas Harvad. Setelah semua itu, tidak heran jika ia sering di jadikan sosok inspirasi untuk para anak muda.
Richard juga di kenal sebagai sosok yang rendah hati, di balik muka datarnya. Ia sering berbagi pada orang yang membutuhkan. Meski tidak secara langsung. Selain itu, Richard memiliki sifat mendominasi. Arogan, datar dan dingin adalah sifat yang sering di perlihatkannya. Sehingga membuat orang lain merasa sulit untuk mendekatinya, termasuk para perempuan. Hal itulah yang pada akhirnya menjadikan Richard melajang sampai saat ini. Ia tidak merasa tertarik pada perempuan mana pun. Di karenakan hatinya sudah terisi oleh seseorang.
***
Richard berjalan sembari melepaskan dasi yang melingkar di kerah kemejanya. Matanya belum melihat ke arah ranjang dan terus berjalan menuju ke sofa. Meletakkan tas kerja serta jas miliknya di sana. Kemudian ia meletakkan gelang jam miliknya ke tempatnya kembali. Saat ini kepalanya sedang banyak yang di pikirkan. Salah satunya adalah perjodohannya dengan Richela. Ia sangat menolak perjodohan karena hatinya sudah terisi oleh lain. Namun kakeknya bersikeras untuk menjodohkannya dan ia tidak boleh menolaknya.
Kedatangan Richela hari ini juga sudah di ketahuinya dari kakeknya tapi ia tidak tertarik sama sekali. Richard keras pada pendiriannya untuk menolak perjodohan ini. Bahkan ia berencana membuat Richela sendiri yang akan membatalkan perjodohan mereka.
Selesai dengan semua itu, Richard langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah keluar dari kamar mandi. Rambut yang basah dan acak-acakan, di keringkan menggunakan handuk kecil. Sedangkan handuk besar melilit di pinggangnya. Menyisakan bagian dadanya yang tidak di tutupi apa pun. Memperlihatkan otot-otot dadanya. Kakinya berjalan menuju ke arah lemari pakaiannya. Setibanya di sana, ia segera mencari pakaiannya dan langsung memakainya usai menemukannya. Selesai berpakaian, Richard meletakkan handuk yang tadi di pakaiannya ke tempatnya semula.
Setelahnya barulah Richard berjalan ke ranjangnya dan membaringkan tubuhnya. Tetapi seketikanya menyipit saat menyadari ada perempuan berbaring di ranjangnya. Posisinya sedang memunggunginya. Bukan perempuannya yang membuat Richar merasa terkejut tapi aroma tubuhnya. Yah—aroma itu mengingatkannya pada seseorang yang selama ini di carinya. Aroma mereka berdua sangat persis. Tidak ada perbedaan sama sekali.
“Aroma ini—Ya ini adalah aromamu. Meski sudah sangat lama tapi aku mengenali aromamu. Kamu ada di sini? Apa ini mimpi? Aku berharap ini tidak mimpi tapi kalau benar pun ini mimpi, tidak apa-apa. Setidaknya aku bisa merasakan aroma ini lagi,” gumam Richard yang sudah duduk di sebelah Richela.
Richard menyentuh dan membelai rambut Richela. Senyuman tipis mengembang di bibirnya. Ia merasa sangat bahagia, bisa bertemu dengan perempuan yang sudah lama di carinya. Meski belum tahu kalau yang sedang tertidur di ranjangnya itu adalah Richela—perempuan yang di jodohkan dengannya.
__ADS_1
“Aroma ini benar-benar ku rindukan,” sambungnya sembari membaringkan tubuhnya di sebelah Richela.
Tangannya masih sibuk menyentuh dan membelai rambut Richela. Sebelum akhirnya memeluknya dari belakang. Ia tidak melakukan apa pun. Hanya menghirup aroma dari tubuh Richela yang sangat di rindukannya. Perlahan aroma itu membuat Richard memejamkan matanya. Terus menghirup aroma itu, sampai akhirnya tertidur. Richard tertidur dengan posisi masih memeluk Richela.
***
Keesokan harinya,
Jam 7 pagi
Theresia sudah berdiri di depan pintu kamar Richard. Ia merasa heran sebab tadi malam tidak terdengar amarah Richard pada Richela. Padahal ia sudah sangat menunggu hal itu. Daripada membiarkan pertanyaan di hati dan di pikirannya tidak terjawab, Theresia memutuskan mengetuk pintu kamar kakak sepupunya itu.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu itu membuat pasangan yang sedang tidur berpelukan, menjadi terbangun. Richela terbangun lebih dulu. Sontak ia merasa terkejut saat mengetahui dirinya tidur di pelukan seorang laki-laki. Lebih tepatnya laki-laki yang telah di jodohkan dengannya. Richela berusaha tetap tenang dan mengingat barang-barang di kamar ini bergaya maskulin—khas laki-laki. Ia pun menebak jika adik sepupunya Richard itu sengaja menjebaknya.
Di tengah Richela sedang merutuki Theresia di dalam hatinya, Richard membuka matanya. Terjadi adu tatapan antara Richela dan Richard selama beberapa detik. Sebelum akhirnya ia melepaskan pelukannya pada Richela. Ia langsung mendudukkan dirinya dan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Richard mengenali wajah Richela sebagai calon istrinya. Tampak raut kekesalan di wajahnya. Ia kesal pada dirinya sendiri sebab kemarin malam sedikit hilang kendali. Sampai tidak memeriksa siapa perempuan yang berbaring di ranjangnya.
“Keluar!” titah Richard dingin, tanpa menatap Richela.
“Biasa aja om. Gak perlu di suruh pun, aku juga akan keluar! Mana mau tinggal di sini bersama om,” sahut Richela, tidak kalah ketusnya. Sontak Richard melototkan matanya pada Richela, saat mendengar dirinya di panggil om.
“Saya tidak setua itu, sampai kamu panggil om!” protes Richard masih dengan nada dinginnya.
“Terserah akulah mau memanggil Anda siapa,”Richela tidak takut sama sekali pada Richard.
Dengan santainya ia turun dari ranjang. Meninggalkan Richard yang masih melotot padanya. Ia menarik koper miliknya dan berjalan keluar dari kamar. Di luar kamar, ia menemukan Theresia—gadis yang sudah membuatnya tidur dengan Richard.
__ADS_1
“Guten Morgen!” sapa Richela hangat pada Theresia. Ia tidak memperlihatkan kekesalannya.
“Tidak perlu menyapaku seperti itu!” seru Theresia tidak suka tapi sebenarnya ingin langsung mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam.
“Tidurmu nyenyak?”sambungnya basa-basi.
“Sangat nyenyak. Apalagi tidur sambil di peluk calon suami. Rasanya sangat hangat. Ah hubungan kami sudah sangat baik walau baru tadi bertemu,” Richela mengatakan itu dengan raut wajah bahagia. Ia sengaja melakukannya untuk membuat adik sepupu Richard itu kesal.
Benar saja apa yang di harapkan Richela terjadi. Tampak raut wajah Theresia terkejut, sekaligus merasa kesal.
`What!? Apa-apaan ini!? Bagaimana mungkin kak Richard tidak marah padanya. Bahkan sampai memeluknya. Ini sangat tidak masuk akal! Biasanya kak Richard akan marah bila ada perempuan yang menyentuh barang miliknya. Apalagi sampai masuk ke kamarnya. Perempuan kampung ini pasti berbohong!` batin Theresia
“Ada apa raut wajahnya seperti itu? Apa karena harapanmu tidak sesuai dengan kenyataan?” sambung Richela sedikit menyindir.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!” sanggah Theresia, tidak mau mengakui hal yang sudah di rencanakannya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Berkat dirimu, aku bisa tidur berdua dengan Richard dan di peluk. Itu sangatlah menyenangkan!” ungkap Richela membuat Theresia semakin kesal.
“Kamu pasti hanya berbohong! Kakak sepupu tidak mungkin seperti itu,” tuding Theresia tidak percaya begitu saja dengan ucapan Richela.
`Aku memang berbohong. Hitung-hitung membalasmu,` batin Richela
“Buat apa aku berbohong. Kalau memang ini kenyataannya. Seharusnya kamu ikut merasa senang mendengarnya,” ucap Richela tersenyum tipis. Menyenangkan membuat Theresia merasa kesal seperti itu.
“Aku tidak percaya ucapanmu itu!” seru Theresia masih tidak percaya.
“Terserah kamu. Aku tidak perlu membuatmu percaya padaku. Terpenting di sini, aku sudah berterima kasih padamu. Berkatmu aku bisa mulai dekat dengan Richard. Langkahku untuk menikah dengannya pun semakin dekat,”pungkas Richela santai.
__ADS_1
“Jangan mimpi! Aku dan tante tidak akan membiarkan perempuan kampung sepertimu, menikah dengan kak Richard. Ingat itu!” tegas Theresia menunjuk Richela. Tatapan tidak sukanya benar-benar di perlihatkannya.