Jodohku Dengan Dia

Jodohku Dengan Dia
Pintar Menyogokku


__ADS_3

“Pulang dengan saya!” potong si pemilik tangan kekar itu. Richard—Ya dialah orangnya.


“Kalau aku gak mau gimana?” tanya Richela bersedekap dada. Raut kesal tampak di wajahnya.


“Kamu tidak boleh menolak. Apa kata para tamu nanti, jika saya membiarkan kamu pulang sendirian. Jadi kamu pulang dengan saya!” jawab Richard bernada dingin. Andai ia bisa mengubah nada bicaranya itu, mungkin Richela tidak tambah kesal.


“Heh tumben sekali om mau mendengarkan kata orang? Lagi kesambet apa om?” Richela berdecih mengejek. Faktanya memang begitu. Seorang Richard tidak pernah mau mendengarkan kata orang—Tuli telinganya.


Richard menatap tajam Richela. Berhadap perempuan itu merasa takut dan menurut. Sayangnya, tatapannya tidak berhasil.


“Mau ku colok mata om, hah!? Gak bisa apa natapnya biasa aja,” sambungnya.


“Intinya kamu pulang sama saya. Tidak ada penolakan!” Richard mempertegas ucapannya.


Bahkan sebelum Richela memberi balasan, Richard sudah menarik tangannya. Membawa Richela secara paksa menuju mobilnya.


“Lepasin! Aku bisa jalan sendiri, om. Gak perlu tarik-tarik!” bentak Richela seraya berusaha memberontak. Kekesalannya sudah berada di puncak.


Sontak Richard melepaskan tarikan tangannya.


“Jalan!”


Andai tenaganya lebih kuat, Richela pasti sudah menghajar laki-laki dewasa itu.“Dasar om menyebalkan!” umpat Richela menatap sinis Richard. Lalu berjalan menuju mobil orang yang membuatnya kesal itu dan langsung masuk.


Richard tidak peduli dengan kekesalan Richela. Ia berjalan santai menuju mobilnya. Dimana pak Amo sudah membukakan pintu mobil.


“Pulang ke kediaman!” perintah Richard pada pak Amo, usai duduk di sebelah Richela.


“Ck enak saja pulang! Bagaimana dengan mobilku?” Richela berdecak kasar.


“Kuncinya!?” Richard mengulurkan tangannya. Meminta kunci mobil Richela.


Meski kesal, Richela memberikan kunci mobilnya. Pikirnya tidak baik meninggalkan mobil di perusahaan. Apalagi mobil itu pemberian tuan Hans—Kakek Richard.


Richard menerima kunci itu. Lalu menelepon seseorang. Richela diam menatap ke jendela. Hatinya tengah kesal—Sangat kesal.


‘Aku ingin sekali melemparnya ke laut! Biar di makan hiu sekalian. Keberadaannya membuatku kesal!’ rutuk Richela dalam batin.


Keheningan terjadi sampai seseorang mengetuk kaca jendela mobil. Richard menurunkan kaca jendela di sampingnya dan langsung memberikan kunci mobil Richela pada orang itu.

__ADS_1


“Antar ke rumah!” perintah Richard tanpa menatap orang itu.


“Siap, bos!”


Setelahnya kaca jendela kembali di tutup dan pak Amo segera melajukan mobil. Tidak ada pembicaraan apa pun di dalam mobil. Richela tengah meredam kekesalannya, sedangkan Richard diam seperti biasa. Keheningan itu berlangsung sampai di kediaman Vilhelm.


Richela turun dari mobil tanpa sepatah kata. Ia langsung pergi ke kamarnya. Richard juga melakukan hal sama. Saksi dari sikap keduanya adalah pak Amo.


“Dua orang mustahil bisa bersatu,” gumam Pak Amo menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebelum pergi memasukkan mobil ke dalam garasi.


***


Kamar Richela


“Dasar om menyebalkan! Bisa-bisanya menarikku sekarang itu. Di kira aku patung yang gak bisa jalan apa!? Aku sangat kesal! Kakek menjodohkanku dengan orang yang salah,” Richela tidak berhenti menggerutu, sejak turun dari mobil tadi.


Richela menghempaskan kasar tubuhnya ke ranjang. Rasanya baru 2 hari di sini, emosinya


benar-benar di uji. Bagaimana tidak? Richard selalu membuatnya kesal.


“Si om menyebalkan itu cocok berjodoh dengan sahabatnya. Satu menyebalkan, satunya licik. Kalau bersatu, pasti menjadi satu-kesatuan yang sempurna!” sambungnya, bersamaan ponselnya berdering.


[📞Kakek]


Ia langsung mengangkatnya.


“Pas sekali kakek meneleponku,” ucap Richela ketus.


[📞Kakek: Ada apa cucuku?]


“Aku kesal. Laki-laki yang kakek jodohkan denganku itu, menyebalkan. Super menyebalkan! Kakek tahu itu!?” cetusnya sambil meletakkan tasnya.


[📞Kakek: Apa yang di perbuat Richard sampai membuatmu kesal?]


“Banyak. 2 hari di sini, 2 hari juga aku di buat kesal. Tidak dia, ibunya, kakak sepupunya pun sama. Aku bisa mati kekesalan kalau lama di sini, Kek!” gerutu Richela tanpa menyembunyikan kekesalannya. Tuan Hans terdengar tertawa di seberang telepon.


[📞Kakek: Hahaha... Mana mungkin cucuku bisa mati kekesalan. Kakek malah khawatir. Mereka yang akan mati kekesalan karenamu]


“Kakek mengejekku ya?” tanya Richela merengut tidak suka.

__ADS_1


[📞Kakek: Tidak. Kakek tidak sedang mengejekmu. Sudahlah—Jangan kesal lagi. Apa tadi Willi sudah memberikan hadiah untukmu?]


Richela menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Huh baiklah. Hadiahnya sudah ku terima, kek!”


[📞Kakek: Bukalah! Kakek yakin kamu menyukainya]


“Ya tunggu sebentar, kek! Aku akan membukanya,” sahut Richela sambil merogoh tasnya.


Richela mengambil hadiah yang tadi di berikan pak Willi dan bergegas membukanya. Sontak matanya melebar sempurna.


[📞Kakek: Bagaimana? Kamu menyukainya, kan?]


“Kakek sangat pintar menyogokku. Aku menyukainya. Terima kasih, kek!” ucap Richela yang sedang tersenyum menatap hadiah pemberian kakeknya.


Kalung berliontin bulan sabit—Ya itulah hadiahnya. Liontin bulannya terbuat dari berlian biru. Tampilannya indah dan Richela menyukainya. Richela bukan perempuan penggila perhiasan. Ia hanya menyukai benda yang tampil indah, seperti kalung.


[📞Kakek: Hahaha... Menyogokmu? Tidak cucuku. Kakek memberikannya sebagai kompensasi karena kamu mau menuruti permintaan kakek]


“Lebih tepatnya mau bertaruh dengan kakek. Soal permintaan kakek yang masalah perjodohan, aku tidak mau. Bukan impianku punya suami menyebalkan seperti Richard Vilhelm. Ingat itu, kek!” Richela mempertegas kembali penolakannya.


[📞Kakek: Ya baiklah. Kakek hanya ingin memastikan hadiah itu sampai di tanganmu. Sekarang kakek tutup dulu. Waktunya untuk tidur. Kamu juga tidur!]


“Selamat malam, kek! Mimpi indah,”


[📞Kakek: Untukmu juga cucuku!]


Tut


Panggilan telah di matikan. Richela menjatuhkan ponselnya ke ranjang. Matanya tidak berpindah dari kalung pemberian kakeknya—Tuan Hans.


“Selera kakek boleh juga. Aku akan memakainya besok,” gumamnya. Kekesalannya perlahan memudar karena kalung itu. Beruntung ia memiliki kakek seperti tuan Hans. Laki-laki tua itu mengerti sekali terhadap dirinya.


Richela puas menatap kalung itu. Kemudian di letakkannya kembali ke dalam kotak dan di simpannya ke atas nakas samping ranjang. Richela pergi berganti pakaian terlebih dahulu. Tidak mungkin ia tidur menggunakan gaun. Selesai berganti pakaian, Richela mencuci wajah dan melakukan rutinitasnya sebelum tidur. Ia baru tidur setelahnya. Hari ini cukup melelahkan bagi Richela. Sehingga ia cepat terlelap.


Berbeda halnya dengan Richard. Laki-laki itu bahkan tidak bisa memejamkan matanya. Entah kenapa, pikirannya terus terbayang bagaimana penampilan Richela saat bermain piano tadi. Cantik dan elegan. Permainan pianonya juga terdengar indah. Sangat persis seperti orang yang telah mengisi hatinya beberapa tahun lalu.


“Kenapa aku membayangkannya? Sadar Richard! Mereka berbeda, tidak sama. Dia adalah dia, bukan Richela. Mereka dua orang yang berbeda!” ucapnya menekankan pada dirinya sendiri.


Dulu saat Richard masih remaja, pernah bertemu seorang gadis kecil. Gadis itu memiliki lesung pipit di pipinya. Begitu tersenyum, sangatlah manis. Richard di buat jatuh cinta dengan senyumannya. Gadis itu juga pandai bermain piano. Saat bermain, ia menganggap dunia miliknya seorang diri. Jari-jarinya bermain lincah di atas piano. Menciptakan alunan musik merdu yang mampu menghipnotis semua orang, termasuk Richard. Aroma tubuhnya juga melekat sempurna di indra penciuman Richard. Sayang, pertemuan itu menjadi yang pertama untuk selamanya. Richard tidak pernah bertemu lagi dengannya. Namun gadis itu telah mengisi hatinya.

__ADS_1


__ADS_2