
Sesampainya di restoran yang di tuju, Jackson semakin bersemangat. Ia menarikkan kursi untuk Richela duduk. Bahkan sampai memesankan menu makanan untuk Richela. Tidak hanya itu, ia juga mengambilkan lauk untuk Richela. Jackson seolah menjadikan Richela seperti ratu yang harus di layaninya.
“Seharusnya kau tidak perlu seperti ini, Jack!” Richela menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Jackson melayaninya.
“Oh ayolah Richela! Anggap saja ini sebagai caraku merayakan pertemukan kita,” ucap Jackson usai mengambilkan lauk untuk Richela.
“Ya-ya terima kasih,” ungkap Richela pasrah.
“Sama-sama,”
Richard hanya diam melihat hal itu dan memilih memulai makannya. Ia tidak peduli terhadap apa pun yang di lakukan Richela.
Richela dan Jackson juga segera memulai makan mereka. Selama makan bersama berlangsung, tidak terjadi apa pun lagi pembicaraan. Mereka bertiga sibuk menikmati makanan masing-masing. Hingga akhirnya mereka bertiga selesai makan.
“Saya mau ke toilet dulu!” seru Richard pada Richela yang langsung membalas dengan anggukan kepala.
Richard berjalan pergi dari sana. Meninggalkan Richela dan Jackson berdua-duaan di ruang makan VVIP.
“Heem Richela!” Jackson berdehem ringan membuat Richela yang sedang minum, menatap ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Richela usai minum.
“Apa hubunganmu dengan Presider Richard? Sepertinya hubungan kalian tidak biasa,” tanya balik Jackson. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk menanyakan itu.
“Kami di jodohkan,” jawab Richela dengan mudahnya. Sontak membuat Jackson terkejut, tidak percaya
“Apa!? Di jodohkan!!?” pekik Jackson tanpa sadar sedikit berteriak.
“Kenapa memangnya? Kau sampai terkejut seperti itu,” Richela bertanya polos. Ia tidak menyadari bahwa Jackson menaruh perasaan padanya.
“Tidak—tidak apa-apa. Kamu sudah lama di jodohkan dengannya?” gagap Jackson berusaha menenangkan keterkejutannya.
“Iya sudah lama tapi aku menolak perjodohan ini. Lalu kakekku memintaku untuk menjadi sekretaris Richard selama 3 bulan. Tujuannya untuk membuatku memiliki perasaan padanya. Jika sampai waktu 3 bulan itu habis tapi aku masih tidak memiliki perasaan pada Richard, perjodohan ini di batalkan!” jelas Richela, seketika membuat Jackson bernafas lega.
“Fiuhhh baguslah,” Jackson bernafas lega dan mengelus dadanya.
“Apanya yang bagus?” tanya Richela
__ADS_1
“Ba—baguslah karena kamu tidak akan terpaksa menikah. Aku tahu kamu tipe orang yang tidak mau menikah tanpa cinta,” jawab Jackson tergagap. Mana mungkin ia mengatakan perasaannya sekarang pada Richela.
`Baguslah kamu tidak menerima perjodohan ini. Setidaknya aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkanmu,` batin Jackson
“Iya benar,” balas Richela membenarkan.
Jackson tersenyum mendengarnya. Ia memang sudah menyukai Richela, sejak pertama kali bertemu. Tidak heran kalau reaksinya tadi awalnya terkejut saat mendengar Richela di jodohkan dengan Richard. Kemudian bernafas lega dan senang sebab memiliki kesempatan untuk mendapatkan Richela.
“Kalau sudah selesai, kita pulang sekarang!” suara Richard sukses membuat Jackson tidak jadi membalas ucapan Richela.
“Baiklah, ayo pulang!” seru Richela beranjak berdiri dari duduknya. Jackson mengangguk setuju dan juga segera berdiri.
Richela, Richard dan Jackson berjalan keluar dari ruang makan VVIP tersebut. Kemudian pergi ke kasir sebentar untuk membayar makanan. Selesai membayar, barulah mereka bertiga berjalan keluar dari restoran.
“Asistenmu jemput?” tanya Richela pada Jackson, saat sudah di depan pintu restoran.
“Iya. Tuh dia di sana!” jawab Jackson menunjuk ke arah asistennya yang berdiri di samping mobilnya.
“Baiklah. Kalau begitu kau langsung pulang dan istirahatlah. Oh ya kurangi temperamen burukmu itu! Aktor muda dan tampan sepertimu, harus memiliki sifat yang baik. Aku lebih menyukai laki-laki seperti itu,” tanpa di duga, Richela mengelus kepala Jackson. Memperlakukannya seperti adiknya sendiri.
“Baik,” Jackson mengangguk cepat. Ia senang mendapat perlakuan manis seperti itu.
“Aku pulang dulu. Terima kasih atas makan malamnya tadi, Presider Richard! Sampai jumpa lagi nanti!” ucap Jackson sebelum akhirnya pergi meninggalkan Richela dan Richard di sana.
Tinggallah Richela dan Richard yang sudah memicingkan mata ke arahnya. “Sepertinya kamu tidak akan menyukai saya karena sudah memiliki orang yang di sukai,”
“Maksud om?” Richela menatap bingung ke arah Richard.
“Maksudnya mudah saja. Kamu sudah memiliki orang yang di sukai,” Richard berjalan meninggalkan Richela yang masih mencerna apa maksud ucapannya.
“Aku sudah memiliki orang yang di sukai? Siapa?” pikir Richela masih bingung. Beberapa menit kemudian barulah ia menyadari sesuatu dan langsung berlari kecil menyusul Richard.
“Jangan bilang om mengira aku menyukai Jackson!”lanjutnya menebak.
“Menurutmu?” tanya Richard datar seraya berjalan masuk ke mobil yang pintunya sudah terbuka.
“Yah menurutku ini salah. Aku tidak menyukai Jackson,” jawab Richela tidak kalah datar. Ia mendudukkan dirinya di kursi, sebelah kursi Richard.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan ucapanmu tadi?” Richard mempertanyakan ucapan Richela pada Jackson.
“Ucapanku tadi yang pada Jackson? Apa salahnya dengan mengucapkan itu. Aku memang menyukai laki-laki yang tidak bertemperamen buruk. Tetapi bukan berarti aku bilang menyukai Jackson,” celetuk Richela.
“Kamu pikir saya percaya?” tanya Richard membuat Richela berdecak kesal.
“Ck om itu kan Presider yang terkenal akan kepintarannya. Kok bisa bodoh soal membedakan antara perasaan suka dan sebatas kata,” Richela berdecak kesal.
“Kamu berani menyebut saya bodoh!?” Richard menatap tajam ke arah Richela.
“Emang faktanya om bodoh,” Richela menatap sinis Richard.
“Kamu—”
“Apa sih om? Gak terima di sebut bodoh?” sela Richela, sebelum Richard menyelesaikan ucapannya.
“Makanya jangan asal sebut aja! Kalau aku menyukainya, mana mungkin mau menyetujui usulan kakekku. Bisa saja langsung ku batalkan perjodohan kita. Terus aku menikah dengannya. Bodoh kok di pelihara!” lanjutnya bernada ketus.
“Terserah kamu!” pada akhirnya Richard kalah melawan Richela dalam berdebat.
“Emang terserah aku! Kalau terserah om, aku gak mau!” sahut Richela langsung memalingkan wajahnya. Ia menatap ke arah luar jendela dengan kekesalan.
`Ini nih efeknya kalau om udah ketuaan tapi masih sendiri. Gak bisa membedakan antara perasaan suka sama sebatas kata suka! Kakek kenapa sih menjodohkanku dengannya? Udah bermuka datar, bodoh pula! Lengkap banget paketnya,` batin Richela
“Jangan sesekali kamu mengumpati saya di dalam hatimu!” tegur Richard pada Richela.
“Heh buat apa aku mengumpati om? Gak penting sekali!” desih Richela memasang raut wajah kesal.
Richard tidak membalas lagi. Ia fokus menatap ke arah luar jendela. Rasanya sangat malas untuk terus berdebat, begitu pula dengan yang di rasakan Richela. Mereka berdua tidak saling bicara lagi selama perjalanan. Hingga akhirnya sampai di kediaman keluarga Vilhelm. Mereka berdua turun dengan masih tidak saling bicara dan langsung ke kamar masing-masing.
Di kamar Richard
Richard sudah selesai membersihkan diri, tepat jam 9 malam. Sekarang ia tengah berbaring di ranjangnya. Matanya masih terbuka dengan lebar. Richard memang tidak akan bisa tidur dengan cepat, seperti biasanya. Ia mengalami insomnia sejak tragedi 13 tahun lalu. Tragedi itu tidak lain adalah penculikan dirinya dan di kurung di tempat tertutup. Biasanya Richard akan terbayang kejadian itu setiap malam tapi sekarang berbeda. Pikirannya terus terbayang Richela, terutama kejadian kemarin malam.
Dimana kejadian itu Richard tertidur dengan nyenyak memeluknya. Bahkan aroma tubuh Richela masih tercium di kasurnya. Richard mencium aroma yang telah menjadi candu di hidungnya selama ini.
“Shittt! Kenapa aku membayangkan kejadian kemarin malam?” umpat Richard usai menyadari.
__ADS_1
Richard berusaha menepis bayangan kejadian kemarin malam. Ia mulai memejamkan matanya. Berharap bisa segera tidur dan menepis bayangkan itu. Perlahan-lahan aroma tubuh Richela yang masih ada di kasur, mulai membuatnya terhanyut. Terhanyut dalam indahnya mimpi di bawah alam sadar.