Jodohku Dengan Dia

Jodohku Dengan Dia
Pembohong


__ADS_3

“Menunggu waktu yang tepat,” hanya jawaban itu yang bisa Richard berikan saat ini. Untuk saat ini ia tidak bisa memberikan jawaban yang pasti.


“Ah baiklah saya mengerti. Saya sangat menantikan pernikahan Anda,” sahut pak Willi yang sudah tahu kalau untuk saat ini, belum pasti bagaimana akhir dari perjodohan Richela dan Richard.


“Iya. Silahkan nikmati acara ini, pak Willi! Saya harus menyapa tamu lain dulu,” seru Richard pada pak Willi.


“Baik, terima kasih tuan muda!” ungkap pak Willi


Richard pun berlalu pergi, menyapa tamu yang lain. Sedangkan pak Willi beradu tatapan sekilas dengan Richela. Sebelum pergi menikmati makanan yang tersedia.


***


“Kamu lihat laki-laki yang tadi bicara dengan Richard?” tanya Lyodra pada Richela.


“Iya. Kenapa memangnya?” tanya Richela balik.


“Laki-laki itu pengurus kediaman tuan Geoffry. Pemilik dari perusahaan yang mendominasi pasar komersial,” jawab Lyodra sangat antusias, begitu juga Audy dan ketiga temannya.


“Lalu?” Richela belum mengerti apa yang ingin di katakan Lyodra.


“Sejak memutuskan pensiun, tuan Geoffry tidak pernah terlihat lagi. Pernah terdengar kabar kalau tuan Geoffry mengajak cucu perempuannya berkeliling dunia,” Meilisa melanjutkan ucapan Lyodra.


“Benar sekali. Kamu tahu apa yang ingin ku katakan ini, Richela?” tanya Lyodra.


“Bagaimana aku bisa tahu kalau belum di beritahu,” celetuk Richela menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku hanya ingin mengatakan, kalau Audy mengenal cucu tuan Geoffry dan pernah berbicara dengannya! Benarkan Audy?” tampak sekali kalau Lyodra sangat bersemangat menceritakan itu.


“Iya benar,” sahut Audy terlihat bangga dengan itu. “Aku mengenalnya dan juga berbicara dengannya. Kami cukup dekat,”


Mendengar hal itu, sontak tawa Richela pecah. “Fuufft—Hahaha,”

__ADS_1


`Dia mengatakan kami cukup dekat? Aku bahkan baru mengenalnya hari ini. Benar-benar pembohong!` batin Richela


Melihat reaksi Richela yang seperti itu membuat Audy merasa sedikit panik. Audy menduga Richela tahu, kalau dirinya tidak pernah bertemu dengan cucu tuan Geoffry. Namun ia segera menepis dugaan itu. Mana mungkin Richela tahu soal itu.


`Tidak—mana mungkin dia tahu soal ini! Tetap tenang Audy,` batin Audy


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Fabby mewakili pertanyaan teman-temannya.


“Tidak apa-apa. Aku hanya tertawa karena tadi melihat adegan lucu di sana!” Richela beralasan dengan menunjuk ke sembarang arah.


Audy, Fabby, Lyodra, Meilisa dan Ratu langsung ke arah tunjukkan tangannya. Kelimanya pun mengernyitkan dahi. Tidak ada adegan yang lucu di sana.


“Kamu berbohong, Richela!?” Ratu bertanya seperti menuding Richela.


“Iya kamu berbohong. Tidak ada yang lucu di sana. Kamu tadi pasti menertawakan ucapan kami. Menganggap kalau ucapan kami ini bukan kenyataannya,” timpal Fabby bernada judes.


“Buat apa aku berbohong. Di sana tadi memang ada adegan lucu. Aku mana mungkin menertawakan hal yang tidak lucu,” ucap Richela menghentikan tawanya. Meski dalam hatinya ia masih menertawakan pengakuan Audy.


`Hhaha hanya orang bodoh yang mau percaya dengan ucapanmu!` batin Richela


“Apa yang di katakan Audy benar. Richela mungkin memang tertawa karena ada sebuah adegan lucu di sana. Bukan menertawakan kita. Pikir positif thinking okey!?” Lyodra ikut menimpali.


“Benar guys. Jangan berpikir negatif thinking terus dong. Kita kan baru kenal dengan Richela hari ini. Tidak bagus kalau berpikiran tidak baik,” sahut Meilisa ikut menimpali ucapan Lyodra.


“Hmmm baiklah,” deham Fabby terpaksa tidak mempermasalahkan lagi soal Richela yang tertawa tadi.


Setelah itu tidak terjadi lagi obrolan antara Richela dan Audy dkk. Mereka berpisah di sana. Richela sibuk menyapa para tamu sebagai calon istri Richard. Audy melihat itu dengan tidak senang. Sebaliknya teman-teman Audy justru sangat menikmati perayaan Anniversary Vilhelm Group. Dimana setiap rangkaian acaranya berlangsung dengan meriah.


Richela sibuk menyapa tamu dengan sepasang mata yang sekarang tidak berhenti menatap ke arahnya. Richard—Ialah pemilik dari sepasang mata itu dan Richela menyadarinya. Richela tahu apa yang sedang di pikirkan Richard saat ini. Pastinya tidak menyangka bahwa ia tadi bisa bermain piano sebaik itu tadi.


“Lama-lama ku colok juga tuh mata!” umpat Richela sedikit risih di tatap terus-menerus seperti itu oleh Richard.

__ADS_1


“Sebaiknya aku pergi menjauh saja. Risih kalau di tatap terus seperti ini,” lanjutnya.


Richela bergegas berjalan dan menyapa tamu yang berada jauh dari Richard berdiri. Jarak yang sudah cukup jauh dari Richard, membuat Richela tidak merasa risih lagi.


***


Selama perayaan berlangsung, Richela lebih memilih sibuk menyapa dan bercengkerama dengan para tamu. Daripada berdiri di dekat Richard, begitu pula sebaliknya. Namun tidak jarang mereka berdua berdiri bersama. Dengan alasan yang pastinya mengutamakan kehormatan tuan Hans.


Perayaan berlangsung dengan meriah dan cukup lama. Hingga tanpa terasa waktu sudah tengah malam. Melihat itu, Richela memutuskan untuk mengundurkan diri lebih dulu dari perayaan yang belum berakhir. Ia beralasan kesehatan badannya sedang tidak baik. Padahal nyatanya, ia baik-baik saja. Hanya merasa sudah lelah berdiri berjam-jam untuk menyapa para tamu.


Richela berjalan keluar dari aula perusahaan Vilhelm. Ia menuju ke arah parkiran perusahaan. Sebelum sampai di parkiran, tiba-tiba pak Willi datang menyusulnya.


“Nona!” panggil pak Willi tampak tergesa-gesa mengejar Richela.


“Kenapa pak Willi menyusulku ku ke sini? Nanti ada yang lihat. Bisa terbongkar identitasku,” Richela bertanya seraya memperhatikan sekitar. Ia memastikan tidak ada orang lain di sini, selain dirinya dan pak Willi.


“Saya hanya ingin memberikan ini pada nona muda. Ini dari tuan besar,” ungkap pak Willi mengeluarkan sebuah kotak berukuran mini dari sakunya dan menyerahkannya pada Richela.


“Apa ini?” tanya Richela menerima kotak itu.


“Kata tuan besar itu hadiah untuk nona muda. Tuan besar yakin kalau nona muda akan menyukainya,” jawab pak Willi


“Baiklah, nanti akan aku buka. Kalau tidak ada hal lain, sebaiknya pak Willi kembali ke dalam. Jangan sampai ada orang yang melihat kita di sini,” Richela menyimpan hadiah dari kakeknya itu ke dalam tas miliknya.


“Baik nona muda!” sahut pak Willi menunduk hormat pada Richela dan pergi setelahnya.


“Aku penasaran apa yang kakek berikan untukku? Hmmm aku buka di mobil deh,” gumam Richela yang melanjutkan kembali berjalan ke mobilnya.


Perlu di ketahui, Richela pergi ke perayaan Anniversary Vilhelm Group dengan mengendarai mobil sendiri. Mobil itu di berikan pelayan tuan Hans. Katanya tuan Hans sengaja memberikan mobil itu untuknya. Tentunya Richela tidak keberatan menerima itu. Setidaknya ia tidak akan semobil lagi dengan Richard.


“Perayaan yang melelahkan sekali. Aku akan langsung tidur,” Richela menekan tombol pembuka kunci pintu mobil di kuncinya.

__ADS_1


Richela sudah ingin membuka pintu mobil yang tidak terkunci lagi tapi terhenti. Ada sebuah tangan kekar yang tiba-tiba menekan pintu mobilnya. Sampai Richela tidak bisa membuka pintu itu. Matanya langsung menyipit saat mengetahui siapa pemilik tangan kekar itu.


“Kamu—”


__ADS_2