Jodohku Dengan Dia

Jodohku Dengan Dia
Gosip Di Perusahaan


__ADS_3

“Aku akan mengingatnya dan semoga berhasil dalam usahamu itu!” Richela menepuk pundak Theresia, sebelum berjalan pergi.


Richela berjalan dengan senyuman samarnya. Ia memang sangat tidak merasa keberatan kalau nyonya Belinda dan Theresia berusaha menggagalkan perjodohannya. Kalau bisa, mereka berdua harus berhasil dalam melakukannya sebab inilah yang di harapkannya.


“Awas saja perempuan kampung!!!” geram Theresia, mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar kesal karena rencananya berjalan tidak sesuai.


Theresia pun segera pergi dengan penuh kekesalan dari depan pintu kamar Richard.


***


Richela sudah berada di kamar tamu di kediaman keluarga Vilhelm. Tadi ia di antarkan oleh pelayan tuan Geoffry. Selama beberapa bulan ke depan, tuan Geoffry berada di luar negeri untuk berobat. Makanya tuan Geoffry menugaskan pelayan itu untuk melayani Richela.


Saat ini Richela baru saja selesai mandi dan sudah siap dengan pakaian kantornya. Ia memakai kemeja putih, di lapisi blazer hitam. Bawahannya rok pendek berwarna abu-abu senada dan tidak lupa pula Heels hitam terpasang sempurna di kakinya. Wajahnya di polesi make up natural, membuatnya terlihat cantik. Rambut hitamnya di ikat tinggi, menyisakan poni yang sedikit menutupi dahinya. Richela terpaksa berpakaian seperti itu sebab mulai hari ini sampai 3 bulan ke depan, ia akan menjadi sekretaris Richard.


“Semangat Richela! Kamu pasti bisa menang dalam 3 bulan ini dan kakek akan membatalkan perjodohanmu,” gumam Richela menatap dirinya di pantulan cermin meja riasnya.


Usai bersiap-siap, Richela mengambil tas kerja miliknya dan kemudian turun untuk sarapan. Di meja makan hanya tersisa satu porsi makanan saja. Nyonya Belinda, Richard dan Theresia sudah sarapan. Tinggal dirinya yang belum makan sebab tadi masih mandi, saat di panggil untuk sarapan. Richela bergegas menghabiskan sarapannya. Ia tidak bisa datang terlambat di hari pertamanya bekerja.


Usai sarapan, Richela segera pergi keluar dari kediaman keluarga Vilhelm. Di luar sudah ada pak Amo yang menunggunya, di samping sebuah mobil hitam. Pak Amo langsung membukakan pintu mobil untuknya dan ia pun berjalan masuk. Setelah mendudukkan dirinya di dalam mobil, Richela baru menyadari keberadaan Richard. Laki-laki itu duduk dengan tatapan lurus ke depan.


`Hufft kenapa harus satu mobil dengannya sih!?` batin Richela


“Soal perjodohan ini, om jangan khawatir. Kita hanya perlu berhubungan seperti ini selama 3 bulan. Setelah itu kakek akan membatalkan perjodohan kita dan aku juga tidak akan menyukai om,” ucap Richela memberitahukan hal itu pada Richard.


Ia berucap juga tanpa menatap ke arah Richard. Matanya menatap ke arah luar jendela mobil. Mobil mulai melaju meninggalkan kawasan kediaman keluarga Vilhelm.


“Hmmm baguslah tapi kamu harus berhenti memanggil saya dengan panggilan om. Saya masih muda dan bukan om kamu!” Richard masih saja tidak suka mendengar dirinya di sebut om.


“Aku menolak untuk berhenti om. Di mataku, Anda memang cocok di panggil om!” cetus Richela tanpa rasa takut. Padahal ia dapat merasakan hawa dingin yang berasal dari Richard. Menandakan bahwa laki-laki itu tidak senang dengan panggilannya.


“Kamu berani menolak saya?” tanya Richard dingin tanpa menatap ke arah Richela.

__ADS_1


“Buat apa takut? Tuh om juga manusia,” sungut Richela


“Hmmm lupakan soal itu! Sekarang kamu perlu ingat, bahwa menjadi sekretaris saya haruslah pintar, cekatan dan di andalkan dalam segala hal. Saya berharap kamu bisa melakukannya dengan baik selama menjadi sekretaris saya,”beritahu Richard dengan dinginnya. Raut wajahnya pun datar seperti biasanya.


“Tenang saja. Aku tidak akan mengecewakan, om!” balas Richela melirik sekilas ke arah Richard.


“Saya harapkan itu,” singkat Richard.


Suasana di dalam mobil seketika hening. Tidak ada lagi setelahnya percakapan yang terjadi antara Richela dan Richard. Mereka berdua sibuk dengan dunia masing-masing. Richela tengah sibuk saling berbalas pesan dengan papa, mama dan juga kedua sahabatnya. Sebaliknya Richard justru sibuk memeriksa email perusahaannya menggunakan notebook miliknya. Keheningan itu terus terjadi selama perjalanan ke perusahaan.


Sementara itu di perusahaan Vilhelm sudah tersebar sebuah gosip. Dimana gosip itu tentang calon istri pimpinan mereka berasal dari kampung. Gosip itu di dapatkan tentunya oleh seseorang yang sangat kepo akan kehidupan orang lain.


“Kasihan deh pak Boss. Kalau benar mendapatkan istri berasal dari kampung. Gak selevel banget dengan pak boss,”ucap karyawan yang berpakaian seksi.


“Iya kasihan banget. Secara kan pak Boss itu laki-laki yang sempurna dari sudut mana pun. Masa harus mendapatkan istri kampungan. Gak banget ih!” timpal karyawan berlipstik tebal.


“Makanya huh. Pak Boss itu seharusnya mendapatkan istri yang selevel. Cantik, seksi dan kaya pastinya. Kalau yang dari kampung mah, pastinya jelek dan miskin. Kan gak cocok buat pak Boss,” umpat karyawan yang tengah mewarnai kuku-kuku tangannya.


“Pastinya jelek dan tidak berkelas,” sahut karyawan berpakaian seksi.


Namun seketika pemikiran itu salah, saat Richard datang bersama Richela. Para karyawan Vilhelm, baik perempuan atau pun laki-laki di buat tercengang dengan kecantikan perempuan yang berdiri di samping pimpinan mereka. Meski hanya memakai make up natural tapi wajah Richela memang sudah cantik.


“Eh itu beneran perempuan kampung yang di jodohkan pak Boss? Buset cantik banget,” puji karyawan laki-laki yang takjub melihat kecantikan Richela.


“Bener deh! Apa bener itu perempuan kampung?” tanya karyawan berkemeja abu-abu setengah berbisik.


“Gila! Gue aja sampai takjub melihatnya. Perempuan itu benar-benar cantik! Gak kelihatan kampungannya,”sahut karyawan berlipstik tebal.


“Make up tebalan gue tapi kok perempuan itu jauh lebih cantik dari gue ya?” celetuk karyawan memandang wajahnya di kamera ponselnya.


“Lo aja heran, apalagi gue? Tuh perempuan cantik banget daripada gue,”sungut karyawan yang berpakaian seksi.

__ADS_1


“Udah cantik banget gitu, gak mungkin dari kampung! Gue gak percaya,” karyawan berkemeja abu-abu.


“Gue jua sama. Mana ada perempuan kampung secantik itu,” timpal karyawan lain dengan nada berbisik.


“Untuk secantik itu, pastinya butuh perawatan. Udah gitu gaya berpakaiannya juga berkelas. Perempuan itu pasti bukan orang kampung biasa,” ucap karyawan berkemeja hitam.


“Kira-kira apa identitas dari perempuan itu?” beberapa karyawan lain mempertanyakan hal yang sama.


“Apa mungkin anak orang kaya di kampung?”


“Simpanan orang kaya?”


“Perempuan malam?”


Mereka menebak-nebak apa identitas Richela sebenarnya. Dari penampilannya saja mereka yakin Richela tidak mungkin memiliki identitas biasa-biasa saja.


“Kalian ini terlalu banyak mikir. Perempuan itu pasti sudah memanfaatkan kakek Boss,” cetus karyawan berlipstik tebal.


“Astaga bener juga yah! Bisa jadi itu,”karyawan lain menimpali.


“Husst diamlah! Boss sudah berjalan ke sini,” tegur karyawan berkemeja abu-abu pada semua temannya.


Semuanya pun berhenti berbicara, saat melihat Richard dan Richela sudah berjalan ke arah mereka.


“Selamat pagi, pak Boss!” sapa para karyawan pada Richard yang sudah berjalan melewati mereka.


“Kembali bekerja!”titah Richard tanpa membalas sapaan para karyawan.


“Baik, pak Boss!”sahut para karyawan yang bergegas kembali ke meja kerja masing-masing.


Richela hanya diam melihat para karyawan itu. Ia tahu dari tatapan mereka saja, pastinya tadi sedang bergosip tentangnya. Namun bukan Richela namanya, kalau ia memedulikan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2