Jodohku Dengan Dia

Jodohku Dengan Dia
Yes Berhasil!


__ADS_3

“Jadi bagaimana keputusan Anda, tuan Victor?” tanya Richard tanpa menghiraukan ucapan tuan Victor, soal keberuntungannya memiliki Richela sebagai sekretarisnya.


“Saya tidak ada alasan untuk tidak menyetujuinya,” jawab tuan Victor tersenyum lebar.


Richela mengulum senyum. Tuan Victor telah setuju, berarti ia tidak akan satu mobil lagi dengan Richard. Kabar yang begitu membahagiakan untuknya.


‘Yes berhasil!’ batin Richela


“Terima kasih, tuan Victor. Semoga kerja sama kita berjalan lancar dan memuaskan,” ucap Richard beranjak berdiri. Lalu mengulurkan tangan ke arah klien barunya itu.


“Ya saya juga mengharapkan itu,” sahut tuan Victor membalas uluran tangan Richard. Mereka berdua berjabat tangan sebentar.“Nona Richela—Anda hebat,” sambungnya beralih pada perempuan yang telah membuatnya terkesan akan presentasinya barusan.


“Terima kasih sekali lagi, tuan!” tutur Richela menjabat tangan tuan Victor.


“Sama-sama,”


Kemudian tuan Victor berpamitan pada Richard dan Richela karena masih ada urusan lain. Sama seperti sebelumnya, tuan Victor di antarkan salah satu karyawan Vilhelm Group yang menjadi kepercayaan Richard.


“Bos tidak lupa kesepakatan kita, kan?” tanya Richela sembari mengikuti Richard berjalan menyusuri lantai paling atas perusahaan Vilhelm Group .


“Hmmm ya,” jawab Richard dingin dan singkat.Richela mencebik pelan. Laki-laki dewasa yang menjadi bosnya itu terlalu dingin dan irit bicara—Ya sangat irit


‘Dasar om dingin, irit bicara! Ah masa bodohlah! Terpenting aku tidak akan satu mobil lagi dengannya,' batin Richela


Mereka berdua terus berjalan. Hingga akhirnya sampai di depan ruangan Richard. Tak ada pembicaraan apa pun. Richard masuk ke ruangannya dan Richela juga kembali ke ruangannya. Masih ada waktu setengah jam, sebelum rapat bersama para Dewan perusahaan. Richela memanfaatkan waktu itu untuk menyiapkan berkas rapat. Sejenak ia dapat melupakan berita kedatangan Elias besok.


***


Tepat di jam yang telah di tentukan, rapat bersama Dewan perusahaan di langsungkan. Rapat ini bertujuan untuk membahas berbagai hal yang bersangkutan dengan perusahaan. Seperti keuntungan, kerugian, kendala lapangan hingga usulan hal yang dapat membuat perusahaan semakin maju. Rapat para Dewan di langsungkan setiap 2 minggu sekali. Masing-masing Dewan perusahaan harus berhadir. Rapat itu juga berlangsung lumayan lama, hampir sekitar 3 jam. Tidak heran akan waktunya berlangsung karena memang banyak yang di bahas.


“Bos sudah saatnya makan siang bersama tuan Brian!” seru Richela memberitahukan pada Richard yang masih duduk di ruang rapat. Para Dewan perusahaan baru saja membubarkan diri.

__ADS_1


Richard melihat jam tangannya dan benar—Waktunya untuk makan siang bersama tuan Brian.


“Ayo pergi!” Richela mengangguk saja. Mereka berdua bergegas pergi dari ruang rapat. Kemudian turun ke lantai dasar perusahaan menggunakan lift khusus. Sama seperti tadi


pagi, Richela harus satu mobil dengan Richard untuk pergi ke restoran HacketHals. Ya meski keberatan, ia juga tidak bisa memaksa tapi hanya kali ini. Besok Richela sudah bisa memakai mobil sendiri.


Letak restoran HacketHals lumayan dekat dengan perusahaan Vilhelm Group. Sehingga tidak perlu waktu lama untuk sampai di sana.


Richela berdiri tidak sejajar dengannya dan memang seperti itu. Mengingat status mereka di perusahaan, di luar dari kata di jodohkan—Mereka berdua adalah rekan kerja. Oh bukan—Melainkan antara atasan dan bawahan. Sudah semestinya posisi berdiri mereka tidak sejajar, tanda sikap profesional.


Mereka berdua berjalan memasuki HacketHals yang tampak ramai. Para pengunjung yang melihat kedatangan Richard, tidak henti-hentinya memujinya. Begitulah—Richard sosok laki-laki sempurna di mata mereka. Namun tidak sekali pun, Richard menghiraukan pujian pada dirinya itu. Ia terus berjalan mengikuti seorang pelayan yang bertugas mengantar ke ruang VIP.


“Silakan masuk dan nikmati waktunya, Presider Richard!” pelayan itu baru membukakan pintu ruang VIP dan mempersilakan Richard masuk.


Richard tidak membalas. Kakinya langsung berjalan masuk ke dalam ruang VIP. Richela masih mengikutinya di belakang. Sesampainya di dalam ruangan itu, tampak ada seorang laki-laki paruh baya yang dapat di pastikan itu adalah tuan Brian. Ada juga seorang laki-laki muda berkacamata, berdiri di belakangnya.


“Apa kabar, tuan Brian?” sapa Richard setibanya di hadapan tuan Brian.


Tuan Brian langsung beranjak berdiri. “Kabar saya baik. Bagaimana dengan tuan Richard sendiri?”“Seperti yang tuan lihat. Saya juga baik,” balas Richard tanpa mengurangi kadar dingin di nada bicaranya.


Kemudian Richard duduk, sama seperti yang di lakukan tuan Brian. Mereka berdua duduk berhadapan. Lalu bagaimana dengan Richela? Ia masih tetap berdiri di belakang Richard. Tentu kehadirannya membuat tuan Brian penasaran. Pasalnya ia ingat jelas sekretaris Richard saat terakhir kali bertemu. Dan lagi—Tuan Brian belum tahu kabar soal perjodohan antara Richard dan Richela. Ia hanya mendengar kabar perjodohannya tapi tidak dengan siapa di jodohkannya.


“Sekretaris tuan baru?” tanya tuan Brian seraya menatap sekilas Richela.


Richard mengangguk pelan. “Dia menggantikan sekretaris saya yang dulu,”


“Untuk sementara waktu!” timpal Richela menekankan ucapannya.


“Kenapa hanya sementara waktu? Apa nona tidak betah bekerja pada Presider tampan seperti tuan Richard ini?” tuan Brian ingin tahu alasan dari ucapannya Richela barusan.


Bukannya selama ini banyak perempuan yang ingin bekerja lama sebagai sekretaris Richard? Lalu kenapa Richela tidak?

__ADS_1


Richard diam mendengarkan. Tidak ada niat untuknya mewakili Richela menjawab pertanyaan tuan Brian


“Sangat ti—Eh maksud saya sangat betah, tuan. Cuma bekerja sebagai pengganti selama sekretaris Bos belum kembali dari pekerjaannya,” untung Richela tidak keceplosan. Jika sampai keceplosan, mungkin ada banyak pertanyaan yang harus di jawabnya.


“Begitukah? Saya kira nona tidak betah,” seloroh tuan Brian tersenyum tipis. Richela juga membalasnya dengan senyuman.


“Ah iya, tuan Richard—Maaf karena saya tidak bisa datang ke acara perusahaan tuan. Yah akhir-akhir ini saya sedikit sibuk,” sambungnya beralih ke Richard.


“Tidak masalah, tuan. Semua orang mempunyai kesibukan sendiri,” sahut Richard seraya mencari posisi duduk yang nyaman untuknya.


“Tuan pun juga punya kesibukan sendiri tapi masih meluangkan waktu untuk makan siang bersama saya. Ini sebuah kehormatan,” ucap tuan Brian formal.


Ya mengingat kedudukan Richard—Siapa pun akan merasa terhormat jika bisa makan bersamanya. Termasuk tuan Brian yang sejauh ini termasuk kolega barunya.


“Saya pun sama,” Tepat bersamaan balasan yang di berikan Richard, pintu ruang VIP terbuka. Dua orang pelayan masuk ke dalam dengan membawakan menu makanan yang telah tuan Brian pesan, sebelum kedatangan Richard.


“Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita makan sekarang. Takutnya saya menyita banyak waktu tuan Richard. Ini beberapa menu yang saya pesan. Semoga tuan Richard menyukainya,” imbuh tuan Brian.


Richard mengangguk lagi. Mulutnya seakan terkunci untuk memberi balasan berupa ucapan. Hal itu justru terlihat menjengkelkan bagi Richela yang memang tidak suka dengan orang sepertinya—Irit bicara. Baginya terkesan tidak menghargai orang lain.


‘Orang bicara panjang, si om cuma gitu doang balasannya? Ck—Rupanya tenggorokan om benar-benar bermasalah,' batin Richela


“Saya dengar, tuan sudah di jodohkan oleh tuan Geoffry. Apa itu benar?” tuan Brian sedikit basa-basi agar suasananya tidak terlalu hening.


“Benar,” sahut Richard yang sudah mulai menyantap makanannya.


“Wah kalau begitu selamat, tuan! Kira-kira perempuan mana yang beruntung bisa di jodohkan dengan tuan?”


Richela memutar malas matanya. Tidak terima dengan apa yang di katakan tuan Brian barusan.


‘Beruntung? Oh tidak—Yang ada aku merasa buntung, tuan!’ batin Richela

__ADS_1


“Sekretaris baru saya—Richela,” sontak tuan Brian terkejut mendengarnya.


“Benarkah?” tanya tuan Brian menatap Richela untuk memastikannya. Ya—Ia ingin mendengar jawaban itu dari orang yang namanya di sebut Richard.“Hmmm ya, tuan Brian!” jawab Richela berdehem. Mau tidak mau ia membenarkan. Nyatanya status mereka sudah di ketahui banyak orang. Mungkin ada beberapa orang yang belum mengetahuinya—Seperti tuan Brian contohnya.


__ADS_2