
"Ini suatu keberuntungan bagi saya bisa bertemu dengan tuan Richard, sekaligus nona. Sungguh tidak menyangka bisa seberuntung ini," ucap tuan Brian begitu antusias akan pertemuan yang sangat berharga untuknya.
Richela tersenyum manis. "Saya juga beruntung bisa bertemu Anda, "
Sebaliknya, Richard justru merasa bosan mendengar pembicaraan yang tentunya terdengar basa-basi di telinganya. "Hmmm, apa kita bisa memulai makannya, tuan Brian? Supaya setelahnya kita bisa membicarakan soal bisnis,"
Sontak tuan Brian tersadar akan dirinya yang telah banyak bicara dan membuang waktu Richard. Semua orang tahu betapa sibuknya Presider Vilhelm Group tersebut. Ia sangat beruntung bisa bertemu dengannya, meski hanya sebentar.
"Ah maafkan saya karena banyak bicara, Presider Richard! Mari silakan di makan!" serunya.
"Hmmm," Richard berdehem pelan. Sebelum matanya beralih menatap Richela yang masih berdiri.
"Kamu juga duduk dan makanlah!" sambungnya.
Richela membalas tajam tatapan Richard. Dirinya sedikit kesal pada laki-laki itu dan merutuknya dalam hati.
'Si om meminta untuk duduk dan makan? Apa aku tidak salah dengar? Oh aku tahu. Om pasti ingin menunjukkan pada tuan Brian bahwa dirinya adalah atasan yang baik dan hubungan kami juga baik. Huh dasar pencitraan!' batin Richela
"Ya, nona. Duduklah! Akan sangat menyenangkan kalau kita makan bersama," sahut tuan Brian ikut menimpali ucapan Richard yang terdengar memintaku duduk tapi nyatanya sedang memerintah.
Richela melirik sekilas ke arah Richard yang sudah mulai makan. "Baiklah karena tuan sendiri yang memintanya, aku mana mungkin menolak!"
Dari nada ucapannya, Richela jelas sedang memberitahukan bahwa dirinya duduk karena menghormati permintaan tuan Brian. Bukan menuruti perintah Richard.
Richela segera duduk di sofa yang letaknyandi antara Richard dan tuan Brian. Di ruangan itu memang terdapat 3 sofa yang mengelilingi meja makan. Sehingga ia bisa duduk sendiri di sofa berbeda. Mana mungkin ia duduk bersama tuan Brian. Lebih tidak mungkin lagi kalau duduk bersama Richard--Orang yang menyebalkan untuknya.
"Makanlah, nona! Semoga makanan ini juga sesuai dengan selera nona," seru tuan Brian memberikan beberapa menu makanan yang ada di meja kepada Richela.
"Terima kasih, tuan!" Richela dengan senang hati menerimanya.
"Sama-sama, nona!"
Richard hanya diam mendengarkan, seraya sibuk memakan makanannya. Ia memang paling enggan untuk banyak bicara. Tidak salah kalau Richela menyebutnya irit bicara.
"Bagaimana makanannya, Presider Richard?" tanya tuan Brian sebelum memulai makan.
__ADS_1
"Lumayan," singkat Richard dan itu sudah cukup melegakan bagi tuan Brian.
"Baguslah,"
Beda halnya dengan Richela yang tengah menatap jenggah ke arah Richard. Ia merasa jengkel terhadap sifat laki-laki itu. Dimana sifatnya tidak bisa menyesuaikan kondisi dan situasi. Terutama saat berhadapan dengan orang yang merupakan kolega bisnisnya. Sifat irit bicaranya itu justru akan memunculkan kesan tidak baik.
'Sok ingin pencitraan tapi lihatlah dirinya sendiri! Sifatnya ini justru terkesan buruk. Aku benar-benar bingung dengan pola pikir yang om miliki,' batin Richela
Richard sadar jika Richela sedang menatapnya. Tetapi, ia sama sekali merasa tidak perlu menghiraukannya. Dirinya lebih memilih sibuk dengan makanannya. Begitu pula dengan tuan Brian yang sudah berhenti bicara karena telah mulai makan. Richela juga tidak berbicara sepatah kata pun lagi. Meski mulutnya terasa gatal untuk mengumpat Richard secara langsung. Namun sekarang yang terpenting adalah mengisi perutnya.
***
Suasana makan siang di ruangan itu sangatlah tenang. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Suasana tenang itu berlangsung hingga makan siang selesai. Sebelum Richard dan tuan Brian mulai berbicara tentang bisnis. Mereka berencana untuk memulai kerjasama dalam proyek yang berpeluang mendapatkan keuntungan besar. Hal itu sudah di perhitungkan oleh keduanya.
"Proyek ini akan menghasilkan keuntungan yang besar. Semuanya sudah di perhitungkan secara keseluruhan dan tidak mungkin gagal. Tuan sendiri juga sudah memperhitungkannya, bukan?" ucap Richela yang sedari tadi menjelaskan beberapa bagian penting perencanaan proyek.
Beruntung Richela sudah mempelajari lebih dulu berkas proyek itu. Sehingga ia tidak mendapat kesulitan saat menambahkan penjelasan yang awalnya di berikan Richard.
"Benar. Proyek ini memang akan mendapatkan keuntungan besar. Terlebih lagi dengan adanya campur tangan Presider Richard, proyek ini pasti berhasil. Saya yakin tentang itu?" sahut tuan Brian yakin.
"Jadi tuan sepakat dengan proyek ini?" tanya Richard sambil duduk dengan tegap seraya meletakkan gelas bekas minumannya ke atas meja.
"Sepakat!" seru Richard di sela membalas uluran tangan tuan Brian.
"Sepakat!"
Mereka berdua berjabat tangan sebentar. Tanda bahwa kerjasama mereka telah di sepakati. Selanjutnya, masing-masing dari mereka menandatangi berkas proyek.
"Silakan baca terlebih duli. Lalu tanda tangan di sini, tuan!" Richela menunjukkan dimana tuan Brian harus tanda tangan.
Tuan Brian mengangguk dan membacanya terlebih dahulu. Di rasa tidak ada yang salah, barulah ia tanda tangan di berkas tersebut.
"Terima kasih," sambung Richela, bersamaan dengan mengambil berkas itu. Tuan Brian tersenyum ke arahnya.
"Semoga kerjasama ini berjalan lancar," ucap tuan Brian pada Richard setelahnya.
__ADS_1
"Saya juga mengharapkan itu," balas Richard bernada datar.
"Hmmm kalau begitu, saya pergi sekarang. Ada beberapa urusan lain yang perlu di lakukan," sambungnya sambil beranjak berdiri.
"Ah baiklah. Saya tidak akan mengganggu waktu Anda lagi!" segera tuan Brian ikut beranjak berdiri. Sama halnya dengan Richela.
Richard mengangguk pelan. Kemudian ia langsung berjalan pergi tanpa berucap lagi. Lantas Richela bergegas mengikutinya.
"Permisi, tuan Brian!" pamitnya.
Setelahnya Richela berjalan keluar mengikuti Richard. Sama seperti saat datang tadi, pengunjung restoran menatap mereka. Tentunya tatapan itu lebih mengarah pada Richard--Laki-laki yang selalu menjadi pusat perhatian saat berada dimana pun. Namun dirinya juga sama seperti biasanya--Tidak peduli tentang hal itu. Kakinya terus melangkah , hingga keluar dari restoran tersebut.
"Richela!" panggil Richard saat sudah berada di dekat mobil. Ia berbalik badan ke arah perempuan yang baru saja di sebutkan namanya.
Dahi Richela tampak sedikit mengerut. "Ada apa, bos? Apa ada yang tertinggal di dalam?"
"Saya mau mengurus beberapa hal. Kamu bisa kembali lebih dulu ke perusahaan!" seru Richard yang membuat kerutan di dahi Richela menghilang.
"Baiklah, Bos!" sahut Richela tanpa banyak bertanya.
Mengapa? Tentu saja karena bisa menjauh dari Richard adalah hal paling membahagiakan untuknya. Hheheh.
Richard menatapnya dengan intens dalam beberapa detik. Lalu ia berjalan masuk ke dalam mobil. Richela menatap tidak percaya ke arahnya dengan isi kepala yang sudah overthinking.
"Boss--Bagaimana dengan saya? Maksudnya, saya kembali ke perusahaan menggunakan apa?"
"Kamu punya ponsel, kan? Gunakan itu untuk memanggil taksi atau kamu bisa kembali dengan berjalan kaki. Jangan manja!" begitu entengnya Richard berucap. Bahkan tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
"Ap--"
Belum sempat Richela menyelesaikan ucapannya, Richard memotongnya.
"Jalan!" perintah Richard oada sang sopir yang sudah duduk di kursi kemudi.
Sang sopir langsung melakukan perintah dan melajukan mobil meninggalkan Richela yang berdiri dengan wajah kesalnya. Bagaimana tidak kesal? Richard menyuruhnya jalan kaki ke perusahaan. Di tambah laki-laki itu pergi sebelum ia selesai berbicara
__ADS_1
"Dasar om gila! Segampang itu menyuruhku berjalan kaki ke perusahaan? Di pikirnya perusahaan dekat dari sini, hah!? Sialan!" umpat Richela menggeretakkan giginya, sembari menatap mobil Richard yang semakin menjauh.
"Awas saja nanti! Akan ku buat om menyesal karena membuatku kesal," sambungnya.