Jodohku Dengan Dia

Jodohku Dengan Dia
Jangan Meremehkan


__ADS_3

“Hadirin semuanya! Seperti setiap tahunnya, nona Audy akan memainkan permainan pianonya yang indah. Mohon beri tepuk tangan pada nona Audy!” pembawa acara berucap di mikrofon, seraya menunjuk ke arah Audy yang sudah duduk di depan piano.


“Wah nona Audy!!!” antusias para tamu tidak dapat di ungkiri lagi. Mereka bertepuk tangan untuk Audy yang selalu memesona.


Prok... Prok... Prok...


Suara tepuk tangan membuat keadaan aula perusahaan riuh. Semua mata menatap ke arah Audy yang sudah siap memainkan piano. Tanpa terkecuali Richard yang juga menantikan penampilan sahabat kecilnya itu.


Di saat suara tepuk tangan itu berhenti, barulah Audy memainkan pianonya. Kali ini Audy memainkan piano dengan lagu berjudul `Love Me, Like You Do` By Ellie Goulding. Di mana lagu ini menceritakan tentang seseorang yang ingin di cintai. Tidak peduli dengan cara apa. Hal ini sama seperti yang terjadi dengan Audy.


Permainan piano Audy terdengar sangat indah. Di sebabkan Audy memainkannya dengan perasaannya. Ia ingin menceritakan atau lebih tepatnya memperlihat bahwa dirinya menginginkan di cintai. Lagu ini di tujukan khusus untuk Richard. Berharap Richard bisa menyadari bahwa lagu ini di mainkan Audy untuknya.


Audy memainkan piano dengan indah dan sempurna sampai lagu yang di mainkannya berakhir. Permainan piano Audy di akhiri dengan tepuk tangan para tamu dan pujian-pujian untuknya. Audy pastinya merasa bangga akan hal itu. Mata indahnya menatap ke arah Richard yang tersenyum ke arahnya. Senyuman Richard itu seolah menjadi dorongan untuknya. Dorongan untuk membuatnya menjadi miliknya. Terbesit rencana untuk mempermalukan Richela malam ini.


`Aku pasti akan menggagalkan perjodohan kalian. Richard hanya milikku dan tidak akan menjadi milikmu!` batin Audy


“Terima kasih karena kalian sudah mau mendengarkan permainan piano saya. Namun kurang lengkap kalau Richela, calon istri dari sahabat saya tidak ikut menunjukkan permainan pianonya.. Bagaimana Richela?” permintaan Audy terdengar bukan seperti meminta tapi menantang Richela.


Audy hanya tahu kalau Richela berasal dari kampung. Pastinya ia tidak bisa melakukan apa-apa, termasuk bermain piano. Dengan tidak bisanya Richela bermain piano, itu akan mempermalukannya di hadapan semua dan Audy menginginkan itu.


“Tidak masalah,” sahut Richela tidak merasa takut sama sekali.


“Tolong beri tepuk tangan untuk Richela!”seru Audy di mikrofon meminta tepuk tangan para tamu.


Prok... Prok.. Prok...


“Ini akan sangat menyenangkan!” seru beberapa tamu yang tidak sabar melihat permainan piano Richela.


Sebaliknya Richard menatap datar ke arah Richela. Ia ragu kalau Richela bisa bermain piano. Namun Richela justru menatapnya dengan tenang.

__ADS_1


`Saya harap kamu tidak mempermalukan diri sendiri!` batin Richard


`Jangan meremehkanku!` batin Richela


Usai beradu tatapan dengan Richard, Richela langsung berjalan menuju ke arah piano berada. Audy juga segera menyingkirkan dirinya dari sana. Mempersilakan Richela untuk memalukan diri sendiri. Audy tidak sabar menantikan Richela malu.


`Kamu akan malu!` batin Audy


Richela mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan piano. Ia bersiap untuk memainkan jari-jarinya di atas piano itu. Sebelum memulainya, Richela memejamkan matanya. Hatinya tengah membangun perasaannya lebih dulu agar permainan yang di sampainya terdengar indah dan mampu membuat semua orang terbuai akan alunannya


“Semangat Nona Richela!” seru beberapa orang di sana.


Richela pun mulai memainkan jari-jari indahnya di atas piano itu. Lagu yang di mainkan masih sama dengan Audy tadi. Bedanya permainannya jauh lebih halus dan indah daripada Audy. Orang-orang yang mengerti dengan musik langsung takjub terhadap permainan piano Richela. Mereka mengakui permainannya halus, indah, penuh perasaan dan membuat yang mendengarnya terlena dalam alunan musiknya. Jauh lebih baik daripada permainan Audy.


Richard tertegun mendengar permainan indah Richela. Matanya tidak terlepas menatap Richela yang tengah memainkan piano. Tiba-tiba Richard seperti merasa terpesona. Richela terlihat sangat cantik dengan menggunakan gaun biru itu. Matanya terpejam seolah sedang masuk ke dalam perasaan lagu itu. Jari-jarinya terus bermain dengan lihainya di atas piano itu.


“Cantik,” kata itu lolos dari mulut Richard tanpa di sadarinya. Richela memang terlihat cantik sekarang.


Prok... Prok.. Prok...


Suara tepuk tangan kembali terdengar riuh di aula. Banyak yang melemparkan pujian pada Richela.


“Terima kasih semuanya!” ungkap Richela, sebelum berjalan menjauh dari piano.


Richela tersenyum manis ke arah Audy. Ia tahu Audy berharap dirinya tidak bisa bermain piano dan berakhir malu. Sayangnya Richela tidak semudah itu untuk di buat malu. Ia memang sudah belajar bermain berbagai alat musik dari dulu.


`Ingin mempermalukanku? Tidak semudah itu!` batin Richela


Richela sudah kembali bergabung bersama para tamu yang lain. Para tamu tidak henti-hentinya memujinya dan ia hanya tersenyum. Senyuman Richela seketika memudar, saat melihat pengurus kediamannya datang ke acara ini. Ia khawatir kalau pengurus kediamannya akan membuat identitasnya terbongkar.

__ADS_1


`Jangan sampai pak Willi membongkar identitasku. Bisa kacau semuanya,` batin Richela


Pak Willi merupakan pengurus kediaman keluarga Richela. Datang di acara ini mewakili tuan Geoffry yang kesehatannya sedang tidak baik.


“Selamat malam tuan muda Richard! Tuan Frederick meminta maaf pada Anda karena tidak bisa berhadir malam ini. Ini di karenakan kesehatan tuan besar sedang tidak baik,” ucap pak Willi seraya memberikan sebuah kado kepada Richard.


“Tidak apa-apa, pak Willi. Tolong sampaikan juga rasa terima kasih dari saya kepada tuan Frederick dan semoga kesehatan tuan Geoffry bisa cepat membaik,” Richard menerima kado itu dari pak Willi.


“Baik akan saya sampaikan,” balas pak Willi ramah.


Para tamu yang berada di dekat Richard, tentu mendengar nama tuan Geoffry di sebutkan. Siapa yang tidak mengenalnya tuan Geoffry—pemilik dari perusahaan yang mendominasi pasar komersial. Mereka sangat mengagumi sosok tuan Geoffry. Sayangnya semenjak tuan Geoffry memutuskan pensiun, tidak pernah terdengar lagi tentangnya. Hanya saja perusahaannya terus berkembang di bawah kepemimpinan tuan Frederick. Terakhir kali terdengar kabar tentang tuan Geoffry membawa cucu perempuan berkeliling dunia. Namun tidak pernah di temui lagi sosok tuan Geoffry.


“Oh ya saya dengar tuan muda Richard sudah di jodohkan?” lanjut pak Willi sekedar basa-basi.


“Iya benar dan perempuan itu calon istri saya!” tunjuk Richard menunjuk ke arah Richela yang berada tidak jauh dari mereka. Sedari tadi menatap ke arahnya dan Pak Willi.


`Semoga pak Willi tidak membongkar identitasku,` batin Richela


Mata Richela tidak berhenti memberikan tatapan isyarat pada pak Willi. Ia sangat berharap pak Willi mengerti isyarat yang di berikannya.


“Wah sangat cantik. Siapa namanya tuan muda Richard?” tanya pak Willi pura-pura tidak kenal dengan Richela.


Richela yang mendengar itu pun menghembuskan nafas lega. Ia merasa lega karena pak Willi melakukan apa yang di inginkannya. Tidak membuat identitasnya terbongkar hari ini.


`Aman nona muda!` batin pak Willi


Pak Willi mengerjapkan matanya ke arah Richela. Menunjukkan bahwa nona mudanya itu tidak perlu merasa khawatir. Rahasia identitasnya tidak akan terbongkar.


“Namanya Richela,” jawab Richard.

__ADS_1


“Nama yang cantik seperti orangnya. Lalu kapan tuan muda Richard dan nona Richela menikah?” tanya pak Willi membuat Richard terdiam seribu bahasa.


Pertanyaan kapan menikah itu sangat sulit untuk di jawabnya. Mengapa? Sebab Richard sendiri tidak dapat memastikan. Perjodohannya dengan Richela nantinya akan benar-benar batal atau tidak.


__ADS_2