Kamu Dan Aku

Kamu Dan Aku
Putus Asa


__ADS_3

Bermula dari aku yang selalu salah dimata Ayah dan keluarga. Namaku Dinda, kini usiaku menginjak 25 tahun. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, seharusnya aku kini membahagiakan ayah dan keluargaku tapi.. aku justru masih menganggur seperti biasanya, seringkali aku mencoba berbagai usaha kecil-kecilan tapi.. selalu gagal di tengah jalan. Sejak dulu perekonomian keluargaku sangat kurang, jadi sulit bagiku memulai usaha tanpa modal yang cukup.


Aku tak pernah menyalahkan aku terlahir sebagai anak orang miskin, aku juga tak menyesali kedua orang tuaku yang sudah melahirkanku. Namun.. semakin hari aku semakin sesak tak bisa membahagiakan Keluargaku. Disaat semua teman-temanku sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, aku justru menyibukkan diri agar aku sedikit berguna untuk keluargaku.


Suara Alarm pagi ini sungguh mengganggu, karena sudah terlalu lama menganggur aku menjadi sedikit Malas untuk menjalani hidup ini. Kedua adikku sudah siap untuk berangkat ke sekolah sementara itu.. aku masih bersembunyi di balik selimut meskipun Ayah sudah marah karena aku belum juga bangun


" Udah siang.. cepet beres-beres rumah !! Jangan tidur lagi !! Gimana mau sukses " sindir ayahku tegas dan diucapkannya berulang kali hingga Ayah puas


"...."


Mungkin diam satu-satunya cara agar aku tak terpancing sindiran ayah dan mencoba menyadarkan diri agar cepat bangun dari tidurku.


" Dicky ! Ayo sarapan dulu.. Dimas ayo cepat sarapan dulu.. kalau sudah besar jangan seperti kakakmu yang malas itu !! Disuruh bangun dari tadi bukannya bangun " sindirnya lagi padaku. Kali ini Ayah berhasil membuatku bangkit dari kasurku dan bergegas mandi tanpa mengatakan sepatah katapun melewati mereka yang sibuk dengan sarapannya


" aduhh... seharusnya kamu yang buat sarapan buat adikmu ! Gimana bisa kalo bangun siang... "


Nasihat Ayah memang benar, Tapi seperti yang aku rasakan.. aku merasa aku sudah gagal dan terlanjur jelek dimata siapapun. Karena terlalu lama menganggur jiwaku menjadi sangat sensitif, aku merasa tak ingin di nasihati dan selalu merasa dirikulah yang paling benar namun setelah itu aku merasa bersalah dan tidak berguna dalam keluarga.


Di dalam kamar mandi aku menangis tak bisa menahan emosiku yang memuncak namun tak ingin merusak pagiku. Menjadi pengangguran tidaklah menyenangkan, aku memang punya banyak waktu luang.. tapi dengan kondisi ekonomiku yang tak mampu ini membuatku menjadi pecundang hebat. Aku merasa teman, tetangga, saudara bahkan keluarga sendiripun seoalh terus menyalahkanku dan mengintimidasiku karena tak memiliki pekerjaan.


Aku memang tak sesering mereka para pengejar lowongan pekerjaan untuk melamar kerja, tapi tanpa kucobapun aku tau hasilnya. Karena tubuhku yang pendek dan gemuk mana ada perusahaan yang mau menerimaku. Ditambah lagi kini usiaku sudah mulai tua

__ADS_1


#####


Sekitar pukul 9 pagi aku langsung bergegas pergi meninggalkan rumah untuk mengambil obat milik kakekku di rumah sakit. Baru saja akan berangkat temanku Rara datang dan memberikan undangan pernikahannya minggu depan.


" Dinda..... "


" Rara ? Ya ampun... apa kabar ? " sambutku gembira karena kini ppenampilannya sangat berbeda


" baik.. din.. minggu depan dateng yah.. jangan lupa bawa calon lu hehehehe "


" hahha belum ada... "


" ohh gua belom kerja lagi.. ini gua mau ambil obat nenek gua Ra.. "


" ohhh.. yaudah ayo bareng ke depannya " ajaknya santai dan kitapun berjalan bersama sambil berbincang kecil selama menuju depang gang rumah


Mendengar cerita bahhagia Rara membuatku bahagia sekaligus sedih karena kini hanya aku yang tertinggal belum mendapatkan calon sama sekali. Jangankan calon.. aku bahkan belum pernah merasakan rasanya berkencan.


######


Entah hari ini adalah hari terburukku atau karena ini hari kelahiranku, aku merasa diriku sangat tidak berguna dan terus menyalahkan diriku atas semua yang gagal dalam diriku. Karena tak ingin merusak hariku jika aku terus berdiam diri di rumah, aku memilih menyendiri di taman rumah sakit yang cukup membuatku nyaman menenangkan pikiranku yang kacau ini.

__ADS_1


Aku terus berdiam diri, entah pikiranku sedang kemana,. Yang jelas aku hingga tak sadar bahwa aku sudah duduk berjam-jam dan mataharipun sudah terbenam.


" kak... dimana ? Ko belom pulang ? "


Pesan masuk dari adikku Dicky, karena malas membalasnya aku menngabaikan pesan masuknya dan bergegas untuk pulang . Tapi hal yang tak ingin aku rasakan terjadi, uang yang ada di kantong celanaku hilang karena kanntongnya bolong. Aku bingung haus bagaimana.. bingung siapa yang harus kuhubungi karena aku sedang malas dengann semua orang di rumah.


" Sial... gua harus jalan kaki gitu ke rumah ?! " gerutuku kesal dan kehabisan akal untuk bisa pulang kerumah


#TINTIN ( Klakson mobil berbunyi dan mobilnyapun berhenti tepat dedapnku berdiri menunggu bis datang )


"......" aku terdiam bingung dan melihat kaca jendelanya terbuka perlahan. Kulihat seorang lelaki yang tak aku kenali tersenyum ramah menyapaku


" Ayo naik... kita bisa bicarakan harga dijalan " ujarnya sedikit membuatku bingung


"...." sejenak aku terdiam dan bertanya-tanya pada batinku tapi saat mennyadari hal itu aku segera masuk ke mobilnya dengan nekat


Aku telah berdiri di tempat dan zonanya para wanita malam, meski aku masih begitu tak mengerti akan sepeerti apa hariku ini.. aku memutuskan untuk menjadi jahat pada diriku sendiri dan melewati batasku karena hariku yang cukup memmbuatku putus asa


######


bersambung

__ADS_1


__ADS_2