Kamu Dan Aku

Kamu Dan Aku
Selalu Salah


__ADS_3

Aku pulang dengan beberapa belanjaan yang kubawa untuk adik-adikku dan ayahku. Setibanya aku dirumah semua diam dan menatapku sinis. Tak hanya adikku saja, Ayah terus menatapku kesal lalu pergi mengabaikanku tanpa mengatakan sepatah katapun.


" kau dari mana sih kak ? Kenapa pulang terlambat ?! " keluh Dicky kesal terhadapku


" ya ngineplah.. trus tadi pagi aku pergi sama temenku, emangnya salah ? "


" udahlah dicky.. itu urusan kakakmu.. dia sudah dewasa !! Susah buat dinasehatin " sindir Ayah dari kamarnya membuatku seolah tak memperdulikan keluargaku


" Maksudnya apa ? Apa aku salah kalau aku ada urusan ?!! Aku diam dirumah terus salah ! Aku pergi terus-terusan salah !! Aku ga kerja salah !! Jangan-jangan jika aku dapat kerjaan sekarang juga salah !! " aku membanting belanjaanku begitu saja dan pergi lagi meninggalkan rumah dan kembali kerumah kakek dan nenekku untuk menangis disana.


Dirumah aku semakin sesak, padahal saat ini aku sudah memiliki modal lagi untuk membuka usaha.. tapi aku tak diberi kesempatan untuk mengatakannya. Karena aku tak ingin terus menjadi beban lagi.. kuputuskan untuk tinggal di rumah kakek dan nenekku, dan sepertinya aku akan membuka usaha kecil-kecilan untuk bertahan di dunia yang sangat menyebalkan ini.


######


" Dinda.. ada apa ? Kenapa menangis ? " nenek datang dengan suaranya yang lemah dan tak bertenaga karena usianya yang sudah semakin tua


" .... " aku hanya diam dan tak menghiraukan nenek karena tak ingin ia cemas


#Kring!!! ( dering panggilan dari mas Fahmi membuatku terdiam dari tangisanku dan segera mengangkat telpon masuknya )


" halo.. kau sudah dirumah ? "


" hm.. aku baru saja sampai mas " jawabku lalu pergi meninggalkan nenek agar tak mendengar pembicaraanku


" kamh nangis ya din ? "

__ADS_1


" ahh.. engga ko mas.. mas lagi dimana ? " jawabku mengalihkan pembicaraan


" aku lagi di jalan pulang ke Bandung "


" kamu orang Bandung mas ? "


" iya.. aku mau mengatakannya tapi aku belum sempat berbicara denganmu. Dinda.. "


" iya mas kenapa ? "


" minggu depan.. apa kita akan bertemu lagi ? "


" baiklah ayo mas.. aku juga sudah merindukanmu mas, tapi aku harap kau tidak sesibuk tadi ya.. "


Telepon dari mas Fahmi mengalihkan semua kegalauanku dan memeberikan semangat baru untuk lebih tegar mengahadapi hidup ini. kita berdua saling menyemangati meski jarak telah memisahkan kita berdua.


######


Sudah 5 hari aku tak pulang kerumah, tapi mereka seolah tak perduli dan tak mencariku sama sekali. Aku mencoba bersikap biasa dan tetap bertahan dirumah nenekku meskipun aku diam-diam merindukan keluargaku.


Besok mas Fahmj akan datang ke Bogor lagi, karena aku akan pergi selama dua hari bersamanya aku pulang dan menyimpan uang untuk adik-adikku di rumah dan juga ayahku tanpa mereka tahu. Memang tak seberapa, tapi itu uang yang diberikan mas fahmi kugunakan sedikit demi sedikit agar ayah tak mencurigaiku yang telah menjual diriku sendiri pada orang lain.


Besok mas Fahmi memang akan datang lagi, tapi sejujurnya aku bertemu dengannya bukan karena uang atau apapun itu.. aku datang karena aku memang merindukannnya dan sangat ingin bertemu dengannya lagi.


" kak.. kenapa baru pulang ? "

__ADS_1


" kenapa kalian ga mencariku ? " tanyaku lagi menantang dicky yang bersikap seolah ia selalu benar dimata keluarga ini


" Ayah sakit... lagi pula kau dirumah nenek kan ? "


" terserahlah ya.. mau kakak dirumah atau engga.. kalian terus menyalahkan aku ! Ayah sakit ? Kamu egois bgt ya.. apa kamu mau bikin kakak ga perduli sama keluarga kakak sendiri ? Terserahlah... mau gimanapun juga kakak yang tetep salah " ujarku lalu membawa beberapa pakaianku dan beranjak pergi


" kak.. mau kemana lagi ? Ini uang apa ? " tanyanya lagi


" aku dapet kerjaan dua hari.. besok temenku ada nikahan di luar kota! Itu uang untuk kalian.. maaf kalau memang tak seberapa "


" kau tidak pamitan sama Ayah ? " teriaknya lagi tapi kali ini aku mengabaikannya dan pergi kembali kerumah nenek


#####


Hari ini aku menunggu mas Fahmi di dekat halte bis yang tak jauh dari rumah nenek. Aku sudah sangat tak sabar menunggu kehadirannya dan sudah merindukkannya sekali. Sebelum mas Fahmi datang sebuah pesan masuk dari Ayah membuatku terdiam


" Kau sudah ga anggap ayah lagi ? Apa susah memberi kabar ? Apa susah minta ijin ? Jangan sombong kamu baru bisa ngasih uang lagi ? Ayah ga butuh uangmu kalau sikapmu seperti itu sama ayah !! Susah susah ayah didik kamu.. tapi apa yang ayah dapet ?! Jangan Sombong kau sama orang tua. Ayah ini orang tua kamu !! "


Diam.. memang satu-satunya cara agar aku tidak melawan ucapan ayahku. Tapi apa hati ini bisa kutahan ? Aku terlampau sakit.. aku juga sudah sealalu salah dimatanya.. air mataku sudah tak bisa kubendung lagi.


#Tintin!!! ( Mas Fahmi datang dan tersenyum manis menyapaku seperti biasanya )


Airmataku menetes tepat saat aku menatap wajah mas Fahmi, kesedihanku kutumpahkan tepat saat ia tiba. Meski air mata ini terus mengalir aku langsung masuk ke mobil dan memeluknya untuk melampiaskan kesedihanku padanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2