
"Tidak ada untungnya om membohongi kamu, justru om kasihan sama kamu. Om hanya ingin mengingatkan, berhati hatilah dengan mereka, jangan biarkan mereka menggerogoti harta kamu. Tetaplah pegang kendali keuangan kamu dengan tanganmu sendiri, itu jauh lebih aman. Percayalah, om hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Kamu keponakan om, om gak mau dan gak rela mereka menjadikan kamu sapi perahnya. Bersikaplah tegas, Boni!" sahut Riko dengan aura yang begitu tegas dan penuh wibawa, membuat Boni percaya dengan semua yang di ceritakan om nya, karena selama ini Riko dikenal baik, santun dan jujur dalam keluarga besarnya.
Sudah satu Minggu sejak Boni menemui Riko.
Boni merubah sikapnya pada istri juga mertuanya.
Boni tak lagi menyerahkan urusan keuangan pada Amira. Boni hanya memberi jatah Amira sebesar tiga juta untuk uang pegangannya. Untuk kebutuhan rumah seperti bayar air, bayar listrik dan kebutuhan dapur. Boni membayarnya sendiri.
"Listrik dirumah hanya habis dua jutaan, sedangkan air kurang dari lima ratus ribu. Tapi kenapa Amira selalu berkata lebih dari ini. Aku harus ikuti kata om Riko, demi keamanan hartaku." batin Boni menatap struk tagihan listrik dan air.
"Mas! Ternyata kamu ada disini.
Aku sudah mencari mu kemana mana, ternyata kamu disini!" tiba tiba Amira muncul, menyembulkan wajahnya dibalik pintu ruangan kerja milik Boni. Boni langsung meremas kertas yang ada ditangannya dan tersenyum ke arah sang istri. Berusaha bersikap biasa saja.
"Ada apa?" sahut Boni tenang sambil tangannya membuang struk yang sudah diremasnya ke dalam tempat sampah yang ada di bawah meja.
"Aku mau minta uang buat bayar tagihan air juga listrik. Ini sudah tanggal lima." balas Amira yang tersenyum sangat manis kepada suaminya.
"Berapa tagihannya?" Boni ingin tahu jawaban istrinya dengan masih memasang wajah sesantai mungkin.
"Tagihan air sejuta lima ratus biasanya dan untuk tagihan listrik hampir empat juta lebih lah." sahut Amira masih dengan senyuman manis, berharap suaminya tidak banyak tanya, karena uang tagihan yang sengaja dilebihkan sebenarnya untuk dikasih ke mamanya, jatah dua juta dari Boni dirasa tidak cukup buat Bu Renita.
"Apakah tagihannya sebanyak itu, Mir?
"Iya emang segitu, mas?
kamu gak percaya sama aku?" balas Amira yang langsung berubah tak suka raut mukanya, bibirnya terlihat mengerucut.
"Tadi aku sudah menyuruh bibi untuk membayar tagihannya, air kena lima ratus ribuan, sedangkan listrik kena dua juta lebih sedikit." balas Boni santai sambil memainkan bolpoin yang ada dihadapannya.
"Kamu menyuruh bibi, mas?
Apa itu artinya kamu sudah gak percaya sama aku, istri kamu?" sengit Amira dengan muka yang sudah terlihat memerah.
"Maaf, Mira! mulai sekarang aku akan mengatur keuangan sendiri, tapi aku tetap memberimu jatah untuk nafkah kamu. Urusan papa dan mama kamu, maaf aku berhenti memberinya tunjangan, karena mereka masih terlihat sangat sehat bukan. Tak ada salahnya kalau papa kembali usaha mencari pekerjaan. Keadaan keuangan kita sedang tidak baik baik saja." balas Boni tegas dan membuat Amira membulatkan matanya tak percaya.
__ADS_1
"Jahat kamu, mas!
Orang tuaku juga orang tua kamu. Kenapa kamu pilih kasih memperlakukan orang tuaku tidak seperti orang tua kamu?"
jerit Amira tak terima dan membuat Boni terkesiap mendengar suara lengkingan istrinya. Amira yang dikenalnya lemah lembut, kini mulai memperlihatkan sifat aslinya hanya karena masalah uang.
"Kamu tidak usah marah marah, Amira!
Aku bahkan sudah tau kenapa kamu meminta keluargamu ikut tinggal dengan kita, itu karena rumah kalian sudah di sita oleh pihak bank bukan?
Tidak seperti yang kalian katakan kalau sedang direnovasi.
Dan satu lagi, aku juga sudah tau kalau kamu pernah hamil dengan kaki kaki lain.
Jujur aku kecewa denganmu, Amira!
Kamu tega membohongiku sedalam ini!" Boni menatap datar dan dingin pada Amira yang tak bisa berkutik lagi dengan semua ucapan Boni.
Tanpa bicara lagi, Boni meninggalkan Amira keluar dari ruang kerjanya dan mengambil kunci mobil lalu pergi entah kemana, mobil melaju tanpa tujuan pasti.
Amira berjalan pelan keluar dari ruang kerja suaminya, menatap sendu pada pintu kamar kedua orang tuanya.
"Nasib kita akan berakhir, ma, pa!" lirih Amira lesu dn tak terasa air matanya luruh membasahi pipi mulusnya.
"Mira!
Ada apa, kenapa kamu nangis begitu?" Bu Renita yang baru saja keluar dari kamarnya kaget melihat Anita yang menangis.
"Ma!
Mas Boni sudah tau semuanya!" huhuhuuu Amira menangis dalam pelukan mamanya.
"Maksud kamu apa, tau bagaimana?" tanya Bu Renita penasaran.
"Mas Boni sudah tau kalau rumah kita di sita, dan parahnya mas Boni juga tau kalau aku pernah hamil. Dia sangat marah dan sekarang Mira gak tau kemana perginya mas Boni!" Amira menceritakan semuanya pada sang mama dan Bu Renita tetap terlihat tenang dan biasa saja mendengar cerita anak perempuannya.
__ADS_1
"Tenang Amira!
Kamu itu istrinya, gak semudah itu Boni akan membuang kamu. Dia paling juga merasa kecewa saja. Kita akan susun rencana lagi untuk bisa menguasai hartanya. Kamu gak usah cengeng kayak gini, yang ada kamu gak dapat apa apa tapi malah di tendang Suamimu, kita ini sudah miskin, harus cerdas memanfaatkan keadaan, paham kamu?" omel Bu Renita, membuat Amira terdiam dari tangisnya dan mulai memikirkan ucapan ibunya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1