
"Tenang Amira!
Kamu itu istrinya, gak semudah itu Boni akan membuang kamu. Dia paling juga merasa kecewa saja. Kita akan susun rencana lagi untuk bisa menguasai hartanya. Kamu gak usah cengeng kayak gini, yang ada kamu gak dapat apa apa tapi malah di tendang Suamimu, kita ini sudah miskin, harus cerdas memanfaatkan keadaan, paham kamu?" omel Bu Renita, membuat Amira terdiam dari tangisnya dan mulai memikirkan ucapan ibunya.
Semalaman Boni tidak pulang dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Amira cemas bukan karena kemarahan Boni, tapi karena Boni belum memberinya uang.
"Harusnya kalau kamu mau marah dan pergi dari rumah, berikan uang dulu sama istri. Ini tidak!
Pergi begitu saja dan gak bisa di hubungi. Kalau saja bukan karena aku butuh uangnya, tak Sudi aku bertahan jika tak dianggap begini." sungut Amira yang terus melihat ke layar ponselnya. Berharap pean yang dikirim ke nomor Boni centang dua, tapi nihil sudah pukul delapan pagi, pesan itu masih centang satu.
Sedangkan Boni sendiri berada di salah satu hotel, menginap dan menenangkan dirinya agar bisa berpikir dengan jernih.
Boni memutuskan untuk istirahat total hari ini, dan masih memilih untuk tinggal di hotel.
"Aku yakin, Amira pasti kalang kabut karena aku belum juga memberikan uang bulanan. Dan aku yakin, hari ini dia pasti akan pergi ke kantor mencari ku. Sebaiknya, aku telpon orang kantor untuk berjaga jaga hal yang tidak di inginkan." gumam Boni yang terlihat sangat kusut, menyesal pun rasanya malu terhadap keluarga. Karena sudah di ingatkan, tapi Boni tetap pada keputusannya waktu itu.
"Vi, hari ini saya tidak masuk kantor. Tolong kamu handle semua pekerjaan dan laporkan padaku.
Dan satu lagi, jika nanti istriku datang mencari ku, kamu bilang saja aku ada pekerjaan keluar kota. Dan kalau dia minta uang, jangan di beri." titah Boni pada Silvi sekertaris nya.
"Baik pak, saya akan melaksanakan perintah pak Boni dengan baik." sahut Silvi tegas, membuat Boni bernafas lega. Boni percaya kalau sekertaris nya bisa di percaya dan memiliki sikap tegas kalau sudah di amanati sesuatu.
Benar saja seperti apa yang Boni sudah duga.
Amira datang mencarinya ke kantor dengan sikap angkuhnya bersama mamanya.
"Mau cari siapa Bu?" sapa Silvi ramah, saat Amira mau membuka pintu ruangan suaminya.
"Apa aku harus ijin dulu kalau mau ketemu dengan suamiku, hah?" sahut Silvi tak suka menatap Silvi yang terlihat tenang dan menyunggingkan senyum tipis.
'Pak Boni sedang tidak di kantor Bu!
Beliau ada pekerjaan di luar kota!" sahut Silvi membuat langkah Amira terhenti dan terlihat mengerutkan wajahnya.
"Ke luar kota?
Kenapa bisa dadakan, juga gak bilang padaku?
Apa kamu tengah menipuku?" balas Amira tajam, dengan wajah yang sudah merah padam menahan geram.
__ADS_1
"Jaga sikapmu, Mira!
Jangan sampai orang orang disini menilai mu buruk, mereka bisa melaporkan pada Boni nanti!" bisik Bu Renita dan membuat Amira langsung terdiam, lalu membuka pintu ruangan suaminya yang terlihat kosong. Boni benar benar tidak ada di tempat.
"Ah sialan, mas Boni apa sih maunya.
Pergi begitu saja tanpa memberiku uang sepeserpun. Suami macam apa dia, aku benci laki laki sialan itu!" jerit Amira murka dan membuat Bu Renita tersenyum miring melihat tingkah putrinya.
"Sudah mama bilang, tahan emosi kamu Mira!
Ini itu kantor, pasti ada CCTV nya, jangan sampai Boni tau kelakuan kamu yang sebenarnya.
Tunjukkan wajah sedihmu, biar suami kamu iba dan luluh kembali." bisik Bu Renita sambil matanya awas mencari keberadaan cctv di ruangan menantunya. Dan benar saja di sudut ruangan terpasang dua cctv yang menyorot keberadaan mereka.
"Duduk Amira, mama lihat ada dua kamera di sudut ruangan ini. Jaga kelakuan kamu." Kembali Bu Renita mengingatkan putrinya dengan nada di tekan, membuat Amira terdiam dan memilih menuruti perkataan ibunya.
"Kita pulang, percuma disini, Boni tidak akan datang ke kantor hari ini." bisik Bu Renita dan mengajak Renita untuk pulang, tapi sebelum itu mereka menemui Silvi.
"Silvi, berikan aku uang lima juta saja. Aku sedang butuh uang itu sekarang juga!" tekan Amira yang menatap tajam pada Silvi.
"Maaf Bu, tadi pak Boni sudah berpesan tidak boleh ada pengeluaran dana apapun untuk hari ini. Dan semua uang masuk sudah di setorkan ke rekening pak Boni." sahut Silvi ramah namun terkesan begitu tegas.
Aku bisa suruh Suamiku Untuk memecat pegawai kayak kamu, gak sopan!
Aku ini istri atasan kamu, bisa bisanya kamu menolak perintah dariku!" sentak Amira yang sudah mulai tak bisa mengontrol emosi.
"Maaf Bu, saya hanya menjalankan perintah dari pak Boni. Maafkan saya!" sahut Silvi yang masih terlihat ramah dan tetap bersikap tenang.
"Kurang ajar! Awas saja kamu!" ancam Amira yang langsung pergi meninggalkan Silvi dengan perasaan kesal luar biasa.
"Kasihan pak Boni, istrinya tak punya attitude!" lirih Silvi sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita harus gimana, ma?
Gak bisa kalau kita terus seperti ini, aku juga butuh senang senang dan kumpul dengan teman temanku." sungut Amira yang masih terlihat begitu kesal.
"Kamu sabar dulu, kita bicarakan lagi pas dirumah.
Itu taksinya sudah datang, kita pulang saja. Sementara jual saja perhiasan kamu. Bereskan?
__ADS_1
Kalau Boni marah dan tanya, bilang saja kamu butuh uang. Tidak usah diambil pusing!" sahut Bu Renita sambil membuka pintu taksi dan masuk kedalam duduk dengan manisnya, Amira mengikuti ibunya, dan ikut duduk disamping Bu Renita.
"Mama benar juga, kenapa aku gak kepikiran kesana ya?
Habis ini aku akan jual semua perhiasanku. Lumayan bisa buat nongkrong dan nyalon." balas Amira dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Rasain kamu, mas!
Istrimu terlalu cerdik untuk kau buat menderita!" batin Amira tanpa rasa bersalah sedikitpun.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️