Karena Warisan, Anakku Mati Di Tanganku

Karena Warisan, Anakku Mati Di Tanganku
episode 20


__ADS_3

"Ada apa, mas?


Sepertinya sangat penting, sampai sampai membawa mas Boni kesini untuk menemuiku, apa ada masalah?" sahut Geri sambil mengerutkan wajahnya.


"Berapa modal yang ayah berikan sama kamu?


Usahamu bisa sebesar ini dalam waktu singkat, itu mustahil kalau bukan karena campur tangan ayah!" sinis Boni dengan tatapan tajam, membuat Geri menghembuskan nafasnya dalam dan mengusap wajah, menahan diri untuk tidak tersinggung dengan perkataan kakaknya.


"Ayah memang sempat menawarkan untuk memberikan modal, tapi aku menolaknya.


Karena aku ingin berusaha dengan keringat sendiri, lagi pula usaha ini bukan murni kerja kerasku, aku membangunnya bersama Ridho sejak kami masuk kuliah dulu." sahut Geri yang menjawab apa adanya tanpa menambahi dan menguranginya.


"Aku tidak bodoh sehingga harus percaya dengan yang kamu katakan begitu saja.


Bengkel sebesar ini pasti butuh dana tak sedikit dan uang dari mana kamu juga Ridho bisa membangun bengkel seluas ini?


Impossible saja kalau ayah tidak ikut campur soal dana!" sengit Boni dengan tatapan sinisnya bahkan nadanya terdengar sangat tidak enak di dengar.


"Aku bicara apa adanya, mas!


Semua murni usahaku bersama Ridho.


Kami sudah mengumpulkan uang dari kami masih kuliah sehingga bisa membuka cabang di sini. Mas Boni juga tau, dari dulu bengkel kami selalu ramai, dan itu membuat kami bisa menyisihkan keuntungan yang tidak sedikit setiap bulannya.


Kamu menekan semua keinginan untuk membeli sesuatu demi cita cita sukses di usia muda. Aku bahkan terinspirasi sama kamu mas, sama keuletan dan kegigihanmu." balas Geri tenang, menahan diri untuk tidak terpancing emosi oleh sikap kakaknya.


"Kamu tidak perlu menutupi semuanya dariku, Ger!


Aku tau jika selama ini ayah sangat menyayangi dan membanggakan kamu sebagai anak emasnya, jadi wajar dia akan rela menggelontorkan dana yang besar buat anak kesayangannya. Dan itu tidak adil untukku yang selama ini berjuang sendiri tanpa uang orang tua!"


Boni menatap tajam ke arah Geri yang terlihat frustasi dengan sikap kakaknya yang terkesan berlebihan dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.


"Aku tidak terima di anak tirikan oleh ayah, aku akan menuntut keadilan darinya. Aku juga butuh modal untuk membuka cabang baru. Anak ayah bukan hanya kamu, dia juga harus ingat aku juga butuh di dukung dan berhak mendapatkan hartanya." tegas Boni dengan wajah memerah lalu pergi begitu saja meninggalkan Geri yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi, Geri tak lagi mengenali kakaknya.


"Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan perempuan itu. Dasar perempuan ular!" gumam Geri yang mengusap wajahnya kasar. Berusaha menetralkan geram di hatinya, berharap kakaknya tidak membuat ulah yang menyebabkan murka ayahnya.


Boni yang terlanjur merasa sakit hati dengan pikirannya sendiri membuat dia tidak bisa berpikir jernih, hatinya sudah dipenuhi perasaan iri dan sakit hati. Menganggap kalau orang tuanya sudah bersikap tak adil terhadapnya.


"Aku akan menemui ayah dan meminta hakku. Sebagai anak lelaki pertama, harusnya bagianku jauh lebih banyak dari Geri." gumam Boni dengan rahang mengeras, wajahnya sudah merah padam saat mengingat Geri yang mengelak dengan tuduhannya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Bu Dini yang tengah membaca majalah di kejutkan dengan kedatangan anak kesayangannya.


Boni yang tanpa salam langsung masuk saja mencari ibunya yang ternyata ada di ruang keluarga sedang membaca majalah, sedangkan adik perempuannya sibuk di depan laptop menonton Drakor kesukaannya.


"Boni?


Kok gak salam?


Ada apa wajah kamu lesu begitu?


Sini cerita sama bunda!" sambut Bu Dini lembut, seperti biasanya yang selalu menunjukkan kasih sayang kepada putra sulungnya.


"Asalamualaikum, maaf Boni lupa karena terlalu kecewa sama kalian!" lirih Boni sambil berkaca kaca, Boni memang terlihat patuh dan menyayangi bundanya dari dulu, sehingga Boni begitu dekat dan selalu menceritakan apapun yang ada dalam pikirannya.


"Waalaikumsallm.


Kecewa? Sama siapa, nak?" Bu Dini memasang wajah heran menatap dalam pada Boni yang terlihat memerah matanya, tetesan bening jatuh berlahan di pinggir matanya yang mulai basah.


"Kamu nangis?


Astagfirullah, ada apa Boni?


Apa kami berbuat salah sama kamu, nak?


Anita memilih diam dan mematikan laptopnya lalu beranjak pergi memasuki kamarnya.


Karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi, Anita sengaja mengintip pembicaraan antara ibu dan kakaknya.


"Kenapa ayah pilih kasih, bund?


Apa aku ini bukan anak kandungnya?" tanya Boni dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, di hadapan sang bunda, Boni menjatuhkan harga dirinya sebagai laki laki, dia tak lagi sungkan untuk menangis, meluapkan rasa sakit hati dan kekecewaannya. Padahal sama sekali apa yang dipikirkan Boni tidak benar sama sekali. Istrinya sudah berhasil membuat Boni salah paham dan sakit hati pada adik dan ayahnya.


"Maksud kamu apa, nak?


Kamu anak kandung kami, kamu terlahir dari rahim ibu. Kenapa kamu punya pikiran seperti itu.


Apa yang sebenarnya terjadi?" lirih Bu Dini yang dadanya langsung sesak mendengar perkataan anaknya sulungnya.


"Tapi kenapa ayah lebih perduli dan sayang sama Geri di bandingkan dengan Boni?


Bahkan ayah rela menggelontorkan dana besar untuk membantu usaha Geri, sedangkan selama ini, Boni berusaha berdiri sendiri membesarkan usaha Boni tanpa bantuan ayah.

__ADS_1


Ini tidak adil untuk Boni, bund!" sahut Boni panjang lebar, membuat Bu Dini tersentak mendengar penuturan anak lelakinya.


"Itu tidak benar, nak!


Kamu sudah salah paham. Geri sama sekali tidak menerima uang dari ayah kamu." balas Bu Dini dengan senyuman hangat, berharap Boni mempercayai ucapannya. Namun yang ada justru Boni semakin merasa di bohongi.


"Bunda juga mau ikut menutupi kecurangan ayah dan Geri dariku?


Aku tidak terima bund, aku ingin meminta apa yang harusnya menjadi hakku juga, kalau memang benar aku ini anak kandung kalian.


Berikan bagianku juga, karena aku anak laki laki pertama, harusnya mendapatkan bagian yang lebih banyak dari Geri dan Anita." ucap Boni tanpa memikirkan perasaan ibunya, Boni yang sudah dikuasai amarah dan benci, membuatnya tak lagi bisa menghormati ibunya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2