Karena Warisan, Anakku Mati Di Tanganku

Karena Warisan, Anakku Mati Di Tanganku
bab 14


__ADS_3

"Mama benar juga, kenapa aku gak kepikiran kesana ya?


Habis ini aku akan jual semua perhiasanku. Lumayan bisa buat nongkrong dan nyalon." balas Amira dengan senyuman mengembang di bibirnya.


"Rasain kamu, mas!


Istrimu terlalu cerdik untuk kau buat menderita!" batin Amira tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Taksi berhenti tepat di rumah minimalis yang terkesan mewah milik Boni. Amira dan ibunya keluar dan memasuki halaman rumah dengan wajah yang terlihat kusut. Pak Doni yang tengah duduk santai menikmati secangkir kopi dan pisang goreng hanya menatap datar pada dua perempuan kesayangannya.


"Bagaimana?" sambut pak Doni menatap lekat pada wajah istri dan anaknya bergantian.


"Zonk!


Mas Boni tidak datang ke kantor hari ini. Pasti dia pergi kerumah orang tuanya!" sahut Amira yang terlihat lelah dan memendam rasa kesalnya.


"Terus, kalian tidak dapat apa apa gitu?" tanya pak Doni sambil mendengus tak suka.


"Gimana lagi, Boni sudah berubah dan tidak membiarkan Amira menguasai keuangannya lagi.


Kamu harus kembali cari kerja, mas!


Aku gak mau hidup susah, gak pegang uang itu ibarat mati tanpa tusukan." balas Bu Renita dengan bersungut sungut.


"Kerja apa?


Namaku sudah buruk di perusahaan mana pun. Kalau ada modal kita lebih baik buka usaha sendiri." sahut pak Doni menatap lesu pada putrinya yang terlihat berpikir.


"Apa yang harus Amira lakukan untuk membantu kesulitan papa sama mama?" Amira paham arti tatapan kedua orang tuanya.


"Ambil apa yang bisa kamu ambil dari Boni.


Cari sertifikat rumah ini, kita akan gadaikan diam diam buat modal usaha papa dan buat beli rumah kecil kecilan, sebelum kita malu karena diusir sama menantu." ucap pak Doni memberikan saran.


"Baiklah, Mira akan cari sertifikat itu sekarang juga. Mumpung mas Boni tidak di rumah." balas Amira yang langsung pergi menuju ke dalam kamarnya dan Bu Renita ikut di belakang sang anak.


"Biar mama bantu nyari!"


"Oke ma!


Aku akan bongkar isi lemari mas Boni, mama bisa cari diruang kerja mas Boni!" usul Amira yang langsung disetujui oleh mamanya.


"Amira sudah menyisir s mau isi lemari tapi tak menemukan apapun di dalamnya. Tak mau menyerah, Amira kembali menyisir semua tempat yang ada di dalam kamarnya, mulai dari laci hingga bawah kasur. Namun nihil, Amira tidak menemukan apapun.

__ADS_1


Amira yang sudah lelah memilih duduk di tepi ranjang, menatap kosong pada sudut ruangan. Mimpinya ingin hidup nyaman yang bergelimang harta karena memiliki suami kaya raya, pupus dan hanya mimpi.


"Aku akan melakukan sesuatu sebelum meninggalkan mas Boni. Aku harus bisa menguasai hartanya. Aku harus menjamin kehidupanku dengan keluargaku kembali seperti dulu dan itu harus aku dapatkan dari mas Boni.


"Mira!


Sini nak!" teriak Bu Renita dari arah ruang kerjanya Boni.


Amira yang mendengar teriakkan sang ibu pun langsung berlari menemui mamanya.


"Ada apa, ma?


Apa mama menemukan sesuatu?" tanya Amira semangat dan Bu Renita terlihat menyunggingkan senyum riangnya.


"Mama sudah mendapatkan sertifikat rumah ini.


Dan untuk selanjutnya serahkan sama papa, dia ahlinya!" ucap Bu Renita yang di iringi tawa renyahnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Boni yang tak menyadari apa yang telah terjadi di rumahnya tetap memilih menenangkan diri di hotel. "Aku harap setelah ini, mereka akan sadar diri dan pergi meninggalkan rumahku." gumam Boni yang fokus pada layar laptopnya. Boni tengah mengecek setiap laporan yang masuk di email nya.


Hampir Lima hari, Boni tidak pulang kerumah. Namun Amira maupun orang tuanya tidak ada yang menanyakan keberadaannya. Padahal Boni sudah mengaktifkan ponselnya dari dua hari yang lalu.


Sedangkan dilain tempat, pak Doni dan istrinya sudah pindah kerumah barunya, perumahan sederhana yang tak begitu terlihat jelek. Pak Doni sudah berhasil memasukkan sertifikat tanah milik Boni ke bank sebesar empat ratus lima puluh juta.


Sedangkan Amira yang terlihat santai tanpa uang dari Boni, karena Amira sudah menjual seluruh perhiasan pemberian Boni yang mencapai lebih dari seratus juta.


Seminggu berlalu, dan hati ini Boni memutuskan untuk kembali kerumah. Ingin memastikan keadaan rumah dan penghuninya tanpa ada uang darinya.


Saat Boni tengah memarkirkan mobil di garasi, terlihat Amira duduk di kursi depan sendirian bersama secangkir susu coklat.


"Mas!" sambut Amira tersenyum senang melihat kepulangan suaminya. Boni masih bersikap dingin menanggapi sapaan istrinya.


Tanpa mau banyak bicara, Boni memasuki rumah dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Barang barangnya masih utuh dan tetap pada tempatnya masing-masing.


"Mama sama papa sudah pergi. Mereka malu dan merasa bersalah dengan kepergian kamu dari rumah ini!" tiba tiba Amira muncul dan mengatakan sesuatu yang Boni pikirkan dari tadi.


"Baguslah!" sahut Boni ringan lalu kembali meneruskan langkahnya menuju ke kamar pribadinya.


"Mas!


Maaf! aku sudah menjual semua perhiasan untuk bertahan hidup, dan untuk membantu mama sama papa cari tempat tinggal." Amira menunduk, pura pura cemas dan sedih dengan keadaan yang ada.

__ADS_1


"Perhiasan yang aku belikan?" balas Boni terkejut.


"Iya! Maaf!" sahut Amira yang masih menundukkan wajahnya.


"Aku hanya pergi seminggu, itupun kebutuhan dapur sudah aku penuhi. Lalu apa lagi yang kamu butuhkan sehingga kamu menjual seluruh perhiasan kamu?


Kamu benar benar sudah melewati batasan kamu, Mira!" sahut Boni dingin dan matanya menatap tajam pada wajah istrinya yang dari tadi disembunyikan.


"Orang tuamu masih muda dan masih kuat untuk bekerja, harusnya mereka berpikir bagaimana mencari pekerjaan tanpa harus merusuhi rumah tangga anaknya dengan cara membebaniku.


Aku tak masalah memberi uang bulanan pada orang tuamu, tapi hanya sebatas kemampuan ku saja. Tapi selama ini, kamu sudah banyak menghamburkan uangku untuk kebutuhan keluarga kamu, dan mirisnya hanya untuk foya foya, sampai sampai usahaku mengalami krisis keuangan." tekan Boni dengan rahang mengeras.


"Maafkan aku mas!


Aku janji setelah ini tidak lagi ikut campur masalah keuangan kamu, aku akan terima berapapun pemberian kamu, dan lagi pula orang tuaku juga sudah tidak lagi ikut tinggal dengan kita." sahut Amira hati hati. Berusaha kembali mendapatkan simpati dari suaminya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2