
"Sudahlah, biarkan saja.
Bagus ayah, masih ada kalian.
Kamu dan Anita, tetaplah saling merangkul dan menjaga ya nak, saling rukun dan menyayangi.
Doakan kakak kalian agar sadar akan kesalahannya." sahut pak Wardoyo dengan wajah sendunya. Hatinya benar benar dibuat hancur ulah anak sulungnya yang keterlaluan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Waktu berjalan begitu cepat, sejak kejadian menerima warisan waktu itu, Boni tak lagi pernah menemui orang tuanya lagi.
Boni berada dalam pengaruh istrinya, tunduk dan selalu mendengarkan apa yang istrinya katakan.
Warisan yang begitu banyak dari pak Wardoyo satu persatu terjual karena ulah istrinya Boni dan kedua orang tuanya.
Mereka yang memiliki sifat berfoya foya hanya tau caranya menghamburkan uang tanpa perduli bagaimana mengelolanya.
Sedangkan usaha milik Boni semakin hari semakin sepi, warisan habis membuat Boni memutar otak dan hampir gila memikirkannya. Belum lagi, istrinya terus saja mengomel dan meminta ini itu tanpa perduli keadaan keuangan suaminya.
Dan keadaan itu terbalik buat Geri dan Anita.
Mereka begitu pandai mengelola apa yang diberikan ayahnya.
Bahkan usaha Geri semakin besar dan sudah membuka cabang kembali.
Waktu lima tahun membuat semuanya berubah begitu cepat. Anita bahkan sudah lulus kuliah dan hampir menikah, calonnya seorang dokter muda, anak dari rekan bisnis Geri.
Sedangkan Geri sudah akan menikah satu bulan lagi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas, sampai kapan kamu begini terus?
Cuma diam dan merenungi kebangkrutan kamu!
Lihat, adik adikmu semua sukses, bahkan orang tua kamu juga semakin kaya tuh.
Mintalah bantuan mereka, atau ambil alih saja mebel yang dipegang ayah kamu itu.
Kamu kan anak laki-laki pertama, jadi kamu berhak mendapatkan warisan yang lebih banyak dari adik adikmu, mas!" cerewet Amira pada Boni yang hanya masih diam saja memikirkan ucapan istrinya itu.
"Kaku benar juga, Mir!
Besok aku akan temui ayahku, untuk memintanya memberikan meneliti padaku, lagian ayah juga sudah tua, mana sanggup mengurusnya." Boni akhirnya menimpali ucapan istrinya dengan senyum merekah.
Tidurnya malam ini akan sangat nyenyak, Karena sudah menemukan jalan keluar dari masalahnya.
Keesokan harinya, Boni benar-benar datang kerumah orang tuanya.
"Boni!" Bu Dini menatap anak sulungnya dengan wajah sendu, selama dua tahun lebih Boni yang tak mau lagi berkunjung kerumahnya dan bahkan menolak kedatangan dan telpon darinya.
Membuat Bu Dini berusaha untuk melupakan anak itu agar tidak ada terus menerus sakit hatinya.
"Ayah ada bund?
__ADS_1
Aku mau bicara sama ayah!" Boni langsung pada inti maksud kedatangannya.
"Ayah sakit, masih tidur, setelah tadi minum obat!
Ada apa?" sahut Bu Dini datar.
"Ayah itu sudah tua, makanya jangan suka kerja sendirian.
Lebih baik, mebel yang ayah urus, Boni yang megang!" sahut Boni tanpa tau malunya.
Setelah dua tahun tidak pernah berkunjung, sekali berkunjung ada maunya dan masih soal harta.
"Kamu kesini ingin kembali meminta warisan?" Bu Dini menatap tajam ke arah Boni dengan hati tersayat.
"Bunda benar!
Ayah sudah tua, biar Boni yang menggantikan posisi ayah mengurus mebelnya!" balas Boni enteng, membuat Bu Dini langsung terlihat kesal.
Pengurus istri dan mertuanya benar benar sudah mengubah hidup Boni.
Bu Dini tak lagi bisa mengenali anaknya itu.
"Jangan harap, aku akan menyerahkan apa yang kamu inginkan, Boni!
Kamu sudah memutuskan menjauhi ayah ibumu selama ini, kini datang datang, kamu minta kembali warisan.
Sedangkan apa yang sudah kuberikan tidak kamu jaga baik baik. Semua habis terjual cuma demi menuruti gaya istri dan mertua kamu yang sok kaya itu!" tekan pak Wardoyo dengan tatapan nyalang.
"Ayah kok keluar, ayah istirahat saja di kamar.
"Sudahlah bund, kita tidak usah diam saja.
Anak durhaka sepertinya harus diberi pelajaran!" sahut pak Wardoyo penuh amarah.
Sehingga memancing emosi Boni dan akhirnya adu mulut dan terjadi pertikaian antara ayah dan anak itu.
Pak Wardoyo yang sudah muak dengan kekakuan anak sulungnya berpikir untuk memberinya pelajaran, apalagi Boni sudah mendorong ibunya hingga pisan, itu benar benar membuat pak Wardoyo murka.
Pak Wardoyo masuk ke dalam dan mencari parang yang sering ia gunakan untuk membersihkan rumput rumput di belakang rumahnya.
"Apa yang akan ayah lakukan?" Boni langsung pucat pasi saat menatap parang ada ditangan ayahnya.
"Lebih baik aku kehilangan anak durhaka seperti kamu daripada kamu terus membuat hati istriku menderita karena ulahmu itu!" teriak pak Wardoyo penuh emosi.
Geri yang baru saja pulang langsung dibuat ternganga dengan apa yang terjadi, Ayah dan kakaknya tengah bersitegang bahkan sudah diluar batas.
Boni yang melihat kedatangan Geri langsung tersenyum sinis dan tersusun rencana jahat di otaknya.
"Bukan aku yang mati, tapi anak kesayangan kamulah yang akan mati, ayah!" batin Boni.
Dan benar saja, Boni berhasil memancing kemarahan pak Wardoyo, saat pak Wardoyo yang sudah benar benar kalap mengarahkan parangnya ke arah Boni, tiba tiba Geri yang ingin melerai ditarik Boni di hadapannya, dan akhirnya parang itu mendarat sempurna ke tubuh Geri dan mengenai perutnya.
Luka lebar dan dalam langsung tercipta, sehingga darah mengucur deras dari tubuh Geri yang langsung ambruk dan meregang nyawa.
Bersama dengan itu, Anita dan para tetangga datang dan melihat kejadian tragis penuh darah antara ayah dan anak.
__ADS_1
Bu Dini yang baru saja siuman dan pingsannya langsung menjerit histeris begitu juga dengan pak Wardoyo, langsung terkulai lemas setelah menyadari kalau yang dia tebas bukan Boni melainkan Geri, anak lelakinya yang begitu santun dan menghormati dirinya.
"Boni, aku bersumpah hidupmu akan menuai karma dari perbuatan kamu itu, kamu akan hidup menderita dan menggila karena rasa ketakutan."tekan pak Wardoyo yang menangisi kepergian Geri.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sejak kejadian berdarah waktu itu, pak Wardoyo dan Boni menjadi tersangka atas kematian Geri.
Pak Wardoyo harus mendapatkan hukuman seumur hidup di penjara.
Sedangkan Boni harus mendekam sepuluh tahun di penjara, namun Boni hanya mendekam selama enam bulan saja di penjara, karena dokter menyatakan Boni terkena gangguan jiwa.
Boni sering didatangi Geri hingga membuat laki laki tak lagi waras.
Sedangkan Amira dan keluarganya hidup luntang luntung di jalanan jadi pengemis setelah seluruh harta Boni mereka habiskan.
Datang kerumah Bu Dini mereka diusir, karena Bu Dini sudah tak lagi Sudi berurusan dengan mereka sama sekali, karena merekalah keluarganya jadi hancur seperti ini.
Itulah sifat tamak manusia, hanya karena memperebutkan harta, lupa dengan saudara kandung. Sifat ingin menguasai selalu mampu menggelapkan mata dan hati.
End
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1