
"Gak ada bund!
Geri cuma capek saja, tadi bengkel ramai banget." sahut Boni mencari alasan, tidak mau bundanya sedih dan ikut kepikiran kalau tau kelakuan menantunya itu.
"Yasudah, sana mandi dan sholat dulu.
Bunda mau nyiapin makanan dulu." balas Bu Dini lembut namun tetap menelisik wajah putranya, perasaan seorang ibu tidak pernah bisa untuk di bohongi.
Setelah selesai mandi Geri bergabung dengan ibu dan adiknya di ruang keluarga, saling bercengkrama dan tukar cerita. Keluarga mereka selalu hangat dan saling memberi perhatian. Hanya Boni saja yang tak pernah ikut gabung setiap mereka berkumpul.
Sebelum menikah Boni terlalu sibuk mengembangkan usahanya dan selalu bersikap acuh pada semua orang, namun tak mengurangi rasa cinta di hati kedua orang tuanya. Mereka tetap memperlakukan Boni sama, menyayangi Boni setulus hati.
"Bunda perhatian akhir akhir ini kamu sangat sibuk, Le!
Jaga kesehatan dan jangan pernah tinggalkan sholat.
Entahlah perasaan bunda akhir akhir gak enak, bunda seringkali mimpi buruk, setelah itu pikiran bunda langsung condong ke kamu.
Bunda selalu merasakan nyeri saat ingat kamu, semoga ini bukan firasat buruk seorang ibu pada anaknya.
Bunda terus berdoa dan akan selalu meminta kebaikan dan keselamatan buat anak anak bunda." Bu Dini terlihat sedih saat mengungkapkan perasaannya saat ini. Memang sudah ada tiga hari, Bu Dini sering bermimpi buruk dan semua menyangkut anak keduanya, bahkan seringkali pikiran dan hatinya mendadak gak enak setiap kali kepikiran pada Geri. Semua itu membuatnya tak sanggup untuk tidak mengatakan pada anak dan suaminya.
"Mungkin bunda kecapean, pikirannya jadi kemana mana, insyaallah semua akan baik baik saja. Doakan kita semua sehat dan selalu dalam lindungan Alloh ya, bund!" sahut pak Wardoyo tenang dengan senyuman hangat di wajah teduhnya.
"Kapan kamu akan meresmikan bengkel mu, Le?
Sepertinya semua sudah beres dan lengkap.
Terus terang ayah bangga sama kamu, kamu bisa sukses dalam waktu yang sangat singkat, semua berkat kegigihan dan usaha kerasmu." sambung pak Wardoyo yang mencoba mengalihkan obrolan, agar istrinya tak larut dengan percakapan yang bisa membuat sedih dan khawatir.
"Insyaallah Minggu depan, doain ya bund, ayah!
Keberhasilan Geri juga semua berkat restu dan doa ayah dan bunda. Terimakasih sudah selalu mendoakan kebaikan buat kami, dan selalu mendukung Geri hingga sampai di titik ini." balas Geri dengan senyuman tulus, menggenggam tangan sang bunda dan menciumnya penuh cinta.
Obrolan obrolan pun semakin bergulir dengan renyah, tak jarang tawa mewarnai kedekatan keluarga pak Wardoyo. Hingga tak terasa waktu sudah beranjak malam, dan akhirnya mereka kembali beristirahat ke kamar masing masing.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Besok aku akan temui istrinya mas Boni, memperingatinya agar tidak meneruskan kelakuan busuknya itu. Aku akan melakukan apapun untuk melindungi keluargaku, semoga aku tidak salah dalam bertindak, bismillah!" lirih Geri sambil menatap langit langit kamarnya. Karena lelah akhirnya Geri tertidur pulas.
Pukul dua siang, Geri pergi menemui Amira dirumah kakaknya.
Geri sengaja datang saat Boni masih di kantor, agar kakaknya tidak mendengarkan perbincangannya dengan kakak iparnya.
"Asalamualaikum." Boni mengucapkan salam saat sudah berada di depan pintu rumah kakaknya.
__ADS_1
Tak berselang lama, keluar wanita setengah baya dan menjawab salamnya dengan wajah ramahnya.
"Waalaikumsallm, eg ada mas Geri.
Silahkan masuk, mas!
Tapi, mas Boni nya masih belum pulang." sambut bibi begitu ramah dan sangat sopan.
"Mbak Amira nya ada, Bi?" sahut Boni santai dengan menampilkan senyum tipis di bibirnya.
"Ada, mbak Amira sedang di kamar.
Biar bibi panggilkan sebentar, mas Geri mau minum apa?" balas bibi masih dengan wajah ramahnya.
"Iya Bi, terimakasih ya!
Dan bibi gak perlu repot repot buat minum, saya cuma sebentar saja kok, habis ketemu mbak Mira juga pulang." sahut Geri apa adanya,badan sudah gak sabar untuk melihat reaksi istri kakaknya saat mengetahui rahasianya dia pegang.
"Oh begitu ya?
Yasudah, bibi panggilkan mbak Amira dulu.
Mas Geri tunggu sebentar ya?"
Geri hanya menanggapi dengan anggukan kecil sedangkan tangannya sibuk mengotak Atik ponselnya.
Kok tumben, sendirian saja?" Amira muncul dengan senyuman manis menyapa adik iparnya yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah kakak iparnya.
"Iya mbak, mau ada perlu sama mbak Amira." sahut Geri dengan memasang wajah datarnya.
Amira mengerutkan dahinya.
"Perlu dengan mbak?
Ada perlu apa?" sahut Amira yang terlihat penasaran dan menatap lekat pada wajah adik suaminya itu.
"Sebelumnya Geri minta maaf, bukan maksud Geri lancang dan ingin mencampuri urusan rumah tangga mbak Mira, tapi sebagai seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya, Geri tak bisa diam saja saat tau kalau kakaknya sudah dikhianati sama istrinya sendiri." tekan Geri dengan tatapan tajam yang begitu menusuk, terlihat Amira langsung terperangah dengan ucapan Geri.
"Maksud kamu apa, Ger?
Jangan bicara yang bukan bukan, mbak masih tidak mengerti arah pembicaraan kamu itu.
Mengkhianati?
Mengkhianati soal apa?" balas Amira yang berusaha bersikap tenang dan pura pura bodoh, padahal hatinya sudah geram dengan sikap sok taunya Geri.
__ADS_1
Geri yang tak mau basa basi dan banyak berdebat, langsung membuka galeri miliknya, menunjukkan Vidio yang dia dapat dari Ridho kemarin.
Amira langsung nampak pias dengan kedua tangan mengepal, tak menyangka jika adik iparnya tau perselingkuhan nya dan Tomi, mantan kekasih Amira sewaktu kuliah dulu.
"Jangan biarkan aku bersikap kasar karena kamu sudah berani mengkhianati kakakku, dan sebelum itu terjadi, tolong tinggalkan laki laki itu, bersikaplah layaknya seorang istri yang baik. Kakakku sangat mencintai kamu sebagai istrinya, jadi jangan pernah memanfaatkan cintanya hanya untuk kesenangan kamu dengan laki laki itu.
Aku tau, kamu sudah banyak menghamburkan uang kakakku untuk memenuhi keinginan laki laki itu, benar bukan?" tekan Geri dengan wajah mengeras dan tatapan tajam yang penuh kebencian, namun Geri harus tetap menahan sikapnya untuk tidak berbuat melebihi batas, mengingat Amira yang tengah hami muda.
Entah itu anak Boni atau anak selingkuhannya, yang pasti Geri hanya ingin mengingatkan Amira untuk tidak melanjutkan kelakuannya itu demi menjaga hati kakaknya.
"Tidak perlu ku ikut campur dengan urusanku, Geri!
Aku lebih tau apa yang aku lakukan.
Bahkan kakak kamu sangat mempercayai semua ucapanku, jadi jangan banyak ikut campur dengan rumah tanggaku, karena aku bisa saja membuat kalian saling bunuh dan bermusuhan. Ingat, kakakmu sangat mencintaiku, dia pasti lebih percaya Caya padaku dari pada kamu, adiknya!" seringai licik tercetak di wajah sinis Amira, membuat Geri semakin geram di buatnya, namun tetap berusaha bersikap tenang agar tidak terjadi kegaduhan. Geri sadar, saat ini yang ada di hadapannya adalah manusia licik dan penuh tipu muslihat. Sandiwaranya begitu rapi, sehingga membuat kakaknya tak menyadari jika tengah dipermainkan istrinya sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️