
"Iya, bund!
Hanya saja aku khawatir, karena ayah juga sudah menyelidiki seperti apa keluarganya.
Tidak ada yang bekerja, dan ada yang juga tersandung hukum. Kasihan kak Boni kalau hanya akan jadi sapi perah keluarga itu." balas Geri dengan mimik serius. Dan membuat Bu Dini semakin cemas, namun tak bisa berbuat lebih, lantaran Boni sudah tidak mau diganggu dengan keputusannya menikahi Amira.
"Entahlah, nak!
Bunda dan ayah sebenarnya juga kepikiran sama seperti kamu, tapi kamu tau sendiri seperti apa sifat kakak kamu itu.
Sulit untuk dinasehati dan sangat keras kepala.
Apa yang sudah jadi keinginannya tak bisa untuk di ganggu gugat." Bu Dini menghirup udara dengan rakus lalu menghembuskannya secara kasar. Tersirat kekecewaan di raut wajah sendunya.
"Semoga apa yang kita sangka tak menjadi kenyataan. Arumi bisa menjadi istri yang baik buat kakak kamu!" sambung Bu Andini dengan tatapan menerawang.
"Aamiin!
Semoga! Kita doakan yang baik baik saja, insyaallah semua pasti akan baik baik saja." Geri tersenyum menatap dalam pada ibunda tercinta, memberikan senyuman tulus dan pamit untuk kembali ke dalam kamarnya, mengerjakan tugas kampus.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Satu tahun berlalu, sejak menikah Boni sangat jarang mengunjungi keluarganya.
Bahkan di telpon juga jarang mau mengangkat.
Bahkan sekarang keluarga Amira juga ikut tinggal semuanya di rumah Boni.
Amira sudah berhasil mempengaruhi Boni untuk jauh pada keluarganya.
"Mas!
Adik kamu katanya akan wisuda besok, kamu datang gak?" Amira menatap wajah suaminya yang basah karena selesai mandi.
"Entahlah sayang.
Aku sedang ada banyak pekerjaan, uang perusahaan tengah tidak kondusif.
Pengeluaran kita terlalu banyak dari pemasukan.
Kepalaku rasanya pusing." sahut Boni lesu dan mulai memakai kaos dan celana pendek,aku duduk mendekati sang istri yang tengah berbaring di pembaringan.
"Kamu terancam bangkrut, mas?" tanya Amira mulai cemas, takut akan kembali hidup susah.
"Entahlah, doakan saja, aku bisa mengatasi masalah ini. Semoga segera membaik dan usaha kita kembali berjalan lancar.
Dan aku mohon sama kamu, tolong untuk sementara jangan terlalu boros." balas Boni dengan wajah frustasi.
Semenjak menikah usahanya bukannya maju tapi malah semakin mundur. Belum lagi gaya hedon sang istri dan keluarganya yang sangat suka berfoya foya.
"Maksud kamu, semua gara gara aku, mas?
Aku ini istrimu loh. Wajar kalau aku pakai uang suamiku!" balas Amira dengan wajah kesal lalu merubah posisinya dengan memunggungi sang suami.
"Aku hanya minta, tolong kurangi kebiasaan kamu membeli barang barang mewah yang gak penting, seperti baju dan tas. Hidup secukupnya saja. Karena kita juga harus memikirkan untuk punya tabungan jika nanti kita punya anak.
Tolong pahami ini.
__ADS_1
Dan mulai besok, keuangan aku yang atur.
Kamu akan aku kasih buat jatah kamu, Sepuluh juta sebulan, untuk kebutuhan rumah biar aku yang akan mengaturnya." Sahut Boni dengan suara tegas, dan mulai akan mengatur keuangan yang berantakan dan membuat dirinya hampir bangkrut.
"Sepuluh juta, mas?
Itu gak cukup untuk perawatan aku.
Kamu ingin istri cantik bukan?
Jangan pelit pelit lah!
Lalu bagaimana dengan jatah orang tuaku dan juga kakakku?
Mereka juga butuh pegangan." sungut Amira tak terima dan membuat Boni makin jengah bahkan kesal. Karena apa yang pernah dikatakan orang tuanya dulu benar adanya. Keluarga Arumi ingin memanfaatkan saja dan numpang hidup padanya.
"Cukup Amira!
Aku sudah lelah dengan kamu dan gaya hidup keluarga mu itu.
Mereka bukan tanggung jawabku!
Apalagi kakak kamu yang pemalas itu.
Dia sudah dewasa, bukannya cari kerja tapi cuma keluyuran dan pulang pulang teler.
Aku sudah tak Sudi lagi memberikannya uang.
Dan untuk mama kamu, maaf aku hanya mampu memberikan uang dua juta sebulan, buat pegangan.
Karena makan dan segala sesuatu dirumah sudah aku cukupi." sahut Boni dengan tatapan tajam pada istrinya yang langsung menganga mendengar keputusan suaminya.
Mereka keluargaku. Masak kamu perhitungan dengan mereka.
Jahat kamu, mas!" sungut Amira gak terima dan terlihat sangat kesal.
"Mereka masih sehat, mencari pekerjaan harusnya bisa mereka lakukan.
Bukan terus hanya mengandalkan aku saja.
Masih syukur aku terima keluarga kamu dirumahku. Jadi jangan nglunjak dan minta lebih dari apa yang aku bisa. Paham?" Boni tak lagi mau terus di peras oleh keluarga istrinya, yang selalu mengandalkan dirinya dalam segala hal.
Boni bekerja sendirian, tak kenal lelah dan waktu demi bisa mencukupi mereka. Tapi keluarga Amira justru hanya bermalas malasan dan semakin nglunjak saja.
"Jangan lagi mendebat, Amira.
Atau aku akan menceraikan kamu!" sambung Boni dengan rahang mengeras penuh dengan amarah, Amira langsung shock mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan suaminya.
Boni tak lagi bisa dikendalikan.
Arumi harus mencari cara untuk menaklukkan hati suaminya kembali.
"Aah sialan!
Mas Boni sepertinya sudah tidak bisa lagi aku manfaatkan. Bagaimana kalau dia mengusir orang tuaku. Aku harus melakukan sesuatu." batin Amira dan pergi menemui kedua orang tuanya yang ada di kamar lantai bawah.
"Ada apa Amira?
__ADS_1
Kenapa wajahmu terlihat cemas begitu?
Ada masalah dengan suami kamu?" sambut Bu Rianti dengan mengerutkan wajahnya.
"Iya, dan ini akan mengancam posisi kita.
Mas Boni mulai kesal dengan kita, ma!
Mas Boni sudah tidak lagi mau menyerahkan keuangan padaku.
Dia cuma memberikan sepuluh juta untuk jatahku sebulan. Untuk pegangan mama hanya dua juta.
Dan untuk kak Renaldi, Mas Boni tidak mau perduli.
Aah bagaimana ini?" sahut Amira dengan perasaan kesal dan juga cemas bercampur jadi satu.
"Kenapa bisa seperti itu?
Apa dia baru saja bertemu dengan keluarganya dan mereka memengaruhi suami kamu?" balas pak Doni dengan wajah masam, tak suka mendengar kabar dari anak perempuannya.
"Keadaan perusahaan mas Boni sedang tidak stabil, makanya dia uring uringan. Aku tidak bisa membantah ucapannya, karena dia mengancam akan menceraikan aku." sahut Amira dengan bibir mengerucut, membuat papa dan mamanya langsung ternganga tak percaya.
"Terus kita harus bagaimana ini, pa?" Amira melihat ke arah papanya yang tengah berpikir mencari cara untuk membuat anak menantunya tak lagi membantah dan mudah di setir.
"Untuk sementara kita ikuti saja aturan suami kamu.
Sambil kita cari cara untuk kembali mengambil hatinya, dan kita harus buat rumah ini atas nama kamu. Sebelum dia benar benar menceraikan kamu, Ra!
Dan kamu harus pandai mengambil hatinya lagi.
Jadilah istri penurut dan jangan bantah apapun keinginan suami kamu. Bersabarlah sedikit untuk hasil yang banyak. Kamu paham kan maksud papa?" Pak Dono menyeringai dengan senyuman licik tersungging di bibirnya yang menghitam karena banyak merokok.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️