
"Bunda juga mau ikut menutupi kecurangan ayah dan Geri dariku?
Aku tidak terima bund, aku ingin meminta apa yang harusnya menjadi hakku juga, kalau memang benar aku ini anak kandung kalian.
Berikan bagianku juga, karena aku anak laki laki pertama, harusnya mendapatkan bagian yang lebih banyak dari Geri dan Anita." ucap Boni tanpa memikirkan perasaan ibunya, Boni yang sudah dikuasai amarah dan benci, membuatnya tak lagi bisa menghormati ibunya.
Bu dini menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya secara kasar.
Hatinya terluka dengan sikap anak kesayangannya, kedua orang tuanya masih sehat tapi Boni sudah meributkan warisan.
"Ayah sama bunda tidak pernah pilih kasih pada anak anak kami.
Sekali lagi bunta tegaskan, kalau ayah maupun bunda, tidak ada sedikitpun membantu urusan modal pada Geri.
Geri dan Ridho, mereka berjuang berdua membesarkan usahanya.
Tolong jaga sikap kamu Boni, jangan bersikap melebihi batasan kamu!" sahut Bu Dini tegas dengan menahan rasa sesak di dalam dadanya.
"Sudahlah, Boni tidak akan percaya dengan ucapan semua orang dirumah ini. Kalian kompak membohongiku. Aku gak mau tau ya, bund!
Berikan bagianku sekarang, karena aku butuh modal untuk mengembangkan usahaku.
Besok aku akan kesini lagi, dan bicara dengan ayah!
Permisi!" tanpa mau menunggu jawaban dari ibunya, Boni melenggang pergi begitu saja. Ketamakan dan hasutan sang istri sudah membuatnya tak bisa berpikir dengan akal sehatnya.
"Ada apa dengan Boni?
Kenapa dia jadi kasar seperti itu, tak lagi menghargai ku.
Mas Wardoyo harus tau semua ini, sebelum Boni membuat keributan." lirih Bu Dini yang memijat pelipisnya, kepalanya terasa pusing memikirkan kelakuan anak sulungnya.
"Asalamualaikum!" terdengar suara salam dari pak Wardoyo dan langkah kakinya terdengar memasuki rumah.
Bu Dini langsung mengusap wajahnya dari jejak air mata. Namun suaminya terlanjur melihat mata sembab dan wajah sedih sang istri.
Dengan wajah mengernyit, pak Wardoyo menatap lekat pada Bu Dini yang tengah berusaha tersenyum.
"Ada apa bund?
__ADS_1
Kamu baik baik saja kan?
Kenapa kamu menangis?" serentetan pertanyaan yang terlontar di bibir pak Wardoyo terdengar perih di dalam hati Bu Dini, teringat dengan kata kata yang sudah Boni lontarkan dan sikapnya yang telah berubah, tak lagi menghormati orang tuanya.
"Nanti saja bunda cerita, sekarang mas bersih bersih dulu dan makan, biar aku siapkan." tanpa ada satupun pertanyaan pak Wardoyo yang di jawab, Bu Dini berusaha mengalihkan perhatian suaminya. Tak tega jika harus bicara saat suaminya baru pulang kerja dan terlihat lelah, apa lagi dalam keadaan perut lapar.
"Katakan bund, ada masalah apa sampai kamu sedih kayak tadi?" tanya pak Wardoyo saat usia menyelesaikan acara makannya.
"Kita bicara di dalam kamar saja. Gak enak kalau sampai di dengar orang lain." Bu Dini langsung berdiri dan menuju ke dalam kamarnya yang di ikuti oleh pak Wardoyo dengan pikiran yang semakin penasaran.
Bu Dini menghembuskan nafasnya dalam, wajahnya terlihat sendu menatap ragu pada sang Suami. Bingung harus memulai dari mana untuk mengatakan kelakuan anak bungsunya yang menuntut harta saat ayahnya masih terlihat bugar dan baik baik saja.
"Mas!" lirih Bu Dini dengan mata yang sudah berkaca kaca, bibirnya bergetar dan tetesan bening pun mulai berjatuhan membasahi pipinya.
"Ada apa bund?
Jangan bikin aku bingung dan kalut begini, katakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu sesedih ini?" tanya pak Wardoyo panik, melihat istrinya yang tergugu.
"Boni!" lirih Bu Dini yang masih belum bisa menggerakkan bibirnya untuk bercerita yang sesungguhnya.
"Boni?
Apa dia bikin ulah lagi?" tebak pak Wardoyo dingin, selama ini, hanya Boni yang selalu bikin keributan dengan sikap keras kepalanya. Namun meskipun demikian, pak Wardoyo tetap perduli dan menyayangi Boni seperti anak anaknya yang lain, sikap dingin dan kakunya hanyalah untuk di luarnya saja, hati tetap sayang dan mengasihi.
"Boni menuntut haknya sebagai pewaris keluarga ini. Dia menganggap kesuksesan Geri karena adanya campur tanganmu. Modal yang Geri gunakan untuk mengembangkan usahanya, semua itu dikira dari pemberianmu, mas!
Dan Boni cemburu, dia menuntut agar kamu juga membantunya sama seperti kamu membantu Geri.
Aku sudah jelaskan, jika Geri tidak menerima apapun darimu, dia berusaha sendiri dengan Ridho.
Tapi Boni tetap tidak percaya dan tidak perduli.
Aku kecewa, aku sedih sekali dengan sikapnya ini." jelas Bu Dini yang masih saja terisak bersama sesak yang menghujam dadanya.
Pak Wardoyo diam menyimak penuturan sang istri dengan dada berdebar, amarah menyelimuti hatinya. Namun berusaha tetap bersikap tenang.
"Katakan sama Boni malam ini juga untuk datang kerumah, dan telpon Geri untuk pulang kerumah sebelum magrib, begitupun dengan Anita. Sebelum magrib harus ada dirumah. Aku ingin bicara dengan mereka semua." pak Wardoyo menatap kosong dan memasang wajah dingin. Tak menyangka jika anak sulungnya bisa bersikap melewati batas. Namun pak Wardoyo akan bersikap tegas dan adil di hadapan semua anak anaknya.
"Apa yang akan kamu lakukan, mas?
__ADS_1
Jangan buat aku takut!" lirih Bu Dini cemas, menatap suaminya dengan pandangan menyelidik.
"Kamu tenang saja, aku akan berikan yang terbaik buat anak anak kita.
Lakukan saja apa yang aku katakan tadi." sahut pak Wardoyo datar.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1