Karena Warisan, Anakku Mati Di Tanganku

Karena Warisan, Anakku Mati Di Tanganku
episode 17


__ADS_3

"Kenapa aku selalu tidak bisa marah saat melihat Amira menangis. Hatiku selalu luluh dengan wajah sedihnya.


Begitu sayang kah diri ini pada Amira, sehingga bibirku Kelu saat ingin mengungkapkan kekecewaan padanya?


Tuhan, bantu aku untuk memperbaiki semua ini. Semoga, kedua orang tua Amira tak lagi merusuhi rumah tanggaku. Jujur aku lelah.


Belum lagi, aku masih belum bisa mengembalikan uang ayahku. Meskipun ayah dan bunda bilang tak perlu di kembalikan, tapi sebagai pria dewasa, aku malu dan harus bisa mengembalikan uang mereka. " gumam Boni dalam lamunannya menatap langit sore yang terlihat mendung dari jendela kamarnya.


"Mas!" Amira sudah ada di belakang Boni dan menyentuh pundaknya dengan lembut.


"Maafkan Mira dan orang tua Mira, maaf kalau kami menyusahkan mu!" Isak Amira dengan menyenderkan kepalanya di punggung suaminya.


Boni memejamkan matanya, tak kuasa melihat kesedihan sang istri.


"Sudahlah, kita anggap masalah nya selesai.


Tapi mas mohon, kasih pengertian sama papa, agar bulan depan harus membayar tagihannya sendiri. Aku gak mau kehilangan rumah ini.


Kamu tau sendirikan, seperti apa perjuanganku untuk bisa memiliki rumah ini.


Aku ingin anak dan istriku tetap baik baik saja dan kita bahagia bersama tinggal di rumah ini. Aku berharap kamu bisa mengerti, Ra!" lirih Boni yang sudah mengubah posisinya menghadap ke arah istrinya, Boni meraih tubuh Amira dalam dekapannya.


"Iya, mas!


Aku akan bicara sama papa besok.


Besok mas Boni, bisa kan antar aku ke dokter? waktunya memeriksakan si Dede!" balas Amira begitu lembut sambil menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya. Karena Boni selalu luluh dan hasratnya terpancing bila Amira bersikap manja padanya.


"Iya sayang, besok mas antar." sahut Boni dan mulai mengecup pucuk kepala istrinya dengan hasrat yang mulai muncul.


Akhirnya keduanya larut dalam gelora panas yang membuat lupa dengan masalah yang sempat datang.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Setelah lulus kuliah, Geri fokus dengan usaha bengkelnya yang semakin berkembang pesat. Bahkan Geri sudah bisa membeli tanah sendiri untuk membuka usahanya.


Hari harinya sibuk untuk bekerja dan bekerja. Bagi Geri jodoh adalah takdir, kalau sudah bertemu pasti akan menikah. Lagi pula usianya juga masih muda, ingin sukses dulu baru membina rumah tangga.


"Ger, kemarin pas aku jalan sama Vina, aku seperti melihat kakak ipar kamu dengan laki laki lain di mall. Apa dia punya saudara laki laki?


Karena yang kemarin bersamanya bukan Abang kamu." Ridho menghampiri Boni yang sedang memeriksa pembukuan. Dan menyerahkan ponselnya untuk dilihatkan pada Geri.


"Kemarin aku sempat memotret mereka. Coba kamu lihat, takutnya aku salah menduga!"


"Mbak Mira memang punya kakak laki laki, tapi bukan pria yang di foto ini. Kamu lihat mereka di mall mana, Dho?"


"Mall Permata city.


Ya itu, mereka kelihatan mesra sekali. Coba kamu buka, aku juga sempat memidiokan juga."


Boni langsung menggeser layar dan membuka Vidio yang berdurasi tiga puluh detik itu, terlihat jelas Amira tengah bergelayut manja di lengan pria yang memiliki wajah seperti bule, bahkan sesekali pria itu mencium rambut Amira dengan mesra. Boni mengepalkan tangannya, apa yang dia duga selama ini tentang Amira dan keluarganya ternyata benar. Amira hanya memanfaatkan kakaknya saja.


"Kirim, ke nomorku, Dho!


"Ya tinggal kamu kirim sajalah langsung. Kayak sama siapa saja kamu ini!" sahut Ridho santai dan mulai menduduki kursi kerjanya, tak lagi banyak bertanya dan ikut campur. Karena Geri bukan orang yang suka mengumbar masalahnya. Dan Ridho sudah hafal dengan sifat Geri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Asalamualaikum." Geri memasuki rumah dengan wajah lesu. Membuat Bu Dini merasa penasaran dengan anak keduanya, karena Geri selalu terlihat ceria dan rame kalau sudah dirumah.


"Sudah pulang, nak?


Kok lesu gitu, ada masalah?" sambut Bu Dini setelah menjawab salam.


"Gak ada bund!


Geri cuma capek saja, tadi bengkel ramai banget." sahut Boni mencari alasan, tidak mau bundanya sedih dan ikut kepikiran kalau tau kelakuan menantunya itu.

__ADS_1


"Yasudah, sana mandi dan sholat dulu.


Bunda mau nyiapin makanan dulu." balas Bu Dini lembut namun tetap menelisik wajah putranya, perasaan seorang ibu tidak pernah bisa untuk di bohongi.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2