
Boni mengepalkan kedua tangannya, tak habis pikir kalau wanita yang dia cinta telah tega menusuknya dari belakang demi kenyamanan keluarganya, tanpa perduli susahnya sang suami.
"Kamu keterlaluan Mira!
Aku menyesal sudah memaafkan kamu!" lirih Boni dengan wajah mengeras menahan emosi yang ingin meletup.
Pukul empat sore, Amira pulang dari rumah orang tuanya, senyumnya merekah saat melihat suaminya tengah melakukan olah raga ringan di halaman depan rumah.
"Asalamualaikum, mas!" sapa Amira dengan senyuman manis dan mengulurkan tangannya, lalu menyalimi tangan suaminya dan diciumnya.
"Waalaikumsallm, kebetulan kamu pulang.
Masuklah aku ingin bicara denganmu!" titah Boni dingin dan melangkah lebih dulu menuju ke dalam rumahnya.
Amira mengerutkan wajahnya, perasaannya langsung merasa tak enak dengan perubahan sikap suaminya.
"Ada apa, Mas?
Sepertinya kamu mau bicara sangat penting, apa ada masalah?" tanya Amira membuka obrolan, setelah mereka sama sama duduk di sofa yang ada diruang tamu.
"Aku kecewa sama kamu, Mira!
Kenapa kamu bisa melakukan sesuatu yang bisa menyulitkan diriku, sebenarnya maksud kamu menikah denganku itu apa?
Jawab dengan jujur!
Sudah cukup kamu mempermainkan hidupku." suara Bims terdengar dingin dan menusuk, aura kemarahan terlihat jelas dari rahangnya yang sudah mengeras.
"Maksud kamu apa sih, mas?
Aku gak paham loh, ada apa sebenarnya?" Amira masih belum mengerti maksud perkataan Boni.
Karena selama ini, Amira telah berpikir, kalau sertifikat yang orang tuanya gadaikan sudah di bayar setiap bulan oleh papanya.
"Kenapa sertifikat rumahku bisa ada di bank?
Dan kalian menggadaikan sertifikat itu tanpa bertanya dulu padaku!
__ADS_1
Kenapa kalian bisa selancang ini, hah?
Itu milikku, kenapa kalian tidak punya malu sama sekali?" teriak Boni yang sudah habis kesabarannya. Mata Amira membola, jantungnya berdegup kencang, tak menyangka jika orang tuanya bisa seceroboh itu, sehingga membuat Boni murka!
"Mas! a-ku!" Amira gemetar dengan wajah tertunduk, tak berani banyak bicara karena takut Boni makin murka dan tak lagi memberinya uang.
"Katakan Amira!
Apa tujuan kamu menikah denganku, hah?
Hartaku?
Cinta?
Atau kamu hanya ingin memanfaatkan cintaku sama kamu?
Aaaaargh." Boni meremas rambutnya kasar, dadanya sesak dengan kenyataan yang ada. Wanita yang dia cintai setulus hati, ternyata hanya ingin memanfaatkan dirinya saja.
"Mas, aku mencintai kamu. Percayalah!
Soal sertifikat itu, memang aku yang mengambilnya. Waktu itu pikiranku buntu, karena kamu marah dan tidak pulang berhari hari.
Itulah kenapa aku mengambil sertifikat rumah ini tanpa ijin mu.
Dengan menggadaikan sertifikat itu, uangnya bisa buat ngontrak rumah dan modal usaha papa. Aku juga berpikir papa akan bisa membayar cicilan di bank tiap bulannya. Hanya itu!" Amira terisak, wajahnya terlihat begitu sendu. Membuat Boni tak tega untuk memarahinya lagi. Cintanya yang begitu besar pada Amira, membuat Boni melupakan semua kesalahan istrinya.
"Maaf, kalau aku harus marah marah seperti ini sama kamu.
Aku hanya kecewa dengan kalian.
Lalu bagaimana tagihan dari bank, pihak bank datang kerumah, karena sudah tiga bulan tagihan tidak di bayar." lirih Boni sambil mengusap wajahnya kasar. Tak ingin menyalahkan istrinya, karena niat istrinya baik, ingin orang tuanya mandiri. Itulah yang ada di pikiran Boni. Tania Boni sadari, itu adalah salah satu trik licik Amira untuk melemahkan hatinya, agar Boni tetap simpati dan menilainya menjadi anak dan istri yang baik.
"Aku gak tau mas!
Apa aku bayar dengan uang pemberian kamu saja, karena papa mungkin belum ada uang. Usahanya baru saja berjalan dan belum ramai pembeli. Papa membuka toko sembako kecil kecilan." balas Amira sendu, matanya terus meneteskan air mata buayanya.
"Simpan saja yang kamu, itu hak kamu.
__ADS_1
Biar aku yang bayar. Tapi bilang sama papa, bulan depan aku gak mau tau, dia harus bisa membayar tagihannya." Setelah berkata demikian, Boni pergi meninggalkan Amira, dan terlihat Amira langsung tersenyum licik, karena bisa meluluhkan hati Boni untuk kesekian kalinya.
"Kamu itu terlalu baik, dan naif, mas!
Tapi dengan sikap kamu yang begitu, membuatku diuntungkan. Kamu tenang saja, Mas Boni tersayang, aku akan jadi istri yang baik dan nurut kok, sampai kamu benar benar menuruti semua ucapanku nantinya. Dan sedikit demi sedikit aku akan mendapatkan harta milikmu." seringai licik tercetak di wajah Amira, pikiran dan rencana jahatnya sudah menari nari di otak perempuan yang memiliki rambut gelombang berwana kecoklatan.
"Kenapa aku selalu tidak bisa marah saat melihat Amira menangis. Hatiku selalu luluh dengan wajah sedihnya.
Begitu sayang kah diri ini pada Amira, sehingga bibirku Kelu saat ingin mengungkapkan kekecewaan padanya. Tuhan, bantu aku untuk memperbaiki semua ini. Semoga, kedua orang tua Amira tak lagi merusuhi rumah tanggaku. Jujur aku lelah. Belum lagi, aku masih belum bisa mengembalikan uang ayahku. Meskipun ayah dan bunda bilang tak perlu di kembalikan, tapi sebagai pria dewasa, aku malu dan harus bisa mengembalikan uang mereka. " gumam Boni dalam lamunannya menatap langit sore yang terlihat mendung dari jendela kamarnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️