
Setelah Diana pergi meninggalkan rumahku, aku berlalu masuk ke kamar. Dada ini terasa sesak, mata ini sudah panas seakan ada yang mendesak untuk mengalir dari kedua belah bola mata ini. Sakit rasanya aku dituduh pelakor, menghalangi Candra untuk memberi uang belanja pada Kaynara. Aku juga punya mantan suami tapi aku tidak pernah menuntut apapun kepadanya, kalau dikirim untuk anaknya aku syukuri kalau tidak ada sama sekali berkirim aku tetap berusaha kerja untuk anak - anakku.
Kurang apa kehidupannya lagi, anak hanya satu semua kebutuhan Kaynara ditanggung Candra termasuk kebutuhan Diana yang merupakan mantan istri juga ditanggungnya karena Diana tidak bekerja.
Selama ini aku tidak komplain karena Candra lebih fokus pada anaknya dan Diana. Tanggungan Candra terhadapku hanya belanja dapur dan itu aku juga harus memutar otak untuk mencukupinya dan selalu kekurangan.
Selama satu tahun ini aku tidak pernah mengeluh karena aku tidak ingin rumah tanggaku hancur untuk kedua kalinya. Diana dan keluarga Candra melihat ku baik - baik saja tidak pernah mengeluh mereka menyangka semua uang Candra aku yang pegang seperti waktu Candra berumah tangga dengan Diana. Tidak sekali dua kali adik - adik Candra meminta uang padaku. Aku beri dengan ikhlas tapi akhir - akhir mereka sudah keterlaluan terutama Lusi.
Lusi, apapun barang - barang ku yang dia suka dengan seenaknya dia mengambil seolah itu semua pembelian Udanya padahal tidak satupun aku dibelikan oleh Candra.
Ternyata diamku malah mereka semakin menjadi, kalian belum tau aku kalau sudah marah bagaimana. Aku sudah tidak peduli dengan cinta, cinta hanya membuat aku seperti orang bodoh. Aku sudah tidak peduli kalau harus jadi janda lagi. Biarlah aku hidup sendiri menikmati hari tua daripada aku harus pusing menghadapi keluarga suami yang toxic, mantan istri yang matre dan selalu mengganggu. Mereka bagaikan monster yang menyerang kehidupanku.
Air mata ini sulit untuk dihentikan, penyesalan terus menari - nari dalam pikiranku. Andai aku tidak terlena dengan kebaikan Candra, tidak bodoh karena cinta, tegas menolak Candra tentu semua ini tidak akan terjadi. Aku benci kamu Candra, kamu yang bawa aku kedalam kehidupanmu yang menjanjikan aku harapan, yang membawa aku dari keterpurukan, yang menjadikan aku tulang rusukmu tapi sekarang malah aku jadi tulang punggung.
"Dimana janji manis kamu dulu, janji yang membuat aku terbuai!"
"Aku mau kamu yang dulu, kamu yang memberikan aku semangat hidup, menemani aku dalam keterpurukan".
"Sekarang kamu hanya memikirkan anak dan mantan istrimu, aku seperti tidak ada dalam hidupmu."
"Permintaan mantan istrimu yang sudah kelewat batas, kebohongan yang diciptakannya dengan memanfaatkan Kaynara, tapi kamu tidak pernah sadar kalau kamu sudah dibohongi dan dibodohi mantan istri kamu!". Gumamku dalam batin karena sudah penuh rasanya dihati ini.
Menguras air mata ternyata juga menguras tenaga, itu yang aku rasakan tanpa sadar aku sudah tertidur tanpa ku tahu Candra sudah pulang semenjak aku menangis dan berkata - kata sendiri dalam kamar.
*****
"Ma, bangun sayang!"
"Magrib Ma, sholat dulu!" Bang Candra membangunkanku dengan lembut seperti biasa dia mencium keningku dan menggoyang - goyang bahuku perlahan.
__ADS_1
"Mmm ...... !" lirihku.
"Udah jam berapa pa? tanyaku sambil mengumpulkan kesadaranku."
"Sudah jam tujuh kurang sepuluh."
"Sholat dulu nanti keburu habis waktu maghribnya!" Suruh Candra dan membantuku untuk berdiri. Perlakuannya yang lembut ini yang selalu membuat aku dilema untuk meninggalkannya. Candra tidak pernah melakukan ku dengan kasar, dalam kondisi marah pun dia masih bisa berkata lembut padaku. Perlakuannya itu yang membuat aku jatuh cinta tidak bisa move on dari dirinya.
*****
"Pa, Mama belum masak gara - gara ketiduran tadi!" keluhku pada Candra. Gara - gara kedatangan Diana tadi membuat mood ku hancur, aku lelah mengeluarkan air mata sehingga tanpa sadar aku sudah tertidur.
Andai saja Candra tidak pulang dan membangunkanku tentu aku akan ketiduran sampai pagi. Ternyata sedih itu menguras air mata dan melelahkan. Otakku juga lelah berpikir dalam menghadapi masalah keluarga ini, aku lelah menjalani semua derita ini.
"Kita makan diluar saja ya sayang, lagian kita hanya berdua ngapain juga mama harus repot - repot masak!" Candra mengingatkan kalau hari ini kita hanya berdua dirumah. Aku sampai lupa kalau Aqila liburan semester kali ini bersama Ayahnya menghabiskan liburannya.
"Mama beres - beres dulu biar gak kelihatan habis nangisnya!" suruh Candra dengan tatapan iba.
"Pa.... Papa tau Mama menangis? Tau penyebabnya? Tanyaku dengan tatapan penuh tanya.
"Ya Lapa tau, Diana tadi kesini karena itu Mama menangis." Candra memelukku memberikan kekuatan padaku.
"Semua salah Papa, Papa janji memperbaikinya."
"Jangan pernah tinggalkan Papa!"
"Jangan pernah minta cerai dari Papa!"
"Jangan pernah menggugat cerai Papa!"
__ADS_1
"Papa nggak sanggup hidup tanpa Mama, susah payah papa mendapatkan Mama."
"Papa janji memperbaiki semuanya!"
"Papa nggak akan menyiakan Mama!"
Dalam pelukan Candra tangisku pecah, aku dilema untuk mengambil keputusan disaat seperti ini. Disatu sisi aku lelah menjalankan rumah tangga dengan suami yang memiliki mantan istri yang toxic. Aku ingin lepas dari mereka semua, dari mantan dan keluarga suami yang toxic. Disisi lain hati ini sangat mencintai Candra cinta pertama yang masih subur sampai saat ini.
"Ma ... Ma.. !" Panggil Candra mengurai pelukannya.
"Iya Pa !" Jawabku dengan terkejut karena pikiran sudah jauh berkelana walaupun badanku masih dalam pelukan Candra.
"Kapan pergi makannya nih kalau masih adegan tangis - tangisan ini?"
"Papa lapar Ma !" rengek Candra dengan manja padaku.
"Ok, Mama beres - beres sebentar dulu ya!"
"Mama maunya nantinya kita makan seafood ya Pa!" pintaku padaku Candra.
"Iya tapi nggak boleh makan udang ya!" Peringatan Candra padaku.
Candra paling tau makanan apa yang boleh dan yang tidak boleh aku makan. Aku pecinta seafood tapi aku bermasalah dengan udang. Hewan laut yang satu ini termasuk makan favoritku tapi kulit ini tidak bisa diajak kompromi dengan udang. Kalau aku paksakan makan udang sudah pasti aku harus ke Dokter karena badan ini akan gatal - gatal dan merah - merah, kalau dibiarkan bisa membengkak.
Seingatku alergi udang ini waktu semester 2 kuliah di Universitas Negeri di Kota ini. Waktu aku makan udang di kafe fakultas dan sesampai di kos aku gatal - gatal dan badan ini semuanya memerah. Akhirnya aku harus pulang kampung untuk berobat karena sudah nggak tahan dengan wajah yang sudah tidak berbentuk.
Jika mengingat semua itu aku jadi senyum - senyum sendiri karena tidak bisa menahan keinginan untuk makan udang yang pada akhirnya membuat alergi di sekujur tubuh. Semoga kejadian itu tidak terulang lagi.
Bersambung .....
__ADS_1