KARMA IPAR MULUT BERBISA

KARMA IPAR MULUT BERBISA
Part 9. Pertengkaran


__ADS_3

"Banyak pesanan ya Pa?"


"Alhamdulillah Ma, rezekinya Kaynara Ma!"


"Maksud Papa?"


"Diana tadi nelpon katanya Kaynara butuh laptop yang harganya Dua Puluh Juta!" jawab Candra.


"Laptop seharga Dua Puluh Juta untuk anak Sekolah Dasar gak logika Pa!" jelasku pada Candra.


"Maksud Mama?" tanya Candra dengan heran.


"Pa, maaf ya, Mama bukan mau ikut campur, ini sudah nggak wajar permintaan Diana, semua dikaitkan dengan Kaynara, harusnya Papa bisa bertanya gunanya untuk apa?"


"Satu minggu belakang barusan Papa ngasih uang Lima Puluh Juta untuk beli motor, nah sekarang laptop seharga Dua Puluh Juta!"


"Mama bukan iri ya Pa tapi coba Papa pikir semua keinginan Diana Papa turuti dengan embel permintaan Kaynara, sedangkan Mama harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan mama dan anak - anak!"


"Jadi mama tidak terima Papa berusaha memenuhi keinginan Kaynara?"


"Pa, bukan Mama tidak terima tapi perlakuan Papa tidak adil, kalau begini untuk kebutuhan mama dan anak - anak harus mama sendiri banting tulang!"


"Selama satu tahun ini Mama diam melihat perlakuan tidak adil papa!"


"Kalau begini cara Papa, apa bedanya Papa dengan mantan suami Mama, jika Mama harus banting tulang untuk apa Mama punya suami!"


"Lebih baik Nama jadi janda dari pada punya suami tapi suami hanya sibuk mengurus mantan istrinya!"


"Ma, jangan keterlaluan ngomongnya!"


"Yang keterlaluan itu perlakuan Papa ke Mama!"


"Apa pernah Papa memberi Mama uang belanja selain uang dapur?"


"Apa Papa tau kebutuhan Mama apa?"


"Jangankan untuk membantu biaya Alfa dan Aqila, untuk kebutuhan Mama saja tidak pernah Papa penuhi!"


"Ma, maafkan Papa, kalau Papa ada rezeki papa janji memberi Mama uang belanja."


"Kapaaan Pa......? Uang Papa, penghasilan Papa Delapan Puluh Lima Persen untuk Diana dengan embel - embel kebutuhan Kaynara!"


"Kalau Papa tidak bisa berubah silahkan Papa kembali ke mantan istri Papa dan silahkan Papa tinggalkan Mama!"


"Ma, jangan pernah mengatakan perpisahan, susah payah Papa mendapatkan Mama, banyak perjuangan untuk kita bisa bersatu."


"Untuk bisa bersatu memang penuh perjuangan tapi setelah bersatu Mama Papa sia - siakan!"

__ADS_1


Tangisku sudah tidak terbendung lagi, aku pergi ke kamar ku tinggalkan Candra di ruang tengah.


Dadaku terasa sesak menahan semua ini, selama satu tahun pernikahan, ku tahan rasa kecewa atas ketidak adilan Candra.


Aku sudah pasrah kalau harus menjadi janda kembali, biarlah hidup tanpa suami dari pada punya suami tapi perlakukan tidak adil, suami telah diperbudak oleh mantan istrinya.


*******


"Ma, masih marah sama Papa ya?


"Maaf Papa ya Ma, ternyata Mama benar, tadi Papa menemui Guru Kelas Kaynara dan Papa tanyakan tentang pembelian Laptop seharga Dua Puluh Juta tersebut."


"Guru kelas Kaynara juga terkejut karena tidak ada pihak sekolah menyuruh siswanya untuk beli laptop, semua akal - akalan Diana."


"Kaynara dimanfaatkan oleh Diana, selama Papa dibohongi, motor yang dibeli pun hanya motor seharga Tiga Puluh Juta tapi Diana minta uang sebanyak Lima Puluh Juta."


"Ma, maafkan Papa ya!"


"Untuk apa minta maaf?"


"Bagi Papa kalau Mama ini hanya orang lain yang tidak berhak memperoleh apapun  dari Papa!"


"Jerih payah Papa hanya untuk anak dan mantan istri Papa, kalau Mama sudah terbiasa banting tulang terlebih dahulu untuk memenuhi kehidupan hidup Mama."


"Mama sudah terbiasa menjadi tulang punggung, jadi Papa tidak perlu cemas!"


"Ma, Papa tidak akan meninggalkan Mama, Papa janji akan berubah Ma."


"Nasi sudah menjadi bubur Pa, sudah terlambat, hati Mama sudah papa lukai!"


"Mama sudah kecewa sama Papa!"


*****


Seminggu kemudian


"Yohana, maksud kamu apa mempengaruhi Candra untuk mengurangi jatah belanja Kaynara?" Tiba - tiba Diana datang kerumahku dan langsung marah - marah.


"Datang bertamu kerumah orang itu ada etikanya ya!" Jawabku dengan malas melihat Diana.


"Gak usah sok deh pelakor, kamu sudah mendapatkan Candra jadi jangan kamu halangi juga Candra membiayai anaknya!"


"Aku tau kamu yang melarang Candra untuk membelikan Kaynara Laptop!"


"Hei Diana kamu datang kerumah ini, kamu tau persis ini rumahku bukan rumah Candra mantan suami kamu itu!"


"Kamu berada dirumah aku jadi jangan seenak kamu bicara, aku tidak perlu mengemis dan menjadi pembohong sepertimu untuk memenuhi kebutuhan hidupku!"

__ADS_1


"Kamu mau ambil semua uang Candra dan orangnya sekalipun  silahkan, aku sudah tidak peduli!" ucapku dengan emosi.


"Wah ..... Wah ..... Yakin nih melepas suami hasil rebutan??"


"Bukannya kamu cinta mati dengan Candra sampai merebut Candra dari ku, sudah sadar ya kalau Candra cintanya sama aku, Diana!" Ejek Diana memancing emosiku.


"Tanpa Candra aku bisa hidup, ada atau tidak ada Candra dalam hidupku tidak memberi arti apapun!"


"Tidak seperti kamu Diana, sudah cerai tapi masih rakus menguras harta mantan suami dengan memanfaatkan anak!"


"Kasihan Kaynara dimanfaatkan oleh Mamanya untuk memenuhi gaya hedon Mamanya!"


"Kalau nggak mampu jangan hidup sok sosialita sehingga tega memanfaatkan anak kandung sendiri!" balasku karena aku tidak terima Diana menekanku.


"Diam kamu!! jangan sok menasehatiku, pelakor seperti kamu tidak pantas menasehatiku!"


"Aku juga ogah menasehatimu, hanya buang - buang waktu aku aja."


"Memangnya kamu yang tidak ada kerjaan sehingga kerjaan cuman morotin uang mantan suami!" sahutku tidak mau kalah membalas Diana yang menyebalkan.


"Jangan bangga dulu kamu! aku pastikan kamu akan diceraikan Candra dan menjadi janda kembali!" Jawabnya sambil mencebik padaku.


"Kamu nggak usah repot - repot Diana, kalau Candra tidak menceraikan aku biar aku yang menggugatnya ke Pengadilan Agama."


"Sekarang urusan kamu sudah tidak ada lagi disini, silahkan pergi dari rumahku!" Aku mengusir Diana supaya pergi dari rumah ini.


"Berani kamu ya mengusirku, awas kamu aku adukan pada Candra perlakuan kamu ini!" Ancam Diana padaku.


"Dengan senang hati Diana, silahkan kamu adukan semuanya pada Candra!"


"Kamu kira aku takut kalau kamu mengadu padanya, kamu belum tau aku Diana, hidup aku tidak bergantung pada Candra mantan suami kami itu jadi untuk apa aku harus takut."


"Aku bukan kamu yang hanya bergantung pada laki - laki, dari ujung rambut sampai ujung kuku kamu semua dibiayai oleh Candra, jadi jangan kamu samakan aku dengan dirimu Diana!"


"Sekali lagi aku tegaskan jangan samakan diriku dengan dirimu Diana!" ucapku menegaskan kepada Diana kalau aku bukan seperti dia yang bergantung pada laki - laki.


"Dasar kamu.......!" Teriak Diana sambil mengangkat tangan untuk menamparku.


"Kamu mau menamparku?"


"Jangan keterlaluan kamu samo aku ya Diana!"


"Sekarang kamu pergi dari rumah ku, jangan pernah kamu injakkan kaki kamu ke rumah ini lagi!"


"Pergi........ Pergi sekarang!" teriak ku dengan emosi karena Diana berani - beraninya mau menamparku.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2