
"Sudah siap Ma?" Tanya Aqila yang sudah berdandan rapi menghampiriku.
"Sedikit lagi ya sayang!" Jawabku dengan senyum mengembang melihat Aqila.
"Papa sudah siap sayang?" Tanyaku pada Aqila sambil merapikan jilbabku.
"Papa sudah menunggu di teras!" Jawab Aqila yang kemudian keluar dari kamarku.
Aqila sepertinya sudah tidak sabar bertemu dengan Alfa. Semejak Alfa mondok di Pesantren membuat hari - hari Aqila sepi karena tidak ada yang suka usil kepadanya. Alfa sisulung yang suka usil kepada adiknya tapi dia sangat menyayangi adiknya. Sebagai kakak laki - laki yang memiliki adik perempuan, Alfa paham kalau kedepannya dia memiliki tanggung jawab yang besar terhadap adiknya. Tanggung jawab yang ditanggung Alfa tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Kehidupan di dunia tentunya Alfa bertanggung jawab mencukupi kebutuhan adiknya sampai adiknya menikah, sedangkan tanggung jawab di akhirat membimbing adiknya untuk selalu di jalan Allah dan bersama - sama meraih surgaNYA Allah.
Aku bersyukur memiliki anak - anak yang pengertian, anak sholeh dan sholeha yang taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tua. Alhamdulillah Ya Allah atas semua karunia MU kepada hambaMU ini.
"Yuk kita berangkat!" Ajakku pada Candra dan Aqila yang sedang main hp.
"Ayuk Ma!" Sahut Candra dan Aqila kompak dengan langsung berdiri.
"Anak dan Papa sambung ini memang kompak seperti anak dan Papa kandung saja. Semoga Alfa dan Aqila tidak kekurangan kasih sayang dari keluarga." gumamku dalam batin .
"Bismillah! kita berangkat ya!" Ucap Candra yang disertai dengan menekan gas mobil.
"Kita lewat Danau ya Pa!" Pinta Aqila pada Candra Papa sambungnya yang dibalas anggukan kepala oleh Candra.
"Makasih Papa!" Ujar Aqila dengan gembiranya.
"Senang banget anak Papa lewat Danau! ada sesuatu sepertinya nih?" Bisik Candra pada Aqila.
Berbisik tapi masih kedengaran oleh kuping ku ini walaupun aku duduk dibelakang. Aqila kalau berpergian suka duduk dibangku depan alasannya supaya bebas melihat pemandangan dan melihat lalu lintas dijalan raya.
"Banyak kenangan di Danau itu Pa, nanti Aqila tukar saja namanya jadi Danau Kenangan ya Pa!" Ujar Aqila pada Papanya.
"Boleh, mulai sekarang kita sebut danaunya Danau Kenangan! Ok!" kelakar Candra pada Aqila.
"Kenangan Aqila banyak di Danau itu Pa, kenangan bersama Papa Yudi."
"Aqila pernah dirayakan Ulang Tahun ke 2 oleh Papa Yudi di Danau itu." Ungkap Aqila yang memorinya telah terbawa kemasa lalu, masa Bang Yudi dan aku masih suami istri, kami masih keluarga utuh yang sekilas dilihat orang penuh dengan kebahagian.
Tidak banyak yang tau kisah rumah tanggaku dengan Bang Yudi. Rumah tangga yang kami jalani selama 13 tahun. Dimata orang banyak kami keluarga yang harmonis yang jauh dari pertengkaran. Penilaian orang tidak salah karena aku tidak pernah membuka aib suamiku yang sekarang sudah menjadi mantan suami. Ketika alasan gugatan cerai dibacakan oleh hakim Pengadilan Agama, dari sanalah keluarga dan kerabatku tau konflik rumah tanggaku dengan Bang Yudi. Dari mulut ke mulut tetanggaku mengetahui permasalahanku. Bagiku semua yang terjadi merupakan rahasia Ilahi yang harus aku terima dengan ikhlas.
"Kenangan kita juga ada di Danau itu Pa! Coba Papa ingat deh!" Tuntut Aqila pada Papanya.
__ADS_1
"Hemm .. hemm, kenangan kita menginap di penginapan tepi Danau dan paginya kita otw ke Kelok Sembilan." Jelas Candra dengan senyum sumringah karena bisa menjawab tebakan dari Aqila.
"Yee .. ye, Papa memang hebat bisa ingat secara detail semuanya." Puji Aqila dengan senangnya pada Candra.
"Ya iyalah, Papanya Aqila!" Celetuk Candra dengan bangganya.
"Eh, kita sudah sampai nih di Danau!" Aku menyela sehingga menghentikan percakapan Papa dan anak itu.
"Aqila mau makan dimana?" Lanjutku dengan bertanya pada Aqila.
"Di tempat biasa aja Ma!" sahut Aqila padaku.
Tempat biasa yang dimaksud Aqila merupakan rumah makan yang terletak di pinggir Danau yang memiliki view yang indah, menikmati suasana Danau sambil makan. Tempat itu juga tempat ulang tahun Aqila pernah dirayakan oleh Bang Yudi. Tempat penuh kenangan ini merupakan tempat favorit Aqila. Setiap lewat disini wajib singgah bagi Aqila. Kenangan bersama Bang Yudi tidak mudah untuk melupakannya karena Bang Yudi ayah kandung yang juga menyayangi Aqila.
"Ayo kita turun!" Ajak Candra karena kami sudah sampai di Rumah Makan tempat favorit dan penuh kenangan Aqila.
"Yuuk Ma! ajak Aqila yang telah membuka pintu belakang untuk aku turun.
"Ayok! Makasih ya sayang!" Ucapku pada Aqila sambil merangkulnya menuju rumah makan.
"Gak berubah ya Ma suasana disini, masih seperti dulu." Ungkap Aqila yang langsung mengeluarkan HP untuk foto - foto dan video.
"Kalau Papa makan disini paling suka gulai pangek ikan sasau." timpal Candra tidak mau kalah dengan Aqila.
"Kalau Mama suka makanan apa disini ma?" Tanya Candra dan Aqila berbarengan.
"Mama suka semuanya karena mama kalian beri gelar perut naga kan!" Ujarku pada mereka yang disambut tawa mereka berdua.
"Perut naga yang selalu menghabiskan sisa makananku!" Ledek Aqila dengan tertawa.
"Senang hatinya lihat Mama gendut terus!" Cibirku.
"Yuk kita makan!" ajakku karena pegawai rumah makannya sudah menghidangkan menu yang kami pesan.
****
Setelah makan siang dan sholat dzuhur selesai, perjalanan menuju Pondok Pesantren tempat Alfa mondok kami lanjutkan. Perjalanan sekitar satu jam akan sampai di lokasi Pondok Pesantren.
"Alhamdulillah, kita sampai ditempat mondok Bang Alfa. Ucap Candra dan langsung memarkirkan mobil ditempat parkiran Pondok Pesantren.
__ADS_1
Setelah memarkir mobil kami bertiga turun dan menuju aula Pondok Pesantren tempat diadakannya pertemuan orang tua santri.
"Assalamualaikum! Candra, Yohana," Bang Yudi mengucapkan salam kepada kami karena Bang sudah duluan sampai dan berdiri didepan pintu masuk aula tempat acara.
"Waalaikumsalam, kabar kami baik. Alhamdulillah kami sehat. Jawabku pada Bang Yudi.
"Bang Yudi bagaimana keadaannya? Sela Candra.
"Alhamdulillah sehat!" Jawab Bang Yudi.
"Papa....! Teriak Aqila yang berlari memeluk Papa Kandungnya melepaskan rindu karena sudah lama tidak bertemu.
Pertemuan ayah dan anak yang saling melepaskan ini menyentil perasaanku. Ada rasa bersalah kepada anak - anak karena tidak mampu memberikan keluarga utuh kepada mereka. Mereka di usia yang masih anak - anak harus merasakan broken home. Disaat anak - anak seusia mereka masih merasakan pelukan hangat kedua orang tuanya, beda dengan Alfa dan Aqila yang harus mandiri dan menyimpan rasa rindu dilubuk hati.
"Yohana.. !" panggil Bang Yudi mengagetkan ku yang melamun dari tadi.
"I.. iya Bang Yudi!" jawabku dengan gugup.
"Acaranya mau dimulai! Kita masuk sekarang!" ajak Bang Yudi kepadaku.
"Pa!" Panggilku pada Candra.
"Masuk aja Ma! Papa dan Aqila menunggu di kantin pondok." Jawab Candra sambil berlalu meninggalkan aku dan Bang Yudi.
"Ayo Yohana!" ajak Bang Yudi kembali supaya aku segera masuk kedalam aula karena acara segera dimulai.
Di dalam aula sudah dipenuhi oleh orang tua santri dan beberapa orang santri terpilih untuk menampilkan pergelaran. Diantara santri terpilih untuk tampil didepan semua orang tua murid ada Alfa si sulungku yang tersenyum kepada aku dan Bang Yudi.
"Yohana! Alfa terpilih untuk tampil!" ujar Bang Yudi.
"Iya Bang!" jawabku.
"Alfa termasuk santri yang berprestasi disini!" jelas Bang Yudi.
"Alhamdulillah! Terimakasih ya Bang Yudi telah membimbing Alfa sehingga menjadi anak sholeh yang taat pada Allah dan berbakti kepada orang tua." ucapku.
"Semuanya juga hasil dari perjuangan kamu Yohana!" sahut Bang Yudi yang aku timpa dengan senyuman perkataan Bang Yudi.
Setelah acara selesai santri diberi izin untuk bertemu dengan orang tua sampai sore sebelum maghrib masuk sudah kembali ke Pondok Pesantren.
__ADS_1
Bersambung …