
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun" selesai sholat subuh aku buka pesan grup lambang hijau di hp, ada kabar duka kalau oknum p*l*s* yang dekat dengan Lusi meninggal dunia karena serangan jantung.
"Lusi sudah tau belum ya kabar duka ini? ucapku dalam hati.
"Lebih baik aku kasih kabar aja!" Lirihku dan mencari nomor kontak telepon Lusi.
"Assalamualaikum." teleponku diangkat Lusi dengan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." ucapku membalas salam dari Lusi.
"Ada apa katangah nelpon pagi - pagi?" tanya Lusi dengan lirih.
"Lusi, kamu sudah dapat kabar kalau Om Handoko meninggal?" tanyaku untuk memastikan apa Lusi sudah mendapat kabar duka ini.
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun!"
"Kapan meninggalnya katangah?"
"Aku tidak tahu sama sekali, kemarin aku menelpon Om Handoko katanya dia lagi di Rumah sakit tapi aku nggak tau kalau dia yang sakit." jawab Lusi menjelaskan kalau kemarin dia masih komunikasi dengan Om Handoko.
"Meninggalnya dini hari tadi Lus, katangah juga baru baca di grup W* kantor." jelasku pada Lusi.
"Makasih infonya ya katangah!" jawab Lusi padaku.
"Ya, sama - sama Lus!" Balasku dengan mengakhiri panggilan telepon dengan Lusi.
Setelah selesai menelpon Lusi aku bergegas ke dapur untuk membuat sarapan, karena kami hanya berdua dirumah aku hanya buat sarapan yang praktis saja. Nasi goreng daging dengan telur mata sapi jadi menu sarapanku pagi ini. Lanjut aku menata sarapan diatas meja makan, setelah selesai aku bergegas menjemur pakain dan dilanjutkan mandi pagi.
"Pa, sarapan sudah siap!" Teriakku pada Candra sambil aku memasang jilbab karena setelah sarapan aku langsung berangkat ke kantor. Selesai memasang jilbab aku bergegas ke meja makan ternyata Candra sudah duduk di meja makan menungguku.
"Cantiknya istriku." Lirikan dan kata pujian Bang Riko membuatku tersenyum.
"Papa gombal!" Ucapku dengan ketawa.
"Siapa yang gombal, ucapannya dari hati yang paling dalam lho!" Ujarnya sambil memegang tanganku.
"Iya, percaya Pa!" Jawabku dengan senyum mengembang.
"Pa, apa sudah dapat kabar kalau Om Handoko meninggal?"
__ADS_1
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun!"
"Belum Ma, kapan meninggalnya ma?" Candra menanyakan info meninggalnya Om Handoko.
"Dini hari Pa".
"Mama kira Papa sudah tau". jelasku pada Candra.
"Nanti Papa pergi melayat, Mama gak melayat?" tanya Candra.
"Gak Pa, Pimpinan Ma aja yang pergi melayat lagian Mama juga mau beres - beres persiapan untuk berangkat keluar Kota nanti". jelasku pada Candra.
"Keluar Kota kemana Ma?" Candra bertanya dengan keningnya mengerut.
Sepertinya dia lupa kalau hari aku dan rombongan di kantor mengantarkan bantuan untuk bencana gempa dan banjir bandang ke di luar kota. Daerah yang akan kami tuju mendapat bencana alam gempa, longsor dan banjir bandang. Saat ini banyak penduduk yang tinggal di tenda - tenda pengungsian. Kami menggalang bantuan selama seminggu belakangan dan hari ini bantuan tersebut diserahkan ke lokasi bencana.
"Papa lupa ya kalau hari ini Mama berangkat ke luar kota yang kena bencana gempa dan banjir bandang minggu lalu untuk menyerahkan bantuan korban bencana alam yang telah kami kumpulkan." jelasku padanya supaya tidak ada keraguan lagi.
"Maaf Papa lupa, Mama hati - hati ya karena masih musim penghujan."
"Papa khawatir nanti Mama terjebak di sana karena kalau hujan deras masih berpotensi longsor dan banjir!" Candra mengkhawatirkan ku untuk berangkat tapi aku harus berangkat karena ini bagian dari pekerjaanku.
****
Getaran Handphone aku rasakan, segera ku ambil dan melihat layar ada panggilan telepon.
["Assalamualaikum."] Kuucapkan salam mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Lusi.
["Waalaikumsalam."] Sahut Lusi membalas ucapan salam.
"[Kak Lusi dirumah katangah, katangah lagi dimana?"] Lusi menanyakan keberadaanku saat ini.
["Katangah lagi nggak dirumah Lus, lagi di jalan menuju luar kota."] jawabku menjelaskan pada Lusi kalau saat ini aku berada diluar Kota.
["Oh.. Lusi kira katangah dirumah."] Lirih Lusi menahan kecewa karena sudah datang kerumah tapi aku tidak dirumah.
****
Perjalanan menuju Luar Kota ditempuh selama 4 jam perjalanan. Tempat yang dituju akhirnya ditemui dan penyerahan bantuan dilakukan.
__ADS_1
Disepanjang jalan kiri dan kanan kami disuguhi pemandangan yang menyedihkan. Rumah - rumah penduduk hancur, bekas - bekas banjir bandang masih kelihatan. Penduduk sementara tinggal di tenda pengungsian.
"Ya, Allah kuatkanlah mereka semua menghadapi cobaan ini!" Lirihku tanpa sadar air mata ini menetes melihat mereka yang tinggal di tenda pengungsian, anak - anak dan lansia kasihan harus kedinginan bermalam di tenda pengungsian.
"Terima Kasih atas kedatangan Bapak dan Ibu di Nagari kami yang sedang dilanda bencana ini!" Bapak Wali Nagari memberikan sambutan atas kedatangan rombongan kami.
"Kami juga berterima kasih karena kedatangan kami disambut seperti ini." Ucap Kepala Kantorku dengan ramah menyambut sambutan dari Wali Nagari setempat.
"Masyarakat kami saat ini masih berada di tenda pengungsian karena gempa masih berulang dan curah hujan juga masih tinggi." jelas Bapak Wali Nagari kepada kami.
"Bapak Wali kami berniat ingin bertemu langsung dengan masyarakat Bapak yang terkena bencana."
"Kami akan menyerahkan paket kebutuhan harian sebanyak 300 paket, yang nantinya diberikan kepada masyarakat yang belum tersentuh bantuan supaya tidak terjadi penumpukan bantuan!" Kepala Kantorku menjelaskan kedatangan kami kepada Wali Nagari setempat.
Di lokasi bencana sudah berdiri posko - posko relawan dari berbagai unsur. Keberadaan posko - posko relawan ini membantu pendistribusian bantuan dan juga sebagai pusat informasi. Pemerintah melalui BNPB juga telah turun dengan mendirikan tenda pengungsian, penyerahan bantuan dan pengkajian dan penghitungan pasca bencana yang juga disebut dengan istilah Jitu Pasna. Pengkajian dan penghitungan pasca bencana ini berguna untuk menghitung kerugian dari aspek infrastruktur, sosial, dan ekonomi. Hasil yang diperoleh nantinya sebagai penentu kebijakan Pemerintah dalam Rehab Rekon Pasca Bencana.
"Kalau begitu kita langsung kunjungi Jorong yang paling terdampak, Jorong ini terletak dikaki Gunung. Gempa dan banjir bandang terparah dialami Jorong ini. Lokasi ini kalau hujan lebat tidak dapat ditempuh karena longsor bisa saja terjadi yang mengakibatkan jalan putus." Penjelasan Bapak Wali Nagari dan meminta kita untuk segera ke lokasi yang paling terdampak.
"Baik Pak, mari kita berangkat!"
"Ayo semua rombongan kita ikuti Bapak Wali Nagari menuju lokasi penyaluran bantuan kita!" Ajak Kepala kantor kepada kami semua untuk segera berangkat ke lokasi tujuan.
Perjalanan dari Kantor Wali Nagari menuju lokasi ditempuh sekitar 45 menit dengan mobil. Untuk menuju titik lokasi kita harus berjalan kaki mendaki karena letaknya di kaki gunung. Korban bencana sudah berada di tenda pengungsian jadi pemberian bantuan diserahkan di tenda pengungsian.
Kami berjalan kaki untuk melihat rumah masyarakat yang hancur karena gempa dan banjir bandang. Gunung yang berdiri kokoh seperempatnya kelihatan gundul karena longsor.
"Bapak dan ibu terimalah bantuan dari kami yang tidak seberapa, semoga Bapak dan Ibuk diberi kesabaran dan kekuatan oleh Allah dalam menghadapi cobaan ini."
"Derita Bapak dan Ibu adalah derita kami juga, tangis Bapak dan Ibu adalah tangis kami juga."
"Mari kita bangkit bersama untuk menata kembali dan keluar dari keterpurukan ini!" Semangat yang diberikan Bapak Kepala Kantor ku untuk korban bencana ini.
"Terimakasih Bapak dan Ibu atas bantuannya!" Ucap perwakilan dari korban bencana yang kami kunjungi.
"Sama - sama Bapak!" Balas Bapak Kepala Kantorku.
"Sepertinya akan turun hujan jadi kami langsung pamit untuk kembali ke daerah kami, khawatir nanti kami terkurung di jalan." Pamit Bapak Kepala Kantor untuk meninggalkan lokasi bencana dan kembali ke daerah kami.
Bersambung ....
__ADS_1