
"Pa.., Pa..., Papa!"
"Papa kok bengong sih!" panggilku memecah lamunannya Candra.
"Eh, ada apa Ma?" sahut Candra.
"Mikirin apa sih Pa? Dari tadi dipanggil tapi gak dengar?" tanyaku pada Candra.
"Gak mikirin apa - apa kok Ma!" balas Candra padaku.
"Gak mikirin apa - apa tapi termenung?" tnyaku dengan heran.
"Kelihatan ya ma lagi bengongnya?" Tanya Candra sambil nyengir.
"Papa ada masalah ya? Gak mau berbagi dengan mama nih?" tanyaku sambil pura - pura merajuk.
"Mulai deh Mama merajuknya, iya deh Papa cerita istriku yang cantik!" Rayu Candra dengan senyum jahilnya.
"Mulai deh tukang gombal bereaksi!" Sahutku dengan ketawa.
"Papa sedang mikirin Lusi Ma." Jawab Candra membuka ceritanya lamunannya tadi dengan menggeser duduknya kedekatku.
"Memangnya Lusi kenapa Pa?" tanyaku dengan penasaran.
"Dia tidak kenapa - kenapa, Papa hanya memikirkan perbuatannya yang sudah keterlaluan." jawab Candra menjelaskan apa yang dipikirkannya.
"Maksud Papa?" tanyaku dengan bingung.
"Mama sudah tau kan apa yang dilakukan Lusi? Video viralnya dan sikap - sikap lainnya yang tidak pantas."terang Candra padaku.
"Ya.' Jawabku singkat.
"Ya pasti taulah, Mama konconya Lusi!" Candra dengan tampang meledek disertai dengan colekan di pinggangku.
__ADS_1
"Konco dari Hong Kong kali Pa!" sahutku dengan nada malas.
Aku sudah malas banget kalau ada yang bahas Lusi sambil menyentil kedekatanku dengannya.
Bagiku dekat dengan Lusi karena dia adik suamiku, aku sudah menganggap dia seperti adikku karena aku anak bungsu tentunya tidak punya adik. Lagian anak Lusi yang kecil Safeya disukai oleh anak gadisku Aqila. Aqila keinginan terbesarnya memiliki adik perempuan tapi keinginan itu tidak dapat aku wujudkan karena perpisahanku dengan ayahnya Aqila. Aku tau kesedihan yang mendalam dirasakan oleh Aqila karena perpisahan kami. Takdir hidup yang membawa semua kisahku dengan ayahnya Aqila harus berakhir depan hakim Pengadilan Agama. Inilah perjalanan hidup skenario Illahi, kita hanya berusaha dan berdoa menjalankan semuanya.
"Ma, Ma.... Ma..., Eh simama malah bengong". Ucap Candra membuyarkan lamunanku.
"Apa sih Pa, teriak - teriak?" Tanyaku malas.
"Siapa yang teriak - teriak Ma, Mama sudah berulang kali Papa panggil tidak menyahut, tadi meledek Papa melamun, eh sekarang Mama yang sudah terbang ke awan tuh pikirannya!" Jelas Candra dengan semangat.
"Naik tangga atau pakai jet ke awannya Pa, Papa ikut kan?" Tanyaku dengan bercanda.
"Kemanapun Mama pergi Papa akan selalu ikut sama Mama, kelangit ketujuh sekalipun akan Papa ikuti."
"Papa gak mau kehilangan Mama lagi, Papa gak mau kita terpisahkan lagi, Papa ingin selalu bersama Mama." Jawab Candra dengan menggenggam erat tanganku dan menciumnya.
"Ma, Mama mau janji nggak akan pergi dari Papa apapun yang terjadi?" Tanya Candra sambil menatapku dengan penuh kasih sayang.
"Memberikan janji tapi tidak sanggup menepati hanya akan menyakiti orang yang sudah menunggu janji, mama sudah terlalu sering menunggu janji Papa yang tidak Papa tepati jadi Mama nggak mau Papa juga merasakan sakit karena kecewa dengan janji yang terucap." jelasku pada Candra.
"Berarti Mama suatu saat bisa pergi dari Papa?" tanyanya padaku.
"Kita hidup didunia ini tidak ada yang abadi Pa, Papa tau bagaimana perjalanan hidup Mama, banyak luka yang berusaha Mama sembuhkan sendiri, luka yang berasal dari mantan suami Mama dan juga Papa, jadi tolong jangan Papa minta Mama untuk berjanji yang Mama sendiri tidak yakin bisa menepatinya karena Mama merasa rumah tangga kita tidak baik - baik saja!" Jelasku dengan berlinang air mata.
"Ma, maafkan Papa sampai saat ini papa belum bisa membahagiakan Mama, sampai saat ini mama masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan Mama, Alfa dan Aqila."
"Papa malu Ma, harusnya sebagai suami, papa yang harus menafkahi Mama, Alfa dan Aqila." jawab Candra dengan rasa bersalah.
Satu tahun mahligai rumah tanggaku dengan Candra memang tidak ada pertengkaran yang berarti, Candra tidak pernah mengeluh dengan kesibukanku, dia sering membantuku mengerjakan pekerjaan rumah, selalu melindungiku dari tetangga julid dari keluarganya, yaa dia siap kapan aku butuh bahunya. Untuk nafkah Candra memberi aku belanja mingguan untuk biaya dapur, listrik dan internet. Untuk dapur setiap minggu Candra memberikan aku uang lima ratus ribu, untuk listrik dan internet sesuai tagihan. Keperluan lain untuk diriku dan anak - anak aku penuhi sendiri. Jika dibandingkan dengan biaya anaknya jauh berbanding terbalik denganku, untuk Kaynara diberikan belanja seratus ribu untuk satu hari, itu diluar biaya pendidikan, biaya pakaian, biaya jalan - jalan, biaya paket dan biaya - biaya lainnya. Seratus Ribu Rupiah sehari hanya untuk biaya jajan Kaynara. Kemarin saja Candra menyerahkan uang 50 Juta, katanya sih untuk beli motor karena motor Kaynara yang sebelum dipakai Diana jadi susah Kaynara harus berbagi motor dengan Kaynara. Sedangkan aku hanya menggunakan motor vario butut pembelian orang tuaku waktu aku ulang tahun ke 25 tahun. Sampai sekarang motor itu masih awet bersamaku walaupun sudah 14 tahun umurnya.
Setiap bulan ada saja kebutuhan dadakan Kaynara sampai atap rumah bocor, kran air mampet, Ban Motor Diana bocor pun harus Candra yang mengeluarkan uang untuk memperbaikinya.
__ADS_1
*****
Flashback
"[Ma, bisa pakai motor Mama sebentar?"]
"[Diana nelp Papa, ban motor Diana bocor jadi dia minta tolong sama Papa bawa motor ke bengkel karena dia nggak sanggup mendorongnya ke bengkel."]
Telpon dari Candra menghentikan pekerjaanku yang sedang menandatangani berkas - berkas di kantor.
["Motornya Diana bocor ban dimana Pa?"] Tanyaku untuk minta penjelasan.
["Di Rumahnya Ma"] jawab Candra.
["Di Rumahnya, sejauh itu Papa yang pergi menambalnya ke bengkel? Apa tidak ada keluarganya di rumah, minta tolong tetangga atau telpon orang bengkel untuk datang, kenapa harus Papa kesana?"] Tanyaku dengan heran.
["Kalau mama tidak mau meminjamkan motornya bilang saja nggak mau, nggak perlu marah - marah seperti ini".] Jawabnya dengan kesal.
["Silahkan Papa tambal tuh motornya Diana sekalian menambal punyanya Diana yang bocor tapi jangan harap Mama mau meminjamkan motor Mama untuk Papa!"] Jawabku kemudian panggilan telepon dengan Candra aku putuskan sepihak tanpa mengucapkan salam.
Istri mana yang tidak kesal kalau setiap hari ada terus alasan Diana untuk bertemu dengan Kaynara. Mulai dari uang belanja Kaynara seratus ribu sehari yang harus diantarkan Candra tiap sore ke rumah Diana dengan alasan supaya Candra bisa bertemu Kaynara setiap hari dan mereka bertiga pergi jalan - jalan sore. Cemburu sudah pasti aku rasakan tapi aku sudah malas membahasnya karena ujung - ujungnya bertengkar.
Bukan aku takut dengan pertengkaran dengan Candea tapi aku hanya butuh ketenangan karena otak dan tenagaku sudah terkuras dengan pekerjaan kantor, lagian aku tidak mau pertengkaran kami didengar oleh Aqila yang tentunya bisa membuat rasa trauma berumah tangga dalam diri Aqila. Aku berusaha menjalani biduk rumah tangga ini semampuku untuk berlayar tapi kalau kayu pendayungnya yang sudah patah tentu menunggu tenggelam atau mengharap bantuan untuk menyelamatkannya.
Bagiku saat ini anak - anak adalah prioritas, cinta dan kebutuhan batinku hanya nomor belakangan bagiku, makanya aku tidak masalah andaikan rumah tanggaku yang kedua ini bersama Candra nantinya harus karam.
Aku sadar kalau rumah tanggaku dengan Candra sulit untuk diperjuangkan selama Candra tidak merubah sikapnya dalam menghadapi mantan istrinya.
Kendali ditangan Candra, aku tidak akan sudi untuk menjadi tulang punggung kembali seperti rumah tangga aku sebelumnya.
****
Flashback selesai
__ADS_1
Bersambung ....