KARMA IPAR MULUT BERBISA

KARMA IPAR MULUT BERBISA
Part 16. (Pov) Candra Cemburu


__ADS_3

"Apa kabar Yohana?" Tanya mantan suami Yohana yang dibalas dengan senyuman manis olehnya.


"Kabar aku baik, abang bagaimana kabarnya?" tanya Yohana balik.


Pertemuan Yohana dan Yudi mantan suaminya hari ini dalam rangka pertemuan orang tua santri dan pergelaran tahunan santri dengan menampilkan santri - santri berprestasi di Pondok Pesantren tempat Alfa anak sulung Yohana menuntut ilmu.


Aku laki - laki yang pencemburu, sebenarnya aku keberatan dengan pertemuan Yohana dengan mantan suaminya ini tapi aku harus mengizinkannya karena Yohana dan Yudi adalah orang tua kandung Alfa. Ketidakhadiran Yohana nantinya pasti akan membuat Alfa kecewa dan bersedih.


Setelah melalui segala pertimbangan aku memutuskan untuk mengizinkan Yohana menghadiri acara di Pondok Pesantren Alfa dan aku sendiri yang mengantarnya.


Setelah melalui perjalanan sekitar 3 jam kami sampai di Pondok Pesantren tempat Alfa mondok. Aku langsung memarkirkan mobil dan bergegas ke aula tempat acara diadakan. Sesampai di depan Aula kami bertemu Yudi mantan suaminya Yohana. Yudi menyapaku kemudian dia menyapa dan bercengkrama dengan Yohana. Yudi, Yohana dan Aqila berkumpul kemudian Alfa juga menghampiri dari dalam aula untuk mengajak Yohana dan Yudi untuk masuk kedalam karena acara akan dimulai. Kebersamaan mereka membuat hatiku ini berdenyut, ada rasa cemburu yang mengalir melihat kebersamaan mereka. Aku merasa menjadi orang asing ditengah - tengah keluarga ini pikirku.


"Pa, Mama masuk kedalam dulu ya karena acaranya akan segera dimulai!" pamit Yohana padaku yang aku balas dengan anggukan.


"Papa sama Aqila menunggu di kantin aja dulu, acaranya hanya untuk 2 orang undangan!" Pinta Yohana dengan hati -hati. Mungkin dia takut aku kecewa dan tersinggung karena sudah capek - capek ikut tapi tidak bisa masuk ke dalam aula untuk mengikuti jalannya acara.


"Gak papa Ma, biar Papa dan Aqila menunggu diluar, ya kan Aqila?" ucapku pada Aqila yang dibalas dengan persetujuan oleh Aqila.


"Masuk dulu ya Pa!" Pamit Yohana dengan bergegas masuk ke dalam aula dan beriringan dengan Yudi. Melihat pemandangan ini hati terasa perih. Aku tetap mensugesti diri untuk tidak terbawa perasaan yang bisa menimbulkan kekacauan.

__ADS_1


Aku mengingat kembali saat aku selalu menuntut Yohana untuk mengerti ketika aku bersama Diana mantan istriku dan Kaynara putri semata wayangku. Rasanya sesakit ini melihat kebersamaan milik kita bersama masa lalunya.


"Pa tolong hargai perasaan Mama! Mama gak melarang Papa bertemu atau bepergian dengan Kaynara tapi tolong jangan bersama Diana karena Diana mantan istri Papa!" Pinta Yohana waktu itu ketika aku tiap akhir pekan sering menghabiskan waktuku bertiga dengan Kaynara dan Diana. Selama ini aku mengabaikan perasaan Yohana karena aku anggap aku tidak melakukan yang terlarang dengan Diana hanya sebatas menyenangkan hati putri semata wayang kami. Hari ini aku tersadar setelah melihat pemandangan kebersamaan mereka di depanku, padahal aku berada disini dan Yohana juga bersama - sama.


Selama ini yang sering aku lakukan bersama Diana dan Kaynara tanpa pernah aku membawa Yohana bersama dengan mantan istri dan anakku. Aku tidak pernah mengajaknya karena permintaan Diana, dia minta waktu ku untuk Kaynara yang terbuang harus diganti dengan kebersamaan bertiga tanpa ada yang lain karena Kaynara tidak suka ada kehadiran orang lain selain Papa dan Mamanya. Lagi - lagi demi Kaynara aku mengorbankan perasaan istriku, perasaan tulang rusukku. Yohana maafkan aku lirihku.


"Pa... Pa... !" Panggilan Aqila membuyarkan lamunanku, dengan tergagap aku menjawab panggilan Aqila.


"Iii..iya.. Dek! Ada apa?" Tanyaku dan berjalan menghampirinya.


Gara - gara cemburu pikiranku jadi kacau gumamku. Aku jadi gak fokus, sampai - sampai Aqila memanggil aku jadi gak kedengaran. Buang rasa cemburumu Candra  jangan cemburumu membuat Yohana marah.


"Pa, Aqila mau pinjam kunci mobil, mau ambil tas yang ketinggalan dalam mobil!" Ujar Aqila setelah aku sampai di hadapan gadis kecil imut ini.


Aku ingat Yohana pernah mengatakan kalau kita sebagai orang tua tidak selalu bisa menemani anak - anak kita, jadi kalau kita sayang sama mereka ajarkan mereka untuk bisa siap hidup tanpa kita disampingnya. 


Cara Yohana jauh berbeda dengan caraku mendidik anak, bagiku kita sebagai orang tua bekerja untuk anak jadi anak harus dipenuhi kebutuhan dan keinginannya sebagai bukti kita mencintai dan menyayanginya. Karena alasan itu aku selalu memenuhi semua permintaan Kaynara putri semata wayangku tanpa dia tau aku sanggup atau tidak untuk memenuhinya. Caraku mendidik Kaynara yang selalu memanjakannya membuat Kaynara menjadi gadis yang harus mendapatkan semua keinginannya. Jika keinginan Kaynara tidak bisa terpenuhi, Kaynara akan jatuh sakit sampai keinginannya terpenuhi. Semenjak aku berumah tangga dengan Yohana aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri cara Yohana mendidik anak - anaknya jauh berbeda dengan caraku dan Diana.


"Pa.., tas dedek sudah diambil, sekarang kita kemana lagi sambil menunggu Mama, Bang Alfa dan Ayah selesai acaranya?" Tanya Aqila.

__ADS_1


"Dek, kita keliling Pondok Pesantren ini yuk! Lihat - lihat sekeliling aja karena Papa jarang kesini!" ajakku.


"Siap komandan! Perintah dilaksanakan!" Canda Aqila membuatku tersenyum dengan ulahnya.


Selesai keliling Pondok Pesantren kami kembali ke dekat Aula untuk melihat acara sudah selesai apa belum. Sesampai disana lagi - lagi pemandangan yang membuat jiwa cemburu ini kembali meronta. Yohana, Yudi dan Alfa sedang asyik bercanda gurau sehingga mereka tidak menyadari kehadiranku kalau saja Aqila tidak menyambangi mereka.


"Papa! Sapa Yohana yang kusambut dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.


"Alfa diberi izin untuk diajak keluar, sebelum maghrib sudah berada di Pondok lagi!" Jelas Yohana dengan berjalan menghampiriku dan menggandeng tanganku seakan memberi kekuatan dan keyakinan supaya aku tidak cemburu.


"Kita bawa Alfa keluar, kira - kira diajak kemana ya Pa?" Tanya Yohana.


"Kita bawa jalan - jalan aja ke tempat wisata!" usulku yang disambut baik oleh Yohana.


Istriku ini memang selalu mengedepankan aku dan meminta pendapat setiap keputusan yang akan diambilnya. Cara Yohana ini membuat aku merasa dihargai sebagai laki - laki dan kepala keluarga.


"Ada ide, tempat wisata yang akan kita kunjungi?" Tanya Yohana kembali.


"Kita minta pendapat Bang Yudi aja! Bang Yudi tentu tau tempat wisata yang cocok untuk anak - anak disini!" usulku memberikan pendapat untuk bertanya pada Bang Yudi.

__ADS_1


Bang Yudi sudah lama berada di Kota ini karena berdekatan dengan kampung halamannya. Sudah bisa dipastikan Bang Yudi tau seluk beluk kota ini, sampai sudut kota pun sudah khatam bagi Bang Yudi.


Bersambung ….


__ADS_2