KARMA IPAR MULUT BERBISA

KARMA IPAR MULUT BERBISA
Part 12. Sijulid


__ADS_3

"Sudah pulang kerja ya Yohana?" Tanya Bu Lina tetanggaku dengan pandangan menelisik ku dari atas sampai kebawah seperti intel saja mengamati buronannya. 


Dalam hati aku menerka kalau ibu ini akan mencari gara - gara denganku, tapi tetap aku hadapi karena menghindar dikiranya takut dengannya kalau dia macam - macam tentunya aku tidak tinggal diam. Aku tidak mau diperlakukan semena - mena oleh siapapun kalau dibiarkan tentunya menjadi kebiasaan bagi mereka untuk menghina dan mencampuri urusan orang lain. Prinsipku musuh tidak dicari tapi kalau datang pantang untuk dielakan.


"Ya buk, aku baru pulang kerja." Sahutku ramah disertai senyuman. 


Aku berusaha ramah walaupun aku tau Bu Lina orang yang suka mengurus urusan orang lain, suka ikut campur dan suka mengadu domba. Mungkin tetanggaku ini kurang kerjaan sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menggosip. Padahal aku sudah berniat sampai dirumah istirahat sebentar kemudian mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan malamnya aku mau lembur menyelesaikan pekerjaan kantor karena malam ini aku sendiri dirumah, Candra pergi ke Luar Kota untuk mengantarkan barang dagangannya kemungkinan kembali 2 hari lagi.


"Kok masih kerja kamu? nggak cukup uang dari Candra? atau Candra tidak menafkahi kamu seperti suami pertama kamu dulu?" Cecar Bu Lina dengan pertanyaan bertubi sekaligus menghakimiku seperti dia paling tahu kehidupanku. 


Aku tarik nafas dan melepaskannya perlahan supaya aku bisa tenang dan tidak emosi menghadapi Si Julid ini. Aku berpikir untuk menjawab pertanyaan si julid dan ratu gosip ini bagaimanapun dia jauh lebih tua dari ku. Sebagai yang lebih muda sudah sepatutnya menghormati yang lebih tua tapi kalau yang lebih tua sudah berlaku tidak sopan dan kurang ajar tentunya rasa hormat itu akan melayang dengan perlawanan.

__ADS_1


"Candra memberi aku nafkah kok buk!" Jawabku malas karena aku tipe orang yang tidak suka mencampuri urusan orang lain jadi aku malas kalau ada orang yang mencampuri urusanku. 


Aku bisa dibilang hampir tidak pernah kumpul - kumpul dengan tetangga di lingkungan ini, alasannya hanya satu aku malas menggosip dan mengikuti gaya hedon mereka. Gaya yang sudah tidak sesuai dengan isi kantong yang berakhir utang sana hutang sini, kebiasaan ibuk - ibuk ini juga penyebab menjamurnya koperasi simpan pinjam, kelompok - kelompok pinjaman, julo - julo tembak yang juga pinjaman dengan bunga tinggi bisa jadi terlambat pembayaran juga kena denda. Bermacam jenis pinjaman yang intinya pembayarannya tiap hari dan bunga yang ditetapkan juga sangat tinggi yang mencekik nasabahnya. Mereka yang sudah menjadi nasabah susah untuk berhenti karena sudah seperti lingkaran setan yang tidak mudah diputus. Bisa jadi mereka sudah ketergantungan karena pinjamannya tidak ada jaminan atau agunan walaupun dengan bunga yang tinggi tidak menjadi masalah bagi nasabahnya. Jika dibandingkan dengan pinjaman di Bank seperti program KUR yang memiliki bunga yang rendah. Pinjaman di Bank tentunya ada prosedur administrasi yang harus dilewati. Tidak ingin ribet inilah yang menyebabkan pinjaman - pinjaman keliling tumbuh menjamur di tengah masyarakat.


Bagiku lebih baik mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan kantor dari pada harus gabung dengan emak - emak yang suka menggosip terkadang gosip mereka sudah menjadi fitnah. Tiap hari ada saja yang menjadi bahan gosip mereka, sudah mengalahkan rekor silambe yang akun gosip terkenal itu.


"Kalau Candra memberimu nafkah kenapa kami masih banting tulang? Mending duduk enak seperti istri Candra sebelumnya, dijadikan ratu oleh Candra!" Saran Bu Lina yang mencoba memancing emosiku.


"Buk Lina tidak lupa kalau sebelum menikah aku sudah bekerja dan menikah dengan suami pertama aku pun tetap bekerja, jadi sayang kalau aku harus berhenti kerja setelah jadi istrinya Candra!" Sahutku memberikan alasan sambil bergumam dalam hati, "ini orang keponya keterlaluan, ingin mengetahui dan ikut campur urusan orang yang tidak ada kaitan sama dia seperti rumah tangga dia saja yang sempurna.


"Maksud Bu Lina apa?" desakku yang sudah mulai bosan menghadapi ibu rempong ini.

__ADS_1


"Kamu itu percuma ya sekolah tinggi - tinggi kalau tetap saja bodoh!" cicitnya padaku yang membuat aku tidak terima dengan perkataannya yang mengaitkan dengan pendidikan dan mengatakan aku bodoh.


"Diana mantan istri Candra walaupun sudah jadi mantan tetap saja duduk goyang - goyang kaki di rumahnya karena uang mengalir terus dari Candra, sudah menjadi janda Candra saja masih diratukan olehnya apalagi sewaktu jadi istrinya pasti dimanja dan dipenuhi semua keinginannya!" lanjut Bu Lina dengan semangat mengatai dan membandingkan aku dengan Diana.


"Berapapun yang diberi Candra padaku sebagai nafkah aku ikhlas dan aku tidak menuntut macam - macam darinya karena aku masih mampu untuk menghidupi diriku, jadi ibu tidak perlu susah - susah menggurui aku!" cecarku padanya.


"Buk Lina perlu catat aku disekolahkan tinggi oleh orang tuaku bukan untuk memiliki pemikiran sempit seperti ibuk yang hanya bisa menampung pada suami dan berbohong pada suami kalau uang untuk kebutuhan sekolah anak padahal ibuk gunakan untuk gaya hidup. Hutang juga dimana - mana, tiap hari bergantian yang menagih!" Sambungku yang sudah sulit mengontrol emosi ini karena dari tadi menghadapi mulut tajamnya yang mencampuri rumah tanggaku.


"Satu lagi ibuk ingat jangan pernah campuri urusan rumah tangga dan jangan pernah lagi mengatakan aku bodoh padahal sudah sekolah tinggi! Ibu urus saja diri ibuk, ingat umur ibu sudah bau tanah masih saja ikut campur urusan orang. Aku tidak pernah menyusahkan ibu dan cari masalah dengan ibuk, jadi tolong jangan cari masalah juga dengan aku karena aku tidak akan tinggal diam kalau ada yang mengusik kehidupanku. Tolong ibuk ingat ucapanku ini!" Bentakku dan berlalu meninggalkannya kemudian masuk kedalam rumahku.


"Dasar anak masih bau kencur di tunjuk ajar malah melawan, durhaka kamu melawan orang yang lebih tua dari kamu!" Teriak Bu Lina yang masih terdengar sampai ke dalam rumahku sambil meninggalkan pekarangan rumahku, bisa jadi sampai di rumahnya nenek lampir itu masih mengeluarkan bermacam umpatan dan kumpulan penghuni kebun binatang tapi aku sudah tidak memperdulikannya karena masih banyak pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan sebelum aku mengajukan cuti untuk menghadiri pertemuan orang tua murid di Pesantren tempat Alfa menimba ilmu.

__ADS_1


Aku rela berjauhan dengan anak pertamaku demi masa depannya dan untuk bekalnya dunia akhirat. Aku jarang mengunjunginya karena jarak yang jauh dan juga karena aku juga bekerja yang tidak bisa seenaknya saja meliburkan diri. Alfa anak laki - laki hasil pernikahanku dengan suami pertamaku memilih melanjutkan pendidikan di sebuah Pesantren yang tidak jauh dari kampung halaman ayahnya. Aku bersyukur ayahnya sering mengunjungi Alfa di Pondok Pesantren, kalau libur pun Alfa lebih suka ke tempat ayahnya dari pada pulang ke Kota tempat aku tinggal sekarang.


Bersambung ...


__ADS_2