KARMA IPAR MULUT BERBISA

KARMA IPAR MULUT BERBISA
Part 15. Taman Wisata Teluk Belibis


__ADS_3

"Asyik....kita mandi - mandi!" seru Alfa dan Aqila dengan girang. 


Mereka bergegas mengganti pakaian dan meluncur ke kolam renang anak - anak. Bang Yudi dengan senang hati menemani putra dan putrinya berenang lebih tepatnya main air karena mereka saling lempar - lempar di kolam renang itu. Aku hanya mengamati dari jauh karena ingin memberi kesempatan kepada Alfa dan Aqila untuk menikmati kebersamaan dengan ayahnya.


Sambil menunggu anak - anak dan Bang Yudi aku selfi - selfi bersama Candra, menikmati indahnya Alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Berduaan seperti ini dengan Candra membuat kami merasakan masa - masa muda dulu, anggap saja kami memupuk cinta kami supaya bisa selalu subur dan berjodoh sampai akhir hayat.


"Ma.. kita duduk disana yuk, mengenang masa muda!" ajak Candra.


"Masa muda yang mana nih sayang? Perasaan waktu muda kita gak ada waktu bersama seperti ini!" gurauku pada Candra.


Aku dan Candra tidak pernah mengalami pacaran seperti kebanyakan remaja karena kami mengalami cinta monyet sekaligus cinta pertama. Waktu masih jadi bocah ingusan, Candra sering main kerumahku karena dia berteman dengan suami kakakku. Malam selepas selesai pekerjaannya Candra lebih sering berada di rumahku. Dari sering bertemu inilah kami saling jatuh cinta, cinta pertama yang kemudian sempat hilang karena lost kontak.


Candra melabuhkan hatinya ke berbagai tempat yang dijadikannya persinggahan sementara walaupun sudah menjalin hubungan dengan Diana tapi Candra masih SETIA 'SETIAP TIKUNGAN ADA' yang lebih tepatnya pacarnya Candra dimana - mana ada.


Kalau aku menyebutnya pada Candra pacarmu lima truk fuso banyaknya. Candra hanya tertawa menanggapi omongan seperti itu karena itu memang kenyataannya karena dia sendiri sudah tidak bisa menghitung berapa banyak cewek yang dipacarinya. Dasar si playboy kelas ikan teri asal ada cewek yang suka langsung diembat.


Kadang hati ini heran kenapa aku bisa jatuh hati dengan laki - laki Playboy seperti Candra ini. Itulah hati yang susah ditebak dan tidak tahu kepada siapa hati ini akan berlabuh.


"Bagus - bagus ya ma, foto - foto kita! Seperti masih muda saja kita!" Celetuk Candra yang menatap satu persatu foto hasil jepretan di Hp ku.


"Masih muda tapi mama sudah tua lo Pa! Sudah keriput lagi!" sungutku pada Candra.


"Tua - tua gini Papa cintanya besar pakai banget sama Mama!" celetuk Candra.


"Lebay...tau, tukang gombal yang suka gombalin cewek - cewek bereaksi nhe!" Sungutku dengan mengerucutkan bibir.


"Mau digigit tu bibir dipanjang - panjangkan seperti itu! goda Candra..

__ADS_1


"Gigit - gigit emangnya makanan!" ledekku.


"Wk.. wk..wk..!" tawa Candra.


"Ma, sepertinya anak - anak sudah selesai berenangnya, kita kesana yuk!" ajak Candra.


"Ok Bos, siap dilaksanakan!" Candaku. 


Kami beranjak ke kolam renang tempat anak - anak tadi berenang. Sampai disana anak - anak sudah selesai dan bersiap meninggalkan kolam renang yang ada di tempat wisata Teluk Belibis ini. Kami berpapasan dengan Bang Yudi yang membawa barang anak - anak yang berisikan pakaian basah siap berenang mereka.


"Eh Yohana, Candra barusan kami mau menemui kalian tapi sudah bertemu disini!" Ujar Bang Yudi menjelaskan pada kami.


"Iya Bang, kami sangka Bang Yudi dan anak - anak belum selesai makanya kami turut kesini!" jelasku pada Bang Yudi.


"Ya, udah kita makan dulu, anak - anak pasti lapar setelah berenang! Kita cari tempat makan sekarang ya!" ajak Candra pada Bang Yudi, Alfa dan Aqila.


Selesai makan kami bersiap - siap mengantar Alfa kembali ke Pondok Pesantren. Pertemuan yang sebentar tapi berkesan dan menyenangkan bagi Alfa dan Aqila. Kebersamaan yang sebentar tapi bisa memberikan senyum yang merekah bagi Alfa dan Aqila.


Sampai di Pondok Pesantren, Alfa kami antarkan kembali ke ustadz pembina santri. Ada rasa sedih untuk berpisah kembali dengan Alfa tapi demi masa depannya aku harus ikhlas untuk melepasnya jauh dari kami.


"Belajar yang rajin ya sayang, jaga diri dan jaga kesehatan ya anak sayang Mama!" ucapku menahan haru.


"Mama juga jaga kesehatan ya, jangan sering telat makan nanti sakit maag mama kambuh!" ucap Alfa mengingatkanku untuk menjaga kesehatan.


Aku jadi terharu, anak yang masih ABG sudah bisa peduli dengan orang tua.


"Iya sayang, mama gak akan telat makan lagi, nanti liburan Abang pulang tempat Mama ya! Kita jalan - jalan di sore hari di Pantai, makan pensi, langkitang! Sekarang abang fokus belajar di Pondok ini ya!" ujarku memberikan janji untuk pergi jalan - jalan sore di Pantai seperti yang sering kami lakukan waktu Alfa masih Sekolah Dasar dulu.

__ADS_1


"Iya ma! kita main ombak di sore hari!" Sahutnya dengan senyuman mengingat masa kami masih bersama.


"Mama, Papa Candra dan Aqila pamit ya, kami kembali ke rumah." 


Aku dan Alfa berpelukan dan Alfa kembali ke Pondok sedangkan kami kembali ke Parkiran mengambil mobil. Di parkiran pondok pesantren,  aku, Candra dan Aqila pamit kepada Bang Yudi untuk kembali ke Kota.


"Bang Yudi kami kembali ke Kota ya!" Ucap Candra pada Bang Yudi dengan berjabatan tangan untuk berpisah.


"Iya, hati - hati di jalan ya Candra! Abang juga langsung kembali ke Kampung!" ucap Bang Yudi.


Kemudian Bang Yudi menghampiri Aqila yang berdiri disamping kiri ku.


"Dek, Ayah balik ke kampung!, dedek belajar yang rajin, sholat jangan sampai tinggal dan menurut sama Ibu ya!" Nasehat Bang Yudi kepada Aqila.


Aqila menghambur ke dalam pelukan Bang Yudi seolah tidak ingin berpisah walaupun tidak ada terucap di bibirnya. Lama anak dan ayah tersebut berpelukan, mereka saling erat untuk berpisah tapi keadaan yang membuat mereka berpisah.


"Ayah, dedek balik ya.. ayah sering - sering telpon dedek biar kita bisa cerita - cerita!" Pinta Aqila pada ayahnya yang dianggukkan oleh ayahnya.


Setelah selesai berpamitan dengan Aqila, Bang Yudi menatapku dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Jabatan tangan Bang Yudi aku terima dengan ragu karena aku khawatir Candra cemburu, aku tau persis sifat Candra yang pencemburu. Kalau aku menolak jabatan tangan Bang Yudi aku juga merasa tidak enak, bisa jadi Bang Yudi tersinggung dengan sikapku.


"Yohana, maaf semua kesalahan Abang selama ini! Maafkan Abang karena belum bisa penuh menafkahi Alfa dan Aqila!" cicit Bang Yudi.


Aku hanya bisa mengangguk karena lidah ini terasa kelu untuk berkata. Aku lihat mata Bang Yudi berembun, mungkin ada penyesalan di sana yang terlambat disadarinya. Semua sudah menjadi kenangan yang harus disimpan rapat tanpa harus mengungkit karena hanya menorehkan luka kembali. Masa lalu hanya sebagai kaca spion dalam hidup yang hanya boleh dilirik tanpa harus menoleh, karena kalau kita menoleh untuk melihat kaca spion jadi penghalang untuk melihat jalan kedepan dan bisa juga menimbulkan bahaya, terjatuh ataupun tertabrak.


Begitu juga dengan kehidupan ini, jangan selalu melihat kebelakang karena bisa tertabrak yang didepan yang merupakan masa depan tapi jadikan masa lalu pelajaran untuk merubah diri dan memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat supaya tidak terulang kembali di masa depan.


Alunan musik dimobil bagaikan lagu pengantar tidur yang membawa aku dalam dunia mimpi. Tanpa terasa aku sudah tertidur di perjalanan menuju kota tempat tinggal. Mimpi adalah penyemat hidup di dunia nyata.

__ADS_1


__ADS_2