KARMA IPAR MULUT BERBISA

KARMA IPAR MULUT BERBISA
Part 17. (Pov Candra) Masih Cemburu


__ADS_3

Kami berjalan menghampiri Bang Yudi yang sedang asyik bercengkrama dengan Alfa dan Aqila. Anak dan ayah tersebut sangat memanfaatkan waktu yang sedikit ini untuk saling berbagi cerita. Aku salut melihat perubahan besar dalam diri Bang Yudi, dia sudah mulai bertanggung jawab terhadap biaya anak - anaknya sehingga bisa meringankan beban Yohana. Aku jadi malu diri karena sudah setahun menikah dengan Yohana tapi aku tidak memberikan nafkah yang layak untuk Yohana karena aku dilenakan dengan keinginan - keinginan Kaynara dan Diana yang membuat aku lalai terhadap Yohana. Aku menyesal telah lalai dengan kewajibanku.


Melihat perubahan dari diri Bang Yudi, mulai ada rasa cemas kehilangan Yohana. Aku bisa merasakan rasa cinta Bang Yudi masih besar untuk Yohana. Keinginan dari diri Bang Yudi untuk bersama lagi dengan Yohana masih ada karena Bang Yudi sanggup tidak menikah lagi pasca bercerai dengan Yohana.


Lima tahun sudah Bang Yudi menduda, selama lima dia menata diri dan bangkit dari keterpurukan dan penyesalan. Sekarang dia sudah hidup mapan tentunya dengan mudah bisa mencari pengganti Yohana tapi tidak dilakukannya, tentu saja karena masih berharap bisa bersama Yohana lagi.


"Bang, kita bawa anak - anak keluar untuk wisata bagaimana menurut abang?" Tanyaku pada Bang Yudi untuk meminta pendapatnya karena dia ayah kandung dari Alfa dan Aqila tentu saja yang menyangkut anak - anaknya dibicarakan terlebih dahulu dengannya.


"Kita ajak anak - anak berenang saja! Tidak jauh dari pesantren ini ada tempat wisata yang ada wahana, panorama, rumah makan dan kolam renang." Jelas Bang Yudi.


"Jadi satu tempat bisa dapat paket komplit, lokasi juga tidak terlalu jauh." Sambung Bang Yudi kembali untuk meyakinkan kami untuk memanfaatkan waktu yang sedikit ini.


"Nama tempat wisatanya apa Bang?" Tanyaku penasaran.


"Wisata Teluk Belibis." Sahut Bang Yudi menjawab tanyaku.


"Ok, kita kesana! Ayooo!" Ajakku pada semuanya.


"Kita satu mobil aja Bang Yudi, pakai mobil kami aja!" Sambungku mengajak Bang Yudi.


Setelah semua masuk ke mobil aku bergegas menjalankan mobil lokasi wisata yang disampaikan Bang Yudi, perjalanan kesana dipandu oleh Bang Yudi karena dia yang tau seluk beluk jalan di kota ini.


Sampai di lokasi aku dibuat takjub dengan view yang ada disini, nilai plus lainnya sarana dan wahana untuk anak - anak juga lengkap. Tempat Wisata komplit cocok untuk segala umur dan kalangan. Memanfaatkan potensi sumber daya alam yang sudah ada dan mengkombinasikannya dengan sarana kekinian untuk segala umur.

__ADS_1


Anak - anak sudah tidak sabar untuk berenang, mereka gerak cepat mengganti pakaian dan dengan sekejap sudah masuk kedalam kolam renang. Bang Yudi juga antusias menemani Alfa dan Aqila dikolam renang. Gelak tawa mereka bertiga memberikan energi positif bagiku, kebahagian tidak harus dengan mahal, cukup di tempat yang cocok untuk semua kalangan ini sudah mampu memancarkan sinar wajah bahagia mereka.


Mereka bertiga asik berenang, aku dan Yohana juga mencari kesibukan lain dengan selfi - selfie di spot yang semuanya bagus. Aku seperti sepasang ABG berdua dengan Yohana, layak orang kasmaran bergandengan tangan, saling merangkul dan berpelukan.


Setelah puas ber selfie kami beranjak ke kolam renang untuk melihat anak - anak dan Bang Yudi sudah selesai apa belum. Di pintu masuk ke kolam renang kami bertemu Bang Yudi dan anak - anak yang mau keluar karena sudah selesai berenang.


Kami saling menyapa dan memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum mengantarkan Alfa kembali ke Pondok Pesantren.


Anak - anak nampak bahagia, Bang Yudi sesekali masih mencuri pandang pada Yohana. Istriku masih bersemayam di hati mantan suaminya. Sedikit saja kesalahan yang aku buat pada Yohana akan menjadi peluang emas bagi Bang Yudi untuk menaklukan hati Yohana kembali. Situasi ini membuat aku was - was, apalagi selama satu tahun ini aku kurang perhatian pada Yohana karena aku sibuk memenuhi semua permintaan Kaynara anak semata wayangku dan Diana mantan istriku yang selalu banyak permintaan.


Selesai makan kami bergegas mengantarkan Alfa kembali ke Pondok Pesantren karena batas waktu membawa Alfa keluar dari Pondok Pesantren hanya sampai sebelum masuk waktu maghrib.


Di Pondok Pesantren kami berpamitan dengan Ustadz pembimbing Alfa dan meninggalkan Alfa disana karena kami harus kembali ke Kota tempat tinggal kami.


Yohana juga berpamitan dengan Bang Yudi, dia berjabat tangan dan Bang Yudi menatap Yohana dengan penuh arti, dari matanya kelihatan kalau masih ada cinta dihatinya.


Aku menyela pembicaraan mereka supaya tidak terlalu lama Yohana ditatap Bang Yudi, rasanya ingin aku mencongkel matanya tapi aku masih berusaha menahan diri.


"Ma...!" Aku sengaja menekan suara supaya Bang Yudi mengerti kalau Yohana adalah istriku.


Aku gunakan kata Ma memanggil Yohana dihadapan Bang Yudi supaya Bang Yudi peka kalau aku ada diantara mereka. Aku sekarang ini pemilik Yohana bukan Bang Yudi.


"Iya Pa!" jawab Yohana yang langsung menoleh kepadaku.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang?" Tanyaku kepadanya.


Aku menahan diri padahal aku sudah tidak tahan melihat Bang Yudi masih memiliki perasaan pada istriku.


"Oke!" sahut Yohana.


"Bang Yudi, kami kembali ke Kota karena besok Aqila sekolah jadi kalau terlalu malam pulangnya khawatir kelelahan." Jelasku pada Bang Yudi supaya dia tidak salah paham, bagaimanapun dia ayah kandung dari anak sambungku.


"Oh..oh iya Candra, saya juga harus kembali ke kampung karena masih banyak pekerjaan. Makasih banyak karena kamu memperlakukan Aqila sudah seperti anak kamu sendiri, kamu memberikan kasih sayang kepadanya disaat aku tidak bisa memberikannya, kamu ada disaat aku tidak ada untuknya." Ucap Bang Yudi panjang lebar seolah ada penyesalan dalam dirinya. Aku merasa Bang Yudi akan menembus waktu yang telah terbuang bersama anak - anaknya.


"Gak usah sungkan Bang! Biasa aja! Aqila anak yang pintar, baik dan berbakti kepada orang tua jadi semua orang sangat menyayanginya." Jelasku pada Bang Yudi tentang Aqila. 


Aku jujur dari hati kalau Aqila memang anak yang baik yang mampu memenangkan hati siapapun.


"Kalau begitu kami pamit Bang! Lanjutku.


"Ya, hati - hati dijalan!" sahut Bang Yudi.


"Sama - sama Bang!" balasku.


Kami meninggalkan Pondok Pesantren dan kembali menuju Kota tempat tinggal kami. Perjalanan kami ditemani hujan sepanjang perjalanan yang membuatku tidak bisa melaju kecepatan mobil. Walaupun pelan - pelan yang penting sampai dengan selamat.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2