
Setelah mereka pulang dari cafe itu, waktu sudah menunjukan pukul 2 siang waktu bagi Asum untuk melakukan aktivitasnya seperti biasanya sebagai seorang kurir.
Muncul notifikasi chat dari seseorang, yang ternyata itu adalah chat dari Naid untuk Asum.
"Makasih ya buat yang tadi Sum, Hati-hati ya Sum semangat kerjanya." isi chat Naid saat itu.
"Aku juga makasih udah kamu temenin tadi Naid, Siap." balas Asum saat dijalan.
"Yaudah lanjut kerja dulu, gak usah main hp dijalan." balas Naid.
"Iya Naid." balas Asum.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Asum tentang siapa sosok yang mengerim chat ke Naid tadi dan foto tangan yang bergendangan di wallpaper itu.
Asum pun bertanya-tanya di hatinya, karena Asum berpikir jika memang dia adalah sosok spesial bagi Naid kenapa dia tidak pernah bercerita tentang sosok itu.
Karena bagi Asum dia akan merasa malu jika Naid selalu berbalas kabar chat dengan Asum dan mengajak Naid untuk jalan berdua, sedangkan ada sosok spesial di samping Naid.
"Masak iya sih ada sosok lelaki di hidup Naid?" suara dalam hati Asum yang bertanya-tanya tentang sosok itu.
Jika memang benar ada lelaki di dalam hidup Naid, Asum berpikir bahwa dia hanya menjadi pengganggu dalam hubungan itu, dan Asum tidak pernah menginginkan hal itu terjadi jika memang benar ada sosok spesial di hidup Naid.
Tetapi Asum tidak berani menanyakan hal itu, karena Naid pernah bilang kepadanya jika Naid sudah selesai dengan hubungannya karena ada orang ketiga di dalam hubungan itu.
Dengan hati yang sedikit gelisah dan bertanya-tanya tentang sosok itu, Asum tetap melanjutkan pekerjaannya
...--------------------------------------------------------------------...
__ADS_1
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam, waktu bagi Asum untuk menunggu paket terakhir datang untuk dia kirim dan waktu bagi Asum untuk pulang jika dia selesai mengirim paket-paket itu.
Setelah menyelesaikan kiriman paket terakhir Asum tidak pulang langsung ke rumah, biasanya dia pergi ke tempat tongkrongan teman-temannya.
"Ping!" bunyi notifikasi chat masuk.
Ternyata itu adalah chat dari Naid.
"Udah pulang Sum?" isi chat Naid.
"Iya nih, barusan sampek di warkop biasanya." balas Asum.
"Kok gak pulang dulu mandi, trus ganti baju." balas Naid.
"Tanggung Naid besok juga masuk siang lagi." balas Asum.
"Jorok kamu Sum, pulang dulu gih mandi dulu." balas Naid.
"Susah amat kalo disuruh mandi." balas Naid.
"Wkwk, lah tanggung Naid habis gini juga pulang." balas Asum.
"Emang mau pulang jam berapa?" tanya Naid.
"Jam 12." balas Asum.
"Sekarang aja masih jam 9, pulang jam 12 di bilang habis gini." balas Naid.
__ADS_1
"Lah emang kalo pulang nongkrong jam segitu Naid." balas Asum lagi.
"Iyadeh terserah kamu aja Sum." balas Naid seperti pasrah melihat sikap Asum seperti itu.
"Iya Naid, sante dong gak boleh emosi." balas Asum.
"Rada ngeselin juga kamu nih" balas Naid.
"Sabar sabar Naid wkwk." balas Asum sambil tertawa.
"Ya emang gini aku orangnya." balas Asum lagi.
"Iya kadang ngeselin, kadang lucu, tapi banyak ngeselinnya sih." balas Naid.
Asum dibuat tertawa dengan balasan chat Naid itu.
"Wkwk, anjir masak iya segitunya aku." balas Asum.
"Iya emang gitu kok." balas Naid.
"Iya maaf kalo sering bikin kamu kesel Naid." balas Asum.
"Iya Sum, lagian emang dari dulu kamu orangnya kayak gitu, ngeselin." balas Naid.
Naid berpikir bahwa sifat dan perilaku Asum berubah dari dulu yang pernah dia kenal, karena dulu mereka berdua bisa dibilang sangat dekat dan sudah saling mengenal satu sama lain dan sering jalan bersama untuk sekedar nongkrong berdua.
(Flashback) Tetapi hubungan mereka pun harus berakhir dengan saling tidak menyapa dan bahkan seperti orang yang tidak saling mengenal, hanya karena suatu permasalah yang tidak bisa mereka selesaikan dengan baik-baik saja. Tetapi itu wajar karena mereka saat itu masih usia remaja dan wajar jika dibilang masih labil perasaannya.
__ADS_1
Tetapi dugaan Naid itu ternyata salah, Asum tetaplah sama seperti yang dulu pernah dia kenal dengan sifatnya yang tidak bisa diatur, tidak pernah ingin diatur oleh siapapun dan selalu ingin merasa bebas.
...Bersambung...